Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS182. Menyuapi anak


__ADS_3

"Mah... Fira mau ngomong sama Mamah pas hari itu. Tapi Mamah kek jaga jarak, Mamah selalu pergi kalau disamperin." Ghifar sebenarnya sedikit was-was, mengatakan hal itu.


"Bukan Mamah ngehindar, tapi Mamah tak siap denger semuanya. Tanpa kalian jelasin juga, dengan Key manggil kau papah itu udah cukup ngasih gambaran yang pasti." Adinda menjeda ucapannya sejenak.


"Sebebas apa sih kau di sana?" lanjut Adinda dengan menoleh pada anaknya yang masih menunduk.


"Aku tinggal bareng di sana. Bang Ken tinggal di mes tempat dia tugas. Aku kan punya usaha travel, aku pindah di garasi tempat mobil-mobil aku. Aku bangun rumah di sana, rumah sederhana berisi 4 kamar. Fira punya usaha butik di sana, tapi sejak ketemu aku, Fira ikut aku. Yoka sama Tika, baru empat bulan ikut aku. Mereka aku bawa ke rumah, biar aku bisa ngontrol mereka. Di Bali perempuan hamil itu rawan, apa lagi asma Yoka sempat parah betul, dia pernah di rumah sakit hampir satu bulan full." Adinda merasa sesak di ulu hatinya. Pernyataan Ghifar cukup membuat keram di pikirannya, ia tak menyangka anaknya sekotor itu.


"Kau..." Adinda seperti tidak sanggup mengutarakan yang mengganjal di hatinya.


"Se*s kau bermasalah? Kau suka three*ome?" tuduhan Adinda, membuat Ghifar mengusap-usap dadanya sendiri. Ia tidak menyangka, ibunya menuduhnya begitu kotor.


"Tak lah." elaknya cepat. Bahkan hal itu, tak pernah terlintas di pikirannya sebelumnya.


Adinda bernafas lega, setidaknya itu cukup membuatnya sedikit tenang.


"Ehh." Adinda merasa pernyataan Ghifar sedikit menyimpang.


"Kau bilang, Yoka sama Tika baru empat bulan ikut kau? Terus, kenapa Tika udah ngandung enam bulan?" dahi Adinda mengkerut, ia merasa heran akan hal itu.


"Aku belum cerita kah?" Ghifar terlihat pikun.


Drttt....


"Guru Gibran udah nelpon, udah pulang nih biasanya. Nanti aja ceritanya, kau harus cerita sama papah juga. Biar dia tak diemin kau." Adinda segera bangkit dan menepuk pundak anaknya.


Ghifar hanya bisa menghela nafasnya, saat ibunya berlalu pergi dengan terburu-buru.


"Gibran... Gibran... Cuma sama kau, mamah sampek turun tangan buat anter jemput kau. Aku kah? Sekolah dulu, dianter jemput sama becak motor. Mamah sibuk ngurus Giska kecil, bang Givan main sendiri, aku, kak Icut, kembar diadu. Siapa yang kuat, dia yang dapat mainan yang jadi rebutan." Ghifar menggerutu seorang diri, dengan memperhatikan burung peliharaan milik ayahnya.


Saat waktu tengah menunjukkan siang hari. Adi baru sampai di rumah, dengan keringat yang membasahi bajunya.


"Dek... Tandus betul tanahnya. Irigasinya buruk. Keknya tak cocok buat dibikin ladang kopi." Adi langsung melaporkan tentang masalah itu, ketika dirinya baru memasuki rumah.


Adi membuang pandangannya, saat melihat Yoka dan Tika tengah duduk di ruang tamu. Adi menyangka mereka berdua adalah istrinya dan menantunya.


"Porang aja, Bang. Satu hektare bisa hasilin 700 juta." Adinda muncul dari dalam kamar Canda, ia bisa mendengar aduan suaminya barusan.


"Kan 700 juta itu kotor, mending nunggu agak lama, tapi perkilo udah tak usah ditanya."

__ADS_1


"Canda kenapa, Dek?


Adi berjalan menghampiri istrinya yang masih berdiri di ambang pintu kamar menantunya.


Adinda menoleh ke arah ranjang yang tengah Canda tiduri.


"Matanya berat betul katanya, Bang. Dari selesai sarapan Canda udah tidur aja. Padahal sih badannya tak panas, tak dingin juga. Udah dzuhur, Givan nanti pulang, buat makan. Aku tak masak, Canda juga tak masak." ungkap Adinda, ia merasa menantunya tengah tidak baik-baik saja.


"Semalam abis digauli Givan, jam dua masih adu kekuatan. Wajar ngantuk." Canda yang sudah dibangunkan oleh ibu mertuanya, merasa malu mendengar ucapan ayah mertuanya.


Ghifar yang baru kembali dari dapur dengan menggendong Mikheyla, pura-pura tidak mendengar ucapan ayahnya barusan. Ia malu, mendengar hal yang berbau rumah tangga.


"Ayo siap-siap. Mana Gavin sama Gibran?" Adi berjalan ke kamarnya, dengan melepaskan bajunya.


"Jagain adik-adik kau, Far. Kau sama Givan yang bertanggung jawab di rumah ini." Adi berpesan pada anaknya, tetapi dirinya meneruskan langkahnya ke kamar.


