Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS206. Kehangatan keluarga Adi's bird


__ADS_3

"Sini kumpul, bobo di sini." Adi menepuk kasur angin yang sudah dilapisi sprai, mangajak Hamerra dan Mikheyla.


Gavin dan Gibran pun sudah berada di atas kasur, Adi tengah mengipasi kedua inti mereka yang terbuka.


Bukannya Hamerra dan Mikheyla yang mendekat, malah anak-anaknya yang duduk di tepian kasur tersebut.


Lebih-lebih dengan Ghifar, ia langsung merebahkan tubuhnya di samping Gibran.


"Abang bobo di sini boleh tak?" Ghifar memiringkan tubuhnya, kemudian mencium pipi kanan adiknya.


"Bayar dulu lah. Kata Mamah, kalau disunat bisa banyak dapat uang. Kok aku baru punya uang dari Mamah Papah aja, Abang tak kasih kah?" Ghifar terkekeh geli, mendengar ucapan polos adiknya.


"Mau berapa?" Ghifar merogoh dompetnya yang terselip di saku belakang celananya. Ia sudah mengganti sarung dan baju koko, dengan kaos biasa dan celana jeans selututnya.


Ghifar mengarahkan dompet tersebut pada Gibran. Ia membuka mulut dompet tersebut, yang memperlihatkan uang miliknya yang terselip rapih.


"Bagi Abang juga, Dek?" Gavin menyenggol lengan adiknya.


Gibran langsung mengambil uang merah yang terjepit itu. Tanpa sisa, Gibran menguras dompet kakaknya.


"Kita setengahan." Gibran membagi yang ia ambil, pada kakaknya yang bersunat juga.


Gavin menerima uang tersebut, "Kalau mau setengahan itu dihitung, dibagi rata. Bukan main kira-kira, comot dibagi dua. Mana tau tebel kau tiga lembar." ujarnya membuat semua orang terkekeh.


"Uang tuh buat apa sih? Kenapa harus minta uang?" Ghifar memberikan pertanyaan untuk adik-adiknya.


"Buat jajan. Kalau aku jajan, aku langsung lari ke tukang jualannya. Katanya mana utangnya. Kek gitu, Bang." jelas Gavin dengan polosnya.


"Nah, Adek Gibran memang uangnya buat apa?" Ghifar bertanya pada adik yang posisinya paling dekat dengannya.


"Buat kak Giska. Nanti kata kak Giska, sini dipegang akak. Nanti di A*pa beli es krim, beli ciki, beli kuota juga, buat aku YouTub*an katanya." mereka semua kembali tertawa, dengan melirik sekilas pada Giska yang duduk di sudut kasur di dekat Canda.


Namun, mereka malah salah fokus pada Canda yang tertidur dengan posisi duduk. Givan geleng-geleng kepala, melihat istrinya yang nyenyak dalam posisi duduknya tersebut.


"Pindahin sana, Van! Masih sering ***** aja dia. Saking kecapeannya kah?" ujar Adinda yang masih memperhatikan wajah Canda.

__ADS_1


"Tak tau, Mah. Tak pernah ke toko juga. Masak aja biasa, nyuci jarang. Main HP, kadang pules sendiri. Akhir-akhir ini lah, Mah. Udah dua bulanan keknya dia begitu." Givan bangkit, berniat memindahkan istrinya ke kamar.


"Jangan-jangan...." Adi merasa menantunya tengah tidak baik-baik saja.


"Apa?" tanya Adinda kemudian.


"Tak, deh. Takut salah." Adi tak bisa mengatakannya, ia takut menyinggung anak sulungnya.


"Papah makan belum? Aku masak sesuatu loh." ujar Kinasya dengan bergelayut pada punggung Adi.


"Jangan soang lagi, Kin. Papah ingat dikasih makan daging ular, pas kau hidangin lehernya." Kinasya terbahak-bahak, ucapan ayah angkatnya mengingatkannya pada hasil masakannya saat Ghifar datang ke rumah dengan membawa rombongan.


"Ada ceritanya aku bisa motong soang tuh, Pah. Tak tiba-tiba aku motong soang." Kinasya menggeser posisinya, agar tidak tepat berada di belakang Adi.


"Apa, memang? Seumur-umur Mamah sih tak pernah makan soang. Halal tak sih, Bang?" pertanyaan Adinda barusan, membuat Adi mengernyitkan dahinya.


