
"Kami mau secepatnya aja, Bu. Canda juga sebatang kara. Maksudnya… orang tua kandungnya, udah gak sama dia lagi. Ayahnya mungkin masih hidup, tapi kami gak tau di mana keberadaan dia. Sedangkan kami, cuma keluarga dari ibunya. Ibunya juga, lama di Arab. Jadi TKW di sana, lama gak pernah pulang karena udah nikah lagi di sana. Cuma kiriman aja yang nyampai, buat biaya hidup Canda di sini. Maksudnya kami minta Canda dinikahin, karena takut ibunya denger kabar ini. Terus kesehatannya drop di sana. Kalau nikah, pasti kami kabarin ibunya. Dia pulang atau gak, itu biar nanti gampang diurus. Yang penting masalah ini terselesaikan dulu. Terus kenapa kita minta Canda ikut Ibu aja? Karena sejujurnya, kami juga takut Canda jadi korban KDRT. Setidaknya, kalau dia tinggal bareng Ibu, dia dalam pengawasan kalian juga. Jadi KDRT mungkin bisa dihindari, kalau ada kalian di antara Canda dan Givan." jelas keluarga Canda, yang membuat mereka mengangguk beberapa kali.
"Sebetulnya… tanpa dinikahin Givan pun. Canda bisa aja ikut kami, kalau memang kalian malu dengan kondisi Canda." ucap Adinda ramah.
"Meski menikah cepat juga, Canda tak mungkin dibawa Givan. Givan terbukti dalam pengaruh narkotika, jadi dia pasti proses lembaga negara. Karena pasti susah, untuk nyembuhin dari candunya." ungkap Adi, yang membuat mereka terlihat begitu terkejut.
"Aku yang ngandung dia, yang ngurus dari bayi pun langsung kaget. Pas denger dia ngelakuin hal demikian, karena sebelumnya dia itu lembut sikapnya. Dia tak bisa tengok perempuan nangis, dia orangnya terharuan. Mungkin karena pengaruh narkotika juga, dia jadi nekat kek gitu. Sekali lagi, kami minta maaf atas nama Givan." timpal Adinda kemudian.
"Iya, Bu. Kami coba maafin, yang penting kelak nanti dia bersikap baik sama Canda. Maksudnya… setelah Canda jadi haknya kelak. Jangan sampai terjadi hal seperti ini lagi, jangan sampai ada KDRT." sahut salah satu dari mereka.
Adi dan Adinda saling beradu pandang. Mereka sudah kehabisan kata-kata, untuk menolak pernikahan itu. Bukan tanpa alasan, mereka seperti itu karena merasa kasihan terhadap Canda. Tak apa mereka memboyong Canda, hitung-hitung mengadopsi anak. Tetapi sepertinya keluarga Canda, seolah ingin melepas tanggung jawab mereka terhadap Canda.
"Ya udah." putus Adi pasrah.
"Dilaksanakan di Jawa aja ya Bu, Pak. Di tempat tinggal kami, di S***. Setelah Canda sembuh, kita rombongan langsung ke sana aja Bu. Akad, dengan acara syukuran sederhana aja. Gak perlu sesuai adat, yang penting mereka sah dan masyarakat setempat pada tau kalau mereka sudah menikah." ujar seorang wanita yang selalu memutuskan hal tersebut.
"Oh, macam itu? Ya udah, nanti kita urus dokumennya." tutur Adi yang diangguki mereka.
"Kapan kau boleh balik, Nak?" tanya Adinda, dan menyentuh lengan Canda. Canda terhenyak keget, karena pikirannya sedang berkelana.
"Lagi observasi, Mah. Besok udah boleh pulang." jawab Canda kemudian.
Adinda mengangguk, "Minta kontak yang bisa dihubungi, biar enak kita aturnya nanti." pinta Adinda, dengan mengeluarkan ponselnya.
Lalu Canda menyebutkan nomor teleponnya, juga nomor telepon bibinya. Yang sedari tadi berbicara, untuk memutuskan masa depan Canda tersebut.
"Kita pamit dulu ya. Assalamu'alaikum…" ucap Adinda, setelah mengantongi kembali ponselnya.
Lalu ia berlalu pergi, dengan menggandeng tangan suaminya.
__ADS_1
~
Adi dan Adinda baru selesai menceritakan itu semua, kepada Haris dan Alvi. Haris dan Alvi pun tak kalah terkejutnya, bahkan beberapa kali mereka sampai mengulangi pertanyaannya.
"Mak… makan." seruan Ghifar dengan nada manjanya.
