Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS77. Obrolan pria dewasa


__ADS_3

"Nih, Di." Haris memberikan air yang berwarna merah marun tersebut, pada Adi dalam takaran kecil.


Adi menggeleng, "Dinda aja suruh maju. Aku tak mau." ucap Adi, yang membuat beberapa di antara mereka terkekeh kecil.


"Kalau pagi belum enakan, nanti kan gampang sore aja baliknya." sahut Haris, dengan menegak air untuk jatah Adi tersebut.


"Tak lah, Dinda aja." balas Adi yang membuat Mahendra geleng-geleng kepala.


"Payah betul sama minuman, Bang?" tanya Mahendra yang langsung diangguki oleh Adi.


"Beberapa gelas aja, bisa sampek besok sore tidurnya. Malam besok baru bisa jalan lagi." aku Adi, yang tak memungkiri tentang kelemahannya tersebut.


"Memang Dinda kek mana?" sahut Mahendra lagi.


"Malam ngabisin beberapa botol juga, tetep bisa subuhan." balas Adi yang membuat Mahendra geleng-geleng tak percaya. Karena ia pun, baru mengetahui fakta tentang mantan istrinya yang kuat menenggak tersebut.


"Baru tau ya?" ujar Haris dengan menunjuk pada Mahendra.


Mahendra tersenyum samar, dengan menganggukkan kepalanya.


"Orang alim dia, kek gitu ternyata." tutur Mahendra, yang membuat Adi dan Haris terbahak-bahak.


"Alim dari mana? Dari awal kenal, tak nemu aku sisi alimnya. Paling yaa… profesional. Kalau kerja, ya kerja. Tak banyak omong, tak banyak tingkah. Tapi beda lagi kalau di luar kerjaan, udah macam kena sawan." tukas Adi yang membuat Mahendra semakin terheran-heran.


Haris terkekeh renyah, mendengar penuturan suami dari Adinda tersebut.

__ADS_1


"Cobain, dikit aja." ucap Haris dengan menyodorkan sedikit.


Adi mengerutkan keningnya, dengan menerima gelas kecil berisi air marun tersebut.


"Tenang, Pah. Bukan murahan, bukan oplosan." timpal Givan, kemudian Adi langsung meneguknya dengan sekali tegukan.


"Udah. Ngormatinnya udah." jelas Adi dengan menaruh gelas tersebut.


"Kalau ada jodoh… Ghifar suruh sama Kin aja, Di." ungkap Haris tiba-tiba, membuat Adi menoleh cepat ke arah Haris.


"Aku dari awal, niatnya Kin suruh sama Givan. Karena dari kecil mereka udah bareng, udah saling nyayangin. Kalau sama Ghifar, kau tau sendiri. Akurnya mereka kadang-kadang, kalau akur tak lama ribut lagi." sahut Adi, yang membuat Givan memperhatikan ayah sambungnya.


"Kin mungkin satu atau dua tahun lagi, siap dia menikah. Entah kalau Ken sih. Sama Riska aja, putus nyambung udah 4 tahun. Ditanya kapan nikah, tahun depan terus jawabnya." balas Haris, dengan menghembuskan asap rokoknya.


Adi menarik toples yang berisi kacang sangrai, lalu ia menikmati cemilan ringan itu.


Haris menghela nafasnya, "Bebasin nanti kek Ken, tak kepengen dia rumah tangga. Kalau ngapel malam mingguan, kadang dini hari baru pulang, kadang besok sorenya baru pulang. Kan tak mungkin tuh rasanya, kalau Ken sama pacarnya tak ngapa-ngapain." tutur Haris, yang mendapat anggukan kecil dari Adi.


"Kadang aku mikir… dosa apa aku sama Dinda dulu. Sampek Icut ya, kek Icutnya. Givan ya… kek Givannya. Sekarang tinggal Ghifar yang berulah. Kalau dideketin, diajak ngobrol baik-baik. Ngomongnya… tak usah berlebihan sama aku, aku ikut abi aja. Kalau tak kek gitu, dia jawab… biar aku bertanggung jawab sama hidup aku sendiri, aku tak mau ditanya-tanya ini itu, aku baik-baik aja. Apa tak geram, aku sebagai ayahnya sendiri. Kalau bilang ke Dinda, masalahnya Dinda pun dapat perlakuan sama dari Ghifar." tukas Adi, menceritakan tentang masalahnya sekarang.


"Udah sok habisin, udah cukup aku." ungkap Haris pada pihak keluarga Canda.


