
"Mas, aku takut besok nanti pulang ke pesantren. Soalnya, aku cuma bilang nyerahin tugas aja. Cuma dikasih waktu dua jam, karena perjalanan dari pesantren ke kampus lumayan jauh." ungkap Canda, dengan berpegangan pada baju Ghifar.
Ghifar yang merasa pakaiannya ditarik, langsung menghempaskan tangan Canda dari pakaiannya.
"Ya lagian kau udah besar, masih aja dipondokin. Minta orang tua kau jemput, kalau kau takut balik ke pesantren. Kalau di tempat aku, perempuan tak boleh mondok terlalu lama. Ya… maksimal empat tahun lah. Karena, katanya takutnya malah bikin mereka nekat. Soalnya bupertas pada perempuan, kan kadang lebih cepat dibanding laki-laki." sahut Ghifar dengan berhenti melangkah sejenak, lalu menoleh ke arah Canda.
"Aku dikasih nama Canda Pagi Dinanti. Karena berharap kehadiran aku bisa bikin orang tua aku, tetap bisa bercanda hangat di pagi hari seperti biasanya. Tapi ternyata… malah berakhir aku yang dititipkan ke nenek, terus lepas nenek gak ada, aku dipesantrenkan karena gak ada yang urus." ungkap Canda yang malah bercerita tentang keluarganya.
Ghifar masih ingin mengoceh, karena pengaruh alkohol yang ia tenggak. Tentu ucapan Canda barusan, memberinya peluang untuk menyuarakan suaranya kembali.
"Kenapa malah nenek kau yang urus kau? Bukannya tadi kau bilang, berharap kehadiran kau bisa bikin orang tua kau tetap bisa bercanda di pagi hari katanya." sahut Ghifar dengan menggeser posisinya, karena ia berdiri menghalangi orang-orang yang tengah berlalu lalang.
"Ya… karena kehadiran aku, tetap gak bisa bikin mereka bersatu buat bercanda di pagi hari. Bapak aku nikah lagi, terus tinggalin ibu aku. Ibu aku pergi ke luar negeri, alasan buat hidupin aku. Tapi setelah dia lima tahun di luar negeri, dia nikah lagi sama TKI juga." balas Canda, yang membuat hati Ghifar sedikit tersentuh.
"Ya udah, minta keluarga kau jemput. Bilang pulang pergi dari pesantren ke kampus itu jauh, belum lagi jadwal dosen yang sering kali tak tentu." ujar Ghifar, dengan memalingkan wajahnya karena Canda menatapnya begitu intens.
"Kok tau sih, kalau jadwal dosen sering kali gak tentu." tutur Canda, dengan mengikuti langkah Ghifar yang kembali melangkah menuju lantai resepsionis.
"Kakak sama adik-adik aku semuanya kuliah." tukas Ghifar, dengan mengikuti petunjuk arah yang tertempel di beberapa sudut.
"Kok Mas gak kuliah?" tanya Canda, sesaat setelah mereka berada di dalam lift.
"Otak aku tak mampu, kalau belajar tentang materi. Aku bisanya langsung turun di lapangan, langsung praktek kerja. Ngambil sekolah pun yang SMK, karena memang tak punya rencana lanjut pendidikan. Kan enak tuh SMK kalau cari kerja, cepat dapat job ketimbang SMA." jawab Ghifar kemudian.
"Nyatanya?" ucap Canda, dengan kembali memperhatikan Ghifar begitu lekat.
"Hana kerjaan juga. Tetap nganggur di rumah." sahut Ghifar, yang sengaja tak memberitahu Canda. Bahwa ia di kampung menggarap lima hektare kebun kopi, yang bersertifikat atas namanya. Tentu anak-anak yang lain pun memiliki bagian yang sama, tak terkecuali dengan Icut meski ia anak dari istri lain seorang Adi Riyana.
"Nganggur, tapi HP-nya i*hone terbaru." sindir Canda, dengan tersenyum manis.
