Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS100. 15 mayam


__ADS_3

"Kalau harian, dapat sarapan sama makan siang. Aku dapat 120 ribu, kadang ada yang kasih 125 atau 130 ribu. Tergantung orangnya royal tak, macam itu Pak. Kalau lepas, saya tak dikasih makan. Aku dapat 150, sampek 180 tergantung apa yang lagi dikerjakan. Yang bikin uang berasa besar, kalau diborong Pak. Misalkan, nawar-nawar. Dapat harga pas, untuk tenaga aja misal 15 juta. 15 juta dibagi berapa orang gitu, kan jadi besar. Kalau rumah warga gini, kita nyantai aja bangunnya. Kalau perumahan gitu, kita diminta kebut, jadi hasilnya tak bisa dibilang bagus."


"Aku kasih juga aku ke ma. Kan yang beli beras di rumah itu, aku aja Pak. Tak pernah ma beli beras, pasti aku belikan satu karung buat sebulan. Entah sedikit atau apa, bisa ngasih emas di telinga ma juga. Bukannya sombong, Pak. Anak yang mampu ngasih banyak ke orang tuanya, pasti ada juga. Tapi aku ngerasa bangga aja sama diri aku sendiri. Alhamdulillah gitu kan? Bisa bikin orang tua seneng sedikit. Entah bakso atau mie ayam setiap minggunya juga, itu nyatanya bikin mereka seneng." lanjut Zuhdi, yang mendapat perhatian penuh dari Adi.


"Kok, tak nyampe di kalkulasi Papah ya Di? Kok bisa gitu loh, uang segitu..." sahut Adi memandangnya sekilas, kemudian menatap lurus dengan pandangan menerawang.


Zuhdi tersenyum senang. Saat Adi menyebutkan dirinya papah, juga memanggil dirinya dengan sebutan Di. Itu terdengar lebih nyaman di telinga Zuhdi.


"Aku tak ngerokok, Pah. Bensin pun jarang isi, karena aku tak pernah ke mana-mana. Capek kerja siangnya, jadi habis isya udah kepengen tidur. Paling jajan macemnya bakso, mie rebus, yang kenyang-kenyang gitu. Tapi tak pernah tiap hari, sewaktu-waktu aja kalau lagi pengen. Terus paling buat keperluan mandi pribadi, beli minyak rambut, minyak wangi gitu kalau habis. Jadi uang larinya jelas, jumlahnya pun ya jelas. Terus... Misalkan ada kerjaan tambahan, atau lagi nanggung. Jam empat sore istirahat sampek jam tujuan, lepas sholat isya lanjut kerja sampek jam 12 malam gitu bayarannya kek kerja dua hari." balas Zuhdi, dengan memperhatikan wajah Adi dari samping. Adi masih menatap kosong halaman rumahnya, yang berisi tanaman obat dan tanaman hias itu.


"Memang ada gitu, orang selurus kau? Tak pernah kah kau minum, atau judi? Ngapain kek, ngapain?" ujar Adi yang membuat Zuhdi terkekeh geli.


"Pernah togel, pas belum punya tujuan ngumpulin uang. Tapi sejak tak pernah dapat, aku males sendiri Pah. Udah pusing otak mikirin angka berapa yang keluar, eh tak dapat juga." tutur Zuhdi jujur, tentang pengalamannya bermain judi yang terkenal di masyarakat.


Adi terkekeh geli, "Memang sebelumnya tak pernah pacaran juga?" tukas Adi yang membuat tawa kecil Zuhdi hilang seketika.


Zuhdi mendapati Adi yang tengah menunggu jawabannya, "Pernah, sama Ahya. Cuma neneknya mulutnya ngeri, Pah. Aku tak sanggup, kalau setiap ngapel diomong tak enak." ucap Zuhdi, setelah dirinya terdiam sejenak. Untuk menimbang-nimbang apakah harus ia berkata jujur juga untuk masalah pribadinya, tapi akhirnya Zuhdi memutuskan untuk jujur pada ayah kekasihnya.


"Ohh, kau yang dikata apa tuh...." sahut Adi menggantung, dengan menyentuh keningnya sendiri.


"Aku dikata pengangguran, tak bisa bikin Ahya seneng. Cuma bisa bikin Ahya ngebatin aja, cuma bisa jadi beban buat Ahya." balas Zuhdi, yang membuat Adi tersenyum canggung. Karena ia merasa ucapannya barusan, malah membuat Zuhdi mengingat luka lamanya.

