Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS213. Senda gurau anti mainstream


__ADS_3

"Nikah sama siapa sih?" tanya Adinda pada anaknya.


"Yang pernah aku kenalin itu, Mah." jawab Ghava kemudian.


"Si Gambreng itu? Kenapa sih harus dia? Macam tak ada yang lain aja." mereka semua terkekeh, mendengar Adinda menyebut bahwa si Winda adalah Gambreng.


"Ya itulah, Mah. Mesum di kebun pisang. Untungnya, ketahuan abangnya sendiri. Coba kalau ketahuan orang lain? Tak babak belur, punggung kau belang-belang karena dicambuk." perkataan Givan mengungkap misteri tentang Ghava.


"Aku paksa dia nikah, Mah. Mau sampek kapan main di kebun pisang kan?" Ghava benar-benar malu, karena kedua kakaknya itu mengatakan kebun pisang berulang kali.


"Ya ampun." Adi geleng-geleng kepala, dengan memperhatikan anaknya yang terus menunduk malu itu.


"Ya udah. Gini deh.... Lepas Papah Mamah ke sana, kita gelar pernikahan secepatnya." putus Adi kemudian. Benar kata Givan, apa yang akan terjadi padanya, jika perbuatan mesumnya diketahui oleh orang lain.


"Pendidikannya kek mana, Bang?" tandas Adinda, dengan menyentuh punggung tangan suaminya.


Adi menoleh, dengan menyugar rambutnya ke samping.


"Selesaikan lah. Papah udah tak mau ada yang ngerantau-ngerantau lagi. Pengen kumpul di sini. Kalau memang kau pengen buka usaha sawit, buka aja di ladang baru Papah. Ada sepuluh hektare, kau olah sana." tegas Adi.


Givan dan Ghifar saling memandang. Keputusan ayahnya, berbeda dengan keputusan yang saat itu mereka ambil.


"Winda juga masih kuliah, Pah. Waktu itu, Bang Givan sama Bang Ghifar bilang. Winda suruh selesaikan pendidikannya, pulang pergi dia di rumah ini. Aku, selesaikan kuliah aku sambil lanjut sawit di provinsi A. Atau Winda yang ikut aku, pindah pendidikan juga aku sama Winda ke provinsi K." Adi terdiam, menimbang-nimbang kembali keputusannya.


"Nanti kau nikah lagi yang ada. Tak baik suami istri LDR-an. Udah kau pindah pendidikan ke sini lagi aja. Kau kerja apa aja yang halal, Papah tak mau bantu, yang penting ladang jalan. Butuh modal bilang, tapi jangan sok ngontrak dulu, kalau belum bisa makan sendiri di sini. Intinya... Silahkan kalian bikin rumah sendiri. Tapi tak boleh keluar dari daerah ini. Papah Mamah udah tua, mau anak-anak ngumpul. Biarin dibilang kolot juga, Papah Mamah udah pengen diperhatikan sama anak." ketuk palu dari Adi.


Mereka semua mengangguk mengerti, karena perkataan itu bukan hanya untuk Ghava saja.


"Kapan Mamah Papah mesti ke Gambreng? Tak langsung lamaran kan?" tanya Adinda, ia ingin segera menyelesaikan permasalah Ghava.


"Langsung lamaran, macam Giska. Tapi, tak usah jak ba tanda atau apalah itu. Tak usah pertunangan." Ghava sepertinya sudah benar-benar mantap pada pilihannya.


"Ya udah, kalau adik-adik kau udah sembuh. Papah Mamah nanti ke sana." putus Adi, setelah dirinya menoleh pada anak mereka yang tertidur pulas. Setelah mengkonsumsi obat untuk luka sunat mereka.


"Terus ini, Pah. Soal Giska." Adi menghela nafasnya, punggungnya bersandar kembali dengan terpaksa.

__ADS_1


"Kenapa lagi kau, Nak?" Adi mengulurkan kedua telapak tangannya pada gadis di samping kanannya.


"Jangan kaget Mah, Pah." mereka semua menoleh pada Givan, yang berada di samping menantunya.


Adi dan Adinda mengangguk menanggapi, mereka menunggu suara selanjutnya dari Givan.


"Giska... Pengedar. Intinya, pelarian yang salah. Gara-gara harapannya ke Zuhdi."


Helaan nafas berat kedua orang tua tersebut, terdengar bersamaan. Kemudian Adinda langsung memeluk suaminya.


"Kenapa ya dulu waktu hamil Giska, aku ngeflak terus, tapi tak keguguran aja sekalian?" tangan kanan Adi reflek menepuk mulut lancang istrinya.


"Abang bikinnya capek, kau mau keguguran pulak!" ketus Adi membuat anak-anaknya terkekeh. Ada-ada saja dengan celetukan dari ayahnya itu.


Adinda terkekeh, memukul manja lengan suaminya yang ia ganduli.


