
Icut terkejut, saat tiba-tiba mendapat kecupan kecil di pipi kiri dan kanannya.
"Ini anak Ayah, dong." ucap Givan, yang ternyata dirinya berada di belakang sofa Icut.
"Kon, lah. Ini anak Papah, anak Black Mamba." aku Ghifar, yang tiba-tiba langsung melompat dari belakang bagian sofa tersebut.
Canda yang mengetahui siapa itu Black Mamba, malah menyunggingkan senyum malunya.
"Ai jangan pernah nanya itu. Karena anak Icut, ya anaknya Aa." ucap Givan dengan tersenyum pada Ai, yang ternyata tengah dilanda ketegangan hebat.
"Makasih, Bang." sahut Icut, yang merangkul leher Givan yang masih berdiri di belakang sofa.
"Aku yang beliin susu kau tadi, itu anak aku loh Kak." balas Ghifar kemudian.
"Kan tetep uang Akak juga, malah kembaliannya entah ke mana." ujar Icut yang membuat Ghifar terkekeh geli.
"Lagian, perjaka ting-ting mana mungkin bisa punya anak." timpal Ahya cekikikan.
Ghifar melebarkan matanya, mendengar celotehan sahabatnya tersebut.
"Siapa bilang dia perjaka ting-ting? Tandanya dia abis liburan bareng pacarnya itu apa??? Apa…." ungkap Givan yang langsung mendapat delikan tajam dari Ghifar.
Givan langsung menutup mulutnya, dengan terkekeh geli. Lalu ia berlalu pergi, untuk memenuhi panggilan dari adik bungsunya.
"Bang Ken belum balik juga, Omah?" tanya Ghifar dengan menoleh ke arah neneknya.
"Belum, coba hubungi mereka. Tau mamah kau, nanti ngamuk lagi dia. Sekali marah, semua orang nanti kena marahnya." jawab ibu Meutia, yang mengetahui karakter menantu tertuanya yang selalu heboh tersebut.
"Ke mana memang mereka, Mas?" tanya Canda, dengan memperhatikan Ghifar yang tengah bermain ponsel.
"Tadi sore bilangnya mau jalan-jalan aja. Bang Ken, kak Kin, sama kak Riska. Katanya mau belanja apa gitu, sama jajan makanan." jawab Ghifar yang masih fokus pada ponselnya.
"Hallo, Bang." ucap Ghifar, dengan menempelkan ponselnya pada telinganya.
"Ya, bentar lagi nyampe." putus Kenandra cepat, kemudian ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ghifar memandang detik yang berhenti dalam panggilannya, dengan pandangan heran. Baru saja ia berkata hallo, tetapi panggilan langsung diputuskan saja.
"Far… ada yang nyari." panggil Givan, dengan memunculkan kepalanya dari balik ruangan.
__ADS_1
"Siapa, Bang?" tanya Ghifar, dengan bangkit dari duduknya.
"Haikal, sama anaknya mommy Seila tuh. Lupa, siapa ya namanya?" jawab Givan, yang membuat Ghifar berpikir kembali.
"Mereka tau dari siapa, kalau aku ada di sini?" gerutu Ghifar, dengan berjalan untuk menemui teman seumurannya.
"Canda ditinggal-tinggal Ghifar terus ya? Baru duduk, udah pergi lagi." celetuk ibu Meutia, dengan tersenyum pada Canda.
Canda membalas senyum ibu Meutia, "Biarin aja, Omah. Mas Ghifar kalau dekat aku marah-marah terus. Suka kumat-kumatan orangnya." sahut Canda kemudian.
"Memang betul pacarnya Ghifar? Ghifar itu biasanya suka sama yang lebih tua, dari umurnya sendiri. Terus, biasanya juga suka yang tinggi semampai." timpal Ahya, yang membuat Canda merasa memang tak layak untuk Ghifar.
"Memang kemarin-kemarin pacarnya bang Ghifar tua-tua semua kah, Kak? Aku cuma taunya Fir'aun itu." tanya Giska, yang terlihat tak memperdulikan perasaan tersinggung Canda.
"Bekas pacar sih memang cuma Fir'aun aja. Tapi kan dari jamannya dia baligh, udah ngerti rasa tertarik ke perempuan kek gitu. Dia naksirnya sama yang lebih tua, sama yang tingginya sama, kadang nyari yang sikapnya keibuan gitu." jelas Ahya, yang memang dari kecil sudah menjadi teman Ghifar.
"Assalamu'alaikum…" sapa dua orang yang menarik perhatian mereka semua.
"Wa'alaikum salam…" sahut semua orang, dengan memperhatikan Haikal dan Rashi yang berjalan ke arah mereka.
"Ihh, orang India aca-aca. Akhirnya kita ketemu lagi." ucap Giska, dengan bercipika-cipiki dengan anak semata wayang Seila.
