Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS121. Bekas orang


__ADS_3

"Baru pulang, Pah?" tanya Zuhdi, saat melihat Adi baru masuk ke halaman rumah itu.


Adi turun dari motor milik Ghifar, "Iya, ngurus kerjaannya Haikal. Biar cepet paham." jawabnya kemudian.


"Giska ada di dalam kali ya, Pah?" sahut Zuhdi langsung mengutarakan tujuannya ke sini.


"Ohh, mau ketemu Giska? Biar nanti dipanggilkan. Ayo, masuk aja." balas Adi dengan berjalan lebih dulu.


"Assalamu'alaikum..." ucap Adi, setelah membuka pintu utama.


"Wa'alaikum salam." sahut Adinda sedikit berseru.


"Dek... Coba atur air hangat dulu." pinta Adi yang disanggupi istrinya.


Tok, tok, tok....


"Giska... Sholat belum? Ada Zuhdi ini." panggil Adi di depan pintu kamar anaknya.


"Tak mau aku ketemu dia!" seru Giska dengan suara sesenggukan.


Adi dengan cepat membuka pintu kamar anaknya. Setelah mengetahui bahwa anaknya tengah menangis di dalam kamarnya.


"Kau, kenapa?" tanya Adi, dengan duduk di tepian tempat tidur anaknya.


Giska langsung beralih memeluk ayahnya, "Aku mau putus aja sama bang Adi." ucap Giska di tengah tangisnya.


Adi mengerutkan keningnya. Siang tadi Zuhdi meminta izin padanya, untuk membawa Giska pergi ke toko emas. Tapi kenapa tiba-tiba sekarang anaknya meminta mengakhiri hubungannya dengan laki-laki dicintainya?


"Kenapa memang?" tanya Adi dengan mengusap-usap punggung anaknya.


"Dia bekas orang." jawab Giska yang membuat Adi melebarkan matanya.


"Dek... Dinda... Sini, Dek." seru Adi, dengan menoleh ke arah pintu. Berharap suaranya terdengar ke telinga istrinya.

__ADS_1


"Ya, Bang." sahut Adinda lamat-lamat.


Tak lama, Adinda masuk dengan membenahi hijabnya.


"Di depan ada Zuhdi, Bang." ucap Adinda dengan berjalan ke arah suaminya dan anaknya.


Adi menoleh ke istrinya, lalu menganggukkan kepalanya.


"Lagi problem. Nangis nih anak Adek." sahut Adi kemudian.


"Problem apa? Ya tak enak dong, masa ditinggal Zuhdinya sendirian." balas Adinda dengan berdiri di hadapan anak dan suaminya.


"Katanya Zuhdi bekas orang, Dek." ujar Adi, yang membuat Adinda terkekeh geli.


Giska mendongakan kepalanya, menatap kesal pada ibunya.


"Mamah malah ngetawain aku. Aku tak suka sama Mamah tuh macam itu." tutur Giska dengan suara bergetar.


"Sini, yuk diomongin dulu sama Zuhdinya. Putus ya, putus. Biar tak repot-repot Papah nunangin kau, nikahin kau." celetuk Adi, membuat Giska menghapus air matanya kasar.


"Ambilin jilbabnya Giska, Dek." pinta Adi pada istrinya.


Adinda meraih jilbab pashmina milik anaknya. Lalu mengenakannya di kepala anaknya.


"Aku buatin minuman hangat dulu, Bang." ujar Adinda dengan melangkah mendahului mereka keluar kamar.


Adi dan Giska berjalan ke ruang tamu, dengan Zuhdi yang langsung menoleh cepat pada mereka.


"Masalah apa ini, Di? Awal-awalnya apa?" tanya Adi, dengan duduk beriringan dengan anaknya.


"Aku tak tau apa masalah, Pah. Tiba-tiba menjelang maghrib tadi, Giska nelpon minta putus. Padahal pas tadi ke toko emas, tak ada masalah apa-apa." jawab Zuhdi, dengan memperhatikan wajah kekasihnya yang basah karena air mata.


Adinda muncul dengan kopi dan teh di atas nampan, "Masalahnya Ahya. Tadi sore kan ada Ahya tuh, Di." timpal Adinda, yang mencampuri obrolan mereka.

__ADS_1


Zuhdi mengangguk, karena ia pun tahu kehadiran Ahya sore tadi.


