Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS238. Ide liburan


__ADS_3

Ghifar kembali dengan Gavin dan Gibran yang ia jemput dari mushola. Anak-anak itu mengaji dua kali, selepas ashar dan isya. Namun, Gavin dan Gibran tidak langsung pulang ketika selesai mengaji malam. Ia akan bermain, sampai mushola sepi. Tetapi kali ini Ghifar menjemputnya, ia teringat jika orang tuanya tengah berkunjung ke kontrakan Kinasya.


"Cuci tangan, kaki, muka. Pipis juga!" pinta Ghifar, pada saat adik-adiknya turun perlahan dari motornya.


Lalu ia menggendong Mikheyla, dengan menyangking kantong plastik putih bertuliskan salah satu minimarket.


"Bikin cucu. Terus bobo sama Papah." Ghifar mendaratkan kecupan kecil di pipi Mikheyla.


"Mama Pika, Bi." Mikheyla memandangnya dengan wajah sendu.


Batin Ghifar teriris. Ia mencoba memahami kerinduan Mikheyla pada ibu kandungnya.


Fira memang tak menginginkan Mikheyla. Ia tak mengASIhi Mikheyla pun, semata-mata karena ia ingin Mikheyla tidak terlalu dekat dengannya. Karena dari dirinya mengandung Mikheyla, Ghifar sudah gembar-gembor untuk mengambil alih Mikheyla.


Meski ibunya bukan orang baik. Tetapi nyatanya ibu kandungnya lebih tulus mengasuhnya, ketimbang ibu sambungnya. Canda setengah hati mengurus keturunan suaminya dengan perempuan lain. Itu yang mampu Ghifar saring, karena anak sekecil Mikheyla sampai teringat pada ibunya, hanya karena Canda tak segera untuk membuatkan sebotol susu untuk Mikheyla.


"Ya, nanti kita video call sama mamah Fira." meski Ghifar telah menyebutkan nama Fira dengan benar. Tapi tetap saja Mikheyla menyebut Fira dengan nama Pika.


Ghifar memastikan adik-adiknya masuk ke kamar. Lalu dirinya menuju ke dapur, dengan susu formula milik Mikheyla.


Bentakan Givan terdengar jelas. Ghifar hanya bisa geleng-geleng kepala.


Ia pun sebenarnya tidak suka, dengan Canda yang terlalu lelap tertidur. Hanya saja, kali ini masalahnya tentang susu formula yang habis. Menurut Ghifar, harusnya kakaknya tak perlu memarahi istrinya berlebihan seperti itu.


Setelah Mikheyla mendapatkan sebotol susunya, Ghifar membawa anak itu ke kamar Tika. Ia takut Mikheyla bermain di tangga, saat dirinya tengah lengah. Jadi ia memutuskan agar Mikheyla tidur di kamar yang Tika tempati saja.


"Berantem ibu bapaknya, Bli." tegur Tika, saat Ghifar nyelonong masuk ke dalam kamarnya.


"He'em." Ghifar tak mungkin membeberkan masalah keluarga kakaknya. Apa lagi fakta tentang kakaknya kehabisan stok susu formula untuk Mikheyla.


Mata laki-laki normal. Ghifar melirik dada mangkal Tika, yang tengah mengenakan kemben saja.


Namun, Tika sudah menarik selimutnya sebatas perutnya. Membuat perutnya tak terekspos di depan mata Ghifar.


Mikheyla tidur di tengah-tengah antara Tika dan Ghifar. Anak itu memang sudah mengantuk, hanya saja ia masih belum puas menyusu dalam botol dotnya.


Perlahan, Ghifar akui dirinya memang minat. Ia sering mencuri pandang ke arah dada mangkal Tika, yang besar karena akan siap menyusui tersebut.


"Kenapa, Bli?" Tika menyadari gerak-gerik Ghifar yang begitu gelisah.

__ADS_1


"Tak apa." ia kembali fokus untuk membuat Mikheyla tertidur. Tangannya mengusap punggung Mikheyla, agar anak itu bisa terlelap.


Bayang-bayang Kinasya kian menguasainya. Ia tiba-tiba rindu pada gadis itu.


Bukan.


Ia tak merindukan gadis itu, hanya saja ia ingin mengulangi lagi bersama Kinasya.


Meski yang menarik minatnya adalah Tika. Tetapi, bayangan nakalnya kembali berputar tentang permainan Kinasya.


Kembali ia dibuat malu karena dirinya sendiri.


"Bli... Kau mimisan." detik itu juga, Ghifar enyah dari kamar Tika.


Ghifar buru-buru menuju ke kamar mandi yang berada dekat dengan pintu belakang. Namun, saat ia membuka pintu kamar mandi itu. Bau sabun mandi milik Kinasya, langsung menyeruak masuk ke hidungnya.