"Giska… siapin makanan buat abang kau dulu." teriak Adinda, pada anaknya yang baru sampai di kediaman Haris beberapa jam yang lalu.
Ghifar muncul dengan wajah mirisnya. Kemudian ia duduk di sebelah ibunya, dengan langsung mengusap-usapkan wajahnya ke pakaian ibunya.
"Kasian betul kau, Nak. Nanti punya pitak kau setelah ini." ucap Adinda, dengan menyentuh kepala Ghifar yang terbungkus kain kasa dan plester.
"Apa itu pitak?" tanya Adi bingung.
"Itu… bekas luka di kepala. Terus tak bisa tumbuh rambut lagi di bagian itunya." jawab Adinda kemudian.
"Ohh, apa tuh namanya kalau di sana…" sahut Adi menggantung, dengan mengingat-ingat sesuatu.
"Pue, Nak?" sahut Adi yang melupakan mengingat sesuatu.
"Joh bu, Pa." ujar Gibran, dengan berjalan ke arah ayahnya.
"Pajoh bu. Bisa tak ngomongnya?" jelas Adi yang mendapat cengiran khas dari anak bungsunya.
"Mamamnya sama apa?" tanya Adi pada Gibran, dengan memangku tubuh anaknya.
"Encis aja." jawabnya dengan menoleh ke arah ibunya.
"Bilang sama bang Ghavi, beli sosis di A***mart." ujar Adi yang membuat anaknya mendongak menatap wajahnya.
__ADS_1
"Yi encis Apatamat." tutur Gibran yang membuat orang-orang di sekitarnya menahan tawanya.
"Ya, sana bilang ke abang kau." tukas Adi, yang membuat Gibran mengangguk. Kemudian berlalu pergi dengan lari yang begitu laju.
"Apatamat dia kata…" ujar Haris dengan terbahak-bahak.
"Abi tak ada betul-betulnya. Tadi ngobatin aku dia ngobrol terus sama kawan dokternya, segala bahas yang tak penting-penting." ucap Ghifar dengan memperhatikan Haris begitu sebal.
"Ya terus mau gimana? Masa mau mantengin muka kau aja?!" ketus Haris yang membuat Kinasya dan Kenandra terkekeh geli.
"Masa, Mah… Tadi Abi ngobrol tentang orang yang jatuh dari tangga. Terus kepalanya bocor kek aku, terus diamputasi. Bang Ken ikut ngobrol sama mereka, katanya kok bisa kepalanya bocor terus kakinya diamputasi. Abi jawab lagi, siapa bilang kakinya diamputasi. Kak Kin bikin aku tak bisa tahan tawa, dia nyahutin masa kepalanya yang diamputasi, buntung dong. Langsung pada kepingkal-pingkal semua mereka. Terus kata kawan Abi, lagian ceritanya tak jelas betul, ya kali kepala bocor terus diamputasi. Dokter kawannya Abi itu waras, tapi dia ikut ketawa juga denger ceritanya Abi." ungkap Ghifar bercerita, membuat mereka kembali menyuarakan tawanya.
Adinda tersenyum lega, dengan mengusap keringat anaknya yang tengah kacau tersebut. Setidaknya, Ghifar sudah baik-baik saja sekarang. Itulah yang Adinda syukuri, dari kejadian yang begitu menghantam batin tersebut.
"Terus ada cerita apa lagi, pas kau diobatin Abi tadi?" tanya Adinda kemudian.
Ghifar melempar pandangannya ke arah Haris, dengan Haris yang memberi isyarat dengan kedipan kerapnya.
"Tak ada, Mak. Cuma itu aja, terus diminta scan kepala. Soalnya udah beberapa kali jatuh, kepalanya kena lantai terus." jawab Ghifar setelah terdiam sejenak.
"Lepas ini aku ikut Bang Ken, Mak. Dia pindah tugas ke Bali." lanjut Ghifar yang membuat Adi menoleh ke arahnya.
"Kau ngapain ikut Bang Ken? Tak ikut Abi kau aja di sini?" sahut Adi kemudian.
"Aku butuh tenaga Ghifar, Pah. Lagian… aku pun sedikit takut, kalau sendirian di rantau orang." ungkap Kenandra, yang langsung menjawab pertanyaan Adi barusan.
Adi beralih menoleh ke arah Kenandra, "Ya maksudnya… Ghifar ini ngapain di sana? Nanti ngerepotin kau." tutur Adi serius.
Kenandra melirik Ghifar, ia menginginkan Ghifar membantunya menjawab pertanyaan Adi tersebut.
__ADS_1
......................
*Pajoh bu : Makan nasi