Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS177. Bersenda gurau


__ADS_3

"Belum, tapi dia udah sama Ikram." ucap Ghavi, Ghifar merasa dirinya seolah dituduh menginginkan status dengan Ahya.


"Ikram anak pertamanya tante Zuhra itu?" tandas Ghava menimpali.


Ghavi mengangguk, kemudian membuang satu kartunya ke lantai.


"Iya, Bang. Padahal lebih tua Ahya." sahut Ghavi kemudian.


"Lagian, Ghifar kan udah punya tiga juga." timpal Kinasya, setelah menggenggam asap yang dihasilkan dari mulutnya.


Mereka semua terkekeh kecil, Ghifar yang merasa tersindir langsung melarikan diri dari tempat tersebut.


"Bli... Besok aku USG ulangan." ujar Tika, saat Ghifar melewati mereka semua.


Ghifar hanya memberi anggukan samar, ia tak mungkin menolak pesan dibalik ucapan Tika. Tika menginginkannya untuk menemani dirinya USG, juga kontrol ke dokter kandungan. Bukan hanya uang, waktu dan diri Ghifar diminta untuk ikut serta dalam kegiatan USG Tika.


"Mah... Mau main dulu." ujar Ghifar, saat mendapati kedua orang tuanya masih duduk di teras rumah.


"Far, Fira gimana?" tanya Adi cepat, agar Ghifar tak segera berlalu pergi.


"Fira...." Ghifar seolah tengah berpikir keras.


"Fira balik dulu ke orang tuanya. Tapi nanti dia ke sini lagi, maksudnya nemuin Key." Ghifar menghirup oksigen lebih banyak.


Ia menarik kursi plastik, lalu ia duduk di dekat ibunya.


"Gini Mah, Pah. Maksud kalian semua itu kek mana? Aku jadi bingung di sini." Adinda dan Adi saling beradu pandang.


Adi dan Adinda tak kalah pusingnya, dengan masalah anaknya yang memiliki tiga istri.


Adinda tengah menyusun kalimat, ia ingin mengungkapkan yang mengganjal di hatinya.


"Ya, hallo." ucap Ghifar menempelkan ponselnya di telinganya.


Baru saja Adinda akan membuka mulutnya, sudah disela kembali oleh ponsel Ghifar yang berbunyi.


"Apa? Enak aja 250 ribu. Mau langsung putar kepala, mau langsung balik ginjal. Ya mana dapat segitu, 350 ribu mobilnya aja, sama supir 600 ribu. Abang bilang macam itu, tak bisa ditawar. Alasan langsung putar kepala, pas sampek di tempat sih, pasti juga ada rehatnya." Adi menaikkan sebelah alisnya. Apakah putranya pemilik usaha travel? Pertanyaan yang muncul di benak Adi.


"Ya, ya. Tanyakan dulu jaraknya. Tapi misal dia mau mobilnya aja, perhari 350 ribu." ucapan Ghifar meladeni sang penelepon, yang tak diketahui oleh Adi dan Adinda.

__ADS_1


Ghifar bangkit dari posisinya, ia menjauh dari tempat orang tuanya dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.


"Mau ke mana dia?" tanya Adinda, menyaksikan anaknya memakai sendal dan keluar dari halaman rumahnya.


"Nelpon." jawab Adi, langsung mendapat pukulan di pahanya.


"Tau! Maksudnya kenapa jauh kali, sampek ke luar rumah?" jelas Adinda kemudian.


Adi hanya mengedikan bahunya. Waktu mereka selalu tidak tepat, saat ingin berbincang dengan anaknya.


Ghifar menuju ke rumah Ahya, sepanjang perjalanan ia seperti makhluk asing. Ia tidak dikenal orang, atau lebih tepatnya orang begitu segan menyapanya. Gosip tentang Ghifar beristri tiga pun, pasti sudah didengar warga kampung.


"Bang... bang Rudi nyaranin nambah mobil, ramai katanya Bang." ucap Ghifar langsung, saat ia baru sampai di rumah Ahya.


Kenandra tengah berkutat dengan ponselnya, sesekali rokok ia nikmati dalam-dalam.


"E*tiga lagi aja, ambil kredit biar dapat asuransi. Tapi DP agak tinggi aja, menurut Abang sih gitu." sahut Kenandra kemudian.


Ghifar mengangguk, "Ambil dua kah?" balasnya dengan menempelkan ponselnya kembali.


"Bertahap aja, satu lagi dulu." Ghifar hanya mengangguk, dirinya langsung bercakap-cakap dengan seseorang di seberang telepon.


"Memang kamu bisa nyupir?" tanya tetangga kontrakan mereka, saat Ghifar baru turun dari mobil milik Kenandra.


"Bisa, Bang. SIM juga punya." jawab Ghifar, ia baru sampai untuk mengantar Kenandra ke tempat kerjanya. Ia amat bosan, seharian penuh tanpa aktivitas.


