Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS261. Peredam suara


__ADS_3

"Hayo loh, ngapain semalam?" Givan menyapa adik iparnya yang baru keluar kamar.


Adi berpikir, Givan pun mendengar suara pengantin baru tersebut.


"Ngapain, ngapain!" ketus Zuhdi dengan berjalan ke arah dapur.


"Kau mau apa?" tanya Adinda pada Zuhdi yang celingukan mencari sesuatu.


"Mau sarapan. Laper." akunya begitu menggelitik.


"Ya ampun! Junub aja dulu, sholat, terus baru sarapan. Belum ada yang matang ini. Nasi pun, baru beberapa menit masuk magicom." Adinda masih fokus pada bumbu dapurnya.


"Belum tidur aku semalaman, Mah. Laper." suara Zuhdi begitu memelas.


Adi dan Givan masuk ke area dapur. Givan menoel dagu istrinya, kemudian dirinya melangkah ke arah dispenser air.


"Kau ngapain sampek tak tidur?" Adi duduk di sebelah menantunya, yang duduk di kursi makan.


"Giska ngerengek aja. Baru merem, udah ngerengek lagi. Padahal sih matanya merem, kek mimpi buruk kek gitu lah Pah." Zuhdi kurang tahu dengan kondisi istrinya.


"Ohh." Adi manggut-manggut.


"Memang anaknya kek gitu. Kalau sebelum tidur bergurau terus, nanti tidurnya cekikikan aja. Kalau sebelum tidurnya nangis, ya sampek merem pun dia ngerengek tak jelas." jelasnya kemudian.


"Abang minta teh manis, Dek." pinta Adi pada Adinda.


"Hmm, siapa aku harus manggil?" Canda membawakan sesuatu untuk Zuhdi.


"Namanya ajalah." jawab Givan, ia tengah berkutat dengan sebotol susu untuk anaknya.


"Oh, ini Zuhdi." Canda begitu kaku menyebut Zuhdi dengan namanya saja.


"Ada roti tawar. Ini, Pah. Ada yang ada rasanya juga. Papah biasanya suka yang gandum ini." Canda memberikan tiga kemasan roti tawar.


"Dari mana?" Adinda tak merasa membeli itu.


"Kak Kin, lepas maghrib datang buat anterin roti aja. Beli banyak katanya, lagi promo di minimarket." jelas Canda kemudian.


Adi dan Zuhdi langsung melahap roti tawar tersebut.


"Pah, besok aku minta kerjaan. Lagi sepi proyek." ucap Zuhdi, setelah menelan rotinya.


"Apa ya?" Adi mengingat kerjaan yang pantas untuk Zuhdi, dengan upah yang setimpal.

__ADS_1


"Hmmm... Kau kan mau tidur dulu nih?" Zuhdi langsung mengiyakan.


"Nah, lepas kau bangun. Kau pasang peredam di kamar kau. Jangan full, beberapa sudut yang cukup ngeredamin suara aja. Papah tak tega, denger Giska nangis-nangis."


Zuhdi merasa malu sendiri, atas ucapan ayah mertuanya. Padahal, ia merasa sudah melaksanakan tugasnya dengan benar.


"Kau salah lubang tak?" Givan menanyakan hal itu, sebelum dirinya melangkah membawa botol dot milik Mikheyla.


"Tak, lah. Kau kira aku sebodoh itu kah?" Zuhdi sewot, atas pertanyaan aneh dari temannya yang merangkap sebagai kakak iparnya.


Adi terkekeh geli, menantunya begitu sensitif tak seperti kemarin hari.


"Ya udah. Pasang peredam aja, nanti Papah bayar kau." Adi mencoba mengerti akan menantunya yang ingin memberi nafkah untuk anaknya.


"Di ladang tak ada kah, Bang?" Adinda menimpali obrolan mereka.


"Ada, tapi bayarannya tak sebanding bayarannya di bangunan. Kalau memang ada kerjaan yang bayarannya lebih tinggi atau sama dengan bayarannya kemarin, nanti Abang tarik dia. Kalau malah lebih rendah, ya lebih baik jangan." ungkap Adi kemudian.


"Ya, Pah." Zuhdi mengerti maksud baik ayah mertuanya.


"Ya udah sana! Tidur dulu!"


Adi tidak tega, melihat menantunya yang begitu mengantuk.


Dirinya pernah memiliki pengalaman, untuk diminta memasang peredam di studio.


