
Icut mengerutkan keningnya, saat seseorang yang pernah ia lihat tengah berdiri di halte kampusnya.
Hamerra menggosokkan wajahnya, ia terlihat sudah mengantuk.
Icut menyadari bayinya yang rewel dalam dekapannya. Icut menahan kedua tangan Hamerra, kemudian dirinya membuka dua kancing atas kemejanya.
"Kasian anak Ma, dua jam ya tak nyon-nyon. Main aja sama kakek. Lapar ya? Haus ya?" ucap Icut, saat Hamerra begitu lahap menyedot pucuk dadanya.
"Mbak... Di dalam sini aja, Mbak nyusuinnnya. Barangkali malu." ujar pak satpam kampus tersebut, saat Icut menyusui dengan duduk di teras pos jaganya.
"Tak usah, Pak. Bisa ditutupin hijab kok." sahut Icut, dengan tersenyum ramah pada satpam seumuran ayahnya tersebut.
Icut merapihkan hijabnya, agar bisa menutupi dadanya dan wajah Hamerra. Kemudian ia mecangklek kembali tasnya, lalu bangkit dan berjalan menuju gerbang.
Icut pura-pura tak melihat wanita tersebut, ia dengan santainya duduk di bangku yang tersedia di halte. Sembari menunggu angkutan umum, yang mengantarnya ke kediaman neneknya.
Maya dengan cepat menghampiri Icut, ia duduk di sebelah tempat Icut.
Icut terhenyak keget, dengan menoleh ke arah Maya. Ia mengerutkan keningnya, saat Maya memandangnya dengan penuh haru.
"Kasian banget kamu, Nak. Kamu ngampus sambil bawa anak begini." ucap Maya, dengan menyentuh lengan Icut.
Icut meluruskan pandangannya, ia mencoba tak menghiraukan perkataan ibu kandungnya barusan. Ia merasa tidak percaya, dirinya dilahirkan dari seseorang yang begitu serakah pada kekayaan.
Hamerra bergumam cukup kuat, ia terlihat amat kesal pada ibunya. Saat Icut sedikit mengintip Hamerra di balik hijabnya, ia menemukan Hamerra yang sudah terpejam. Namun, tangannya mencakar-cakar dada ibunya. Dengan hisapan kuat, hingga ASI Icut tumpah dari mulut anaknya.
"Pelan-pelan, Nak." Icut menutup kembali hijabnya, kemudian menepuk pelan paha anaknya.
__ADS_1
Ia ingin segera menyelesaikan masa pendidikannya, agar Hamerra bisa selalu meminta ASI padanya kapan saja. Tanpa harus terpisahkan, saat dirinya melaksanakan kegiatannya sebagai mahasiswi.
"Nay... Coba liat Mommy sebentar. Mommy mau jelaskan, Mommy mau cerita. Mommy juga pengen denger cerita dari kamu, pengen denger keluh kesah kamu." ungkap Maya, dengan sedikit menggoyangkan lengan anaknya.
Icut menghempaskan lengannya, "Huhhh, apa sih? Anak aku lagi tidur ini." sewotnya dengan melirik Maya sekilas.
"Kita ke situ itu yuk. Kita makan dulu. Kita cerita-cerita dulu." ajak Maya, dengan menunjuk salah satu coffe shop yang berada di seberang kampus tersebut.
Icut menghela nafasnya, lalu menoleh ke arah Maya.
"Mau ngomongin apa? Aku tak bisa keluyuran di luar kampus. Itu kedai om Edi, ada pegawainya yang siap ngaduin aku ke omah." ujar Icut kemudian.
"Ya udah kita naik taksi aja, kita ke mall sambil cari resto favorit kamu di sana." usul Maya, dengan berdiri dari duduknya.
"Aku tak mau! Aku capek, pengen istirahat." tukas Icut, dengan menyetop kendaraan umum yang lewat. Lalu ia terburu-buru naik ke dalam kendaraan tersebut, tak lupa dengan mencangklek tas miliknya kembali.
~
Esok harinya kejadian yang sama, terulang kembali. Icut merasa terusik dengan kehadiran ibunya, yang mengganggu aktivitasnya tersebut.
Hingga kini, kali ketiga Maya berusaha menemui Icut. Sampai kali ini, ia meminta bantuan ayah kandung Icut.
Icut mengambil alih anaknya, dalam gendongan Maya.
