
Ghifar terlihat begitu kesal, karena harus kembali duduk manis di belakang pengendara motor yang tengah ia tumpangi tersebut.
"Kak… aku aja yang bawa." ucap Ghifar kesekian kalinya.
"Kamu tau jalannya gak? Nanti malah kagok lagi." sahut Anasya berseru, karena angin yang cukup kencang.
"Ini kan mau arah ke stasiun lagi kan?" tanya Ghifar yang langsung diangguki oleh Anasya.
"Mau ngapain sih, Kak? Segala aku jadi alasan minta jalan-jalan lah. Baru datang udah di kambing hitamkan." ujar Ghifar yang tanpa sadar membuat Anasya tersenyum lebar.
"Ini malam minggu. Kalau keluar sama kamu kan, Kakak boleh pulang malam. Coba kalau keluar sendiri, nanti diminta jam sembilan balik lagi." jelas Anasya yang membuat Ghifar menggeleng kesal.
"Terus kalau malam minggu, memang Akak mau ngapain? Mau cari kamar? Terus aku mau di kemanakan?" ucap Ghifar kesal.
"Gak lah. Kita nongkrong sama temen kuliah Kakak. Biasa, pinggir jalan aja. Angkringan begitu tuh, kamu tau kan angkringan? Di A*eh ada kan angkringan?" sahut Anasya, dengan menunjukkan penjualan angkringan yang baru saja ia lewati dengan dagunya.
"Jangankan angkringan, nasi Jamblang pun ada. Cuma memang, agak langka perempuan yang keluar rumah tak pakek kerudung macam ini. Mana bukan satu dua perempuan lagi, di sini yang seliweran seksi-seksi. Kan aku jadi enak cuci matanya." aku Ghifar yang membuat mereka berdua tertawa bersama di atas motor, yang tengah melaju sedang tersebut.
"Paha sama dada ayam potong aja yang masih bisa terjangkau mata dan duit. Paha sama dada perempuan di sana, udah mahal harganya." lanjut Ghifar kemudian.
Terdengar kekehan pelan dari Anasya, "Jadi berapa lama kamu di sini?" tanyanya dengan menepikan motornya. Karena ia merasa ada yang aneh, dengan belakang kendaraannya.
"Boncos kah, Kak?" ujar Ghifar, dengan turun dari motor tersebut.
"He'em, kempes. Padahal ini ban tubles." tuturnya dengan memeriksa roda belakang motornya.
"Keknya aku di sini bakal lama, Kak." sahut Ghifar baru menjawab pertanyaan kakak sepupunya tersebut, dengan ikut berjongkok di dekat roda belakang motor matic tersebut.
"Mau kuliah di sini?" ucap Anasya dengan memperhatikan wajah Ghifar.
__ADS_1
Ghifar bangkit dari posisinya, lalu ia menajamkan penglihatannya untuk melihat pengisian bahan bakar terdekat.
"Tak Kak, kerja keknya." sahut Ghifar kemudian.
"Tuh di depan ada pom, biasanya ada tukang tambal ban tubles Kak." lanjut Ghifar, dengan menunjukkan lokasi yang dimaksud.
Anasya mengangguk, "Yuk. Nih, kamu dorong motornya." balas Anasya, dengan melepaskan helmnya. Lalu ia berjalan mendahului Ghifar, yang masih terdiam di dekat motor matic tersebut.
"Dasar betina random!! Tadi bilang dia aja yang bawa motor. Giliran boncos, malah aku yang suruh dorong." gerutu Ghifar, dengan kakinya mengangkat standar samping motor tersebut. Kemudian langsung mulai mendorongnya perlahan.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tempat tongkrongan yang telah Anasya janjikan dengan teman-temannya. Ghifar langsung dikenalkan pada teman-teman Anasya, kemudian duduk lesehan di tempat yang telah disediakan kedai angkringan tersebut.
Ghifar yang belum akrab dengan teman-teman Anasya, merasa bosan dengan obrolan para wanita yang membicarakan laki-laki tersebut.
Ghifar berdiri dari duduknya, lalu ia hendak berjalan menuju tempat yang lebih longgar. Namun, langsung dicegah oleh suara kakak sepupunya tersebut.
Mata Ghifar terbuka lebar, jantungnya hampir pindah ke lutut karena melihat pemandangan yang kembali mengejutkannya. Dengan cepat Ghifar duduk kembali ke dekat kakak sepupunya, kemudian beberapa kali ia mencolek lengan kakak sepupunya tersebut.
"Stttt, Akak ngerokok?" tanya Ghifar dengan berbisik.
Anasya sedikit menarik kepala, karena terlalu dekat dengan wajah Ghifar.
"Iya, memang kenapa? Mau dibilangin ke pakde kamu?" jawab Anasya dengan memasang wajah galaknya.