"Tapi ayah udah berusaha beresin kok, Pah. Cuma itu... Ayah minta bikin Giska sibuk sama hal lain. Makanya kenapa sekarang dia fokus sama prewed pernikahannya." kedua orang tua itu hanya bisa mengelus dada. Mereka hanya meninggalkan rumah beberapa minggu, tetapi permasalahan pada anaknya begitu kompleks.


"Pendidikannya cuti, soalnya pemasoknya Giska itu ketua kelompok KKNnya." tambah Ghifar membuat hati orang tua tersebut mencelos begitu syok.


"Ya udah." Adi pasrah.


"Nikah ya nikah." lanjutnya dengan menoleh ke arah Giska.


"Zuhdinya suruh ke sini." pinta kepala keluarga tersebut.


"Ok." Giska langsung mengutak-atik ponselnya, kemudian menempelkan ponselnya pada telinganya.


"Bang... Disuruh Papah buat ke sini." ucap Giska dengan raut wajah bahagia. Ternyata ayahnya tak melarangnya.


"Sore ya, Dek. Abang lagi kerja. Nanti abis ashar aja. Lagi kerja di om Hamid, bangun yang di belakang rumahnya." Zuhdi memberi alasan dan penjelasan akan dirinya yang tidak bisa hadir sekarang.


"Ohh, ya udah." sahut Giska dengan memperhatikan Kinasya yang kembali masuk ke dalam rumah.


"Ya, Dek." panggilan langsung terputus. Zuhdi tengah sibuk di seberang telepon sana.

__ADS_1


Pikiran Adi merumit. Permasalahan anak gadisnya tidak main-main. Ia tiba-tiba merasa tidak tenang, jika teringat akan hal yang berbau hukum. Ia tidak bisa berkutik, sekalipun ia bisa membayar sel yang ternyaman. Karena, yang namanya penjara. Sekalipun berfasilitas bak hotel, tetap saja terkurung dalam sangkutan hukum.


Menyembunyikan Giska, bukan pilihan yang terbaik.


"Dek..." Adi bersuara, ia menyentuh tangan istrinya.


"Apa?" sahut Adinda, ia memahami pikiran kacau suaminya.


"Adek pernah jadi DPO tak? Waktu kasus penusukan dulu." tanyanya cukup menarik atensi anak-anak mereka.


"Aku memang DPO. Dapat surat pemanggilan, aku tak datang. Lari ke sana, lari ke sini. Soalnya plat nomor mobil aku pun, ternyata dikenali polisi lalu lintas. Sampek akhirnya, disembunyikan bang Haris. Tapi tak lama, karena bang Haris dan rekannya bang Haris yang dicurigai nyembunyiin aku, kena geledah juga rumahnya. Terus keciduk di kafe, kena pasal dobel. Lupa apa pasalnya, tapi ternyata korban pun kena pasal, bang Haris nuntut balik perihal pelecehan. Pas sama-sama diproses, aku udah masuk sel, keluarganya cabut tuntutan, bang Haris negosiasi sama keluarganya korban." cerita Adinda cukup singkat dan jelas.


"Contoh coba Ma kau, Giska. Kasusnya keren, pembunuhan. Bela diri sendiri, dari laki-laki yang ngelecehin. Nah kau?" Adi seperti melawak. Ini bukan unjuk prestasi, tetapi lebih ke aib.


"Papah kau ganja. Abang kau pemerkosaan, sabu. Kau.... Masa kau pengedar. Tambah berat aja dendanya nanti." Adinda geleng-geleng kepala, setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Bukan main ya, Dek?" yakinlah, Adi mencoba menghibur dirinya sendiri dengan istrinya.


Mereka terkekeh bersama, dengan menarik tangan satu sama lain. Gurauan mereka semakin asik, tanpa memperdulikan anak-anaknya.


Anak-anak mereka melanjutkan aktivitasnya. Mereka malu, menyaksikan orang tuanya bersenda gurau dengan kemesraan. Bersyukur atas segala sesuatunya, lebih-lebih ternyata kedua orang tuanya tak syok mendengar segala cerita mereka.


Ghifar memilah pakaiannya, yang lama terkumpul di keranjang baju kotor. Ia memutar musik dalam ponselnya, untuk menambah semangatnya beraktivitas.


Sedangkan beberapa wanita, tengah bergelut dengan alat-alat dapur.


"Kusadari memang salah. Aku mudah jatuh cinta. Ku tak ingin kita berpisah, relakanlah aku mendua."


Kinasya beradu pandang dengan Canda, "Bagus ya suaranya?" puji Kinasya pada laki-laki yang tengah bersenandung tersebut.


"Jelek. Kita ditindas di lagu itu." Canda terbawa perasaan dengan lirik yang Ghifar nyanyikan.


"Dek... Sini dulu." Givan masuk ke area dapur, meminta istrinya untuk mengikutinya.


......................

__ADS_1


__ADS_2