Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS221. Adi menggerutu


__ADS_3

"Tak, Bang. Gurau aja." tukas Ghifar saat melihat kakaknya memperhatikannya di depan pintu kamarnya.


Givan berbalik, kemudian masuk kembali ke dalam kamar. Ia takut anaknya merekam pembahasan mesum para orang-orang tersebut.


"Mas... Kapan kita periksa kandungan?" Canda memeluk tubuh suaminya, yang sudah berbaring kembali di sebelahnya.


Pandangan mata Givan kosong. Ia tak mau mengecewakan istrinya, ia pun ingin melihat sendiri buah cintanya.


Namun, kembali lagi pada isi dompetnya. Ia ikut bekerja bersama Zuhdi, tetapi hasilnya hanya mampu untuk membeli susu formula mahal milik Mikheyla. Pernah terbesit, untuk mengganti susu formula anaknya. Tetapi ia khawatir, Mikheyla tak cocok dengan susu formula yang harganya lebih terjangkau.


Anak itu sering meminta susu, padahal tidak ingin tidur. Susu formulanya, jika membeli kemasan ekonomis. Hanya mampu bertahan hingga dua hari saja. Untuk kemasan paling kecil, sudah mencapai harga delapan puluh lima ribu. Givan pun pernah membelikan dengan ukuran yang besar, harganya mencapai dua ratus ribuan. Itu pun hanya bertahan satu minggu saja. Givan cukup kewalahan, hanya untuk susu formula anaknya saja.


"Nanti ya, Dek. Sabtu ini Mas usahain. Susu Key masih ada kan?" ini adalah hari selasa, sabtu nanti sudah waktunya Givan akan gajian kembali.


Canda mengangguk, "Masih." jawabnya ringkas.


Tubuh Canda pun bertambah kurus. Ia terlalu banyak tidur, jam makannya tidak teratur. Sarapan selalu tepat waktu, tetapi jika siang ia tertidur pulas. Ia baru akan makan siang, jika terbangun dari tidurnya. Itu pun sudah di jam tanggung, sekitar jam empat sore. Hingga malam, ia merasa masih kenyang dan melupakan makan malamnya karena tertidur kembali.


Untungnya, rumah itu tak pernah sepi. Selalu ada saja yang menemani Mikheyla bermain, saat ibu sambungnya tengah tertidur.


"Berarti udah berapa bulan tak haid, Dek?" tangan Givan bertengger di perut bawah istrinya.


"Tak tau. Aku lupa kapan haid terakhir." pantas saja Canda selalu minta untuk di-USG, ternyata ia lupa kapan ia terlambat datang bulan.


"Ya udah, nanti kita langsung USG aja." Canda menyetujui rencana suaminya.


Pagi itu, mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Selepas subuh, Ghifar langsung bergegas pergi mengendarai mobil hasil kerja kerasnya. Tika dan Yoka minta untuk dijemput dari kediaman keluarga Fira. Karena, Fira mengatakan bahwa akhir pekan nanti akan bertolak menuju provinsi Bali kembali. Fira ingin melanjutkan usahanya di sana.


"Nek... Entut." Mikheyla berlari ke arah Adinda yang hampir lepas landas dari halaman rumahnya. Ia ingin mengantar kedua anaknya bersekolah, dengan mengenakan motor barunya tersebut.


"Entut bau, Key." ujar pamannya yang paling muda.

__ADS_1


"Nek... Entut." Mikheyla memohon, dengan memegangi stang motor tersebut.


"Sebentar, Key. Nenek mau antar Bang Gavin sama Bang Gibran sekolah dulu, nanti Nenek langsung balik lagi ke sini." Adinda tak terbiasa, membawa muatan berlebih apa lagi penumpangnya yang masih kecil-kecil tersebut.


"No, no. Entut." anak itu memaksa, ia hampir menangis.


"BANG...."


"BANG ADI...." Adinda meneriaki suaminya, yang masih mengurus burung kicau peliharaannya.


"BANG ADI RIYANA. TEUNGKU HAJI....." suara menggelegar tersebut, akhirnya sampai di telinga Adi.


Adi tersenyum samar. Sebutan yang paling ia tidak suka, diselipkan istrinya untuk memanggilnya.


"Untung istri." gumamnya sembari melangkah ke sumber suara.


"Apa Adindaku sayang? Katanya mau antar sekolah dulu?" memang pejuang sunat tersebut, sembuh dalam waktu satu minggu. Sudah dua hari, mereka bersekolah kembali.


"Ini Empluk nih." Adinda menunjuk makhluk kecil yang masih memohon untuk ikut dengannya tersebut.


"Entut E nek." anak itu memberontak dalam gendongan Adi.


"Nanti ikut Kakek ke ladang. Key nyortir, Kakek yang cek pengairan tetesnya." Adi mencoba membujuk anak kecil tersebut.


Adi merasa kasihan pada istrinya, ia menghandle empat anak sekaligus. Karena, Icut kini sudah disibukkan dengan paket-paket besar yang datang.


