Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS155. Kemurkaan Adi


__ADS_3

"Demi Allah, aku tak pengen itu Mah. Aku bilang kek gitu, karena reflek kesal aja. Aku minta putus sementara pun, karena kalau aku selalu komunikasi sama Giska, aku takut Giska bakal minta yang lebih dari ranjang itu. Sedangkan, posisi aku udah ngerasa tertekan betul, udah stress sangat, dengan nilai yang tak kunjung aku capai itu Mah. Tolong lah pengertiannya, Mah. Aku tak maksud hati buat nyepelehin Giska, apa lagi nyepelehin papah. Kek mana caranya, aku jelasin semuanya?" ucap Zuhdi, dengan tangan yang gemetaran.


"Tak tau lagi, Mamah pun bingung. Papah masih belum pengen bahas masalah ini. Mungkin keputusannya bisa berubah, tapi untuk sekarang papah minta tak usah dilanjut untuk pertunangannya." sahut Adinda, membuat Zuhdi tak bisa menahan rasa berat di matanya.


Ia menekan kedua kelopak matanya, dengan menggunakan jari telunjuk dan jempolnya. Ia menunduk, dengan rasa frustasi yang menyerangnya.


"Jangan nekat! Jangan jadikan Giska korban, dari kecerobohan kau. Mulut laki-laki itu pemutus segalanya. Dengan tuntutan Giska yang minta ranjang mahal aja, kau sampek tega mutusin hubungan kalian buat sementara. Kek mana nanti kalau kalian udah nikah, terus Giska minta sesuatu yang sulit kau raih. Keknya kata cerai pun, bakal keluar dari mulut kau. Dari situ aja kita udah mahamin, bahwa kau ceroboh dalam mengambil keputusan." tambah Adinda, yang membuat Zuhdi merasa kebas pada hatinya.


"Ya udah. Kami pamit dulu, Di. Udah jam sembilan malam." ujar Adinda, saat Zuhdi masih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Adinda mengerutkan keningnya, kala Zuhdi masih setia menutup wajahnya. Givan memberikan isyarat, agar ibunya lanjut melangkah keluar dari rumah.


Givan menepuk pundak Zuhdi, saat melewati Zuhdi yang masih menutupi wajahnya. Ia memahami, bahwa itu bukanlah hal yang mudah buat Zuhdi.


Adinda duduk di jok motor Givan, dengan wajah murungnya. Ia merasa tidak enak hati, pada laki-laki yang menaklukkan hati anak perempuan satu-satunya tersebut. Ia teringat akan keadaan Giska, saat dirinya mengambil cincin milik Giska. Saat itu, Giska tengah memeluk erat gulingnya dengan gulir ajaib dari matanya.


Giska amat tidak percaya, dengan keputusan ayahnya setelah waktu maghrib tadi. Membuatnya dirundung sedih, yang mungkin hanya dimengerti dirinya sendiri.


"Sore kali kau balik, Nak." tegur Adi, saat melihat anaknya menarik gagang pintu kamarnya sendiri.


Giska menoleh ke arah sofa ruang keluarga, terdapat cinta pertamanya tengah bersantai dengan remote TV di genggamannya.


"Iya, Pah. Tadi abis ke cek Hasan, ganti model kepala ranjang sesuai yang aku mau." ucap Giska, dengan melangkah menuju ayahnya. Lalu ia mencium tangan ayahnya, yang terlihat begitu kaget mendengar penuturannya.

__ADS_1


"Sama Zuhdi? Kau balik lagi sama dia?" tanya Adi, yang diangguki Giska dengan senyum piasnya.


"PAPAH UDAH TAK IZINKAN KAU SAMA DIA!!!" bentak Adi mendadak, membuat Giska gemetaran seketika.


Adinda dan Canda yang berada di teras rumah, muncul dengan tergesa-gesa.


"Apa sih, Bang? Anak baru datang, udah dibentak-bentak aja." tanya Adinda, ia menghampiri suaminya dan tangannya terulur untuk mengusap dada suaminya dari arah belakang.


"Pergi dia sama Zuhdi. Balik kuliah lembur jalan sama Zuhdi." jawab Adi dengan wajah yang sudah tidak santai lagi.


"CINTA KAU JADIKAN ALASAN. KORBAN LAGI, BUKAN CUMA KAU YANG RUGI, ORANG TUA KAU PUN LEBIH-LEBIH DIRUGIKAN DI SINI. DIA TAK SUNGGUH-SUNGGUH SAMA KAU! LAKI-LAKI ITU TAK MUNGKIN CEROBOH BERUCAP! MASA TUNANGAN AJA, DIA MUDAHNYA MUTUSIN KAU. KEK MANA KELAK NANTI RUMAH TANGGA? MUNGKIN RASANYA HABIS TALAK DIA UCAPKAN, SETIAP KALI ADA MASALAH SAMA KAU." suara halilintar Adi, yang membuat Giska hancur.