"Papah aku bakal marah betul ini, kalau sampek liat Anda gendong anak saya." ucapnya dengan membenarkan gendongan instan, yang menyangga tubuh gempal Hamerra dalam dekapannya.
"Ayah lagi... Kenapa ijinin dia gendong Memei?" Icut melempar pandangannya ke arah Josephine Ardwiatto.
__ADS_1
"Kayaknya kalian perlu bicara, Nay." ucap Yosep dengan tenang.
"Icut! Sebut aku dengan panggilan nama depan aku. Cut. Icut!" tegas Icut, dengan wajah yang tidak bersahabat.
Icut melupakan Hamerra yang sudah merengek meminta haknya. Icut segera menyusui anaknya, dengan menghadap tembok agar mesin ASI-nya tak terlihat oleh kedua orang tersebut.
Icut membenarkan hijabnya, untuk menutupi dadanya dan wajah anaknya. Hamerra tidak bisa terlelap, jika matanya tidak tertutup dengan kain.
"Bicarain apa? Aku udah besar, aku punya orang tua. Aku tak mau ikut salah satu di antara kalian, aku tetep milik orang tua aku yang udah besarin aku." ungkap Icut, dengan memperhatikan wajah orang tua kandungnya.
"Ayah gak nuntut itu, kamu kan tau dari awal." sahut Yoseph dengan membawa anaknya untuk duduk di sofa, yang terdapat di ruangannya.
"Terus apa? Aku tak mau bikin orang tua aku tersinggung. Apa lagi ini? Dia tak sopan betul waktu datang ke sana." balas Icut, dengan melirik tajam ibunya.
"Sesayang itu kamu sama Dinda, Nay? Maksud Mommy, Icut." ujar Maya, yang terhalang ayah kandung Icut.
"Aku anak mereka, mereka orang tua aku? Pantaskah Ibu ngomong kek gitu ke aku?" tutur Icut dengan menunjuk wajahnya sendiri.
"Kamu perlu ngobrol sama Mommy kamu, Nak. Jalin hubungan yang baik sama orang tua kandung kamu. Memang orang tua kamu di sana, tak ngajarin itu ke kamu?" tanya Yoseph, dengan merangkul pundak anaknya. Lalu menepuk-nepuk pelan pundak anaknya.
"Aku udah besar, aku tak perlu ajaran tentang bersikap baik pada orang tua. Udah cukup dari kecil, mereka ngajarin segalanya sama aku. Aku memang tak suka, panutan aku dibilang jelek sama Ibu. Kalau Ibu mau ngomong, tinggal ngomong aja. Tanpa jelek-jelekin, apa lagi ngomong tak enak tentang orang tua aku di sana. Aku tau kok, tanpa Ibu kasih tau kejelekan mereka. Tapi memang aku tak suka, dengar mereka ada yang jelek-jelekin. Seburuk-buruknya papah Adi, dia tetap pahlawan aku. Seburuk-buruknya mamah Dinda, dia tetap panutan terbaik buat aku." Icut menarik nafasnya lebih banyak.
"Mereka manusia biasa, salah, khilaf, pasti mereka pernah lakuin. Di luar sana juga, banyak yang tau kejelekan orang tua aku. Tapi menurut aku, mereka orang tua terbaik buat aku. Galaknya mereka, larangan mereka, itu demi kebaikan aku. Sejauh ini juga, mereka tak pernah ngerugiin aku. Jadi stop ngomongin tentang mereka, tentang kejelekan mereka. Aku tak mau tau apapun, tentang itu. Biarin orang-orang di luar sana nganggap mamah sama papah buruk, jelek sifat dan kelakuannya. Yang penting mereka tetap sayang sama anak-anaknya, tetap jadi yang terbaik buat anak-anaknya." lanjut Icut, dengan menundukkan kepalanya.
Maya tersindir hebat. Ia tak menyangka, anaknya begitu menganggap Adi dan Adinda yang terhebat dan terbaik. Ia berpikir, saat dirinya dikenal kembali oleh anaknya. Anaknya akan kembali padanya, kala mengetahui bahwa ibunya yang tersakiti atas kelakuan Adi dulu. Kemudian anaknya kembali padanya, dengan membawa beberapa bagian kecil dari Adi.
Namun, perkiraannya salah. Saat dirinya mulai membuka obrolan dari hati ke hati, dengan anak yang pernah ia kandung tersebut.
__ADS_1
......................