
"Itu, Pah. Yoka sama Tika mau minta nginep di Fira." Ghifar melaporkan tentang para wanita yang ia bawa.
"Ohh... Ya udah. Kasih pegangan aja, ada tak uang cashnya?" Ghifar langsung mengangguk, ayahnya seperti akan memberinya uang.
"Ada, kak Kin cairin 5 juta pagi tadi." Adi hanya mengangguk, kemudian membawa anaknya dalam rangkulannya.
Ke mana larinya Zuhdi, kenapa tidak ada di ruang tamu itu? Batin Ghifar penuh selidik.
Saat ia melewati ruang keluarga, terlihat Canda tengah menggantikan posisi ibunya tadi. Canda tengah mengobrol dan mengipasi Gavin dan Gibran.
"Udah ada abang kau, sama mamah juga di halaman belakang." ujar Adi membawa langkah kaki Ghifar untuk melewati area dapur.
Rumah sederhana, hanya saja ruangannya berukuran besar dan furniture mahal. Sebenarnya, Adi tak merubah bentuk rumah milik almarhum ayahnya. Namun, merombak tampilan dan menambahkan lantai dua.
"Mau apa sih, Pah? Kok bawa-bawa aku segala? Giska ke mana?" tanya Ghifar, saat sudah melihat keluarga duduk di teras belakang rumah.
"Ya kau abangnya. Giska ngaji." Adi duduk di samping istrinya, sedangkan Ghifar memilih untuk duduk di sebelah kakaknya.
Terlihat Zuhdi memandang satu persatu, orang-orang yang duduk bersila tersebut. Ia sedikit tegang melihat raut wajah tegas Adi, ia takut juragan itu memarahinya.
Zuhdi memandang wajah Adi, "Pah... Untuk masalah bentakan waktu itu. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Aku nyesel, senyesel-nyeselnya. Aku.... Aku...." ungkapnya penuh sesal, sayangnya terpangkas oleh tangan Adi yang terangkat.
"Papah juga minta maaf. Marahin Giska kalau dia berulah melewati batas wajarnya sebagai seorang istri. Didik dia betul-betul, buat dia lebih baik dari sekarang. Penuhi perutnya, batinnya, kebutuhannya, perhatiannya. Kau laki-laki, yang ati-ati dalam berucap. Pemutus rumah tangga ada di mulut kau." Zuhdi seolah mendapat lampu hijau dari calon ayah mertuanya.
Zuhdi tersenyum amat bahagia, kemudian ia langsung mencium tangan ayah kekasihnya.
"Makasih, Pah. Aku usahain, Pah. Aku usahain kehidupan yang terbaik buat Giska dan keturunan kami kelak." ungkapnya penuh yakin.
Adi mengangguk, kemudian melepaskan tangannya.
"Harus itu. Sama Papahnya dipenuhi segalanya, dihidupi dengan baik. Masa giliran sama suaminya, malah jadi tekanan batin. Kan jangan sampek kek gitu, Di." tandas Adinda kemudian.
__ADS_1
Zuhdi mengangguk, yang Zuhdi tangkap dari kalimat itu adalah. Giska jangan sampai kekurangan apapun, jangan sampai Giska malah menjadi kurus karena menikah dengannya.
Adi berdekhem, kemudian langsung mengisyaratkan dagunya pada kedua anaknya.
Givan dan Ghifar saling memandang, mereka tak mengerti harus menimpali apa.
"Masalah ganja sama chip." lirih Adi dengan menilik ponselnya. Meskipun lirih, tetap saja Zuhdi bisa mendengar kode Adi untuk anak-anaknya.
"Oh, ya." Givan menyahuti tanda mengerti.
"Masalah chip, udah diberesin aku sama bang Candra Pah. Untuk ganja, aku tak tau jalurnya." Zuhdi langsung menjelaskan hal itu.
"Chip kau apakan?" Ghifar merasa heran dengan hal itu.
"Bang Candra kan IT, dia utak-atik itu. Jadi akun Giska kemarin, udah dipalsukan identitasnya. Yang jelas tak bakal kena WH katanya, karena informasi alamatnya di luar provinsi kita. Terus... Giska juga udah tak main itu, bang Candra tak bagi tau pin-nya." jelas Zuhdi kemudian.
"Tapi... Sebelum akun itu diganti identitas. Masih ada jejak nama Giska, kan begitu bisa connect sama akun Gmail. Jadi, mesti Gmail diutak-atik. Ada bekas tuh identitas lamanya." tandas laki-laki yang tak pernah menginjak bangku perguruan tinggi. Ghifar merasa demikian, dari penjelasan Zuhdi.
