
Kemudian Zuhdi mengangguk samar, "Ya, Pak. Memang sebelumnya saya janjikan uang yang dia minta, tapi saya memintanya juga buat ke sini. Apa Giska baik-baik aja, Pak?" ucap Zuhdi, yang membuat Adi tak mengerti.
Alis Adi berkerut, ia ingin mengatakan ketidakpahamannya. Namun, Zuhdi menjelaskannya terlebih dahulu.
"Maksud saya... Apa Giska kecelakaan di jalan, atau kendala lain? Soalnya sampek sekarang dia belum ngabarin saya lagi, Pak." jelasnya kemudian.
"Tak, Giska baik-baik aja. Memang saya tak izinkan dia keluar." ujar Adi yang membuat Zuhdi menatap ayah kekasihnya seribu tanya.
"Kenapa, Pak?" celetuk Zuhdi yang membuat Adi langsung menoleh cepat ke arah Zuhdi.
"Biasa, drama sama mamahnya." sahut Adi, kemudian ia terdiam kembali.
Ia bingung, bagaimana cara mengatakannya agar Zuhdi tidak tersinggung. Jika ia langsung mengungkapkan maksudnya, tentu ia merasa tak enak hati. Tetapi jika ia banyak berbasa-basi, hari sudah semakin malam. Sudah bukan waktunya untuk bertamu lagi.
"Ini tentang apa, Pak? Saya jadi was-was sendiri. Apa ini tentang hubungan saya sama Giska?" ujar Zuhdi mendahului, karena Adi masih saja terdiam.
Adi sedikit merasa cocok, dengan laki-laki yang memikat hati anaknya tersebut. Namun, ia merasa sekarang bukan waktunya Giska untuk berpacaran. Tapi tentu keputusannya ini, akan menyakiti hati anaknya yang terlihat begitu mencintai laki-laki ini dari caranya bertukar pesan.
"Maaf..." ucap Adi menggantung, membuat jantung Zuhdi bergemuruh hebat.
__ADS_1
"Untuk apa, Pak?" tanya Zuhdi, mencoba menstabilkan tarikan nafasnya.
"Jangan tersinggung. Giska kan masih tanggungan saya, ya kan? Jadi gimana kalau uang yang Giska minta, saya ganti semuanya?" ungkap Adi yang membuat Zuhdi menatap jari kakinya.
"Uang bisa dicari, Pak. Saya tak keberatan diminta seratus dua ratus, kalau memang saya punya. Lagian... Giska bukan orang lain juga. Saya anggap wajar, kalau dia butuh saya." sahut Zuhdi, dengan masih menundukkan kepalanya.
"Logikanya... Uang diminta, pasti ada sesuatu yang diberi. Entah kenapa... Saya tak tenang, kalau ingat kata-kata itu." balas Adi dengan memperhatikan pemuda yang menurutnya cukup baik dan sopan tersebut.
"Tak ada yang saya dapat, Pak. Selain hati Giska, yang mungkin sayalah pemenangnya. Bukan maksud hati menyombongkan diri, Pak. Tapi saya kasih aja apa yang Giska minta, karena berharap kelak esok saya bisa halalin dia. Saya cuma pengen kasih yang terbaik buat dia, meski itu hanya tentang perasaan dan sesuatu yang dibutuhkannya." Zuhdi mengambil oksigen lebih banyak.
"Tak pernah saya lancang sama dia. Saya segan sama Anda, Pak. Saya tau batasan saya, yang tak satu tingkat dengan kalian. Tapi ini menyangkut perasaan, Pak. Saya sama Giska, udah terlanjur cinta. Kita udah bertahan kurang lebih satu tahun, meski hanya akrab dalam chat aja. Jadi... Saya minta izin, untuk akhir bulan nanti saya khitbah Giska. Jika diizinkan, saya akan berterima kasih sekali pada Anda. Saya akan usahakan untuk menuhin mahar dan uang yang kalian minta, tapi saya butuh waktu untuk itu semua." lanjut Zuhdi, yang membuat pikiran Adi semakin runyam.
Adi menghela nafasnya, "Saya ke sini, agar istri saya tak tau masalah ini. Sampek saat ini pun, mamahnya Giska tak tau kalau Giska udah punya pacar. Niat awal saya ke sini, buat minta kau nunggu Giska sampek dia siap pendidikan. Juga stop ngasih dia uang, karena Giska masih kewajiban saya." sahut Adi, yang membuat Zuhdi terdiam beberapa saat.