"Jangan nanya halal tak. Abang tak mau jelaskan nih, Dek. Tapi... Kita haji loh, Dek. Kemarin hari kita malah minum...." Adi menurunkan nada suaranya, kemudian dirinya sedikit menyerongkan posisinya pada istrinya.


Tawa mereka berdua pecah, teringat akan tempat karaoke yang mereka kunjungi saat itu.


"Udahlah jangan dibahas." tandas Adinda kemudian.


"Tapi aku tak masak soang lagi, Pah. Aku masa ikan dibumbui." jelas Kinasya dengan menarik lengan kaos Adi.


Adi menoleh pada seseorang yang sering menginap jika akhir pekan itu, "Nanti aja deh. Jam tigaan Papah udah makan." Kinasya hanya mengangguk, ia memahami ayah angkatnya masih kenyang.


Givan sudah kembali dari dalam kamar, ia menyeka keringatnya karena pendingin ruangan di kamarnya baru dinyalakan saat ia memindahkan Canda tadi. Menjadikan kamar itu mendadak pengap, juga belum sejuk merata.


Ia memperhatikan Ghifar, ia ingin mengisyaratkan sesuatu.


"Ya yah... Cucu entak." Mikheyla datang dari arah belakang, tubuhnya begitu dingin karena ia tidak mau diam.


Ghifar memperhatikan interaksi putri cantik Fira dengan Givan.


"Yayah tak ada uang, Key." Givan terdengar malu-malu, saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Nih, nih." Kinasya memberikan uang pecahan dari sakunya.


"Nanti besok Ma belikan satu pack. Sekarangnya beli dulu empat di warung ya? Buat Key, Memei, Pak cek Gavin sama Pak cek Gibran." Kinasya menginginkan empat kotak susu, dari uang sepuluh ribunya.


Givan menghela nafasnya, saat mengetahui hanya sepuluh ribu yang Kinasya berikan.


"Jangan malu-maluin Abang lah, Kin. Masa iya, uang segitu minta empat kotak." ucapnya begitu nelangsa.


Kinasya terkekeh kecil, "Aku belum gajian, Bang. Hari-hari aku minta ke Ghifar." aku Kinasya malu-malu.


"Ya iya! Kau nih sok kuat. Aku ngontrak sendiri aja, aku tak enak di mata tetangga. Anak Mamah laki-laki semua, aku perempuan muda, nanti apa kata tetangga." Adinda menirukan suara Kinasya.


"Tak taunya, Ghifar juga yang dimintain uang." tambah Adi membuat Kinasya terbahak-bahak, untuk menyamarkan rasa malunya.


Adi tak mempermasalahkan itu sebenarnya. Karena ia merasa memberikan Ghifar segepok uang, untuk kebutuhan di rumah itu.


"Bentar aku ambil dulu." Ghifar mengerti, ia bangkit untuk mengambilkan uang yang dibutuhkan.


"Ghifar makannya gimana sih, Tik? Maksudnya... Apa tak dijaga makanannya? Tak banyak kah dia makan? Dulu... Di rumah aja juga, makannya porsi kuli." Adinda mengajak ngobrol gadis yang duduk tak jauh dari tempat Ghifar merebahkan tubuh tadi.


"Aku... Gak tau pasti juga Mah. Soalnya Ghifar jarang makan di rumah dari aku kenal juga." jawab Tika seperti tengah mengingat-ingat sesuatu.


"Suka fast food. Sering jajan macam-macam olahan mie." tambah Yoka, yang berada di samping Tika.


"Ohh... Pantesan banyak jerawatnya. Aku aja udah yang masakin nanti, tinggal kasih uangnya perbulan sama aku." usul Kinasya cepat.


"Biar apa? Perempuannya ada, tapi kau yang ngurusin makanannya? Biar aja Tika sama Yoka yang urus." perkataan Adi membuat suasana menegang.


Ghifar muncul, dengan uang yang ingin ia kembalikan pada orang tuanya.


"Masih utuh nih, Pah. Giska minta beberapa lembar aja, biar uang dari aku. Kak Icut juga bilangnya, udah dikasih jatah sama Mamah. Kak Kin, bisa aku handle juga." ungkap Ghifar kemudian.


"Ya udah. Taruh di kamar Papah." perintah Adi terdengar nyaman di telinga.


Tanpa sepengetahuan mereka, Givan mengikuti langkah Ghifar. Membuat Ghifar berhenti melangkah, karena tepukan di pundaknya.

__ADS_1


"Cerita kah ke mereka?" yang Givan maksud adalah masalah adik-adiknya.


......................


__ADS_2