Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS145. I Gede Yoka Widiankara


__ADS_3

"Oh begitu? Boleh kami cek KTP Bapaknya juga?" ucap salah seorang laki-laki, yang Adi kira dialah pemimpin anggotanya.


Adi menoleh ke arah nakas, ia melihat dompetnya masih tergeletak di sana. Adi berjalan menuju nakas, kemudian mengambil KTP dari dalam dompetnya.


Adi menyerahkan KTPnya, kemudian berdiri dengan merangkul istrinya kembali.


"Ohh... Iya-iya. KTP Ibunya mana ya?" tanya laki-laki yang menanyakan hal yang sama pada Adi.


Adinda menoleh ke arah suaminya. Itulah hal yang Adinda lupakan, saat mereka mengantar Icut ke bandara. Adinda hanya membawa dompet sakunya, yang berisi beberapa ratus uang dan pecahan dua ribu rupiah hasil kembalian dari membeli sayur.


"Itulah, Bang. Aku lupa bawa dompet besar, KTP aku ada di dompet itu." Adinda mendongak menatap wajah suaminya, dengan mencengkram bagian kancing kemeja suaminya.


Adi menghela nafasnya, ia sudah menyangka hal ini. Adindanya lupa membawa KTP.


"Gini, Pak..." Adi tengah berusaha menjelaskan pada anggota Wilayatul Hisbah tersebut.


"Ini memang istri Saya, istri saya lupa membawa KTPnya. Tapi memang benar dia istri saya, kami udah 22 tahun menikah, anak-anak kami juga udah banyak." lanjut Adi, dengan wajah seriusnya.


"Memang Ibu sama Bapak berapa usianya? Sudah 22 tahun yang lalu menikah betul tak ini?" sahut ibu-ibu, yang paling pertama mengajak Adi berkomunikasi.


"Saya 50, istri saya 45 tahun." balas Adi yang sebetulnya malu dengan usianya. Namun, masih menyewa kamar dan berbuat mesum di siang hari seperti ini.


"Hah? Terus ngapain ini kamarnya sampek berantakan kek gini? Di jelasin di kantor aja ayo, Pak. Betul tak ini Ibu istrinya, kok muda sekali. Jangan-jangan kan..." ujar ibu-ibu tersebut, dengan mempersilahkan mereka untuk jalan terlebih dahulu.


"Lah... Kau kira aku tua bangkotan? Cuma beda 5 tahun aku sama istri, tak percaya betul kalian ini." sewot Adi, dengan merangkul istrinya untuk menuju ke kantor mereka.


"Apa sih orang tuh gerutu terus?" sahut Adi, dengan memperhatikan wajah masam anaknya.


"Lain kali kalau nganterin Icut ke bandara, biar aku aja apa bang Givan. Biar tak cek in lagi Mamah sama Papah." balas Ghavi, dengan duduk di kursi makan.


Mereka lalu memulai sesi sarapan pagi mereka. Begitu hangat dan nikmat, meski semua anak tak berkumpul di meja makan penuh ukiran khas ini.


Sesaat kemudian, Adinda dan Canda langsung membereskan piring kotor dan makanan sisa. Dengan Adi, Ghavi dan Givan yang masih duduk dengan menikmati buah pencuci mulut.


Givan mengutak-atik ponselnya, ia mengernyitkan dahinya saat bertukar pesan chat dengan seseorang.

__ADS_1


Adi menyadari perubahan wajah serius dan bingung dari anaknya.


"Kenapa Bang?" tanya Adi, pada anak tertuanya.


"Icut ngabarin, katanya dapat kiriman lima juta. Pas dicek, keterangannya buat beli diapers. Nama pengirimnya, tak dikenal Icut. Maksudnya... Bukan keluarganya, bukan juga nama ayahnya Memei." Givan menjeda kalimatnya sejenak.


"Aku pun dapat, 10 jutanya kurang 1 perak. Udah macam diskon kek gitu, Pah." lanjut Givan kemudian.


"Siapa naman pengirimnya, Bang?" tanya Ghavi.


"Keterangan dari pengirimnya apa, Van? tambah Adi kemudian.


"I Gede Yoka Widiankara. Hadiah pernikahan, maaf baru bisa ngasih, setara dengan 10 gram emas, maaf cuma bisa ngasih segitu. Kek gitu keterangannya." ungkap Givan, yang membuat Adi terheran-heran.


"Icut juga dari I Gede Yoka Widiankara?" tanya Adinda, yang ternyata menyimak obrolan mereka.