"Kan itu dari kerjaan sampingan aku." balas Ghifar ringkas.
"Memang apa usaha sampingannya?" ujar Canda, dengan melangkah kembali untuk keluar dari lift.
"Ngepet jangkrik." tukas Ghifar, yang membuat Canda menahan tawanya.
__ADS_1
"Ahh, Mas ini garing banget bercandanya." celetuk Canda, dengan menepuk bahu Ghifar karena ia terlalu cepat berjalan. Membuat Canda, tertinggal beberapa langkah, di belakang tubuhnya.
"Sana reservasi dulu. Aku lupa nanya pin debitnya." ucap Ghifar, dengan berjalan ke tempat yang lebih aman untuk menelpon Kenandra.
"Jadi…?" tanya Canda menggantung.
"Ya sana ke resepsionis dulu, kau reservasi hotel atas nama kau! Aku mau nanya pin debit dulu, karena bukan punya aku." jelas Ghifar, yang langsung mendapat anggukan dari Canda.
Untungnya begitu Ghifar membuka ponselnya, ia telah mendapat pesan chat yang berisikan angka dari Kenandra. Ghifar langsung memahami, bahwa angka yang berjumlah enam digit tersebut adalah pin kartu elektronik yang dipegangnya.
Ghifar langsung menghampiri Canda, yang tengah berbicara dengan resepsionis.
"Yang biasa aja, satu kamar single, buat kau aja." bisik Ghifar, begitu dirinya berada di sebelah Canda.
Canda mengangguk, kemudian kembali menjawab pertanyaan dari resepsionis tersebut. Hingga beberapa saat kemudian, Canda mengulurkan tangannya untuk meminta pembayaran pada Ghifar.
Ghifar langsung memberikan kartu pipih yang sudah digenggamnya, lalu ia membisikkan pin tersebut dengan dirinya yang melihat layar ponselnya.
"Udah, Mas. Aku mau di antar ke kamar." ucap Canda, setelah menerima kartu pipih yang digunakan sebagai kunci kamar yang telah dipesannya.
"Makasih ya, Mas. Aku masih nyimpen kartu nama Mas, nanti setelah ini aku chat nomor Mas." ungkap Canda, yang hanya diangguki oleh Ghifar. Karena Ghifar tengah menyimpan kartu tersebut, dalam dompetnya.
"Udah sana masuk. Chat aja jangan telepon, aku masih di atas sama kawan-kawan aku." ujar Ghifar, yang langsung dituruti oleh Canda.
Hingga beberapa saat kemudian, Ghifar merengek minta pulang pada Kenandra. Karena ia sudah tak tahan, dengan rasa yang semakin menyiksa kepalanya.
Kinasya berulang kali memarahi Ghifar, karena begitu terganggu dengan Ghifar yang terus bersuara.
Sebelum mereka pulang ke rumah Haris, mereka memutuskan untuk mengantar teman-teman Anasya. Di rumah salah satu dari mereka, yang menjadi tempat menyimpan motor-motor mereka.
Lima belas menit berlalu, mereka telah sampai di kediaman keluarga Haris. Dengan Haris yang berkacak pinggang, melihat Ghifar yang digotong oleh dua wanita dan satu laki-laki dewasa tersebut.
"Maklum Om, anak kebon main ke kota." ucap Anasya, setelah mereka merebahkan tubuh Ghifar di atas karpet ruang tamu.
Haris mengangguk, "Udah ijin dia sama mak bapaknya?" tanya Haris kemudian.
__ADS_1
"Gak tau, Om." jawab Anasya dengan melepaskan sepatu Ghifar, berikut kaos kakinya.
"Kenapa sih mesti lapor mamah sama papah? Ghifar udah dua puluh tahun, udah masuknya dewasa." tanya Kinasya, dengan beberapa kali mengatur nafasnya. Meski Ghifar diangkat oleh tiga orang, tentu beban tubuhnya begitu terasa berat karena Ghifar memiliki otot yang sempurna.
