
"Abang ampun.... Aku kesakitan, Bang...." mohon Sukma, dengan memeluk tubuhnya sendiri.
Ia meringkuk di dekat sofa, saat gagang sapu berulang mendarat di badannya.
Isakannya semakin menjadi, menggema di seluruh ruangan. Membuat si kecil Kenandra terbangun, kemudian mencari sumber suara permohonan dari ibunya tersebut.
"Abi sholeh..." panggil Kenandra lirih. Anak itu begitu syok, melihat wajah merah padam dari ayahnya.
Mata Kenandra berkaca-kaca, bibirnya ia hisap ke dalam, dengan dada yang kembang kempis karena tangisannya yang tertahan.
"Umi......" Kenandra langsung berlari ke arah ibunya, lalu memeluk tubuh ibunya yang meringkuk tersebut.
Tangis anak balita itu pecah, ia terlihat amat takut kehilangan ibunya. Rintihan Sukma terdengar samar, ia begitu tersiksa mendapat perlakuan buruk dari suaminya.
"Aku minta cerai." ungkap Sukma lirih, dengan ia membawa anaknya dalam dekapannya.
"Cerai? Saat tuntutan kau tak mampu aku penuhi, kau minta cerai? Di mana rasa pengertian kau, SUKMA? Abang udah usahain segalanya, sekarang kau minta cerai?" Kenandra gemetaran dalam pelukan ibunya, saat ayahnya tengah membentak ibunya begitu lantang.
"Abang... Aku bukan nuntut. Kita punya keturunan, kau bakal punya tanggung jawab buat anak Shalwa. Aku cuma nyaranin kau buat cari usaha sampingan lain, biar bisa nyukupin kebutuhan keluarga kita. Salah kah aku begitu?" ujar Sukma, wanita itu sudah tak tahan lagi memendam bualan yang ada di hatinya.
"Gaji kau 15 juta, cicil rumah sepuluh juta, 5 juta kau kasih ke aku buat bayar segala-galanya. Lampu rumah kita sering padam, Abang tak malu kah yang jadi kepala keluarga, tak bisa beli token listrik? Tak bisa ganti bohlam lampu yang udah rusak? Gas sering kehabisan, sedangkan uang memang tak ada lagi. Kau tak malu, aku cari ranting pohon di kompleks, buat matengin masakan yang kau makan?" lanjut Sukma, membuat pandangan Haris semakin nyalang.
Tangannya terangkat kembali, Kenandra yang menyadari langsung memejamkan matanya begitu rapat. Pelukan kecilnya pun begitu erat mendekap tubuh ibunya. Kenandra kecil, mencoba melindungi seseorang yang ia sayangi.
Haris menurunkan tangannya kembali, ia menyadari buah hatinya berada di antara mereka.
"Udah capek hidup sama Abang rupanya kau, Sukma?" tanya Haris datar.
"Bukan capek. Aku doakan keberhasilan kau, buat gapai cita-cita kau. Aku selalu ada buat kau, Bang. Bahkan aku pernah kenyangin perut aku sama air putih aja, saat hidup sama kau ini. Orang tua aku tak pernah buat aku kembung karena air aja, Bang. Tapi aku tak ada pilihan lain. Aku tak bisa tidur kelaparan, aku lebih sanggup kembung karena air, biar aku bisa nahan lapar aku." jawab Sukma begitu menikam hati Haris.
"Jadi kau minta cerai?" tegas Haris, dengan duduk di lantai sejajar bersama istri dan anaknya.
Sukma terdiam sejenak, ia seperti ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Ya...." tukas Sukma kemudian.
"Pulang sana ke orang tua kau! Tapi jangan bawa anak Abang." mata Sukma mencilak tak percaya, talak turun dari mulut suaminya secara tidak langsung.
__ADS_1
Sukma mengusap kepala anaknya, air matanya deras mengalir dengan suara tangis yang terbekap.
Haris membuang nafasnya gusar, kemudian ia langsung meninggalkan Sukma dan anaknya. Suara motor meninggalkan pekarangan rumah mereka, tanda Haris memilih untuk ke luar rumah. Agar amarahnya teredam.
Hingga pagi menjelang, adzan subuh telah berkumandang. Haris tengah kembali lagi ke arah rumahnya.
Ia mengerutkan keningnya, saat melihat pintu rumahnya terbuka dengan menampilkan anak semata wayangnya yang berdiri dengan tangis tersedu-sedu.
Haris cepat-cepat menurunkan standar motornya, kemudian langsung menggendong anaknya.
"Masih malam, Nak. Kenapa di luar? Umi mana?" ucap Haris dengan mengayun tubuh anaknya, yang terlihat masih mengantuk.
Kenandra sesenggukan, balita tersebut begitu hancur saat tak mendapati ibunya di seluruh penjuru rumah mereka.
"Kenapa, Nak? Mimpi buruk kah?" ulang Haris, mencoba menggali informasi dari anaknya.
