Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS112. Drama Canda


__ADS_3

"Ke mana arahnya?" tanya Adi kemudian.


"Ke sana, tadi nyapa aku." jawab Haikal, dengan menunjuk arah jalan besar.


"Ada apa nyariin Givan?" ucap Adi dengan menoleh ke arah menantunya.


Canda menunjuk kamarnya, "Tadi dia nyalain pengering handuk. Aku gak ngerti cara matiinya." sahut Canda, mencoba tidak peduli dengan kabar yang ia dengar.


"Remote control-nya ilang. Coba minjem punya Giska, atau suruh Giska naik ke kursi. Masih ngerjain tugas Giska tadi, belum tidur dia." balas Adi yang diangguki oleh Canda. Lalu ia berbalik badan dan menuju ke kamar Giska, untuk meminta bantuan pada adik iparnya tersebut.


"Ya udah, Pah. Udah tambah malem, udah jam setengah 10 juga. Besok aku ke ladang Papah aja." ungkap Haikal, dengan bangkit dari duduknya.


Adi mengangguk, "Nanti Papah telepon aja, biar kau tau posisi Papah." sahut Adi, saat anak mantan tunangannya tersebut mencium tangannya kembali.


"Ya, Pah. Pamit dulu, assalamualaikom..." balasnya dengan berjalan ke luar rumah.


"Ya, wa'alaikum salam." sahut Adi dengan mengantar Haikal sampai ke teras rumahnya.


Adi melongok ke dalam rumahnya, lalu ia menoleh kembali ke pagar rumahnya.


"Susulin Dinda aja deh." ucapnya dengan mengenakan sandalnya. Lalu berjalan ke luar dari halaman rumahnya.


Terlihat Givan baru datang, dengan mengenakan motor temannya. Ada beberapa teman Givan, yang tengah duduk dan bersenda gurau. Di warung makan Shasha, yang sudah tutup.


"Dari mana kau?" tanya Adi, dengan berjalan ke arah gerombolan anak muda tersebut.


"Abis itu, Pah... Anter kawan " jawab Givan dengan mengusap tengkuknya. Suasana yang penuh canda tawa tadi, berubah menjadi senyap dan menegangkan. Karena Adi yang tengah memperhatikan wajah gerombolan anak muda tersebut.


Adi mengangguk, "Pulang sana! Temenin istri sama adik kau. Papah mau nyusul Gavin sama mamah kau dulu." pinta Adi dengan beralih memperhatikan penampilan anaknya lagi.


"Ya, Pah. Bentar lagi." sahutnya dengan menundukkan kepalanya.


Adi mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya untuk ke rumah keluarga Ikhsan.


Beberapa saat kemudian, Adi, istrinya dan juga anaknya sudah melangkah masuk ke dalam rumah.


Adi dan Adinda saling beradu pandang. Kala anaknya berada di ambang pintu kamar, sedangkan menantunya duduk di sofa ruang keluarga dengan bersedekap tangan.


"Bobo gih." ucap Adi pada Gavin, yang masih menggenggam tangannya.


"Cuci-cuci dulu." timpal Adinda dengan mengusap kepala anaknya tersebut.

__ADS_1


"Sama Mamah." rengek Gavin dengan mendongak menatap ibunya.


"Yuk." ajak Adinda yang menarik tangan anaknya, untuk masuk ke dalam kamar. Karena kamar anak balita mereka, sudah dilengkapi dengan kamar mandi yang aman untuk mereka.


"Ada apa?" tanya Adi dengan duduk di sofa ruang keluarga, tetapi tidak di sofa yang menantunya duduki.


"Aku masuk, dia malah keluar kamar." jawab Givan dengan beralih menatap ayahnya.


Adi menghela nafasnya, "Tidur, Canda. Itu kamar kau sama suami kau." ucap Adi dengan memperhatikan menantunya yang fokus menatap layar televisi yang mati tersebut.


"Aku gak mau. Aku minta kamar lain aja." sahut Canda, tanpa mengalihkan fokusnya pada televisi yang tidak menyala tersebut.


"Kenapa memang?" balas Adi heran.


"Aku takut. Lagian, tadi juga Mas abis jalan sama pacarnya. Terus ganti sama aku gitu?" ujar Canda dengan suara menurun.


"Pacar dari mana? Bisa-bisanya nikah sama kau itu, karena tak ada pacar. Ada pacar, ya aku nikah lah sama pacar aku." celetuk Givan yang terbawa emosi.


Canda menoleh ke arah suaminya, "Mas tuh nyebelin banget. Aku gak suka sama Mas!" seru Canda kemudian.