"Ohhhh… ya mintalah aku. Rokok aku habis dari tadi, Akak tak peka betul." sahut Ghifar, yang langsung membuat Anasya cekikikan dengan menoyor kepala adik sepupunya itu.
Ghifar pun tertawa renyah, dengan mengulurkan tangannya untuk mengambil bungkus rokok yang disodorkan oleh Anasya.
"Udah punya suami sih, Akak bakal tobat besar-besaran juga macam mak aku." ucap Ghifar, setelah berhasil menghisap rokok yang telah menyala itu.
__ADS_1
"He'em, katanya tante dulu begitu ya?" tanya Anasya yang langsung diangguki Ghifar.
"Tapi anak perempuannya ada gak yang nurunin sifat jelek tante?" lanjut Anasya ingin tahu, dengan masih memusatkan perhatiannya pada Ghifar yang tengah menikmati rokok tersebut.
"Tak ada. Giska nakalnya ke game, sama novel. Maen chip dia sampek sekarang, tinggal nunggu ketahuannya aja nanti lepas masa lebaran." ungkap Ghifar bercerita.
"Chip itu apa? Kenapa nunggunya sampek masa lebaran?" sahut Anasya yang tak mengerti maksud Ghifar.
"Domino itu nah, Kak. Karena setiap puasa terakhir, mak buka celengan anak-anaknya. Kan kita dikasih jatah buat ngisi celengan tuh, Kak. Buat sangu lebaran, biar tak minta uang lagi ke mak. Pas dibuka, dihitung, jumlahnya tak sesuai, nanti bisa habis kita disidang mak." jelas Ghifar yang mendapat anggukan Anasya beberapa kali.
"Rekening om aja, katanya mutasinya dicetak rutin ya? Ternyata ke anak-anaknya juga begitu si tante." timpal Anasya, dengan pandangan yang beralih pada kendaraan yang berlalu lalang.
"He'em… pengennya tuh uang jelas larinya ke mana aja. Ke anak-anak juga begitu, soalnya takutnya kek bang Givan. Bilang buat bayaran sekolah, biaya ini itu, tapi ternyata uangnya larinya tak jelas. Sampek sekarang bang Givan nyukupin dirinya sendiri, mak masih belum bisa mecahin larinya uang yang diminta bang Givan selama ini." ujar Ghifar dengan mulai menikmati nasi yang terdapat isian di tengahnya, biasa disebut juga dengan nasi kucing.
"Si Givan kuat minum, kamu tau gak? Mungkin uang itu, larinya buat minuman." tutur Anasya yang membuat Ghifar melebarkan matanya kembali.
Lalu Ghifar menggeleng cepat, "Pernah waktu berkunjung ke kota M*dan, kan kita sekeluarga sempet mampir ke hiburan malam. Kita semua nyicipin tuh yang namanya minuman keras, tapi jelas dengan izin mak sama bapak aku Kak. Karena mereka pun ada nyicipin. Terus tuh tengok bang Givan, macam merem-merem gitu nenggaknya. Aku tak tau, kalau malah sekarang bang Givan jadi kuat minum." tukas Ghifar, yang menjadi obrolan mereka semakin menarik.
"Kalian ke sana bawa yang kecil juga? Si Gavin sama Gibran?" Anasya terlihat begitu penasaran, dengan keluarga tantenya yang selalu menjadi pembicaraan keluarga tersebut.
"Tak, Kak. Malah mak waktu itu belum punya Gibran. Di situlah semua anak, tak yang betina, tak yang jantan, dibolehin minum pertama kalinya. Katanya biar tak penasaran. Giska langsung minta ganti milkshake, Icut langsung tidur ngeces, lepas habisin beberapa gelas. Aku sama bang Givan sekedarnya aja, karena takut nyusahin pas balik ke mobilnya. Ghava sama Ghavi duel, ternyata Ghavi lebih kuat minum. Mak sama bapak aku… Tau tak Kak, yang menang siapa?" Ghifar begitu asyik bercerita. Membuat senyum keduanya terlihat mengembang, karena obrolan menarik tersebut.
"Mak kamu pastinya. Ayah aku pernah cerita, tante waktu muda ketahuan pulang-pulang itu dalam pengaruh alkohol. Besoknya tante ditantang sama pakde Afan, niat hati sih biar tante jera. Eh, gak taunya pakde yang malah tepar duluan. Si tante baik-baik aja, masih ngabisin beberapa gelas lagi. Si pakde yang udah muntah beberapa kali, sembari mulutnya ngoceh gak karuan." balas Anasya yang membuat mereka berakhir tertawa geli.
"Kakak penasaran tau, Far. Tapi gak berani coba, takut mabok terus malah ditiduri temen laki-laki." lanjut Anasya, membuat kegiatan Ghifar terhenti.
......................
Jadi kegiatan malam mingguan selanjutnya ini apa? Ada yang bisa nebak 🙄
__ADS_1