Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS248. Hajat besar


__ADS_3

Ghifar menempati janjinya pada Mikheyla. Setelah dirinya mengenyangkan perutnya, ia segera menuju ke kamarnya dengan rokok yang terselip di jarinya.


Mikheyla menginginkan tidur dengan Kinasya. Hanya saja, ia pun tetap ingin papahnya ikut dengannya.


Awalnya Ghifar hanya berdalih ingin makan. Namun, gadis kecil itu malah menunggunya untuk segera makan.


Hingga drama itu berakhir dengan janji yang Ghifar berikan. Anak kecil itu mau lebih dulu berada di kamar dengan Kinasya, dengan dirinya nanti akan segera menyusul.


Ghifar cekikikan sendiri, begitu dirinya sampai di dalam kamarnya.


Terlihat Kinasya tidur lebih dulu. Sedangkan Mikheyla masih bermain ponsel dan menikmati dot susunya.


"Ma ngelonin kau, Key. Bukan kau ngelonin Ma." Ghifar menegur anak yang masih anteng dengan tontonanya itu.


"Papa biii." anak itu ternyata masih menunggunya.


"Bentar, Papah matikan rokok dulu." Ghifar menuju ke meja sudut, yang terdapat asbak di atasnya.


"Gerah betul sih." kemudian Ghifar melepaskan kemeja seragamnya, lalu menurunkan kembali suhu kamarnya.


Hanya satu, ia melupakan sesuatu tertutup rapat saat masuk ke kamar tadi.


Setelah menaruh kemejanya di atas sofa kamarnya, Ghifar segera merambat di atas tempat tidurnya.


Ia mengambil posisi di tengah, antara Mikheyla dan Kinasya. Sedangkan Mikheyla malah memunggunginya, dengan fokus pada ponsel yang bersandar pada bantal.


"Papah usap-usap ya punggungnya?" Mikheyla mengangguk samar.


Kemudian tangan Ghifar mulai mengusap punggung kecil tersebut.


Tiba-tiba, Ghifar tersenyum lebar dengan gerakan kepalanya samar. Ada sesuatu yang merambat di depan perutnya.


Tangan mulus yang mengenakan cincin yang pernah ia berikan.


"Jangan rese!" Ghifar sedikit menoleh ke belakang, untuk memberi ancaman pada kekasihnya.


"Enak lagi tidur, main ambil tengah aja." suara lirih Kinasya.


"Key mesti dipeluk kalau tidur." Ghifar membela dirinya sendiri.


"Piaraan dicukur belum ya?" tangan Kinasya begitu lihai melepas kepala ikat pinggang Ghifar.


Ghifar segera menahan tangan Kinasya. Ia ingin gaya pacaran sehat, karena dirinya sadar tidak bisa menahan syahwatnya pada kekasihnya. Karena, hanya Kinasya lah yang mampu membuat Black Mambanya terbangun.


"Key belum lelap." Ghifar mencekal tangan itu lebih kuat.


Mikheyla hanya alasannya saja. Anak itu tidur dalam sekejap, begitu merasa dirinya dilindungi oleh seseorang yang ia panggil papah tersebut.


"Mau tengok aja."

__ADS_1


Kini Kinasya bangkit dari posisinya. Ia langsung memaksa tubuh Ghifar, untuk meluruskan pinggangnya.


"Maksa betul!" gerutunya lirih, membiarkan Kinasya melepaskan pengait celananya dan menurunkan resletingnya.


Di halaman depan.


Adi diminta istrinya untuk makan terlebih dahulu. Mereka tidak bisa makan bersama, karena tamu-tamunya membludak di hari yang terik ini.


"Ada Ghifar Pah di dalam. Tadi aku minta dia tidurin Key. Kata ma cek Dewi sih, Key dibawa bu dokter ke lantai atas, terus Ghifar makan di dapur." ternyata salah seorang dari keluarga almarhum pak Ali, melaporkan sesuatu pada anak sulung keluarga tuan hajat tersebut.


Mendengar nama Kinasya dan Ghifar, Adi kembali menaruh curiga. Dalam batinnya penuh dengan prasangka dan tuduhan.


Adi mengangguk, meninggalkan halaman rumahnya yang penuh hiruk pikuk tamu-tamu undangan dan musik yang tengah dimainkan.


"Liat Ghifar tak, Mi?" Adi menanyakan keberadaan putranya pada ibunya.


"Bawa Key masuk." memang hanya itu yang diketahui oleh ibu Meutia.


Adi melangkah menuju ke dapur. Ia ingin meneguk air dingin, agar kerongkongannya terpuaskan dengan rasa sejuknya.


Matanya memandang satu persatu orang yang tengah sibuk di dapur. Kini, hanya ada Ghava yang tengah dihidangkan makanan oleh Winda. Tidak ada putra pertama darinya di ruangan itu.


Feeling-nya menghubungkan peristiwa dan peristiwa yang terlewat. Ia pun teringat akan penolakan Ghifar untuk melakukan pemeriksaan kembali. Kini, batin Adi penuh dengan apakah.


"Makan, Pah." Ghava melihat ayahnya yang tengah berpikir keras tersebut.


