
"Gak ada kabar apa pun, Mas. Papah nelpon om Haris, katanya Ghifar baik-baik aja. Kalau keluarga sini telepon Ghifar, gak direspon sama sekali." jawab Canda, mencoba biasa saja saat Givan menanyakan mantan kekasihnya itu.
"Ya udah gih istirahat. Besok malam nanti Mas ajak begadang." ujar Givan yang membuat Canda kaku seketika.
"Kaya mamah Dinda sama papah Adi?" tanya Canda ambigu. Membuat Givan mengerutkan keningnya, dengan memperhatikan perubahan wajah istrinya yang seperti ketakutan.
"Kenapa memang mamah sama papah?" sahut Givan yang tak mengerti.
"Ya suka begadang kayanya. Suaranya mencurigakan, kaya di film yang aku tonton sama..." Canda menggantungkan kalimatnya, karena merasa dirinya salah berucap.
"Film dewasa? Nonton sama siapa?" tanya Givan heran.
"Hmm? Siapa, Dek?" ulang Givan, karena terlihat wajah Canda yang menegang karena pertanyaan itu.
"Mas Ghifar. Maksud aku Ghifar, Mas." jawab Canda gelagapan.
Givan menghela nafasnya, "Laki-laki perempuan nonton film dewasa bareng. Rasanya tak mungkin, kalau mereka tak ngapa-ngapain." timpal Givan kemudian.
Canda merasa dadanya sesak. Ia seolah dituduh berselingkuh, padahal jelas-jelas suaminya yang mengambil paksa dirinya. Yang sebelumnya Canda memiliki hubungan dengan saudara seibu dari suaminya.
"Aku kemarin ada pasangan, Mas juga demikian. Jangan seolah nyudutin aku gitu sih, Mas! Mas aja tengah malam ke kamar mbak Ai, waktu kita semua ada di rumah Omah. Kalau memang aku sama Ghifar dulu pernah nonton film dewasa bareng, apa kabar Mas yang waktu itu masuk ke kamar mbak Ai?" ungkap Canda dengan emosi tertahan. Baru juga Givan menghubunginya, tapi sudah menyudutkannya seperti ini.
"Hubungan badan, kalau kau mau tau jawabannya." jawab Givan yang membuat air mata Canda tak tertahankan.
Bagaimana pun juga, mereka sudah suami istri. Nyeri di hati pasti Canda rasakan, tatkala suaminya mengakui hal yang cukup sensitif tersebut.
"Ya aku juga gak mempermasalahkan Ghifar yang nikmati aku waktu itu. Aku suka, aku rela, aku nerima. Tapi sayangnya Ghifar dulu gak ambil jatahnya dulu, bikin kakaknya untung karena dapat jatahnya." sahut Canda dengan air mata yang mengalir deras. Ia sebenarnya tak ingin berbicara seperti ini, apa lagi mengumbar aibnya pada suaminya sendiri. Namun, Canda ingin Givan paham bahwa dirinya merasa sesak saat mendengar pengakuan sensitif suaminya.
Givan tertawa sumbang, "Miris! Ghifar pun rupanya tak berselera sama kau, Canda. Cuma mungkin karena tak ada perempuan lain, jadi dia terpaksa nerima kau." ucapan pedas Givan, yang langsung menikam hati Canda.
"Cukup ya, Mas! Ceraikan aku!!! Besok aku tunggu talak dari kamu, Mas!" balas Canda, kemudian dirinya langsung mematikan panggilan video tersebut.
Ia memeluk erat bantalnya. Perasaannya hari ini lebih hancur, ketimbang saat dirinya memutuskan untuk meninggalkan Ghifar. Mengapa suaminya begitu tega mengatakan hal yang menyakitinya? Canda merasa tidak ikhlas, dirinya dinikahi laki-laki yang begitu buruk menurutnya.
"Apa salahku, ya Allah?" ucapnya di tengah tangisnya.
"Mas Ghifar... Bawa aku pergi..." lanjutnya tatkala melihat foto Ghifar, yang tersimpan di balik softcase ponselnya.
Ia mengingat kembali, malunya dirinya saat mencetak foto Ghifar pada jasa cetak foto. Segila itu Canda menggilai adik dari suaminya, tetapi dirinya sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan laki-laki yang menerimanya apa adanya tersebut.
Canda mengutak-atik ponselnya, membuka kembali nomor telepon Ghifar yang ia sengaja blokir. Untuk berusaha melupakan dan melepaskan laki-laki itu.
__ADS_1
[Mas?]
[Gimana kabarnya?]
Tulis Canda dalam aplikasi chat, ke kontak Ghifar yang mengenakan foto Ghifar tengah bergaya di kapal laut. Dengan mengenakan kacamata, juga kemeja yang sengaja tak ia kancing terlihat begitu menunjang penampilannya.