Akhirnya ia memutuskan, untuk mengantar jemput Kenandra bertugas. Meski permintaan Ghifar awalnya ditertawai oleh Kenandra, tetapi akhirnya Kenandra mengizinkan Ghifar untuk mengantar jemput dirinya. Ia cukup memahami kegundahan Ghifar, ditambah lagi Ghifar tengah patah hati berat.


"Umurnya berapa? Ikut kerja aja yuk." ajak tetangga kontrakan satu petak tersebut.


"Hampir 21. Boleh, Bang. Kerja apa memangnya?" Ghifar duduk di emperan rumah kontrakan tetangganya.


"Nyupir, travel. Nanti jadi kernet aja dulu. Bukan kernet yang kiri-kiri, tapi gantiin aku nyupir, naik turunin barang bawaan. Kebetulan nih, aku baru dikasih pegangan travel elf. Kalau mobil pribadi kemarin, aku gak pernah pakai kernet." ujar tetangganya yang seumuran Kenandra, tetapi sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak laki-laki. Ia tinggal bersama istri dan anaknya, di kontrakan satu petak tersebut.


"Tapi aku tak tau daerah ini, Bang." tandas Ghifar, dengan menoleh pada anak laki-laki seumuran tiga tahun yang baru keluar dari dalam kontrakan.


"Yaa, belajar aja dulu. Jaman sekarang sih ada G*ogle, bisa minta petunjuk dari situ. Awal-awal kan kita jadi supirnya dulu, mana tau besok-besok jadi pengusaha travelnya. Aku yang masarin, kau yang sediain mobilnya." ungkap Rudi dengan senyum yang mengembang.


Ghifar langsung mengangguk. Ia menyanggupi ajakan perkejaan tersebut. Ia pun tak menyangka, ucapan Rudi saat itu menjadi kenyataan. Ia kini memiliki beberapa puluh mobil untuk disewakan, ataupun mengantar orang ke tempat tujuan. Ghifar mampu menyanggupi tawaran pariwisata, maupun pulang pergi ke daerah yang cukup jauh.

__ADS_1


"Assalamualaikum...." ucapnya lirih, ketika memasuki rumah milik keluarga adik kakeknya.


Ghifar menoleh ke arah kanannya, terlihat pintu kamar milik Ahya terbuka. Ghifar berjalan ke ambang pintu, kepalanya melongok dari sana.


Terlihat Ahya tengah duduk di tepian tempat tidur, dengan laptop yang menyala. Bungkusan bekas snack, berceceran di lantai. Beberapa makanan yang masih terbungkus, berjejer rapih di atas tempat tidurnya.


'Ahya tengah melipurkan luka batinnya.' satu judul yang muncul di pikiran Ghifar, saat melihat sahabatnya begitu serakah makan.


Ghifar mengendap-endap, ia mencoba berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara.


Dalam hitungan ketiga, Ghifar langsung memeluk tubuh Ahya dari belakang. Kepalanya muncul dari bahu kanan Ahya, kemudian satu kecupan manis mendarat di pipi Ahya.


Tubuh Ahya tersentak, ia terkejut dengan kehadiran Ghifar yang sangat tiba-tiba.


Ahya memberontak atas pelukan Ghifar, ia menghapus bekas ciuman Ghifar. Satu bantal ia raih, kemudian ia hantamkan ke tubuh Ghifar.


Tawa Ghifar begitu nyaring, ia merasa puas melihat wajah kaget Ahya bercampur kesal.


"Sialan kau! Mati kau sana!" maki Ahya begitu tajam.


Ghifar masih begitu lepas tertawa, beban hidupnya seakan hilang dengan tawa lepasnya.


Ghifar kembali menubruk tubuh Ahya, ia menggulingkan Ahya ke tempat tidur. Bulu halus di bagian dagunya, ia tempelkan pada leher Ahya.


Tawa Ahya menggema, dengan rasa geli dari gurauan Ghifar.


"Pipi kau besar betul!" ujar Ghifar, saat melirik gundukan di samping hidung Ahya.


"Awwww..... Ghifar! Aduh...." tawa Ahya terdengar sangat bahagia. Keceriaannya kembali menghampirinya.


Ghifar menancapkan giginya, pada pipi chubby Ahya. Berulang kali ia lakukan, meski akhirnya terlepas karena dorongan dari Ahya.


"Ampun tak? Ampun tak?" tanya Ghifar berulang, dengan menggelitiki bagian rusuk Ahya juga.


Ahya begitu kelojotan, dengan tawa renyahnya. Nama Ghifar pun melambung di kamar itu, suaranya sampai mengundang manusia lain yang tinggal di rumah itu.


"Heh! Heh! Heh! Far.......


......................

__ADS_1


Pengen crazy up, tapi belum ada yang pas.


__ADS_2