
"Heh… oh, iya Canda. Aku… aku Ghifar, Teuku Ghifar." sahut Ghifar, dengan langsung menggapai tangan Canda yang masih berada di depan wajahnya untuk bersalaman dengannya.
"Sampai namanya ada teuku-nya. Dari A*eh pasti pinter ngaji ya? Aku dulu kalah, pas tanding sama murid dari A*eh." balasnya yang membuat Ghifar tersenyum canggung.
Ghifar menggaruk kepalanya, 'Pandai ngaji ya tergantung suruhan orang tuanya. Guru ngaji memang di mana-mana, setiap RT pasti ada guru ngaji. Tapi kan, kalau orang tua tak ngancem. Tak bilang, tak bakal dikasih uang jajan, tak dikasih jatah kuota. Kan kita males juga ngajinya. Mana di rumah wajib setor hafalan tiap tiga hari sekali lagi. Kan kalau tak hafal-hafal, kena maki juga.' batin Ghifar, sembari mengingat kembali raut wajah marah ibunya. Saat dirinya masih bermain bola, meski waktu sudah menunjukkan ba'da asyar dan mengaji.
"Tanding apa memang sama murid dari A*eh?" tanya Ghifar kemudian.
"Tanding tahunan. Dari ngaji, tausiah, sampai ke mata pelajaran juga. Kan aku dari pesantren, sekarang juga masih mesantren." jawab Canda, membuat Ghifar menoleh ke arahnya.
"Santri kok bisa keluyuran?" pertanyaan yang muncul tanpa Ghifar kehendaki.
"Kuliah, ini pulang kuliah. Dari masuk MTS, sampai sekarang aku masih jadi santri di sana." jelas Canda, yang membuat Ghifar mengangguk dua kali.
"Udah semester berapa?" tanya Ghifar dengan membenahi tas ranselnya.
"Baru semester dua. Mas sendiri kuliah, Mas?" jawab Canda, dengan garis senyum di mata yang begitu terlihat jelas.
"Aku tak kuliah, lulusan SMK aja. Disuruh ke kota ini, disuruh kerja atau ngapain. Suruh hasilin uang sendiri." sahut Ghifar dengan memperhatikan punggung tangan Canda, yang terlihat begitu bersih dengan warna kuning langsat.
"Oh, kalau orang sana memang begitu ya? Dosen aku orang J*mbi, katanya orang sana kalau mau kerja, jawabnya biasanya cari duit, biar beneran pulang bawa duit. Kerjaan kan memang banyak, tapi belum tentu dapat duit." ungkap Canda, yang begitu asyik diajak ngobrol.
Ghifar mengangguk, "Harga diri laki-laki kan memang kerja dan hasilin duit. Oh iya, kau kuliah di mana?" ujar Ghifar mengalihkan pembicaraannya.
"Di ST*K*M. Kalau memang mau kerja. Aku ada kenalan nih, jagain kedai jajanan gitu. Perharinya 40 ribu." tutur canda yang membuat Ghifar enggan menjawab. Bukannya ia pemilih, dalam pekerjaan. Tapi waktu ia mendapatkan tugas kewirausahaan, saat ia masih sekolah dulu. Dagangan yang dititipkan gurunya, malah Ghifar meminta ibunya untuk memborongnya. Karena ia enggan berjualan, atau berkeliling kampung seperti yang gurunya perintahkan. Ia bukan orang yang percaya diri, apa lagi untuk berjualan.
"Rukok aku aja sebungkus 23 ribu, kadang sehari bisa beli dua bungkus. Penghasilan 40 ribu, keknya buat rukok aja, bisa tak makan aku." tukas Ghifar, yang membuat Canda menahan tawanya.
"Logatnya unik, aku baru denger langsung cara ngomongnya orang sana." ucap Canda yang membuat Ghifar menoleh ke arahnya kembali.
"Nih, simpan kartu nama aku. Ada nomor HP aku, ada alamat rumah aku yang di sana juga. Kalau tanding lagi ke A*eh, bolehlah kau mampir sambil ngopi-ngopi." sahut Ghifar, dengan memberikan Canda secarik kartu, yang diambilnya dari dalam dompet.
__ADS_1
Canda menerima kartu tersebut, sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Orang sana tuh… suka nongkrong di warung kopi ya? Soalnya waktu aku dulu ke sana, pas pulang ke hotel itu kan malem hari. Di pinggiran jalan gitu, banyak banget anak muda yang nongkrong di warung kopi." balas Canda kemudian.
"Oh, iya. Kita orang sana punya kebiasaan mensejahterakan kedai kopi." ujar Ghifar, yang membuat Canda menahan tawanya kembali.
"Seriusan?" tanya Canda penasaran. Tentu ia menganggap ucapan Ghifar barusan adalah benar, meski Ghifar hanya bergurau.
Ghifar menoleh dengan tersenyum manis, "Tak lah, gurau aja. Biasanya kedai kopi ada WiFi-nya, yang bayar tiga ribu sepuasnya. Mereka yang nongkrong, biasanya pada main WiFi di sana." jelas Ghifar kemudian.
"Ehh, bentar lagi udah sampai." ujar Canda tiba-tiba.
