Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS207. Penghakiman berlebihan


__ADS_3

"Jangan! Baru pada sampek. Masih capek mereka." jawab Ghifar lirih.


Givan hanya mengangguk, kemudian berjalan mencari Mikheyla. Karena anak itu sudah tidak sabaran, untuk keluar membeli susu kotak.


Adi malah teringat kembali pada salah satu anaknya, yang rutin mengkonsumsi susu kemasan kotak. Prasangka Adi semakin menjadi. Namun, karena ia tidak tahu apapun. Ia merasa bahwa tuduhannya tak pasti. Mungkin itu hanya kebetulan saja.


"Pah... Catatan panen lagi dipinjam ayah. Aku dibantu ayah, buat ngurus ladang. Lusa diminta datang ke pabrik, suruh bantu ayah di sana. Aku bingung sama Key, tak ada yang nelatenin makannya. Key kalau tak digendong, dia susah makan." Ghifar bersuara, setelah kembali dari kamar orang tuanya.


Ia merebahkan tubuhnya, di tempat yang tadi ia tempati.


"Ada perempuan-perempuan kau, ketimbang ngurusin anak kau aja masa tak mau?" ucapan Adi terdengar tidak enak di telinga.


Yoka dan Tika beradu pandang, ia merasa tak enak hati setiap Adi berbicara ketus. Mereka merasa tersindir hebat.


"Bukan kek gitu...." Ghifar ingin menjelaskan tentang keberadaan Yoka dan Tika di sisinya.


Namun...


"Udah! Istirahat. Besok lagi ngobrolnya." Adinda menyela pembicaraan mereka.


Adinda ingin malam itu damai tanpa persoalan. Ia ingin terlelap, tanpa beban pikiran baru. Biar saja esok, mereka akan membahasnya.


Adi dan Adinda sudah mempersiapkan diri, untuk mendengar cerita dari Ghifar besok. Mereka ingin mengetahui penjelasan dari anaknya langsung, tentang Yoka, Tika, Fira dan Mikheyla.


Kesimpulan yang mereka tarik, tidak cukup membuat rasa penasaran mereka terpuaskan. Mereka ingin, Ghifar membuka mulutnya untuk mengatakannya sendiri.


~


Adinda tersenyum geli, melihat anak-anaknya yang tidur seperti ikan asin dijemur.


Givan tidur di antara mereka, tidak menemani sang istri di dalam kamar. Di sampingnya, terdapat Mikheyla dengan kaki berada di ceruk leher Givan. Anak gadis itu, posisi tidurnya terlihat tidak sopan. Mereka terlelap begitu pulas, di atas karpet berbulu lembut.


Sedangkan di atas tempat tidur yang dijejer tiga pasang. Gavin dan Gibran tidur beriringan dengan posisi telentang. Di sudut paling depan, tepatnya di bawah televisi besar yang menggantung di tembok. Ghifar begitu pulas, dengan bertelanjang dada. Di samping Ghifar, mereka yang bersunat tengah pulas-pulasnya tertidur. Dari sisi kaki Gavin dan Gibran, terdapat Ghava yang tidur dengan mata sedikit terbuka. Cukup mengerikan pemandangan Ghava tertidur.


Sedangkan adik kembar dari Ghava, ia tertidur pulas di sudut paling ujung Ghifar. Ia memeluk sang ayah, dengan tangan sang ayah yang latah mengipasi inti anak-anaknya yang bersunat.


Malam tadi, Adinda mengalah. Ia pindah ke kamar dan memutuskan untuk tidur mengajak Kinasya. Sedangkan Giska, Icut dan anaknya, juga Tika dan Yoka kembali ke kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


"Mas Givan..."


"Mas...." Canda tiba-tiba keluar dari kamarnya.


Matanya berkaca-kaca, dengan raut wajah yang amat bahagia. Ada apa dengan Canda di subuh pagi ini?


"Hmmm..." Givan merasa namanya disebut, hanya menyahutinya dengan dekheman saja. Matanya masih berat untuk terbuka.


"Mas bangun... Aku dapat strip dua."


"Mas, aku hamil."


Deg.....


Mata orang dewasa di ruang keluarga yang menjadi tempat tidur masal tersebut, langsung terbuka karena kaget. Kabar yang cukup mengejutkan, di pagi buta dengan cuaca sejuk ini.


"Betul, Dek?" Adinda kembali dari dapur. Ia ingin memastikan dengan suara Canda yang terdengar sampai ke dapur.


Mereka terbangun, mengumpulkan nyawa masing-masing dengan mengucek dan menguap. Ada pula yang menggeliatkan tubuhnya, karena rasa pegal di posisinya tertidur.


"Apa, Dek?" Givan menoleh ke arah istrinya, yang masih berdiri di ambang pintu kamar dengan menggenggam sesuatu.