Centang biru terlihat oleh Canda. Namun, lama ia menunggu. Tak ada balasan apa pun dari kontak tersebut.
Hingga sisi nekat Canda bangkit kembali, segera ia menekan ikon gagang telepon untuk menyambungkan panggilan pada Ghifar.
Tak lama panggilan tersebut terhubung, detik dalam panggilannya mulai berjalan.
"Hallo... Hallo, Mas." ucap Canda gugup.
"Bli... Suara perempuan nih telepon." seru wanita yang menerima panggilan telepon dari Canda. Sontak suara tersebut, membuat Canda membulatkan matanya.
"Siapa? Yang depannya ada tulisan family, tak usah diangkat." suara yang Canda kenali, terdengar begitu lamat-lamat. Senyum merekah Canda, terukir sempurna di wajah arabiannya.
"Tak ada, Bli. Nih..." wanita tersebut memberikan ponsel milik Ghifar, pada Ghifar yang tengah melakukan aktivitas di luar ruangan.
"Canda?" ucap Ghifar, membuat Canda yang mendengar suaranya langsung mengangguk cepat.
Tut....
"Mas Ghifar....... Mas Ghifar......"
"Mas Ghifar..." panggil Canda pilu, saat menyadari Ghifar pun tak mau mendengarnya lagi.
"Aku harus gimana?" tanya Canda seorang diri, dengan memeluk dirinya sendiri.
Tok, tok, tok...
"Kakak ipar? Ada apa, Kak?" tanya seseorang yang berada di ambang pintu kamar Canda.
Canda langsung menghapus air matanya, kemudian segera membenahi hijab instan masa kininya.
"Gak papa, Vi. Lagi liat drakor, jadi bawa perasaan." seru Canda sembari berjalan ke arah pintu.
Ceklek...
Pinta terbuka, menampilkan Canda dengan senyum palsunya.
__ADS_1
"Nih, salah satu menu di kedai." ucap Ghavi, dengan memberikan sekotak makanan yang didominasi warna coklat dan putih.
Canda menerima makanan tersebut, "Makasih ya?" sahutnya yang diangguki oleh Ghavi.
"Kalau nangis, jangan kuat-kuat ya. Ruangannya tak kedap suara, kan malu juga kalau didengar yang lain." ungkap Ghavi yang membuat Canda tertunduk malu.
"Apa lagi... Kalau manggil-manggilnga bang Ghifar. Kan malu betul itu." celetuk Ghavi, yang membuat Canda meremas pakaiannya sendiri.
Canda hanya mengangguk. Kemudian Ghavi berlalu pergi menaiki anak tangga, untuk menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.
Canda langsung menutup kembali pintu kamarnya, kemudian menghirup udara lebih banyak.
"Ya Allah, semoga mamah sama papah gak denger." ucapnya dengan berjalan ke arah tempat tidurnya, kemudian membuka kotak makanan tersebut.
Aroma kopi tercium kuat, dengan pemandangan kue berbentuk balok dengan krim kopi yang meleleh keluar dari tengah-tengah kue tersebut.
"Kue balok isian krim kopi? Belum pernah coba aku seumur-umur." ujar Canda, dengan mengambil satu dari empat kue yang berbaris rapih tersebut.
Malam ini, ia memutuskan untuk merilekskan pikirannya. Dengan kue pemberian Ghavi, juga ponsel yang menampilkan drama kartun lucu tersebut.
"Elsa... Samantha... Who Samantha?" suara binatang dalam kartun yang bisa berbicara tersebut, mengundang gelak tawa Canda.
Hingga ia melupakan segala permasalahannya, hanya dengan cara sederhana saja.
~
"Aku anak juragan di desa ini. Tak ada yang mau ngasih tumpangan dari jalan depan sampek sini, kan capek kali aku jalan." gerutu Giska, yang menarik perhatian Adinda dan Canda yang tengah menikmati sore bersama Gavin dan Gibran.
"Hmm, coba bang Adi sehat. Diantarkannya itu anak juragan balik seorang diri." tambah Adinda, yang membuat anaknya meliriknya kesal.
"Mamah sih bikin gara-gara aja, bang Adi kan orangnya sensitif betul." sahut Adinda dengan mencium tangan ibunya dan kakak iparnya bergantian.
"Udah sana cepet mandi, terus ngaji. Maharnya tinggi itu harus pandai agamanya." balas Adinda, tanpa menghiraukan perkataan anaknya tersebut.
"Huh!" helaan nafas Giska, sembari melangkah masuk ke dalam rumah.
Tin.... Tin....
Perhatian mereka teralihkan, saat mobil Adi memasuki halaman rumahnya.
Canda menegang seketika, saat teringat akan talak yang ia minta semalam.
__ADS_1
......................