
Pagi hari yang mendung ini, Givan direpotkan dengan beberapa emas yang masuk ke dalam ranselnya.
"Brat that." ucap Givan, saat mencoba mengangkat ransel tersebut.
"Terus kek mana dong?" Adinda bertolak pinggang, dengan memperhatikan Givan yang kembali mencoba mengangkat ransel tersebut.
"Uang kau di rekening ini ada berapa, Giska?" tanya Adinda pada anak gadisnya yang melewatinya begitu saja.
"Sepuluh jutaan aja. Tak usah diacak-acak lagi itu rekening. Udah, aku ikhlas ilang uang 10 juta." terlihat Giska sudah baik-baik saja, saat mengucapkan hal itu.
"Dinasehati apa, Dek?" bisik Adi, yang menonton drama Givan yang tak kuat mengangkat ransel.
"Rahasia." ujar Adinda dengan memasang telunjuk tangannya di depan dadanya, kemudian ia menggerak-gerakkannya ke kiri dan ke kanan.
"Ayo, Mas. Sama aku, sekalian isi galon." usul Canda, dengan membawa galon kosong dari arah dapur.
Adi dan Adinda terkekeh geli, melihat reaksi wajah Givan yang memasang wajah kaget luar biasa.
Canda memukul pelan lengan suaminya, "Biasa aja dong. Lebay!!" ujar Canda kemudian.
"Ya udah tunggu di depan. Kasian betul motor baru. Berangkat bawa emas batangan, balik bawa air galon." tutur Givan, dengan mengangkat ranselnya.
"Tuh... Gampang aja!" tukas Adi, yang melihat anaknya melenggang santai dengan membawa ranselnya.
"Cuma 3,33 gram, dikali 34. Masih berat dek Canda, tapi aku tetap kuat." jelas Givan, yang membuat ayah dan ibunya tertawa kembali.
"Jadi tadi acting aja berarti?" ucap Adinda kemudian.
"He'em lah. Biasa Givan kan begitu dari kecil kalau disuruh. Aduh berat, aduh berat. Papah aja yang bawa, tak kuat aku. Biar tak jadi disuruhnya." jelas Adi, dengan menirukan penolakan Givan kecil ketika disuruh untuk membawa sesuatu.
"Oh iya, Bang. Bang Haris semalam ngabarin, sekitar jam 2an, pas Gibran masuk ke kamar minta bikin susu itu nah. Katanya Kin ambil penerbangan ke daerah kita, mungkin beberapa jam lagi nyampek keknya." ucap Adinda dengan duduk di sebelah suaminya, kemudian meluruskan kakinya di atas meja.
__ADS_1
"Betisnya itu, Dek. Godain aja. Coba mau WOT, Abang kasih Adek P*jero sport warna white." rayu Adi, dengan sedikit menarik rok istrinya yang tersingkap di bagian betis.
Sampai dirinya melupakan topik pembicaraan mereka, tentang tamu yang akan datang.
"Tak perlu P*jero lah, aku mau kuda pacu. Kuda yang kakinya jenjang itu loh, yang biasa buat balap." Adi menjatuhkan rahangnya seketika, saat mendengar permintaan istrinya.
"Aih orang kaya, segala kuda dipengenin. Tak mau Abang, pasti Abang juga akhirnya yang ngurusin itu kuda." tolak Adi, mendapat tawa renyah dari istrinya.
Adinda mengempit leher suaminya, dalam ketiaknya. Kemudian ia menghujami suaminya, dengan kecupan yang amat menganggu.
"Papah......" panggil seseorang, dengan suara yang tidak stabil.
Adi dan Adinda langsung meluruskan pandangannya, untuk melihat siapa yang memanggil Adi.
Koper dan tas jinjingnya terjatuh begitu saja, ia langsung berlari kecil dan menubruk kedua orang tua angkatnya.
"Mah... Pah.... Aku anak siapa?"
"Aku mau ketemu umi Sukma, aku mau nanya sama umi."
Ungkap Kinasya, yang menciptakan kebingungan di antara Adi dan Adinda.
"Pah... Anterin dong. Mau ngurus-ngurus buat KKN." seru Giska, dengan sepiring makanan yang ia bawa.
"Ehh..." ia terkaget-kaget, saat melihat Kinasya tengah memeluk ibu dan ayahnya.
Giska kemudian duduk di sofa lainnya, kemudian mulai menyantap sarapannya dengan sesekali memperhatikan ibunya yang mengusap-usap punggung Kinasya.