"Orang A*eh, makin cantik aja." balas Rashi kemudian
"Mamah di atas." jawab Giska, dengan menunjuk dengan dagunya.
"Ayo semuanya, kita mau ke mamah dulu." ujar Haikal dan Rashi bersamaan.
Tak lama kemudian, Adinda ikut turun bersama anak dari kedua teman akrabnya.
"Panggilin papah di kamar bungsu, Cut." pinta Adinda, dengan berjalan melewati mereka yang duduk di ruang keluarga.
"Ya, Mah." sahut Icut dengan beranjak dari duduknya.
Adi berjalan ke luar dari kamar anak bungsunya, dengan penampilan yang terlihat begitu mengantuk.
"Gavin sama Gibran sama siapa, Bang?" tanya ibu Meutia pada anak sulungnya.
"Ada Icut, Mi." jawab Adi dengan berjalan menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
"Ehh… anak Seila, anak Shasha. Ada apa gerangan?" ucap Adi dengan tersenyum pada kedua anak berlainan jenis tersebut.
"Sini, Pah." sahut Haikal dengan menepuk tempat di sampingnya.
"Meu'ah lah, Dek." ungkap Adi, dengan memberi istrinya kecupan singkat pada pipinya. Saat Adi melewati tempat duduk Adinda.
"Hmmm." Adinda hanya bergumam dengan memberikan lirikan kecil saja.
"Kiban, Kal?" tanya Adi dengan menoleh ke arah anak satu-satunya dari mantan tunangannya tersebut.
Sejak Shasha resmi menjadi janda. Ia hanya fokus pada usaha kecilnya saja, juga membantu kedua orang tuanya berjualan. Karena ia pun mengurus anaknya seorang diri, tanpa bantuan siapa pun. Hingga ia memutuskan untuk tidak pernah menikah lagi, meski anaknya sudah dewasa dan sudah bekerja juga.
"Aku mau nikah, Pah. Aku sama Rashi mutusin buat nikah muda." ungkap Haikal yang membuat Adi dan Adinda beradu pandang.
"Rashi… bukannya kau baru lulus SMA kemarin?" tanya Adinda cepat.
"Ya, Mah. Bang Haikal udah mantap, buat ngajak aku berkomitmen." jawab Rashi, yang notabene adalah anak semata wayang Seila.
Saat Adinda tengah mengandung Giska, ia mendapat kabar bahwa Seila menikah dengan saudagar kaya dari India. Tentu itu kabar yang sangat mengejutkan untuk pasangan Adi dan Adinda. Pada akhirnya, Adinda memutuskan untuk hanya Adi saja yang menghadiri pernikahan Seila.
Hingga berganti tahun, kabar tak mengenakan kembali datang dari Seila. Ia harus diceraikan kembali oleh suaminya, saat dirinya tengah hamil besar. Mau tidak mau, akhirnya Seila membesarkan anaknya seorang diri hingga sekarang.
"Ekonomi siap, Kal?" tanya Adi serius.
Haikal terdiam sejenak, "Gaji aku 3.4 juta, Pah. Kalau butuh modal, gampang hubungi Papah." jawab Haikal yang membuat suasana mencair.
"Bukannya apa-apa, Kal. Bunda kau di sana nyambi jualan makanan online, sambil buka warung nasi warisan masyik kau, sambil dirinya usaha toko baju. Yang sekiranya… jangan ngerepotin bunda kau lagi, jangan bikin dia susah di usianya sekarang. Terus, ayah kau ada bilang apa?" sahut Adi dengan memperhatikan sepasang kekasih tersebut.
"Ayah cuma bilang… ya udah. Pas tau aku udah diangkat jadi karyawan di pabrik, ayah kek lepas tangan. Mungkin karena aku anak laki-laki ya Pah, jadi tak butuh bimbingan lagi?" balas Haikal kemudian.
"Ayah kau kan, yang masukin kau ke pabrik?" tanya Adinda, setelah menyimak obrolan mereka.
"Iya, Mah. Pas aku udah masuk, udah mulai kerja. Dia balik lagi ke B*gor. Aku kan stay di C*karang, Mah. Ngekos di sana." jawab Haikal, beralih menatap seseorang yang ia panggil mamah tersebut.
"Mommy sekarang di mana, Shi?" ujar Adi, dengan memperhatikan gadis blasteran India tersebut.
"Mommy di B*kasi, aku juga di sana bareng mommy." tutur Rashi, dengan tersenyum samar.
Adi mengangguk, "Jadi, kapan nikah? Mau pakek sunting apa? Papah bantu apa, buat pernikahan kalian?" ucap Adi beruntun, dengan bergantian memandang mereka berdua.
__ADS_1
Haikal dan Rashi beradu pandang. Sejujurnya Haikal ingin….
......................