Gerakan kecil Icut lakukan, karena orang tuanya kini seolah tidak mendengar keinginannya untuk membeli ini dan itu. Bukan karena Adi dan Adinda pelit, tetapi mereka ingin Icut mempunyai perubahan dalam hidupnya.


Icut belum berani untuk membuka usahanya di toko. Icut masih memasarkannya lewat online, ia pun bekerja sama juga dengan Aira. Yang sudah lebih dulu, terjun dalam pasar online.


Adi menunjuk ke arah Icut yang tengah sibuk dengan pakaian di ruangan khusus mencuci. Setelah menyortir isi paket pakaian tersebut, Icut lanjut mencuci dan menyetrika. Kemudian ia mengambil foto pakaian yang sudah siap di pasarkan, untuk ia upload di sosial medianya.

__ADS_1


Hamerra terlihat anteng duduk di sebuah kardus, yang di dalamnya terdapat mainan kesukaannya. Hamerra bisa diajak bekerja sama, karena anak itu belum bisa berjalan dan berlari seperti Mikheyla.


"Sama Memei kah?" Mikheyla menggeleng, menolak untuk bermain dengan gadis kecil yang selalu menangis jika ia dekati tersebut.


"E nek... Entut." Mikheyla masih mengalunkan rengekan manjanya.


"Mana pulak ini ma dia? Bentar lagi mau ke ladang." Adi menggerutu hebat, dengan membawa Mikheyla ke halaman belakang.


Ia sudah lelah, jika harus mengurus dan menjaga anak kecil. Karena ini bukan usianya lagi, Adi sudah tak menyanggupi hal itu. Untungnya, istrinya tidak hamil kembali. Padahal sudah tidak menggunakan alat kontrasepsi.


"Kenapa tadi tak mau ikut papah? Segala ayah kau ngelarang lagi, padahal sendirinya kerja. Ma kau itu, pasti udah tidur lagi. Bikin karya di bantal terus kerjaan ma kau." Adi kembali menggerutu, sembari menurunkan Mikheyla di halaman belakang.


Ia kembali fokus membersihkan kandang burung. Sesekali ia menoleh ke arah Mikheyla, yang tengah bermain mobil-mobilan milik pamannya itu.


Adi menunda untuk pergi ke ladang, karena istrinya belum kembali dari mengantar anak-anaknya bersekolah. Wajah kesal Adi begitu kentara. Ia hanya ingin bermain seperlunya dengan cucu, karena ia pun memiliki kesibukan lain di luar rumah. Pahamilah, ini sudah bukan waktunya lagi untuk mengurus anak. Ia terlalu lelah untuk itu.


Adi termenung, memperhatikan anak yang mirip dengan istrinya. Hanya berbeda di bagian mata saja.


Dulu, saat anak-anaknya masih kecil-kecil semua. Adinda tak terlampau manja, meski tengah berbadan dua. Mabuk hamil seorang Adinda, yang paling parah ketika mengandung Ghifar. Namun, Adinda masih bisa mencuci dan berbenah. Itu menurut pengamatan Adi, selaku suami dan ayah dari anak-anak Adinda.


Tak seperti Canda, menantunya hanya mengandalkan tidur setiap waktunya. Bukannya Adi tidak pengertian, pada seorang wanita hamil. Hanya saja, Canda memiliki tanggung jawab lain.


Tugas-tugasnya sebagai seorang istri, terbengkalai begitu saja. Givan lebih sering makan masakan yang sudah terhidang, entah itu buatan ibunya atau Kinasya. Karena gadis itu setiap hari keluar masuk ke rumah Adi, uang gajinya tak mampu untuk memenuhi perutnya yang sudah terbiasa dengan porsi besar untuk pembentukan otot.


Pakaian kotor, menumpuk beberapa keranjang. Pakaian yang sudah selesai dijemur pun, tak segera masuk ke dalam lemari.


Kemarin sebelum Canda memiliki hobi tidur. Adi sering kesal, karena menantunya tak pernah lepas dari ponsel. Bukannya ia takut Canda berselingkuh dengan seseorang, tetapi Canda terlihat malas-malasan untuk melakukan suatu hal. Canda lebih khawatir tertinggal episode baru dalam serial drama Korea, yang selalu ia nikmati.


Nyatanya menantunya, tidak seperti cerminan istrinya. Adinda malas pun, karena Adi memahami bahwa istrinya lelah. Malasnya Adinda pun, ia memiliki iman, ia tak bisa membiarkan tisu kotor tergeletak, ataupun pakaian terlampau menumpuk di ruang cucian.


Hal itu mengingatkan Adi, saat Adinda pulang dari syuting video klip bersama salah satu artis daerah. Masa itu Adinda tengah mengandung anak kembar mereka, keadaan rumah tangganya pun sedang kacau balau. Kala itu, Adi sampai terkejut luar biasa. Saat mendapati istrinya yang lama tidak pulang ke rumah, tiba-tiba ada di rumahnya dan sedang membereskan pakaian yang terlampau menumpuk di ruang pakaian.

__ADS_1


Adi geleng-geleng kepala, "Ck....


......................


__ADS_2