
[Far… minggu besok kamu ke rumah Abi. Angkutin buku mamah kau, yang launching di gerai buku punya tante Ashila.] Pesan teks yang Ghifar dapat dari Haris.
Ghifar menghela nafasnya. Pekerjaan hari ini belum selesai, tetapi besok sudah ada pekerjaan lain yang menunggunya.
[Biasanya itu urusan penerbit sama gerai buku. Bukan urusan penulis, apa lagi sama anaknya.] Balas Ghifar dengan langsung mengirimkannya pada Haris.
Namun, saat Ghifar akan meminum kembali air kemasan botol. Ia mendapatkan panggilan telepon dari abinya.
"Apa, Bi?" ucap Ghifar, setelah ia menyentuh ikon terima.
"Gerai tante Ashila kan gerai kecil, dia langsung ngambil dari mamah kau. Kan kalau mamah kau bisa jual bukunya sendiri, dia juga dapat upah lebih. Tante Ashila juga bakal dapat juga, meski dia jual harga yang disarankan. Tapi dia beli dari mamah kaunya murah, jadi dia udah dapat tuh dari situ." jelas Haris yang membuat Ghifar ingin teriak seketika.
"Masalahnya aku capek, Bi. Aku ini lagi angkat telor puyuh. Itu pun belum selesai, karena masih ada beberapa kali balik lagi, buat nyuplay ke tempat lainnya." balas Ghifar terdengar seperti mengeluh.
"Ya semangat dong. Nanti buat malam mingguan lagi, sama perempuan santri yang kamu masukin ke hotel." ujar Haris dengan nada senang, karena ia berharap Ghifar terbawa suasana dari nada bicaranya.
"Aku tak suka perempuan macam itu. Santri tapi dugem! Mending yang ngerokok sekalian." tutur Ghifar yang membelokkan arah bicaranya, tentang wanita yang ia inginkan.
__ADS_1
"Boleh, nanti Abi carikan. Kau malam ini tidur di rumah Abi aja, nanti kita keluar bareng sama Kin sama Ken. Abi juga mau ikut, mau cuci mata." ungkap Haris yang membuat Ghifar terkekeh geli.
"Kalau papah Adi mau keluar, pasti diseruin mamah suruh ajak anak-anaknya atau dianya ikut." ujar Ghifar yang malah terbayang dengan wajah nelangsa ayahnya, saat ingin pergi keluar. Namun, malah berubah menjadi acara mengasuh anak-anak.
"Bodohnya papah kau mau aja." tanggap Haris dengan tertawa renyah.
"Papah nurut aja, yang penting nanti malam sesuaikan." bocor Ghifar, yang membuat Haris tertawa puas.
"Kau pun bakal begitu, karena biasanya masalah hormon itu diwariskan juga." ucap Haris yang membuat Ghifar manggut-manggut, meski mereka tidak berhadapan.
"Memang seumuran mak sama bapak aku wajarnya macam mana, Bi? Karena menurut pengamatan aku, sejak aku ngerti aktivitas dewasa mereka. Mereka ini… keknya hampir tiap hari. Tak jarang, siang-siang bolong rambut mak basah. Kalau bapak aku lagi di rumah, tak ngeladang. Pagi-pagi buta juga, abis ribut suruh anak-anaknya bangun subuhan. Mereka aktivitas dewasa lagi di kamar, kadang kan suaranya sampek kedengaran." ungkap Ghifar, yang terdengar begitu polos di telinga Haris. Pasti seorang Ghifar, dididik untuk wajib jujur dalam segala hal. Itulah yang terlintas di benak Haris.
"Katanya macam studio musik aja. Maklum lah, bapak aku orang kampung. Lagian adik-adik aku maupun aku juga, tak ada yang minat buat ngintip. Takutnya, yang kita lihat. Malah bikin kita kasian sama mak, jadi mending tak taunya." sahut Ghifar, yang membuat Haris berpikir bahwa mereka mengira hanya ayahnya yang menginginkan hal dewasa tersebut.
