
Adinda menoleh ke arah Haris, tanpa memperdulikan ucapan Haris barusan.
"Bang… jadi kek mana ini? Givan sama Canda macam mana ini?" tanyanya meminta pendapat Haris.
"Canda kau bawa balik lah, kan udah kau tukar sama Givan." jawab Haris dengan menyandarkan kepalanya pada sofa tersebut.
"Bang… Bang Adi." panggil Adinda, saat melihat suaminya hendak berlalu pergi.
Adi menoleh, dengan tangan masih menopang anak umur 5 tahun tersebut.
"Apa, Dek? Abang mau lurusin pinggang." sahut Adi kemudian.
"Sini aja." balas Adinda, dengan menepuk pahanya.
Adi berjalan ke arah istrinya, kemudian menaruh anak laki-laki umur 5 tahun di samping Adinda. Gavin duduk di antara ibunya dan kakak iparnya. Sedangkan Adi, tanpa malu ia merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut. Dengan kepala berbantal paha istrinya, yang terbungkus rok plisket panjang.
"Pijitin ini, Dek." pinta Adi, dengan menempatkan tangan istrinya di bagian ubun-ubunnya.
Adinda memberikan remasan ringan, di rambut kepala suaminya. Tanpa diduga, Adinda malah menundukkan punggungnya. Lalu mengecup area wajah suaminya, sampai suaminya terkekeh geli.
"Heh!!! Kalian ngapain? Itu ditonton mantu! Tak punya otak kah kalian ini?!" seru Haris, yang mengundang perhatian Givan. Yang tengah menikmati rokoknya di teras rumah Haris.
Givan langsung masuk ke dalam rumah tersebut, dengan memperhatikan orang-orang yang berada di ruangan tersebut.
Adinda menegakkan punggungnya kembali, lalu menoleh ke arah Canda dengan tersenyum lebar. Adi pun sedikit mendongakan kepalanya, untuk melihat wajah menantunya tersebut.
"Harap maklum, lagi stress." ungkap Adinda, yang membuat Canda tersenyum malu sembari mengangguk.
"Bang…. Ikut…." teriak Gavin, dengan berlari ke arah Ghava yang hendak keluar dari rumah tersebut.
"Mau antar kak Icut jajan, Dek. Sana Adek minta uang dulu ke Mamah, Abang lagi kosong." ujar Ghava, saat tangannya digandeng oleh adiknya.
__ADS_1
"Udah, pakek uang aku aja." tutur Icut, dengan berjalan pelan ke arah Ghava.
"Banyak uang kah?" tanya Ghava dengan memperhatikan penampilan Icut.
"Ya lah, kan dikasih jatah tambahan sama mamah." jawab Icut yang membuat Ghava melemparkan pandangannya ke arah ibunya, yang saat itu tengah memperhatikan interaksi anak-anaknya.
Adinda buru-buru melemparkan pandangannya ke arah lain, saat Ghava mendapatinya tengah memperhatikan dirinya.
"Aku tak dikasih tambahan, padahal aku di kota orang. Yang jelas-jelas harga gorengan di sana lebih mahal, dari pada di kampung. Tega Mamah sama aku." ungkap Ghava yang tengah menciptakan drama tersebut.
"Mintalah ke Papah kau!" sahut Adinda yang membuat Adi bangkit dari posisinya.
Ghava memasang wajah memelasnya dengan cepat, "Pah…" panggilnya dengan suara menurun, agar Adi merasa iba padanya.
"Ya… nanti nyari perawan kaya dulu. Perawan kan biasanya gampang dibohongi, biasanya mereka tak percaya kalau memang laki-laki seumuran Papah udah punya istri punya anak." celetuk Adi, yang langsung mendapat tarikan di telinganya.
Adi terkekeh dengan menoleh ke arah istrinya. Kemudian ia memberikan ciuman sayangnya, pada pipi pujaan hatinya.
Canda yang memang tak mengerti, merasa bingung. Saat Givan, Ghava dan Icut membuang wajahnya dengan senyum samarnya.
Adinda memukul pelan paha suaminya, "Yang punya kem*luan, Suamiku!" sahut Adinda dengan kekehan kecil.
"Kan Abang udah pernah kata… bahwa memang Abang punya besar, panjang. Udah tau sendiri kan?" balas Adi yang malah mendapat cubitan di perut ratanya.