Adinda duduk di sofa single, "Ahya nanya-nanya tuh sama Giska, katanya kenal kau di mana. Terus Giska cerita, blak-blakan dia tanpa malu cerita semua. Nah, terus. Selesai Giska cerita. Ahya nimpali, katanya kau mutusin dia. Padahal hubungan belum lama, masih sekitar enam bulanan aja." ungkap Adinda, yang disimak baik-baik oleh Adi dan Zuhdi.


Adinda mengambil nafas lebih banyak, "Terus Giska udah mewek-mewek tuh, langsung dia masuk kamar. Terus ya udah. Mamah pikir, dia cuma baper aja sebentar. Eh, tak taunya malah berdrama." lanjutnya dengan pandangan fokus pada Zuhdi.


Zuhdi mengangguk, setelah mendengar cerita singkat dari calon ibu mertuanya. Lalu ia beralih menatap Giska, yang masih memeluk erat lengan ayahnya.


"Memang kau tak pernah cerita masa lalu kau ke Giska, Di?" tanya Adi, saat mendapati Zuhdi tengah memperhatikan anaknya.


Zuhdi menggeleng, "Giska tak pernah nanya-nanya. Ya, aku juga memang tak pernah cerita tentang itu. Aku pikir, ya memang tak penting. Yang terpenting kan, aku fokus halalin dia." jawab Zuhdi mantap.


"Aku malu sama kak Ahya. Masa mau nikah sama bekas pacarnya. Nanti kak Ahya ngeledekin aku, nanti kek mana kalau dia bilang dih Giska mau bekasan aku. Abang seolah balas dendam ke kak Ahya, lewat aku. Punya hubungan sama aku, buat bikin panas hatinya kak Ahya." Giska mengeluarkan pendapatnya, yang menurut Adi seperti anak kecil.


"Ngenal Adek pun, Abang tak sengaja. Kalau cek Lhem waktu itu tak minta tolong Abang, buat anter Adek. Mana mungkin hari itu kita kenalan. Masalah bikin panas pun, Abang tak ada niatan. Memang Abang tau, kalau Adek sama Ahya saudaraan. Tapi tak sedikitpun niatan, buat balas dendam ke Ahya. Punya hubungan sama Adek juga, Abang tak pernah mau punya rasa ke Adek. Karena sadar derajat kita berbeda, takut dihina lagi kek kemarin. Tapi gimana? Nyatanya rasa itu ada di antara kita." jelas Zuhdi dengan memperhatikan wajah kekasihnya.


"Berarti tanah, jumlah mayam yang kau punya. Itu awalnya buat minang Ahya?" ujar Adi, yang membuat perhatian Zuhdi teralihkan padanya.


Zuhdi menggeleng, "Aku waktu sama Ahya, memang belum punya apa-apa. Masih suka ganti-ganti HP, masih suka buat jalan-jalan tak jelas, buat beli pakaian sendiri. Hasil kerja tuh, tak tau buat beli apa. Jadi kadang, kasihin semua ke orang tua. Aku ambil seratus, dua ratus, buat seneng-seneng sendiri, kadang sama Ahya. Belum ada pikiran buat nabung, apa lagi nikah. Ahya juga masih sekolah waktu itu." tutur Zuhdi kemudian.


"Terus.... Putus aku sama Ahya. Merantau aku ke Banda A***. Di sana banyak proyek, setelah dibayar uang sampek gepokan. Balik aku, bingung ini uang buat apa. Bilang ke orang tua, terus sama orang tua dibelikan tanah itu. Kan waktu itu kurang uangnya, sama orang tua ditambahkan uang yang dulu-dulunya aku kasih terus ke mereka. Sisanya beli dua mayam emas, sama belikan emas juga buat ma sama adek perempuan aku. Beli TV buat di kamar aku sendiri. Waktu itu, adek perempuan aku juga belum nikah Pah." lanjut Zuhdi bercerita.


"Nanti lepas tunangan juga, aku mau ke luar kota lagi. Biar jelas uang yang didapatnya, Pah." ujar Zuhdi, karena mereka semua terdiam saling memandang.


"Jadi, kau masih mau putus?" tanya Adinda pada anaknya.


Zuhdi dan Adi memandang wajah kacau Giska. Zuhdi pun merasa sama kacaunya, ia takut dirinya ditinggalkan setelah berjuang sejauh ini.


Giska menatap mata ayahnya, yang memiliki sorot tajam seperti dirinya.


......................


Tapi ngomong-ngomong... Adi juga bekas orang ya 😆 gak cuma Dinda aja yang bekas orang.

__ADS_1


__ADS_2