Ia mengingat sesuatu. Kamar tamu yang Kinasya tempati, tak dilengkapi dengan kamar mandi. Pasti kamar mandi ini selalu digunakan oleh Kinasya, untuk membersihkan dirinya.


Ghifar segera membilas wajahnya. Kepalanya sudah nyut-nyutan, ketika mimisannya kembali datang.


"Tapi kok...." Ghifar meraba selang*angannya.


Ghifar teringat akan ajakan ayahnya, untuk menemui Wahyudin kembali. Ia ingin menarik kembali penolakannya, karena ia malah tidak yakin dengan kesembuhannya.


Ia berpikir untuk menonton film dewasa setelah ini. Ia benar-benar ingin memastikannya sendiri.


Setelah dirinya selesai membersihkan hidungnya. Ghifar bergegas menuju ke kamar adik-adiknya. Ia ingin memastikan kembali, bahwa Gavin dan Gibran benar-benar sudah tidur.


"Abang bikinin susu." Gibran merengek manja, ia ternyata tengah terisak karena ia mengetahui ternyata ibunya tak berada di rumah.


"Ishhh... Kirain udah bobo." Ghifar mendekati adiknya.


Gavin dan Gibran tidur dalam satu ruangan, meski tidak satu ranjang.


"Mamah kabur ke mana, Bang? Kenapa aku tak diajak kabur?" pertanyaan anak TK itu terdengar menggelikan.


"Mamah lagi nengok kak Cantik." jawab Ghifar dengan menggendong adiknya untuk menuju ke dapur.


Ini adalah kali keduanya membuatkan susu formula. Yang pertama, ia membuatkan untuk Mikheyla. Lalu sekarang untuk adik bungsunya.

__ADS_1


Gibran meneguk habis susu buatan kakaknya, lalu ia digendong kembali ke kamarnya.


"Bobo, Abang temani." Ghifar merebahkan tubuhnya di sebelah adiknya, tangannya mengusap-usap punggung Gibran. Agar anak itu segera mendapat tempat ternyamannya.


Tak butuh waktu lama, anak yang sudah tidak mau untuk tidur siang itu kini sudah terlelap di alam mimpinya.


Ghifar menyelesaikan tugasnya. Lalu ia bergerak untuk menuju ke kamarnya, ia ingin memastikan sesuatu tentang dirinya.


Dalam androidnya, aplikasi VPN sudah berjalan. Melindungi tempat dan informasi, bahwa dirinya tengah menjelajah web dewasa.


Ia menggulirkan layar ponselnya, mencari gambar yang menarik perhatiannya.


Akhirnya ia menemukan klise tubuh yang perempuan, yang berhasil membuat p*n*snya teraliri aliran darah. Hanya bentuknya saja yang mirip, warna kulit dan perawakan wanita tersebut jelas berbeda.


Ghifar memutarnya dalam diam, menyambungkan headset ke telinganya. Rasa minatnya kembali datang, sayangnya hasilnya nihil kembali.


Hanya cairan kental berwarna merah, yang keluar dari hidungnya.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan, di tengah-tengah tubuhnya. Jangankan kokoh bertenaga, bergeser sedikit pun tidak.


Akhirnya ia mengakhiri tontonanya. Kembali ia bergegas ke kamar mandi, untuk membasuh wajahnya kembali.


Ia berpikir, bahwa intinya benar-benar bermasalah. Tapi, ia meragukan hal itu juga. Karena kejadian kemarin hari itu, bukanlah mimpi semata.


"Aku harus kek mana?" Ghifar berjalan menuju ke pintu penghubung ke balkon kamarnya. Ia bisa merasakan hembusan angin yang menusuk kulitnya, ditambah hawa dingin dengan kabut yang menambah tulang-tulangnya gemetaran.


Ia mendapatkan ide dari lamunannya itu.


"Aku coba." tekatnya, dengan melangkah masuk ke kamarnya kembali.


Ia mengambil ponselnya, mencari nama seseorang yang dulu selalu menghubunginya.


[Liburan yuk.] ajakan Ghifar bukan hanya semata-mata untuk melepas penat, ia memiliki tujuan di dalamnya.


Namun, tujuannya kali ini tidak main-main. Jikalau malam itu memang terjadi, ia bersumpah akan menikahinya. Ia tak ingin lari dari tanggung jawab.


[Ke mana? Kapan?] balasan gadis tersebut, mengukir senyum indah pada wajah Ghifar.


......................

__ADS_1


Sebenernya... anak-anaknya Adi ini, gak jauh beda dari bapaknya 🤭


__ADS_2