"Tak perlu dikasihani, lagian mak kau juga sama. Sama-sama gilanya mereka itu. Cuma bedanya, bapak kau jual mahal. Mak kau menyerahkan diri, tapi kalau udah sepi orang." balas Haris, yang membuat keduanya menyuarakan tawanya.
"Tapi aku pernah dengar dari cerita ibunya kawan aku di sana. Katanya mak ini aslinya mau diper*osa sama bapak aku, bukan suka sama suka. Tapi beda versi, kalau denger cerita dari keluarga besar bapak aku. Bilangnya memang sengaja mereka mesum, biar dinikahkan. Padahal aneh kan, Bi? Masa mesum disengajakan? Kalau memang mau mesum kan, pasti main rapih." ujar Ghifar yang membuat Haris mengingat kembali cerita versi squad broken heart-nya.
__ADS_1
"Mak kau suka nyumbuin bapak kau. Lambat laun, sering betul mereka bercumbu meski lagi ada abang kau. Bapak kau sakit, posisi lagi di rumah sakit, asik aja dia nikmati bahu mak kau, meski statusnya pasien di rumah sakit itu. Mak kau juga kek sengaja ngasih ruang lebih, karena malah ngebiarin bapak kau nikmatin. Meski tak ada status pacaran, atau lebih dari itu. Abi juga sering ngamuk sama mak kau, karena dia nampak murah di mata bapak kau. Tapi ternyata dia pelatih, bukan pemain. Mak kau ngilang, setelah bapak kau tergila-gila sama dia. Memang ada alasan di balik itu semua, tapi ya… bisa aja mak kau maksa ke orang tuanya. Tapi tak dilakuinnya, dia malah milih jauhi bapak kau yang udah ketergantungan mak kau itu. Disitulah bapak kau nekat, dicarinya mak kau, dilobi, dibujuk, diiming-imingi segala macam tetap tak mau. Akhirnya, ya mau dip*rkosa itu mak kau. Mak kau ini tak suka dipaksa, akhirnya dia nangis histeris kan. Karena perempuan itu sakit, kalau dipaksa itu Far. Katanya… kalau bapak kau minta baik-baik, mungkin dikasih. Biar bapak kau tak penasaran lagi ke mak kaunya." jelas Haris, yang membuat Ghifar mencerna setiap kalimatnya.
Ghifar terdiam sejenak, akhirnya ia menemukan alasan pernikahan ibunya dan ayahnya yang berlangsung dua kali tersebut.
"Bapak kau bakal kena 100 cambuk, kalau tak pakek alasan suka sama suka. Makanya mereka nikah siri dadakan, biar aman dari hukumannya." lanjut Haris, yang membuat Ghifar mengerti sekarang. Bahwa alasan dari keluarga besar ayahnya, hanya untuk melindungi ayahnya dari jerat hukum.
"Kasian ya mak aku? Pasti merasa dipermainkan, juga tak dihargai macam itu." balas Ghifar kemudian.
"Tak juga, mak kau dapat ladang 9 hektar. Nasibnya berubah drastis, tinggal nyuruh-nyuruh bapak kau aja." terang Haris, yang membuat Ghifar mengingat kembali akan ibunya yang selalu meneriaki ayahnya dalam segala hal.
"Aku takut kisah aku macam mak sama bapak. Pasti runyam betul, belum lagi gara-gara si ibunya Icut." ujar Ghifar yang membuat jiwa keorang tuaan Haris keluar.
"Asal kau terbuka sama mak, bapak, abi, ayah. Intinya sama keluarga kau, juga orang yang kau percaya. Pasti hidup kau terarahkan juga jelas. Apa lagi… kalau kau nurut, mau diarahkan, rumah tangga kau insyaa Allah tak serunyam rumah tangga orang tua kau." ungkap Haris kemudian.
"Ya, Bi. Masalah terbuka… insyaa Allah aku tanamkan di kehidupan aku. Karena begitu ajaran mak bapak aku. Tolong jagain aku di kota orang ini ya, Bi. Aku tak tau sama siapa, aku harus nitipin badan." sahut Ghifar yang membuat hati Haris tersentuh, karena ketiga anaknya tak ada yang seperti Ghifar.
"Tanpa……
__ADS_1
......................