"Heh! Udah-udah sana masuk. Udah malam, jangan drama terus! Pada tidur sana!" bentak Adi dengan memelototi anak dan menantunya.


Canda yang takut akan suara meninggi dari ayah mertuanya, langsung bergegas masuk melewati Givan begitu saja. Lalu Givan menghela nafasnya, kemudian berbalik badan untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Hmmm." gumaman Adi, untuk menjawab ucapan anaknya.


Adi bangkit dari duduknya, kemudian menyusuri rumahnya. Untuk mengecek keadaan pintu dan jendela, yang setiap pagi ia buka.


"Belum pulang juga rupanya." ucap Adi, saat mengecek keadaan kamar Ghavi.


Adi mengirimkan pesan seperti biasa pada Ghavi.


[Bawa kunci cadangan kan? Pagar sama pintu depan udah digembok.] tulis Adi dalam pesannya.


Lalu Adi turun dari lantai dua, kemudian menuju kamarnya. Terdengar suara orang mengobrol, yang Adi yakini dari kamar anak dan menantunya.


"Perasaan aku pengantin baru sama Dinda, tak begitu betul. Dinda ya paham kalau anak udah tidur, kita ngapain. Tak penuh drama macam Canda gitu." ucap Adi, dengan menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


"Bang..." panggilan sayang dari orang yang selalu berada di sampingnya tersebut.


"Di kamar mandi, Dek. Bentar." sahut Adi, yang tengah menyelesaikan buang air kecil.

__ADS_1


Tak lama Adi muncul, dengan rambut yang sedikit basah.


"Abis cuci muka kah?" tanya Adinda, dengan mengusap kepala suaminya.


"He'em. Istirahat yuk." jawab Adi dengan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


Adinda mengikuti suaminya, "Canda nangis keknya. Pas tadi aku keluar kamar Gavin sama Gibran, kedengaran suara tangis samar. Untungnya, kamar Gavin sama Gibran tak sebelah tembok kamar Givan. Untungnya kamar tuyul-tuyul itu, sebelah kamar tamu." ungkap Adinda dengan memeluk tubuh suaminya.


"Hmmm... Biarin mereka belajar. Risih betul tengok mereka berdua, terlalu banyak drama." sahut Adi dengan memejamkan matanya.


Ia mendapatkan kecupan kecil di pipi kanannya, "Maklum. Nikah bukan karena cinta." balas Adinda yang ikut memejamkan matanya.


"Baca doa dulu, Dek." ingat Adi, yang mulai melafalkan doa dalam hatinya.


Lalu mereka mulai merasa aman dengan posisi tidurnya. Perlahan, mereka mulai menyelami alam mimpinya masing-masing.


~


Adinda merasa bingung, dengan menantunya yang belum menampakkan batang hidungnya. Ia teringat akan pesan Canda, yang ingin memulai masak untuk dirinya dan suaminya sendiri.


"Bikinin susu dulu, Dek. Gibran bangun, minta susunya." pinta Adi, yang menghampiri istrinya di dapur.


"Ya, Bang. Sekarang sayur bayam sama goreng ayam aja dulu ya. Nanti siang aku cariin menu lain." sahut Adinda yang meninggalkan aktivitasnya sejenak, untuk membuatkan susu anaknya terlebih dahulu.


Adi sudah beberapa kali terakhir, merasa bosan dengan menu makanan akhir-akhir ini. Adi berpesan pada istrinya, untuk membuat makanan tradisional atau makanan zaman Adi kecil.


"Nanti Abang cariin kembang pepaya. Bisa kan Adek ngolah, ditumis kek gitu?" balas Adi yang tengah menunggu susu buatan istrinya.


Adinda mengangguk, "Agak banyakan carinya, daunnya juga ambil juga. Buat di masak besok." ujar Adinda dengan memberikan segelas susu pada suaminya.


"Ya, Dek. Abang urus Gibran dulu." tutur Adi dengan menerima gelas susu tersebut.


Adi membalikkan tubuhnya, lalu hendak berlalu pergi. Namun, enggan. Karena kehadiran anak sulungnya, yang terlihat tengah kebingungan.


"Kenapa, Bang?" tanya Adi lembut, pada anak sulungnya yang waktu kecil meminta untuk dipanggil dengan sebutan abang tersebut.


Givan menggaruk kepalanya, ia memandang ayah dan ibunya secara bergantian.


"Anu Pah, Mah. Coba tengok Canda dulu deh." ungkap Givan terdengar ragu-ragu.


"Kenapa memang?" tanya Adinda dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2