Adi masih terlalu sungkan, untuk berbicara langsung pada Ghifar.


Ghifar melanjutkan aktivitasnya, untuk menyuapi anak yang ia gendong dengan kain jarik tersebut. Hanya cara ini, yang mampu membuat Mikheyla anteng untuk makan. Sekalinya anak itu dilepaskan, Mikheyla tak mau membuka mulutnya untuk makan makanan pokok.


Kembali Adinda teringat akan seorang anaknya, jika memperhatikan Mikheyla terlalu jauh. Mikheyla sangat mirip, dengan kelakuan dan kebiasaan salah seorang anak Adinda.


"Itu... dari rumah masyik." dari gerak-geriknya, Ghifar merasa Icut tengah menyembunyikan sesuatu.


Karena sejak dirinya di sini, Icut dan anaknya hanya beberapa kali terlihat berbaur dengan keluarganya. Jika tidak di kamar untuk tidur, Hamerra dilepaskan sebentar untuk mengasah kemampuan merangkaknya. Selebihnya, Icut terlihat sibuk membawa anaknya untuk bermain di luar.


Adi dan Adinda tak mencurigainya, apa lagi tujuan Icut ke luar rumah adalah berkunjung ke rumah pak Akbar. Penampilan Icut pun tak berlebihan, selalu mengenakan pakaian rumahan jika ke luar rumah.


Adi dan Adinda mempercayai ucapan Icut, yang berjanji tak pernah bermain laki-laki kembali. Namun, gerakan Icut yang berjanji untuk membuka usaha baru masih terbilang samar. Hanya ponsel yang selalu ia genggam, hal itu hanya menjadi suatu kesibukan Icut.


Kembali Ghifar merasa bahwa kehadirannya, tidak membuat nyaman Icut untuk berada di rumah. Ghifar merasa tersindir akan sikap Icut, yang selalu meninggalkan rumah.


"Paaaa...."


"Pa pa...."


Anak yang Ghifar gendong, menepuk-nepuk mulut Ghifar.


"Hmm, hmmm. Apa?" Ghifar terlihat risih, saat mulutnya dibekap oleh tangan mungil tersebut.

__ADS_1


"Ni ni Pah... Nyam yam." Mikheyla kembali menepuk-nepuk mulut Ghifar.


"Itu katanya Papahnya nyam-nyam, makan." Givan yang baru turun dari motornya, langsung menjelaskan isyarat yang Mikheyla berikan pada Ghifar.


"Ohh..." Ghifar menyunggingkan senyum pada anak yang ia gendong.


"Key dulu yang makan, nanti gantian. Cepet makannya, dikunyah." ujar Ghifar kemudian.


Mikheyla mengangguk, ia mempercepat kunyahannya. Seolah ia mengerti ucapan seseorang yang ia panggil papah tersebut.


Ia menunjuk ke arah bunga-bunga yang bermekaran, menandakan ia ingin melihat itu. Ghifar berjalan sesuai petunjuk yang Mikheyla berikan. Ghifar ingin melihat apa yang menjadi perhatian dari Mikheyla itu.


"Bunga, namanya bunga." Ghifar memperjelas setiap kata dari mulutnya, agar Mikheyla bisa mengikutinya.


"Una, maya una." ujar Mikheyla begitu cepat.


Ghifar terkekeh geli, mendengar kata yang keluar dari mulut kecil itu.


"Ma kau betah rupanya, Key. Rupanya dia betul-betul pengen lepasin kau, Key." ucap Ghifar lirih, dengan menyendokkan nasi berkuah sayur bayam ke mulut kecil Mikheyla.


"Abis makan, Key bobo ya sama tante Tika. Papah mau... Mau cari cicis dulu ya." Ghifar sengaja berbohong, agar Mikheyla tak meminta ikut dengannya.


"Auh." ekspresi wajahnya, terlihat ia tengah bertanya.


"Hmm..." Ghifar terlihat tengah memikirkan arti kata yang keluar dari mulut Mikheyla.


"Ya, jauh. Tapi nanti balik lagi, main lagi sama Key." anak itu mengangguk, mengerti akan maksud Ghifar.


"Cepet makannya. Terus Key masuk ke kamar, sama tante Tika, terus bobo. Papah mau Allah, terus makan, terus cari cicis buat beli diapers Key. Ok?" anak itu mengangguk, dengan senyum manisnya.


"Pandai Key memang. Ayo cepet dikunyah, Nak." tak bosan-bosannya Ghifar mengingatkan Key untuk mengunyah makanan. Pasalnya anak itu lebih suka menyimpan makanan dalam mulutnya, ketimbang menelannya cepat.


Setelah selesai menyuapi putri Fira, Ghifar langsung memberikan Mikheyla pada perempuan hamil tersebut. Tika lebih telaten dan lebih bisa dipercaya untuk menjaga Mikheyla, ketimbang dengan Yoka.


Karena penyakitnya yang sempat memburuk, Yoka menjadi kurang dalam menjalani aktivitas rutinnya.


Ghifar berjalan menuju dapur, berniat mencuci mangkuk bekas makan Mikheyla. Rasanya sudah percuma, jika ia ingin memundurkan langkahnya kembali. Karena kakaknya sudah melihat ke arahnya.


Ghifar merasa tidak enak, saat.......

__ADS_1


......................


__ADS_2