Givan terdiam, ia tidak percaya mendengarnya.


"Coba mas liat tespeknya." Givan mengulurkan tangan kanannya pada istrinya.


Ia masih terdiam, dengan memperhatikan dua garis dalam alat tersebut.


Pandangannya bergulir, pada seseorang yang tengah memutar kepalanya untuk melihat jam dinding.


"Kau hamil sama siapa?" tanya Givan tanpa perasaan.


Senyum Canda hilang seketika. Raut bahagianya tergantikan dengan ekspresi yang sulit di artikan. Canda tidak mengerti dengan pertanyaan suaminya.


"Astaghfirullah!!!" Adi mengusap-usap dadanya, mendengar anaknya mengatakan hal itu.


"Ya kau suaminya, ya hamil anak kau!" tegas Adinda, yang berdiri tak jauh dari posisi Canda.

__ADS_1


Givan tertunduk. Entah apa yang ia pikirkan. Namun, ia teringat akan hasil tes tentang kesuburannya terakhir. Dokter mengatakan, bahwa dirinya masih belum bisa untuk membuahi sel telur Canda. Benihnya terlalu sedikit dari jumlah normal, juga gerakan ekor benihnya terlalu lemah.


"Ada Ghifar di sini, kok kau bisa tiba-tiba positif?" perkataan Givan lebih seperti menuduh.


"Allahu Akbar." Ghifar bersuara, ia terkejut mendengar penuturan kakaknya.


Adinda langsung mendekati menantunya, ia membawa menantunya duduk di tepian tempat tidur yang Ghavi tiduri tadi. Ia khawatir canda syok, lalu ambruk dari posisinya.


"Maksud Mas apa? Mas nuduh aku selingkuh sama Ghifar?" pertanyaan Canda sudah tidak lagi santai.


Givan memperhatikan istrinya, lalu menggeleng dengan menundukkan kepalanya.


"Kau tau permasalahan Mas ini apa, Canda. Kenapa Mas tak yakin. Lebih-lebih, saat siang hari Mas selalu di toko. Kemarin-kemarin, sebelum Ghifar sibuk panen. Dia selalu ada di rumah. Mas paham, melakukan tak butuh waktu lama. Mikheyla bisa main sendiri." penghakiman berlebih yang Givan lakukan.


"Ya Allah, Mas..." suara Canda menurun, ia begitu terpukul mendengar ucapan suaminya.


Semua mata kini tertuju ke arah Ghifar. Apa lagi Canda sekarang hanya terdiam, sembari menangisi tuduhan suaminya.


"Apa?" Ghifar begitu marah, saat dipojokkan seperti ini.


"Kemarin dia yang perawan aja, pernah satu rumah aku sama dia. Apa ada aku datangin dia, terus ngelakuin hal itu?"


"Tanyakan ke orangnya sendiri. Tuh, masih hidup." Ghifar menunjuk Canda dengan dagunya.


"Sekarang, dia istri orang, kakak ipar aku sendiri. Ngapain aku ngacak-ngacak dia? Sedangkan, yang ada di genggaman aku pun, aku tak apa-apakan mereka." lanjutnya dengan tatapan marah. Ia tidak terima, dituduh telah menghamili kakak iparnya.


Mereka terdiam tanpa suara. Sepi senyap, sampai beberapa pintu terbuka dan tertutup kembali. Ini waktu para wanita beraktivitas di dapur.


"Mah... Aku mau keluar dulu, jogging bentar." ujar Kinasya yang keluar dari kamar pribadi miliknya Adinda dan Adi.


"Mau masak apa, Bli?" Tika dan Yoka muncul, dengan penampilan yang sudah terlihat segar.


Mereka semua benar-benar terkumpul di suasana yang menegangkan. Tiga perempuan yang baru keluar dari kamar pun, memahami ekspresi wajah-wajah menegangkan itu.


"Ada apa, Mah?" Kinasya menyadari, ada seorang wanita yang menangis di pelukan ibu angkatnya. Ia berjalan, menghampiri Canda dan Adinda.


"Sini Yok, Tik." Ghifar menepuk tempat di sebelahnya, meminta dua perempuan itu untuk duduk di dekatnya.

__ADS_1


Ghifar merasa, sudah waktunya keluarganya mengetahui tentang Yoka, Tika, Fira dan Mikheyla. Ia tak mau dituduh lebih jauh dari ini. Ia ingin menyudahi ayahnya yang selalu menuduh ketiga yang wanita bawa adalah peliharaannya. Ditambah lagi, kakaknya sendiri menuduhnya menghamili istrinya. Tuduhan yang tidak bermutu, tetapi cukup membuat Ghifar semakin tersudut.


......................


__ADS_2