Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS239. Liburan yang gagal


__ADS_3

Semua serba buru-buru, kini terjadi juga. Adi dan Ghava tengah bercerita, dengan membawa kabar yang buru-buru itu.


Akhirnya, Ghava akan menikahi Winda secara siri di akhir pekan.


Ghifar yang baru sampai dari pabrik, malah teringat rencananya dengan seseorang. Ia akan membatalkan hari liburannya, karena adiknya akan menikah.


"Jam berapa hari minggunya?" tanya Ghifar, setelah mendengar cerita singkat dari ayah dan adiknya.


"Bukan hari minggunya, tapi di hari sabtunya. Sabtu malam minggu, jam delapan malam." jawab Ghava kemudian.


"Wuihhh... Langsung unboxing kau." komentar Ghavi, yang membuat semua orang tertawa renyah.


"Udah, tapi kau tak tau. Waktu itu ada Abang, ada Ghifar, ada pohon pisang juga." Givan kembali menyindir adiknya.


Ghava melemparkan kulit salak, ke arah kakak sulungnya. Tawa Givan pecah, melihat wajah kesal adiknya.


"Terus lepas aku, Giska, pasti Bang Ghifar tuh Pah." cetus Ghava, ia teringat akan ucapan kakaknya yang berkata ingin mencari pacar.


Ghifar menoleh ke arah Ghava, ia belum ingin membahas ini. Karena kini dirinya pun kembali dirundung keraguan.


"Sama Ahya katanya, Pah." tambah Ghava dengan cengengesan.


"Ahya apa Kin?" Adi menepuk pundak anaknya.


Ghifar melebarkan matanya, ia cukup kaget mendengar nama itu disebut.


Tentu Adi tak salah, jika menyeret satu nama yang selama ini ia curigai.


Ghifar ingin menjawab, 'Papah setuju aku sama siapa?'


Namun, Ghifar melirik ke arah ibunya yang menatapnya tajam.


Ghifar masih ingat, tentang ibunya yang melarang anak-anaknya untuk menikah dengan anak sahabat ibunya.


Adinda berpikir, jika jodoh anak-anaknya tidak lama. Maka akan berpengaruh pada kekerabatan mereka.


Ghifar menarik kesimpulan sendiri, pasti ibunya akan melarangnya untuk dekat dengan Kinasya. Jika ibunya mengetahui bahwa dirinya dan Kinasya sudah berbuat terlalu jauh.


Ghifar teringat kembali, akan ayahnya yang mengatakan untuk membicarakan padanya, jangan pada ibunya. Apa ini tentang perbuatannya dengan Kinasya? Apa ayahnya mengetahui hal itu? Kini pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu.


"Malah ngelamun." lanjut Adi dengan mengacak-acak rambut Ghifar.


"Pasti lagi bayangin badan kak Kin yang aduhai itu." tandas Ghavi, membuat dirinya bertambah kacau.


Ghifar tak mengetahui, bahwa Ghavi menyimpan secuil rahasianya dengan Kinasya. Ghavi menyaksikan kegiatan nakal mereka, saat rabu pagi.


"Resiko hidupnya besar kalau ambil Kin. Kau tau tak porsi makannya?" ujar Givan, dengan menyikut lengan Ghifar.


"Memang kek mana?" tanya Ghava. Sepertinya sesi kumpul keluarga kali ini, akan menghibahkan Kinasya.


"Nasi porsi kuli. Lauk tuh sampek ambil piring lagi, apa lagi kalau menunya ikan. Sekali makan, tiga ikan ukuran sedang itu masuk ke mulutnya. Sayuran juga sehalaman habis dikunyahnya." ucapan Givan terlalu berlebihan, tapi mampu membuat seluruh anggota keluarganya tertawa.

__ADS_1


Tak disangka, orang yang tengah menjadi bahan ghibah itu muncul.


"Nah... Gitu dong. Main." ujar Adi, saat Kinasya langsung duduk dan bergelayut manja padanya.


"Pasti uangnya habis." komentar Ghifar, dengan tersenyum miring.


"Apa sih kau!" Kinasya memasang wajah seram pada Ghifar.


Sialnya Ghifar. Ia tiba-tiba merasa kehidupan baru yang membuat sesak celananya. Padahal gadis itu baru muncul, ia tak menggoda atau bertindak gila. Tapi inti Ghifar langsung bereaksi, sekalipun tanpa rang*angan dari Kinasya.


Ghifar ingin melarikan diri dari kerumunan keluarganya. Namun, ia tidak bisa beralasan untuk itu.


"Apa? Bisulan lagi?" tanya Adi, saat Kinasya menggosok wajahnya di lengan bajunya.


"Pengen filler ulang. Jangka pakeknya kan enam bulan, Pah." Kinasya menunjuk dagunya.


"Ya ampun." Adi melirik sekilas, kemudian menggelengkan kepalanya.


Kinasya terbahak-bahak begitu puas. Lalu dirinya bangun dari sebelah ayah angkatnya. Dirinya berjalan dengan melepaskan hijabnya, lalu dirinya masuk ke area dapur.


"Padahal sih tak bisa dia buat kue, bolu, atau apa. Tapi uprek terus di dapur, Bang. Tak cuma makanan aja yang jadi. Dapur bersih, tertata lagi, perabot kotor enyah semua." ungkap Adinda, kala dirinya mengetahui bahwa tujuan Kinasya adalah dapur.