"Jadi gimana?" ia terlihat amat kebingungan.
"Lilahita'ala aja." Adinda begitu pasrah.
"Ayah juga siang tadi udah cerita sama Papah. Ditutup udah, uang udah masuk juga. Tinggal liat nanti gimana gitu kan? Ikuti proses kalau kena tangkap, katanya yang penting tak punya barang bukti." ujar Adi kemudian.
"Hp juga udah baru dia, Pah. Tapi aku mampu belikannya android aja." tambah Ghifar dengan memperhatikan wajah pasrah mereka semua.
"Data yang udah dihapus tuh, masih ada di HP. Kau jual apa kek mana?" tanya Adi mengarah pada Ghifar.
"Aku tak tau HP Giska ke mana." jawabnya dengan raut wajah heran.
"Aku banting. Terus aku injek-injek. Belum puas juga, aku pakuin pakek palu. Lagi dimarahin coba, Pah. Malah sendirinya muter slot. Apa tak murka aku?" Givan menyambar percakapan mereka.
__ADS_1
Gelengan kepala dari beberapa orang, mereka cukup terkejut mendengar tingkah Giska kecanduan game tersebut.
"Terus bangkai HP-nya ke mana?" tanya Adi kemudian.
"Aku bakar sama sampah dapur, sampah daun-daun kering." jawab Givan cepat.
"Untung tak ada abi, kalau ada abi kau pasti diminta lagi, dijual sama dia." Adi bisa saja mencairkan suasana yang memanas karena membicarakan Giska tadi.
Tawa lepas mengiringi mereka. Cukup untuk rileksasi dalam arus ketegangan ini.
"Pah... Tapi ada masalah lain." Zuhdi menarik atensi mereka semua.
"Apa?" alisnya naik sebelah.
"Aku belum bisa menuhin nilai yang Papah sama Mamah minta. Jujur, Pah. Orang tua pun sampek turun tangan, cuma memang aku larang kalau mereka sampek minjem-minjem. Demi Allah, Pah. Aku usahain segalanya. Ranjang pun udah macam yang dimau Giska. Ranjang, lemari, kaca rias, nakas buat di kiri kanan ranjang juga dibuatkan, udah ada TV, kasur seukuran ranjangnya juga udah siap, cuma memang kualitasnya standar aja Pah." Zuhdi telah mencoba memberikan yang terbaik untuk meminang putri juragan tersebut.
"Oh, iya. Ada kursi juga dua, mejanya satu. Tadinya mau macam kursi ruang tamu gitu, satu set. Tapi uangnya tak nyampek." aku pemuda tersebut.
"Uang sama emasnya ada berapa?" Adi benar-benar ingin tahu kesungguhan laki-laki itu, untuk memenuhi nilainya.
"Emas, tiga puluh sembilan mayam. Mungkin kalau nikahnya masih satu atau dua bulan lagi, aku bisa nambahin lagi." Zuhdi merasa dirinya akan ditolak. Ia menunduk, ia takut mendengar ucapan ayah kekasihnya lagi.
"Terus..." Zuhdi melanjutkan kalimatnya.
"Uang empat puluh lima juta, sama uang Giska. Aku jujur, Pah. Itu bukan hasil tabungan aku sendiri. Ada uang orang tua di situ, kira-kira sepuluh jutaan sama nambahin bayarin furniture kayu itu. Ada TV yang aku bilang tadi. Itu... Hasil door prize ipar aku, Pah. Dia kasih TV, buat hadiah pernikahan nanti katanya. Tapi TV-nya dibawa sama aku, jadi kesannya buat isi kamar." laki-laki itu benar-benar jujur. Ia tak ingin menutup-nutupinya. Namun, ia lebih seperti ingin mendapat belas kasih dari calon mertuanya.
"Terus kain-kainnya? Sovenir? Seperangkat perhiasannya?" jantung Zuhdi bergemuruh, ia harus menjawabnya bagaimana? Sedangkan kain-kain dan sovenir, ia belum pernah menambahkannya kembali sejak ia pulang merantau. Apa lagi seperangkat perhiasan, ia hanya fokus pada mahar, sehingga ia melupakan akan hal itu.
......................
Ditolak atau gak hayo???
__ADS_1
jeng.... jeng... jeng.... jeng...........