"Depan kiri, Mang." seru Canda kemudian, lalu dirinya bangkit dari duduknya. Diikuti dengan Ghifar yang langsung berdiri juga, untuk memberi Canda jalan.
Setelah mobil berhenti, Canda turun dari mobil dengan Ghifar yang mengikuti langkah Canda.
"Mang, berdua Mang." ucap Canda dengan memberikan uang pecahan dua puluh ribu, pada supir angkutan umum tersebut.
Ghifar yang hendak membayar, membuatnya bingung sendiri karena mobil tersebut langsung melaju kembali.
Ghifar hanya terdiam, dengan memperhatikan Canda yang semakin menjauh.
"Far… ayo, cepet." seru seseorang, yang berada tak jauh dari tempatnya.
Ghifar menoleh ke sumber suara, "Ehh, Pakde." sahut Ghifar dengan langsung menghampiri Arif, kemudian mencium tangannya.
"Udah dapet kenalan aja ya, kamu?! Udah kaya papahnya, ijo ke perempuan." ujar Arif, saat Ghifar duduk di jok motornya.
"Merah, bukan ijo lagi." balas Ghifar dengan mulai menyalakan rokoknya.
"Ayo, Pakde. Aku udah laper." lanjutnya, setelah menghembuskan asap rokoknya.
__ADS_1
"Ya kamu, kenapa gak makan di jalan. Pelitnya udah kaya Adiyana." ucap Arif, dengan naik di jok motornya. Kemudian langsung melajukan kendaraannya.
"Adi Riyana, Pakde." jelas Ghifar yang hanya mendapat dekheman saja dari Arif.
Lalu mereka berdua melaju dengan motor matic milik Arif, menuju ke kediaman Arif.
~
"Mak… aku udah sampek rumah pakde." ucap Ghifar dalam panggilan teleponnya, saat dirinya sudah mengisi perutnya dan membersihkan diri.
Sekarang ia tengah menikmati punggungnya yang diluruskan di tempat tidur sepupunya. Dengan ditemani seekor kucing berwarna putih abu, yang tidur di sebelahnya.
"Ya udah, Mamah juga mau siap-siap ambil penerbangan balik." sahut Adinda kemudian.
"Hmm… Mak, jangan lupa kirim. Aku pengen jalan-jalan ke luar, tak enak kalau tak pegang uang." balas Ghifar terdengar ragu-ragu.
"Ya kerja, Nak. Masih berapa uangnya?" ujar Adinda yang membuat Ghifar ingin meraung keras.
"Mak… kerja itu tak langsung dibayar. Mak tak percaya, kalau aku bisa hasilin uang? Kenapa seolah aku dipaksa mandiri macam ini? Apa karena cuma aku, anak laki-laki yang belum bisa hasilin uang sendiri?" tutur Ghifar dengan nada yang ditekan. Karena mau bagaimana pun keadaannya, jika suaranya meninggi pada ibunya. Jelas dia pasti disalahkan, meskipun ibunya yang memancing emosinya.
"Tak macam itu, Far. Kau nikmati suka dukanya di rantau orang, biar kau punya pengalaman. Papah kau yang kaya dari kecil aja, dia tetap pernah ngerasain kerja buat hasilin uang. Papah bantu jualan pak wa kau di pondok makan, dari masanya dia SMA. Kuliah nyari kerja sambilan, yang dagang roti bakar itu, biar punya uang kalau ngajak jalan perempuan. Meski niatnya memang jelek, tapi papah kau bisa jaga harga dirinya di depan perempuannya tiap kali minta jajan. Apa lagi kau udah punya keinginan nikah, kau udah pengen punya pasangan. Sedangkan keadaan kau macam ini. Uang kau tetap minta, jatah bulanan kau tetap nagih. Bukan Mamah capek ngasih makan kau, tapi kau anak laki-laki Far. Kalau kau mentok di ladang, cuma jagain ladang kopi sampek ke masa panennya. Kau bakal kelaparan, apa lagi kalau kau punya keluarga. Yang paham maksud baik Mamah, jangan langsung naik pitam aja. Tak ada kerjaan rendahan, selagi kau kecukupan dari situ."
"Mamah buka usaha wisata kebun kopi, buat ngelolanya tetap bayar orang juga. Ghava sama Ghavi, fokus ke kedainya aja. Kau nungguin parkir, apa karcis masuk kan bisa tuh. Tapi kau cuma mantau aja, tak mau turun tangan sendiri."
"Kalau Icut sama Giska anak laki-laki sih, mungkin udah disuruh turun ke lapangan. Mamah tak mungkin maksa kau, tapi kau yang punya inisiatif sendiri."
"Uang pasti Mamah kirim, tapi dengan kau minta macam tadi. Mamah jadi berpikir, bahwa kau ke sana memang mau foya-foya, liburan enak. Bukan cari pengalaman hidup, bukan untuk merantau."
Ghifar mengatur nafasnya beberapa kali, ia menjadi serba salah saat dihadapkan dengan ibunya seperti ini. Terlintas di pikirannya, untuk menelpon ayahnya saja tadi. Agar kejadiannya tak seperti ini.
"Mak…..
__ADS_1
......................
Susah memang kalau ngomong sama mamak-mamak 😆