"Chef tak melulu pandai buat bolu. Dia nguasain masakan tradisional dari berbagai berbagai daerah, Dek." sahut Adi kemudian.


"Pandai ya? Kek Mamah kita, pandai bahasa daerah lain." Givan tengah memuji ibunya.


Namun, tiba-tiba Adi malah menyambungkan hal itu.


'Apa jangan-jangan....' pikiran Adi kini penuh dengan jangan-jangan.


"Far....."


Mereka semua menoleh ke arah perempuan yang baru saja masuk ke rumah.


"Ya, Ya." sahut Ghifar, ia mengenali suara itu.


"Ayo, jadi tak?" Ghifar harusnya segera mengabari Ahya tadi.


"Ghava malam minggu nikah, Ya. Tak jadi keknya." Ahya muncul, bersamaan dengan Ghifar mengakhiri kalimatnya.


"Memang mau ke mana?" Ghifar menoleh ke arah belakang, ternyata Kinasya menimpali pembicaraan mereka.


"Ghifar ngajak liburan, ke daerah yang lebih tinggi di sana Kak." kakak beradik itu, membuat Ghifar tak enak hati pada salah satu di antara mereka.


Entah kenapa, Ghifar merasa bersalah pada Kinasya.


"Jadi lagi gladi resik dulu kah, Bang? Biar pacaran nanti tak kaget." sungguh, mulut Ghava membuat Ghifar ingin menghilang saja dari kerumunan ini.


"Pacaran... Macam yang iya!" Kinasya melewati ruang keluarga tersebut, dengan sindiran yang mengarah pada Ghifar.


Ia melenggang santai, dengan sepiring makanan di tangannya.

__ADS_1


"Kok nikahnya dadakan sih, Va?" Ahya berbaur dengan mereka semua.


"He'em, udah gatal." jawab Ghava, dengan menarik dagu Ahya.


Mereka semua kembali tertawa, dengan gurauan Ghava barusan. Anak-anak Adi, memiliki selera humor yang baik.


"Kau tak jadi nikah sama Ikram kah?" Ghavi menanyakan hal itu pada Ahya, tentu sekarang seluruh perhatian orang berpusat pada Ahya.


"Tak, Umi malah minta aku nikah sama kau aja. Katanya... Papah bilang, sama Ghavi aja." Ahya menoleh ke arah Adi.


Adi seakan dimintai keterangan oleh semua pihak.


"Ya... Menurut Papah sih gitu. Karena feeling Papah, memang kau tak bisa sama Ghifar. Tapi kalau kau mau, Papah bisa usahakan." Ahya yang tengah patah hati, ia biasa saja ketika tengah dijodoh-jodohkan seperti itu.


"Kau mau kah sama aku, Ya?" Ghavi menebar pesonanya, dengan menyugar rambutnya ke belakang.


Semua orang terbahak-bahak. Di antara mereka, tidak ada yang sakit hati atau tersinggung. Mereka sudah terbiasa, dengan jodoh-jodohan antar saudara dari keluarga besar Adi. Di daerah tersebut, sudah tidak aneh menikah antar sepupu.


~


Malam jum'at yang cukup senyap ini. Selepas mengaji dan mengirim doa, Ghifar malah bersenandung dengan memainkan gitarnya.


"Jino gata dek kana yang laen. Ureung kaya hareuta meungandreng. Lon sadar, han ek lon meusaeng." Ghifar menyanyikan lagu slow rock dari bahasa daerahnya.


Namun, ada seseorang yang ikut melanjutkan lirik tersebut.


"Bek tapaksa bang meunyo han mungken. Han bahgia nyoe meurana baten. Seugolom tamumat jaroe malem." Ghifar menghentikan petikan senar gitarnya sejenak, ia menoleh ke arah ambang pintu belakang tersebut.


Ghifar mencoba tak peduli, ia sama rasa padanya.


"Haaaa........ Haaaaaaa ......."


Begitu menyentuh hati, suara Ghifar begitu syahdu di telinga yang mendengarnya.


"Han mungken hai dek. Laot lon seubrang. Pueraho lon tan, keunayoh hana...." Ghifar membiarkan yang menyahuti nyanyian tadi duduk di sebelahnya. Ia tetap fokus pada lirik dan petikan gitar yang tengah ia resapi.


"Han ek ulon ba. Permata intan. Geuhon that sayang, jeulame gata." lanjut Ghifar dengan nada yang melambung tinggi.


"Ehh sialan kau! Nyindir?" Ghifar tersentak, ia seketika lupa lirik dan kunci gitar dari lagu tersebut.


Ia menoleh ke ambang pintu, melihat seseorang yang memberinya suara mengagetkan tadi.


Ghifar menarik sudut bibirnya begitu tinggi. Senyumnya terpatri lebar, dengan tatapan tak berdosanya.


......................


*Sekarang kamu sudah ada yang lain. Orang kaya yang banyak harta. Aku sadar, tak mampu menyaingi.


*Jangan kau paksa kalau memang tak mungkin. Tak akan bahagia jika merana batin. Sebelum kita menjadi pasangan yang halal.


*Tak mungkin wahai adik. Laut kusebrangi. Perahu aku tak punya, pengayuh pun tak ada.

__ADS_1


*Tak sanggup kubawa. Permata intan. Terlalu besar maharmu sayang.


Siapa ya dua orang yang datang itu?


__ADS_2