Haris mengusap-mengusap dada anaknya, agar tangis anaknya bisa mereda.
"Umi ilang...."
Pandangan Haris kosong, persekian detik otaknya tidak bisa berfungsi.
"Aku minta susu, cari umi. Umi tak ada, umi ilang." jelas anak tersebut, yang masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Lutut Haris lemas, ia terduduk dan mengeratkan pelukannya pada anaknya. Ia menyesali perkataannya beberapa jam yang lalu. Ia baru sadar sekarang, ternyata pemutus rumah tangganya telah ia ucapkan. Sukma sudah bukan istrinya lagi.
Namun, secercah harapan Haris membuat lutut Haris mampu menopang tubuhnya kembali. Saat terdengar suara pintu yang tertutup dari salah satu ruangan.
"Ken..." samar suara seseorang memanggil balita di rumah tersebut.
Air mata Haris tak tertahan, saat melihat adiknya tengah menatapnya bingung.
"Ken dari mana? Katanya bikin susu? Tante udah bikinin." ungkap wanita muda berperut besar tersebut.
Balita itu meminta turun dari gendongan Haris, lalu ia berjalan beberapa langkah untuk mengambil susu miliknya.
Kenandra meraih gelas plastik yang memiliki tertutup berlubang, ia langsung meneguk susu formulanya.
__ADS_1
"Kak Sukma mana, Dek?" Haris berharap, adiknya mengatakan hal baik untuk perasaannya.
"Kak Sukma... Pamit pergi. Dia nitip Ken, sama minjem uang sama aku." Shalwa begitu ragu-ragu, saat mengatakan hal itu.
"Jam berapa pamitnya? Pergi ke mana? Minjem berapa banyak?" tanya Haris beruntun, dengan merogoh ponselnya. Ia ingin mencoba menghubungi istrinya dulu, agar ia bisa menyusul Sukma yang tak memiliki ongkos tersebut.
"Abang pergi, tak lama Ken tidur. Terus kak Sukma pamit, tak tau jam berapa, aku tak tengok jam. Dia tak bilang pergi ke mana. Aku cuma ada 100 ribu, jadi aku pinjamkan semua." Haris geleng-geleng kepala, seratus ribu tak mungkin bisa mengantar istrinya ke rumah orang tuanya.
Haris kacau, ia khawatir istrinya mendapat sesuatu yang buruk di jalan.
"Abang nitip Ken sebentar." ujar Haris sebelum berlalu pergi.
Haris memandang nanar spidometer motornya, saat melihat bahwa bahan bakar motornya telah sampai di warna merah. Ia kembali masuk, untuk melihat keadaan mobil yang orang tuanya berikan di dalam garasi rumahnya. Hal yang sama terjadi pada mobilnya, ia tak berdaya karena ekonomi sekarang.
Ponsel yang masih ia genggam, memberi getaran yang cukup mengagetkan. Cepat-cepat Haris menerima panggilan telepon tersebut, yang ternyata ia baru menyadari bahwa itu bukanlah orang yang ia harapkan.
"Izin komandan, mau bawa Ken car free day. Jam enam nanti aku meluncur." ucap seorang wanita yang menelponnya subuh ini.
"Din..." panggil Haris, dari suaranya ia menyalurkan perasaan frustasinya.
"Ya, Bang. Apa?" sahut Adinda santai.
"Sukma pergi. Aku minjem uang, buat susulin dia. Nitip Ken sama Shalwa. Kau tinggallah di sini beberapa hari, bawa bahan makanan yang ada di tempat kau. Abang lagi bener-bener kosong, bahkan gas pun tak ada." ungkap Haris, memberi efek serius pada ekspresi wajah Adinda di seberang telepon.
"Ok, ok. Aku lagi bikin sarapan, nanti aku banyakin, buat makan kalian di sana. Tunggu Givan bangun, terus aku langsung ke rumah Abang." tanpa berpikir panjang, wanita yang pernah ia tolong tersebut mengulurkan tangannya untuk berbalik membantu dirinya.
Haris hanya mengangguk, mesti Adinda tak melihatnya. Sambungan telepon pun terputus, Haris hanya menatap layar ponselnya dengan foto istrinya yang tersenyum dengan menggendong buah hati mereka.
"Kau pergi ke mana, Sukma? Kau cuma punya 100 ribu." tanya Haris seorang diri.
Helaan nafas beratnya berbarengan dengan ia terduduk di lantai garasi, punggungnya menyandar pada mobil sejuta umat tersebut. Tangannya menggeser layar ponselnya, mencari nama istrinya dalam aplikasi chatting.
Namun, berpuluh kali Haris mencoba menyambung teleponnya pada Sukma. Tetapi tetap saja, panggilannya tak tersambung satu pun.
Haris menyesal, menyesali pertengkaran mereka. Pertengkaran yang akhirnya membawa istrinya pergi meninggalkan rumah mereka.
......................
__ADS_1