"Dipisahkan kek gitu, Pak?" tanya Zuhdi memastikan.
"Break, kau paham kan? Saya masih mau menikmati waktu-waktu Giska menjadi anak saya, sebelum dia jadi milik suaminya. Aku tak ngelarang kau, buat jadi pendamping anak saya. Bukan itu yang saya permasalahkan. Saya khawatirnya Dinda tau masalah ini. Nanti dia pasti lebih tega sama Giska, dan saya tak mau perasaan anak saya yang Dinda korbankan kali ini. Jadi... Gimana kalau kau sama Giska, sementara tak ada hubungan dulu. Tunggu Giska kurang lebih tiga tahun lagi, terus kau datanglah buat nikahin Giska. Kan kau bisa kumpul-kumpul uang juga, tanpa direcokin Giska tiap minggunya." ungkap Adi, sembari berdoa agar laki-laki tersebut tidak tersinggung.
"Saya...." ujar Zuhdi dengan suara bergetar. Lalu ia langsung menggantungkan ucapannya, untuk menstabilkan suaranya terlebih dahulu.
__ADS_1
Siapa yang tak terhantam, jika orang tua dari kekasih kita yang mengucapkan hal itu secara langsung.
"Kenapa, Di?" pertanyaan tiba-tiba, dari ayah Zuhdi yang baru muncul dari dalam ruangan.
Adi langsung berjabat tangan dengan ayah Zuhdi. Kemudian ayah Zuhdi mempersilahkan kembali Adi untuk duduk di kursi yang terbuat dari bambu tersebut, dengan dirinya yang menduduki kursi di seberang tempat Adi duduk.
"Aku diminta ninggalin Giska dulu buat sementara, Bu. Abu... Aku harus ngomong apa?" ucap Zuhdi lirih, yang membuat Adi tak enak hati.
Laki-laki yang dipanggil abu oleh Zuhdi tersebut, beralih menatap Adi serius.
"Ini masalah anak-anak ya, Teungku? Memang wajarnya kita ikut campur, tapi sewajarnya aja. Pasti ini menyangkut mahar yang anda patokan kan? Kalian pasti matok mahar tinggi buat Giska ya? Saya pun sebelumnya sudah menasehati anak saya, agar tau derajatnya. Tapi namanya anak-anak, mereka kira ini hanya mainan. Udah terlanjur mereka main perasaan, ya saya bisa apa Teungku?" ujar ayah Zuhdi, yang memiliki nama mirip dengan Zuhdi tersebut.
Adi menggeleng cepat, "Mahar itu tuntutan. Tapi saya juga matok mahar, buat tau kesungguhan laki-lakinya. Apa lagi Zuhdi orang sini juga, pasti terlihat di mata saya usahanya ngusahain mahar Giska. Masalahnya sekarang, bukan tentang mahar. Ini tentang fokus Giska, tentang kewajiban saya sebagai orang tuanya. Saya cuma minta Zuhdi, mau sabar nunggu Giska tiga tahun lagi. Tapi Zuhdi tadi sempet nyampaiin, katanya dia mau minta izin buat ngikat Giska. Saya keberatan akan hal itu. Karena saya pikir, tunangan itu bukan hal yang penting dan cuma buang-buang biaya aja. Lebih baik sekalian nanti kan? Sambil Zuhdi bisa ngumpulin uang, biar bisa muliakan anak gadis saya." jelas Adi perlahan, dengan mendapat anggukan dari ayah Zuhdi.
"Ada benarnya juga. Tapi Giska siap tak, kalau memang harus kek gitu? Zuhdi insyaa Allah dia siap, kalau anak Teungku tak sering-sering main ke sini." balasnya membuat Adi mengerutkan keningnya.
"Maksudnya kek mana ya, Pak? Ucapan Bapak barusan, seolah bilang kalau Giska yang tergila-gila sama anak Bapak. Saya yang punya anak perempuan tersinggung, dengan ucapan Bapak barusan. Macam seolah Giska aja di sini yang cinta sama Zuhdi, sedangkan Zuhdi tidak demikian. Bapak menghina saya? Nyepelehin anak gadis saya?" Adi terpancing emosi, saat pak Zuhri mengatakan hal tersebut. Adi datang baik-baik, untuk membicarakan masalah ini. Namun, ia malah dikejutkan oleh ucapan ayah Zuhdi tersebut. Yang terdengar tidak nyaman di telinganya.
......................
__ADS_1
Siapa yang gak tau sih sifat tersinggungan Adi.