"Perasaan… aku sama Dinda, udah coba jadi orang tua yang terbaik. Adil ke anak laki-laki atau ke anak perempuan. Perhatian tak kurang-kurangnya, waktu juga pasti nyempetin buat mereka." lanjut Adi, yang menarik perhatian Haris kembali.


"Anak-anak itu, nyangkanya pasti kita ngeberatin kasih sayang kita ke salah satu di antara mereka. Aku yang tiga anak aja, mesti aja ribut main drama. Entah Ken sih, dari kecil juga dia memang banyak diam. Ini si Kin sama Langi, ribut aja. Entah tau dari mana, Langi neriakin Kin anak ungsian. Kurang ajar tak tuh anak?" ucap Haris yang diakhiri anggukan kecil dari Adi.

__ADS_1


"Ken yang tau segalanya aja, tak pernah dia neriakin Kin anak ungsian atau apa. Akur-akur aja, ngejagain juga meski bukan adik kandungnya. Ini yang anak baru keluar rahim, berani-berani neriakin anak gadis aku anak ungsian. Kalau bukan anak sendiri, udah aku lempar dia ke luar pagar." lanjut Haris, dengan ekspresi menggambarkan kekesalannya.


"Langi aja nih, sama bundanya sendiri ribut aja. Kau tau sendiri kan dia, kek mana interaksi dia sama Alvi. Dua anak sebetulnya cukup, tapi kan lain lagi ceritanya kalau aku tak punya keturunan sama Alvi. Pasti Alvi ngerasanya gimana, kalau aku tak minta keturunan dari dia." ujar Haris kembali, yang mendapat anggukan kecil dari Adi.


"Tiga aja kau begitu ya? Aku delapan, itu tuh belum dramanya Dindanya. Masih untung kalau hak aku dapat, Dinda tak rewel dimintain jatahnya. Masalahnya kan, hiburan aku cuma se*s itu. Aku bisa rileks karena itu, tapi kadang Dinda tak ngertiin." sahut Adi, yang membuat Mahendra yang berada di sebelahnya tertarik untuk mendengar cerita Adi.


"Udah tua, memang masih bagus lib*donya?" celetuk Mahendra, yang membuat pandangan Adi dan Haris tertuju ke arahnya.


"Bagus kek mana memang?" Adi melemparkan kembali pertanyaan Mahendra, yang tak dimengerti oleh dirinya.


"Kan… kalau udah tua, kadang gagal er*ksi gitu loh Di. Perempuan juga, kadang udah malas. Apa lagi pengaruh KB, hormon buat berhubungan badannya jadi berkurang." Haris memperjelas maksud pertanyaan Mahendra.


"Aku tak pernah gagal. Pas baru pertama kali aja, memang tak sebanding sama Dinda. Tapi karena sering, udah bisa ngendaliin diri sendiri juga ngendaliin Dinda. Jadi udah biasa aja, yang penting bervariasi biar tak bosan." jawab Adi jujur.


"Variasi kek mana?" balas Haris, yang sebetulnya ingin mengetahui tips agar tidak bosan berhubungan juga.


"Beli kursi yang bentuknya kek serodotan bocah itu, biar tak mati gaya. Kadang… beli karet yang unik. Yang neon, dia glow in the dark. Yang bergerigi atau yang varian lain, tergantung pilihan Dinda aja." ungkap Adi tanpa malu. Bukan hal aneh untuk laki-laki, membicarakan masalah seperti itu. Karena obrolan seperti itu, sudah lumrah untuk mereka.


"Siangnya jadi serodotan bocah, malamnya jadi serodotan mak bapaknya." tutur Mahendra, yang membuat ketiga laki-laki matang itu tertawa bersama.


"Aku awalnya tak paham itu kursi apa, dipakek buat apa. Duduknya kek mana, kan bentuknya aneh gitu kan? Nah, Dinda itu yang tiba-tiba bawa balik itu. Aku kira itu kulkas baru, soalnya dibungkus kek kulkas. Pas dia minta suruh pindah ke kamar, udah naruh curiga aku. Nyata kan, pas dibuka bikin aku bingung." tukas Adi kemudian.


"Apa tuh namanya…. Sofa k*mas*tra kalau tak salah." ucap Haris yang diangguki Adi.


"Iya kek gitu namanya kalau tak salah." sahut Adi dengan menikmati kacang sangrai kembali.

__ADS_1


"Jadi rutin gitu, Bang? Maksudnya… pasti nagih terus itu Dinda?" tanya Mahendra, yang membuat Adi mengerutkan keningnya. Ia merasa heran, dengan Mahendra yang selalu bertanya tentang istrinya.


......................


__ADS_2