Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS127. Vonis dokter


__ADS_3

Givan dengan ikhlas, mengikuti arahan dan petunjuk dari dokter yang direkomendasikan dokter spesialis kandungan yang pertama kali mereka kunjungi. Ini adalah bulan ketiga, pemeriksaan berkala tentang kualitas s*ermanya.


Karena menurut pemeriksaan dokter terhadap Canda, Canda hanya perlu menjaga pola makan dan waktu istirahatnya saja. Membuat dirinya terpaksa, harus mengikuti serangkaian tes untuk mengetahui kesuburannya.


Hingga berjalannya waktu, ini adalah bulan kesembilan pernikahan mereka. Namun, mereka tetap saja masih harus menunggu mongmongan yang dititipkan di rahim Canda.


Tetapi Givan menerima hasil, yang membuatnya begitu hancur. Ia pulang ke rumah orang tuanya, dengan lutut yang lemas. Ia masih teringat jelas, akan vonis dokter tentang masalah s*ermanya.


"Oligozoospermia, dapat berpengaruh terhadap kesuburan jika tak segera dilakukan pengobatan. Oligozoospermia terjadi ketika jumlah ****** dalam air mani jauh lebih sedikit dari biasanya. Kelainan ****** ini, memiliki empat tingkat keparahan, yaitu ringan, sedang, berat, dan ekstrem. Penderita oligozoospermia, dengan tingkat keparahan rendah dan sedang masih punya harapan untuk memiliki momongan secara normal. Berbeda dengan penderita dengan tingkat keparahan tinggi dan ekstrem yang akan kesulitan untuk mempunyai anak. Selain itu, sedikitnya jumlah sel ****** dalam air mani nantinya dapat berpengaruh juga terhadap bentuk dan pergerakannya. Beberapa hal yang memicu masalah ****** ini, seperti penyakit celiac, infeksi saluran reproduksi, gangguan genetik, obesitas, berendam dalam air panas, merokok, hingga mengonsumsi obat-obatan terlarang."


"Jadi... Saya masih bisa diobati atau tidak, Pak?" tanya Givan, dengan suara gemetar.


Pandangan fokus pada dokter laki-laki, yang tengah menjelaskan tentang kelainan yang ia derita tersebut.


Dokter menghela nafas beratnya, kemudian ia tersenyum ramah.


"Masih, bisa. Kita lanjut proses pemeriksaan berkala ya, Pak. Kalau boleh tau, memang sebelumnya pernah mengonsumsi obat-obatan terlarang tidak? Atau... Berhubung se*s terlalu sering begitu? Contohnya... Sehari bisa beberapa kali, dalam waktu berulang." tanya dokter tersebut, membuat Givan teringat pada Ai.


Ia begitu kecanduan pada wanita tersebut, Givan menggilai tubuh molek dengan tinggi semampai yang Ai miliki. Givan masih ingat jelas, dirinya begitu rutin melakukan kegiatan dosa tersebut hingga berulang beberapa kali dalam sehari. Hari-harinya pun, selalu rutin untuk melepaskan kenikmatannya dengan wanita yang ia gilai tersebut.


"Ya, Pak. Sebelumnya memang nyabu, udah sekitar sembilan bulan yang lalu. Proses rehabilitasi sebulan, udah tak ketergantungan lagi. Juga memang sembilan bulan yang lalu, punya kebiasaan se*s begitu sering dan setiap hari. Kalau sekarang, karena lagi program. Paling sekitar tiga kali dalam waktu seminggu." ungkap Givan kemudian.


Dokter mencatat sesuatu, kemudian kembali tersenyum pada Givan.


"Ini obat yang harus ditebus, Pak. Jangan berhenti ya, Pak. Kita lanjut pengobatan, biar Bapak bisa cepat pulih kembali. Gaya hidup sehat, juga jangan lupa olahraga rutin ya Pak." ujarnya dengan memberikan selembar kertas dengan parafnya.


"Terima kasih, Dok." sahut Givan dengan menerima kertas tersebut.


"Hati-hati di jalan, Pak. Nanti saya kabarin kembali, untuk pemeriksaan selanjutnya." balasnya, saat Givan bangkit dari duduknya.


"Baik, Dok. Assalamu'alaikum." tutur Givan dengan keluar dari ruangan tersebut.


Givan meremas rambutnya, ia begitu frustasi dengan keadaannya.


"Papah anter mamah ke rumah sakit dulu, Van. Tolong temenin Canda jagain adik-adik kau." ucap Adi, saat melihat anaknya baru keluar dari mobil.


"Mamah kenapa, Pah?" tanya Givan, yang baru menyadari ternyata ibunya sudah di dalam mobil milik ayahnya.


Adi tak menyahuti pertanyaan anaknya, karena ia begitu terburu-buru untuk mengantar istrinya.

__ADS_1


Givan amat penasaran, dengan keadaan seseorang yang amat ia sayangi tersebut. Ia bergegas masuk ke dalam rumah, untuk menanyakan hal itu pada istrinya.


"Mamah kenapa, Dek?" tanya Givan, yang menemukan istrinya tengah menemani adik-adik bermain di halaman belakang.