"Biar suara kau tak terdengar lah. Kalau sepi orang, malam makin larut kan. Jangkrik yang di ladang aja, kuat terdengar di telinga. Apa lagi kalau kamarnya sebelahan."


Zuhdi merasa malu sendiri, mendengar ucapan ayah mertuanya. Ia kira, perbuatannya semalam tak terendus oleh ayah mertuanya.


Zuhdi melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


"Kau malam pertama heboh tak, Dek?" Adinda menyenggol lengan menantunya.


Canda terkekeh kecil, semburat malunya terlihat di wajahnya.


"Tak heboh macam Giska, pas udah nikah sih Mah. Tapi ya... Memang wajar ada nangis-nangisnya." aku Canda membuat Adinda terkekeh geli.


"Memang Mamah tak kek gitu?" tanya Canda di sela aktivitasnya.


"Tak, Mamah kan janda pas nikah sama Papah." Adinda melirik suaminya.


"Janda gatal." tambah Adi dengan terkekeh kecil.

__ADS_1


"Papa Biiiii...." datang Mikheyla yang tengah menikmati dot susunya.


"Papah bli belum bangun, Key." jawab Adi kemudian.


"Ma a teng." Mikheyla menunjuk ke arah pintu samping.


Adi bangkit, untuk melongok melihat siapa yang Mikheyla maksud.


"Ohh." hanya itu yang keluar dari mulut Adi.


Ia sudah biasa, melihat Kinasya datang sepagi ini untuk membuat makanan di dapurnya.


"Udah bangun, Key." sapa Kinasya dengan melepaskan hijabnya.


"Heh... Mau ke mana?" tegur Adi, saat melihat anak angkatnya melangkah menaiki tangga.


"Ke Ghifar bentar. Dia online, tapi tak balas-balas chat aku." jawab Kinasya sembari melanjutkan langkahnya.


"Protektif betul! Tak dibalas, langsung datangin orangnya. Pantas pacaran tak pernah langgeng." gerutu Adi, ia duduk di sofa ruang keluarga. Untuk menemani Mikheyla yang merebahkan tubuhnya di atas sofa, anak itu terbiasa bermalas-malasan sembari menikmati dot susunya setelah bangun tidur.


"Tek... Meme anun yum?" Mikheyla mewarisi mata milik ibu kandungnya.


"Yum." Adi malah ikut-ikutan cedal saat menjawabnya.


"I Atek!" suara Mikheyla meninggi, karena paham bahwa kakeknya mengejeknya.


"I Ke." balas Adi. Ia teringat akan Mikheyla yang selalu memanggil dirinya sendiri adalah Ke.


"Huu." Mikheyla bangkit dari kursi, lalu berjalan ke area dapur dengan bibir mengerucut.


Mikheyla begitu menggemaskan menurut Adi. Apa lagi, ia hanya pernah mengasuh bayi perempuan satu kali. Sedangkan Giska kecil, tak begitu menggemaskan dan banyak tingkah seperti Mikheyla. Adi begitu terhibur, dengan hadirnya anak itu di rumah ini.


Di kamar Ghifar, Kinasya memberi pelototan tajam pada kekasihnya. Kecemburuannya menguasai dirinya kembali, apa lagi saat mengetahui bahwa kekasihnya tengah melakukan panggilan video dengan seorang wanita.


"Kamu ajak aku Islam, tapi gak ada bimbingan lagi nih? Kek mana kamu ini, Bli?!" Kinasya hanya mampu mendengar, tanpa bisa melihat rupa wajah wanita yang tengah berkomunikasi dengan kekasihnya tersebut.


"Minta Fira cari guru ngaji di sana. Tapi, masa iya bacaan sholat aja masih belum hafal? Padahal ayat kursi, doa sehari-hari kau udah hafal." Ghifar pun tak mengetahui kehadiran kekasihnya di kamarnya.


"Aku bingung bacaan i'tidal, sama bacaan duduk di antara dua sujud itu." jawab wanita tersebut.


"Sami’Allahu liman hamidah, abis ruku' baca itu. Terus, rabbanaa lakal hamdu mil-us samaawaati wa mil-ul ardhi wa mil-umaa syi’ta min syai’in ba’du. Itu bacaan i'tidalnya."


"Terus?" Ghifar segera menoleh ke arah pintu, saat ada orang lain yang menyahuti percakapannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2