"Iya, sama nama pengirimnya. Tapi beda-beda keterangannya." jawab Givan kemudian.


"Dari Bali itu, namanya Bali betul." ucap Adinda, dengan mengambil teko kosong yang berada di atas meja makan.


Adi memikirkan anaknya yang berada di kota itu. Sejurus kemudian, tersimpul di otaknya. Bahwa nama perempuan tersebut, adalah kekasih dari anaknya.


"Coba hubungi Ghifar." ungkap Adi yang menarik perhatian mereka, apa lagi kalau bukan karena nama seseorang yang jarang disebutkan tersebut.


Givan mengangguk, kemudian ia segera melakukan panggilan pada adiknya.


Sayangnya, meskipun berdering. Ghifar tak mengangkat telepon dari kakak satu ibunya tersebut.


Adinda melanjutkan aktivitasnya, untuk mengajak Gavin dan Gibran bersarapan. Namun, saat ia menilik ponselnya sejenak. Ia malah dikejutkan, dengan notifikasi dari sebuah aplikasi perbankan miliknya.


"Nih... A dulu. Mamah mau ke belakang dulu." ujar Adinda, yang meninggalkan kembali kedua anaknya di ruang keluarga. Karena Gavin dan Gibran, tengah anteng menonton kartun paginya.


"Bang... Aku pun dapat kiriman." ungkap Adinda, setelah dirinya berada di hadapan keluarganya yang masih berada di kursi makan masing-masing.


"Dari siapa, Dek?" tanya Adi, dengan meraih ponsel istrinya yang diulurkan padanya.

__ADS_1


"Sama juga, dari I Gede Yoka Widiankara." ucap Adi, dengan melihat keterangan pengirim tersebut.


"Buat Mak, buat beli skincare. Sehat-sehat ya, Mak. Tambah cantik, awet muda, panjang umur, panjang jodoh. Dimantapkan kembali keimanannya, istiqomah selalu." lanjut Adi, membacakan keterangan yang tertulis.


"Adek ulang tahun ya?" netra Adi bergulir menatap wajah istrinya.


"Tak tau. Memang tanggal berapa sekarang?" tanya Adinda, dengan meraih gelas berisikan teh manis hangat miliknya.


"Kan Papah suaminya. Peka gitu loh. Hari ulang tahun istrinya, Papah tak tau?" ucap Ghavi kemudian.


Garis bibir Adi tertarik ke atas, "Memang tak tau, lupa keknya. Seumur-umur, Papah tak pernah ngadain ulang tahunan, ataupun kasih selamat." sahut Adi jujur.


"Dari Ghifar keknya, Bang." ujar Adinda, dengan merebut ponselnya dari suaminya.


"Berapa banyak, Mah?" tanya Givan, yang melongok pada layar ponsel ibunya.


"100 juta pas." jawab Adinda lirih, yang membuat beberapa orang merasa terkejut.


"Coba cek saldonya, Mah." timpal Ghavi, yang semakin penasaran dengan masuknya sejumlah uang pada rekening keluarganya.


Ghavi pun ikut mengecek aplikasi perbankan miliknya. Rasa terkejut keluarganya, kini ia rasakan juga.


"Masuk tiga juta, Mah. Dari I Gede juga, Mah. Keterangannya, barangkali abang punya utang, makasih udah pernah beliin abang pakaian dan jajanan." ungkap Ghavi, dengan mata yang terbuka lebar.


"Ya benar Ghifar berarti. Nyebut ke Mamah, cuma dia sendiri yang latah mak. Nyebut dirinya sendiri ke kau, abang tuh." jelas Adi, mengungkapkan apa yang ia tangkap dari kejanggalan pagi ini.


"Kabar tak pernah datang, malah kiriman yang datang. Berapa lebaran lagi, dia bisa balik ke rumah?" ujar Adinda murung.


"Kita harus ngomong sama Haris." putus Adi dengan pandangan menerawang.


Adi merasa Ghifar sudah di luar batas. Ghifar seperti menganggap, bahwa dirinya bukan bagian dari keluarganya lagi.


Perihal masalah uang. Adi menyimpulkan, bahwa Ghifar begitu fokus untuk menghasilkan uang. Seperti tuntutan yang mereka inginkan, pada Ghifar sebagai anak laki-laki yang mengemban tanggung jawab besar kelak nanti.


"Abang mau ambil HP dulu, mau ngobrol sama Haris." ucap Adi dengan bangkit dari kursinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2