"Siapin, Dek!" Ghava meminta istrinya, untuk melayani ayahnya juga.


"Nanti aja." untungnya jawaban Adi begitu tepat waktu. Sehingga piring yang baru saja Winda ambil, tak terkena lengketnya nasi yang urung dimakan.


Adi langsung berbalik badan. Dirinya melangkah menaiki anak tangga. Karena kamar Ghifar yang menjadi tujuannya.


Adi ingat, akan kamar-kamar tamu yang terisi penuh dengan kehadiran ibunya dan keluarga adiknya. Ghifar dan Kinasya tak mungkin menidurkan Mikheyla di kamar tamu.


Ia sedikit plong, melihat pintu kamar Ghifar yang tidak tertutup rapat. Kemungkinan prasangka dalam pikirannya hilang sudah, dirinya bisa bernafas lega.


Sayangnya, perkiraannya tak sesuai dengan kenyataan yang ia harapkan.


Kenangan tentang dirinya yang tengah dic*mbu oleh Adinda, saat pesta pernikahan Edi terulang hari ini.


Terlihat mulut Kinasya tepat berada di dada anaknya. Sedangkan Ghifar memejamkan matanya, dengan tersenyum senang.


Tangan Kinasya pun begitu lihai, memainkan pusaka warisan darinya. Mereka jelas lebih dari yang Adi dan Adinda lakukan dulu.


Tangan Ghifar pun persis seperti tangannya dulu, yang mengusap kepala Adinda yang tengah memainkan pucuk dadanya.


Mata Adi terpejam, ia mengatur nafasnya dan mencoba menerima segalanya.


Ini adalah pelajaran berharga untuknya.

__ADS_1


Apa yang ia tanam, kini ia tuai di masa tua.


Yang ia lakukan dulu, kini berbalik pada anaknya.


Adi membuka kelopak matanya kembali. Pemandangan mesum tersebut, terlihat jelas di samping anak kecil yang tertidur.


Persis saat itu, Givan kecil tertidur di sampingnya. Sedangkan dirinya menikmati c*mbuan gila dari Adinda.


Adi tak ingin menciptakan kegaduhan dan mempermalukan nama baik keluarganya sendiri.


Ia mundur perlahan, tangannya terulur untuk menutup pintu tersebut. Bukannya ia membiarkan anaknya melanjutkan hal mesum tersebut. Hanya saja, ia tak ingin membuat malu anaknya sendiri, di hari hajatnya di mana keluarga besar tengah berkumpul.


Kleb....


Mereka berdua menoleh ke arah pintu. Terlihat kunci yang menggantung di bawah gagang pintu tersebut bergoyang. Menandakan ada seseorang yang telah menutup pintu tersebut.


"Aduh." Ghifar menepuk jidatnya sendiri.


Ia segera bangkit dari bawah tubuh Kinasya.


Ia baru menyadari hal itu. Saat ia masuk tadi, bahkan pintu kamarnya tidak tertutup sempurna.


Ghifar bergegas ke arah pintu, agar ia bisa mengetahui siapa yang telah menutup pintu kamarnya. Ia pun akan bernegosiasi dengan orang yang menutup pintu kamarnya tersebut, agar tak melaporkannya pada orang tuanya.


Naas.


Tubuhnya menegang, saat melihat punggung ayahnya yang berjalan menjauh dari pintu kamarnya.


"Pah...." Ghifar merasakan ujung jarinya begitu dingin. Ia tertangkap basah oleh ayahnya sendiri.


Adi menoleh, saat merasa namanya disebut.


Wajah murung dengan tatapan sedihnya tak bisa disembunyikan. Ekspresi itulah yang Ghifar lihat dari wajah ayahnya.


Adi hanya menoleh sekilas, lalu dirinya memandang lurus ke depan kembali. Ia melanjutkan langkah kakinya, untuk menuruni anak tangga dengan berhati-hati.


Rasa laparnya hilang seketika. Saat mendapat pukulan kuat dari kenyataan. Anaknya adalah cerminan dirinya dan istrinya dulu.


Harapannya dan istrinya saja yang terlalu berlebihan. Nyatanya keturunan mereka, tidak ada yang sesuai harapan mereka.


Adi mencoba menarik sudut bibirnya. Ia memutuskan untuk berbaur kembali pada keramaian, untuk melupakan rasa kecewanya sendiri.


Ghifar terlihat amat cemas. Ia pun memberitahu kekasihnya, perihal siapa yang menutup pintu kamarnya.


"Duh... Gimana nih?" Kinasya memainkan jemarinya sendiri. Ia ikut takutnya saja.


Bayangan akan dirinya yang dimarahi dengan lemparan barang, sudah terlihat jelas di pelupuk matanya. Makian ibu angkatnya, dengan menyeret bahwa dirinya adalah anak haram. Kini mengganggu pikirannya sekarang.


Baru saja ia membayangkan, ia sudah dilanda ketakutan yang amat sangat. Apa lagi, jika kejadian itu benar terjadi pada dirinya.

__ADS_1


......................


Coba pikirkan perasaan Adi? Terlepas dari segala perilaku dan sikapnya.


__ADS_2