Canda menoleh kaget ke arah suaminya, lalu mengembangkan senyum manisnya.


"Kan Mamah lama lepas KB, mungkin udah sekitar 1 tahun. Nah, Mamah tuh baru haid sekian lama tuh. Tapi katanya sakit kali, haidnya juga banyak." jawab Canda kemudian.


"Sini Mas, duduk! Kek mana tadi?" lanjut Canda, dengan menepuk tempat di sebelahnya.


Givan memberikan kecupan ringan di pipi kanan istrinya, kemudian ia menduduki tempat di sebelah istrinya.


"Mas kacau, bener-bener kacau Canda. Mas pusing, tak tau mesti kek mana lagi." ujar Givan, mencoba membagi rasa yang ia rasakan.


Pandangan Givan kosong, menatap adik-adiknya yang tengah bermain pasir. Ia merasa ini adalah buah, di mana dirinya dulu senang berbuat dosa.


Ia teringat kembali, pada tuduhan kasar pada wanita di sebelahnya sekarang. Ia menuduh Canda yang tidak bisa memberinya keturunan. Namun, kenyataan begitu menikam jantungnya.


"Mana tau peranakan kau, yang memang bermasalah. Coba kek kau USG dulu, tes apa kek. Mau berapa lama lagi, kita nunggu kehadiran anak kita?" ucap Givan, karena malam ini mereka membahas tentang Canda yang kembali mendapat strip satu.


"Aku udah coba saran dari mamah, udah juga ngikutin step yang mamah bilang. Ya udah, bulan depan nanti aku cek rahim aku." sahut Canda, yang memang merasa penasaran dengan kondisi rahimnya.


Givan memberikan kertas tersebut, dari dalam saku jaketnya.


"Mas didiagnosa dokter kena oligozoospermia. Jumlah s*erma sedikit, tapi masih bisa diobati katanya." ungkap Givan lirih, dengan menundukkan kepalanya.


Tiba-tiba, ia merasakan pelukan yang membuat dirinya merasa amat cengeng.


Givan menoleh ke arah kiri, ia menemukan Canda yang tengah memeluknya dengan senyum yang menenangkan.


"Semangat laki-laki hebat. Aku temani Mas, cepet sembuh ya Cah Bagus." ujar Canda, dengan menepuk pelan punggung laki-lakinya.


"Kau tak... minta cerai?" tanya Givan terdengar ragu-ragu.


"Tak.... Aku minta yang lain aja. Gimana kalau sore nanti.... Kita jalan-jalan. Aku dikasih pegangan 100 ribu, sama mamah mertua. Katanya buat aku aja kembalian jajan mereka. Tapi mereka tak minta jajan, udah aku tawarin juga." jawab Canda, dengan suara cerianya.


Givan mengusap ujung matanya yang basah, kemudian ia merangkul pundak istrinya.


"Wanita hebat, makasih Sayang." tutur Givan dengan suara bergetar.

__ADS_1


Hari ini, ia merasakan begitu beruntung memiliki Canda. Wanita adiknya, yang ia nikahi karena tindakannya tersebut.


~


Esok harinya, Givan tengah duduk bersantai dengan Gibran di pangkuannya.


"Mamah atit yut, long... Long... Long hana..." Gibran berusaha merangkai kalimat, tetapi ia malah kesulitan untuk mengucapkan kata demi kata.


"Tak usah ngomong bahasa Indonesia lagi kau! Udah tiga tahun, masih aja ngucapin atit iyut. Mak long saket prut, dah gitu aja." ucap Givan, kemudian menatap adiknya yang berada di pangkuannya.


Gibran terlihat tengah dilanda malu, kemudian ia memamerkan gigi kuningnya.


"Bek peugah-peugah bak ureung laen, nyoe rahasia tanyoe dua." ungkap Gibran kemudian.


"Hah? Pue?" sahut Givan, mencoba meladeni anak ibunya tersebut.


Gibran membisikkan sesuatu pada telinga kakaknya. Namun, Givan malah terbahak-bahak mendengar ucapan Gibran yang terdengar tidak jelas tersebut.


"Heh, ngomong apa kah?" tanyanya kemudian, dengan memandangi wajah adiknya yang sedikit mirip dengan wajahnya.


Gibran bersedekap tangan, ia kesal pada kakaknya tersebut.


"Hana pue, hana pue..." jawab Gibran dengan turun dari pangkuan kakaknya, lalu dirinya berlalu pergi dengan wajah manyun.


"Kenapa itu anak? Ngomong tak jelas, mana tersinggung lagi." ujar Givan seorang diri, dengan memerhatikan istrinya yang baru kembali dari membeli sayur segar.


"Mas.....


......................


*Ma long saket prut : Ibu saya sakit perut


*Bek peugah-peugah bak ureung laen, nyoe rahasia tanyoe dua : Jangan bilang-bilang sama orang lain, ini rahasia kita berdua.


*Kah : Kau (kasar) yang Givan ucapin itu.


*Hana pue : Tak apa


Gibran mix betul sih ini anak.. sikapnya manis, kadang lembut, tapi tersinggungan juga.

__ADS_1


__ADS_2