__ADS_1


"Nah... Kenapa kau bisa dibilang macam itu?" ujar Adi, yang ingin tahu sisi jelek dari Zuhdi.


"Karena aku terbuka macam ini, Pah. Mereka tanya, aku jawab jujur kek gini. Jadi mereka tau, kalau aku cuma kuli. Cuma anak supir angkot. Juga, aku cuma tamatan SMA. Terus... Aku setiap ngapel tak pernah bawa apa pun. Aku tak paham, Pah. Kalau ngapel mesti bawa buah tangan. Kan waktu itu, aku baru-baru kali pacaran. Baru ngerasain punya hubungan sama perempuan." tutur Zuhdi yang mendapat perhatian penuh dari Adi.


"Kalau misal beneran kau sanggupin maharnya. Setiap main ke sini, tak usah repot-repot bawa begini. Nanti yang ada celengan kau habis semua, buat beli-beli beginian. Mending seminggu sekali, kau beli perlengkapan hantaran. Kau paham kan?" tukas Adi yang membuat Zuhdi tersenyum lebar.


"Aku sanggupi sesuai kemampuan aku, Pah." ucapnya mantap.


"Menurut Papah, akhir bulan nanti hana peureulee datang ke sini buat tunangan. Tapi buat ngomongi nikah aja. Nanti Papah bilang ke mamah, kau minta Giska. Biar nanti Papah sama mamah ada obrolan buat nentuin tanggal atau maharnya." sahut Adi kemudian. Ucapannya terjeda sejenak, karena kedatangan teman sepermainan Ghavi.


"Lagi sakit, Rid. Mau kau ajak dia ke mana?" seru Adi, saat melihat Farid memarkirkan motor tak jauh dari Adi.


"Jangan dulu lah, nanti tambah drop. Ajak main monopoli aja." sahut Adi yang membuat Zuhdi dan Farid terkekeh geli.


"Giska mana, Pah?" tanya Farid, setelah tawa mereka lenyap.


Zuhdi mengerutkan keningnya, mendengar Farid menanyakan kekasihnya.


"Pasar maleman. Cari kerudung biasanya." jawab Adi dengan meregangkan otot lehernya.


"Jadi gimana, Pah? 15 mayam dapatkah Giska buat aku?" celetuk Farid, dengan memeluk bola sepaknya dan bersandar pada motornya.

__ADS_1


"15 mayam, 15 mayam! Uangnya pakek uang bapak kau, ya percuma juga!" balas Adi, membuat Farid terkekeh kecil.


Zuhdi merasa tidak suka, dengan Farid tersebut. Ia merasa tersaingi, akan laki-laki yang umurnya di bawahnya tersebut.


Mereka semua menoleh ke arah gerbang, saat suara tawa kecil yang mengusik pembicaraan mereka.


"Adek Giska dapat apa? Rutin betul ke pasar malam. Besok-besok Abang ajak ke Mall sekalian, Dek. Pernah belum ke kota? Abang ajakin kalau belum pernah." ucap Farid dengan memperhatikan wajah macan Giska, saat melihat kehadirannya tersebut.


"Jangankan kota, Mall. Nyebrang samudera pun aku pernah ya!" sombong Giska dengan menaikan dagunya, persis seperti ibunya yang selalu mahal di mata laki-laki.


Farid terkekeh kecil, "Sombongnya itu anak Papah!" ujar Farid dengan menoleh ke arah Adi.


"Ya baguslah. Wajar dong sombong, orang keturutan semua." tutur Adi yang membuat raut wajah Farid berubah menjadi masam.


"Di kampus, tak pernah mau itu Mah diantar balik. Lebih sudi naik angkot, dari pada aku antar balik." lapor Farid pada Adinda.


"Ya lah, malu dia diantar sama kau. Coba kau yang gagah dulu badan kau, mungkin dia tak ilfeel jalan sama kau. Abang-abangnya gagah semua, masa giliran dapat laki-laki cungkring macam kau. Malu lah dia kau bawa-bawa juga." tukas Adinda yang membuat Farid ditertawakan oleh semua orang yang berada di situ.


"Ok, nanti aku buat gagah badan aku. Tapi Giska harus mau 15 mayam ya? Nanti uang dapur, sama uang kotornya, Mamah tau bersih aja." ujar Farid yang terdengar memaksa. Ucapannya barusan, membuat tawa mereka semua lenyap seketika. Dengan Giska, yang melemparkan pandangannya ke arah Zuhdi.


......................

__ADS_1


__ADS_2