Adi tertawa puas, melihat rona merah pias di pipi istrinya.
"43 tahun, masih boleh itu Dek hamil sekali lagi." lanjut Adi, setelah tawanya mereda.
"HEH… MANA ADA?!!!" seruan serentak, dari Haris, Gavin, Ghava dan juga Icut. Mereka tak setuju, dengan pendapat ucapan Adi barusan.
Tawa Adi meledak seketika, "Mamah kalian masih kuat ngejennya." sahut Adi kemudian.
__ADS_1
"Bisa ya, Dek. Ngeluarin satu bayi lagi?" lanjut Adi, dengan menggenggam tangan istrinya.
"Tiga lagi juga bisa. Tapi pikirin nanti, apa mereka tak malu? Kalau kita ambil rapot, tapi kita jalan udah pakek tongkat." sahut Adinda dengan tersenyum lebar pada suaminya.
"Abang tak mau ambilin, kan banyak Abang-abangnya." balas Adi, dengan mengarahkan pandangannya ke arah Givan dan Ghava.
"Aku ngambilin rapot anak aku sendiri, Pah." jawab Ghava yang tak kehabisan akal.
"Aku kan merantau, Pah. Nanti tinggal di pulau K lagi, bawa Canda." jawab Givan yang mendapat gelengan cepat dari istrinya.
"Keluarga aku udah nitipin aku ke Mamah Dinda, bukan ke Mas Givan. Aku ikut Mamah Dinda, bukan ikut Mas Givan." ungkap Canda, yang membuat suasana menjadi menegangkan.
Ghava dan Icut berkomunikasi dengan isyarat, lalu Ghava menggendong Gavin.
"Pergi dulu, Mah. Mau ke minimarket." pamit Ghava, dengan diikuti oleh Icut di belakangnya.
"Biar nanti kau bikin rumah, di tanah kosong belakang rumah aja Van. Biar Canda tetap bisa kita kontrol." ucap Adi, saat suasana semakin mencekam.
"Pah, Canda istri aku. Dia hak aku, kewajiban aku. Juga Canda bukan anak kalian, kenapa mesti kalian yang ngontrol ini itu." sahut Givan, dengan berpindah duduk di sebelah Haris.
"Masalahnya kau ini pelakunya, Van! Kemarin kau bikin dia berdarah-darah. Entah nanti apa yang kau buat! Apa lagi kalian menikah ini, bukan karena kemauan dari diri masing-masing!" jawab Adinda, dengan memandang anaknya dengan sorot mata tajamnya.
"Mah… aku waktu itu, tak sengaja kasar sama Canda. Tanyain dia sendiri, aku tak bikin dia berdarah. Dia yang lari ke sana ke mari, yang bikin rumah berantakan. Dia yang coba kabur dari aku, sampek dahinya lecet gitu. Tak ada aku mukul, atau nampar dia." ujar Givan, terdengar seperti tengah membela dirinya sendiri.
"Orang yang tak salah, tak perlu pembelaan atas dirinya Van. Biar apa kau ngomong macam itu? Biar dikata kau ini lembut, juga kejadian kemarin atas dasar suka sama suka? Kau macam tak punya logika aja! Wajarnya perempuan pasti berontak, pasti lari, pasti ngasih perlawanan. Kala kesuciannya itu direnggut paksa, Van! Beda kalau kau sama Canda, punya status pacaran atau suka sama suka. Mungkin Canda tak mungkin ngelawan kau, sampek sedemikian rupa. Mungkin Canda bakal menyerahkan dirinya sendiri, tak bakal kejadian kek kemarin." meletus balon hijau yang Adinda rasakan, pada anak sulungnya tersebut.
"Ghifar yang dihidangkan Canda aja, apa ada dia ambil paksa mahkota Canda? Apa ada dia ngelakuin hal, yang kau lakuin ke pujaannya? Adik kau yang jagain, kau yang rusak dalam beberapa menit aja. Kau jahat-jahatnya orang, Van! Kau tega sama adik kau sendiri! Bukan cuma pikiran kau yang mati, hati kau pun rupanya udah karam." lanjut Adinda, dengan air mata yang jatuh disertai lontaran kalimatnya.
"Aku kira, Canda……
......................
__ADS_1