"Bersih-bersih gih. Makan terus tidur." pinta Adi, saat Kinasya melepaskan pelukannya.
"Aku mau cerita, Pah." tandas Kinasya, ia berdiri dengan bertumpu pada lututnya. Lalu kepalanya ia sandarkan di atas paha Adinda.
__ADS_1
"Nanti lagi. Kenyangin perut kau, terus tidur." tegas Adi. Kinasya mengangguk mantap, dengan langsung bangkit menuju ke kamar tamu.
"Biar Mamah anterin makanan kau ke kamar." tambah Adinda, saat Kinasya menarik kembali kopernya menuju ke kamar tamu.
"Drama baru, Pah?" tanya Giska, dengan menyuapkan satu sendok penuh ke dalam mulutnya.
Adi memutar lehernya ke arah Giska, "Tak, masalah intern aja. Lagian, kau udah patah hatinya? Udah lahap aja kau makan." jawab Adi kemudian.
Adinda tertawa sumbang, kemudian dirinya berlalu pergi ke arah dapur.
Mata Giska melebar, memperhatikan ayahnya yang masih bersandar santai pada sofa.
"Tau ah, Papah tuh ngingetin aja." ujar Giska dengan bibir mengerucut.
Adi terlihat tak acuh, dengan meraih remote TV. Kemudian ia menikmati siaran berita, dengan meluruskan kakinya di atas meja.
"Urus dulu KKN aku, Pah. Gimana gitu caranya, biar bisa KKN di tempat yang deket." ungkap Giska dengan nada suara yang membuat Adi muak. Giska terlampau manja padanya.
"Jangan terlalu manja coba! KKN tinggal KKN, jauh dekat, itu kan itung-itung pengalaman baru buat kau. Biar ngerasain merantau, biarpun tak merantau betulan. Biar tau cari uang itu susah, hidup itu keras. Biar paham juga yang namanya perjuangan, pertahanan dan menjaga diri. Biar paham caranya sosialisasi yang baik, dengan adat yang berlaku di masing-masing daerah. Tak kepengen kau macam mamah kau, bisa beberapa bahasa daerah, meski kosa katanya tak banyak. Tau adat istiadat, sama aturan di tiap-tiap daerah. Janganlah ngomong Asia atau Eropa dulu, Indonesia aja dulu kau jelajahi. Suku-suku tiap daerah, kau pelajari bahasa dan adat istiadatnya. Kempunan di suku Dayak, kau ngerti tak? Ada juga yang nyebutnya kepuhunan. Terus....."
"Terus apa lagi? Kenapa aku ngerasa, aku anak yang sia-sia dilahirkan. Mamah aku orang hebat, Papah aku orang hebat. Aku apa? Kuliah rasanya pengen cepet wisuda aja aku, Pah. Kalau jujur, tak mampu aku belajar sampek sekarang. Beberapa kali aku nyalin ke kawan, tak jarang aku nitip tugas." potong Giska, dengan menyelesaikan acara makannya.
Adi tak memahami, bahwa anaknya tengah amat sensitif sekarang. Persoalan asmara yang tidak beruntung, membuat dirinya semakin ingin memarahi setiap orang.
"Jangan bentak-bentak Papah kau!" tegas Adinda, yang lewat dengan membawa senampan makanan.
"Papah kemarin belain kau terus, tutup-tutupi kau dari mamah kau. Biar kau tetap ada di jangkauan Papah, tetap bisa Papah liat setiap hari. Karena jauh dari anak perempuan itu berat, Giska. Cuma disuruh kuliah yang betul aja, kau nampaknya terbebani betul. Coba tengok anak orang lain di luar sana. Mereka malah berlomba-lomba pengen dapat beasiswa buat kuliah. Abang kau, bang Givan S.T. kak Icut, S.A.B Papah kau sendiri, S.P."
"Bang Ghava, bang Ghavi, bakal dapat gelar S.E. Masa, nyampek kau tak punya gelar?"
Tentu saja ucapan Adi tersebut, membuat Giska semakin meradang.
__ADS_1
"Apa karena aku bukan bang Ghifar, yang tak punya gelar pun tetap aman? Apa karena aku tak punya jatah warisan sebanyak dia? Jadi aku harus punya gelar, buat kelangsungan hidup aku?" suara Giska bergetar tidak stabil, dengan mata yang amat merah.
......................