"Cicit emasnya keluarga besarnya papah Adi, Ghifar tuh. Meski Givan yang sulung, tapi kan si Ghifar anak pertamanya papah Adi. Mana dia laki-laki lagi. Biasanya orang sana, kalau anak laki-laki pertama, memang lebih dispesialkan. Bagiannya juga, kata ayah Jefri tuh yang punya Ghifar lebih besar dari anak kandung papah Adi yang lain. Bagian dari keluarga besar papah Adi, bukan dari papah Adi sendiri. Rumah abusyik, pabrik pengolahan biji kopi, sama kebun kopi 50 hektar milik keluarga besar, pindah ke tangan Ghifar. Givan tak dapat bagian, dari keluarga besar papah Adi." ungkap Haris, yang membuat ketiga orang tersebut kaget mendengarnya.
"Sekaya itu dia? Tapi tadi ditanya ibu aku, jawabnya disuruh mak merantau cari duit. Uang tinggal 400 ribu, udah tak dapat kiriman lagi." jelas Anasya, yang membuat Haris mengerti akan maksud sahabatnya tersebut.
"Ya udah, biarin aja. Yang udah tau ya diem aja, tak usah kasih tau dia. Tinggal kalau dia kesusahan, tinggal dibantu sewajarnya aja. Keselnya Om sama Ghifar ini, dia tak becus sekolah. Papahnya yang nampak acuh sama pendidikan aja, bisa punya gelar sarjana. Nah ini, anak yang diemaskan di keluarga besar. Malah sekolah cuma tamat SMK, mana lulus ala kadarnya. Disuruh milih fakultas apa, dia tetap tak mau lanjut pendidikan." balas Haris, dengan merangkul anak perempuannya untuk ikut dengannya.
"Diajak Acanya, kunci pintu kamarnya. Abang kau udah nampak kucing, dihidangkan daging. Alim keliatan di mata, tapi sorot matanya udah buas betul." ujar Haris lirih, pada telinga anak perempuannya.
"Yah, Bi." sahut Kinasya, dengan menoleh ke arah Anasya.
"Ayo, Ca. Tidur di tempat aku aja, biar aman. Karena tak jendela, tak pintunya, semuanya ditralis semua. Udah mirip penjaraan." ajak Kinasya, yang membuat Anasya tertawa kecil.
"Biarin aja Ghifar di situ!" ucap Haris, dengan kembali melihat Ghifar yang tergeletak di karpet ruang tamu. Persis di dekat sofa mewahnya. Dengan Kenandra, yang duduk di sofa dengan matanya yang asik mengawasi Anasya.
"Abi donorkan mata kau juga, Ken!" tegas Haris, yang mengalihkan perhatian Kenandra.
"Hmmmm…" gumaman berat, yang berasal dari kerongkongan Kenandra.
Kenandra tak mengetahui, ternyata ayahnya sedari tadi memahami pergerakan bola matanya. Ia kira, ayahnya hanya fokus mengobrol dengan Anasya saja.
"Masuk kau ke kamar!" pinta Haris, yang langsung diangguki oleh Kenandra. Kemudian, ia langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.
Haris masih memperhatikan Ghifar yang tertidur pulas, dengan mulut sedikit terbuka.
"Hmm, anak Adi. Macam mana tak jadi anak emas? Rupa, perawakan, melongo bodoh, sampek ke tidurnya pun sama macam ayahnya. Aku tau, Adi pasti adil ke Givan. Karena Givan semangatnya, mana dia kan takut pulak sama Dinda. Tapi beda urusan, kalau…..
......................
*Hana : Tidak, tidak ada
Sebetulnya tanggung ya... tapi sedih aku, karena gak didukung kalian 😔 pengen gitu up 2x kek Belenggu Sang Pemuda.. tapi, kurang peminat. malah cepet tamat gak karuan nanti 🤦♀️
__ADS_1