"Setiap ucapan itu ada konsekuensinya. Setiap keputusan punya resikonya. Dia bilang break, dia lepasin kau. Sok sopan, segala bilang titip ke Papah. Kemarin kau cerita, dia bilang bosan sama kau. Hari ini, dia berani mutusin anak Papah di depan mata Papah sendiri. Memang, masalah awal sumbernya dari kau. Tapi... Rasanya laki-laki matang mengerti, akan hal bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk, yang sifatnya bengkok. Dia ngelurusin kau, dengan cara kek gitu. Ya udah, kau dipatahkan sama dia." lanjut Adi, dengan menyaksikan anaknya yang tergugu di hadapannya sendiri.


"Bodohnya Abang, diam aja. Pas dia bentak Giska di depan mata Abang. Abang malah dibingungkan, lebih-lebih ngerasa bahwa memang anak Abang yang bersalah pas kejadian tempo hari. Pandainya Zuhdi, pandai memutar balikkan fakta." bola mata Adi, bergulir ke arah istrinya.


"Alasan juga dia break. Dia pengen kau lupa, sama janjinya buat nikahin kau. Dia pengen, kau terbawa arus laki-laki yang datang, pas masa break kau sama dia. Terus dia lupain janjinya buat nikahin kau, karena kau dibuat seolah berdosa udah khianati dia sama laki-laki baru, yang datang pas kau sama dia lagi tak ada hubungan. Bodoh, bodoh! Kenapa Papah tak mikir sampek ke situ waktu itu?" ujar Adi beruntun, yang tengah meluapkan kekesalannya.


Telunjuknya terulur, menunjuk tepat pada cincin yang melingkar di jari anaknya.


"Lepas itu cincin! Batalin aja. Balikin itu ke Zuhdi, Dek." pinta Adi kemudian.


"Van... Temenin Mamah kau!" lanjut Adi, dengan menoleh pada anaknya yang berdiri di ambang pintu samping rumah tersebut.

__ADS_1


"Pusing kali Mamah, Van." ucap Adinda, dengan berpegangan pada bagian pinggang jaket anaknya.


"Kita jalan-jalan dulu. Mamah mau apa? Aku belikan." ajak Givan, saat motornya mulai keluar dari pekarangan rumah Zuhdi.


"Sok kaya kau! Uang aja dari ATM yang Mamah kasih." ujar Adinda membuat anaknya tertawa lebar.


"Usaha apa ya, Mah? Buat penghasilan tambahan." tanya Givan, dengan memperhatikan jalanan yang cukup sepi tersebut.


"Di sini toko material jauh. Gimana kalau buka toko material aja?" pencetus ide, dari segala usaha yang keluarganya miliki.


"Boleh, Mah. Ajarin ya, Mah. Minjem modal awalnya juga." sanggup Givan, yang membuat Adinda mengangguk reflek.


Padahal dirinya tahu, bahwa anaknya tak mungkin melihatnya yang memberi anggukan kepala tersebut.


"Nanti Mamah bantu, sampek stabil. Kalau kau ada kerjaan kan, atau kau lagi ke ladang. Canda bisa gantiin kau jaga toko. Nanti kau juga butuh buruh angkut, misalkan ada yang beli semen berapa sak, atau pasir, batu bata semacamnya." jelas Adinda kemudian.


"Siap, Mah. Aku nurut aja. Kemarin juga aku ribut terus sama Canda. Aku kesel, Canda uang terus. Entahlah kalau aku ada tambang, macam kemarin. Sekarang aku cuma dapat bagian, yang buat menuhin ego aku pun kadang kurang." aku Givan, yang tengah dilanda permasalahan ekonomi.


"Canda kan, uang terus juga. Tetep kau makan, buat keperluan hidup kau sama dia. Jangan terlalu nyudutin Canda lah, kasian dia ikut mertua aja, udah derita betul itu buat dia. Jangan nambah beban hidupnya dia. Selagi arah uangnya jelas, ya kau harus penuhi itu. Dia minta uang, ya karena dia butuh." nasehat Adinda, yang terdengar nyaman untuk masuk ke telinga Givan.


"Iya, Mah. Yaa... Waktu berantem juga. Canda jelasin, malah dia marah balik. Nih, aku tulis semua, pengeluaran aku setiap harinya, biar mas tau jumlahnya berapa. Dia ngomong kek gitu, Mah. Dia ngotot betul." adu Givan, sepanjang perjalanan menuju ke kediamannya.


"Iya lah. Tak enak rasanya, pas dituduh suami sendiri. Apa lagi masalah ekonomi gitu kan? Uang yang diminta perempuan kau itu, istri kau itu. Ya buat perut kau juga, buat kebutuhan keluarga juga. Bukannya Mamah diam aja. Tapi rumah tangga itu punya fase datangnya masalah. Mungkin kau baru ngerasain sekarang, yang namanya kesulitan ekonomi. Mungkin berasanya, pas bolak-balik rumah sakit satu tahun kemarin itu ya? Celengan kau, keknya habis semua gara-gara itu ya?" tutur Adinda, dihadiahi Givan anggukan beberapa kali.

__ADS_1


......................


__ADS_2