
"Tak juga sih. Tetep aku yang minta, Dinda kadang-kadang aja." jawab Adi kemudian.
"Memang dulu Dinda kencang ya mintanya, Bang?" tanya Haris, dengan mengarah ke arah Mahendra.
Hati Adi sudah bergemuruh, ia tak siap mendengar jawaban dari Mahendra. Meski ia mengetahui, memang sebelumnya Adinda dan Mahendra adalah suami istri.
"Kenceng, Bang. Coba mahamin, bahwa memang dia masih muda. Kebutuhan akan itu masih besar. Tapi lama kelamaan, Dinda macam tak pengertian. Dia kek tak paham, bahwa suami capek kerja. Mana kan dulu, aku kerja kasar Bang. Serabutan, sedisuruhnya orang." jawab Mahendra, yang membuat Adi sedikit iri. Karena Adinda tak pernah meminta hal itu, seperti apa yang Mahendra ceritakan.
"Perangsang apa, Ris. Yang paling mujarab, yang paling ampuh?" ujar Adi cepat, membuat Haris sedikit heran.
Haris terdiam sejenak, untuk memahami keadaan ini. Ia memandang wajah Adi, yang terlihat seperti tengah kesal. Akhirnya ia mengerti sinyal yang Adi pancarkan, dari urat wajahnya tersebut.
"Duit, Bang." jawab Mahendra, yang mengalihkan perhatian Haris.
"Tinggal libur dulu beberapa hari. Kau tabung dulu, sampek Dinda ngerengek." saran Haris lirih, agar suaranya tak terdengar jelas oleh Mahendra.
Adi mengangguk kecil, untuk merespon saran Haris.
"Udah pernah cobain getaran yang dipakek di batang belum?" tanya Adi mengalihkan pembicaraan mereka.
"Yang model cincin itu kah?" tanya Haris, yang mengetahui maksud Adi.
"He'em, yang harganya 60 ribuan kalau tak salah." jawab Adi kemudian.
"Lebih baik, jangan dicoba Bang. Karena kitanya juga bakal K.O aku udah pernah cobain sama mamahnya anak-anak di rumah." ungkap Mahendra, yang membuat obrolan mereka semakin asik. Hingga sahutan demi sahutan, yang Adi dan Haris lontarkan. Membuat obrolan malam ini, begitu asik karena terselip saran-saran di dalamnya.
~
~
Esok harinya, di kediaman keluarga Haris. Givan masih menikmati masa bebasnya, sebelum dirinya dijemput kembali oleh pihak lembaga negara.
"Buru-buru kali sih, Ken?" tanya Adi, setelah mendengar keputusan Kenandra yang akan segera berangkat malam ini.
"Iya, Pah. Biar di sana bisa istirahat dulu." jawab Kenandra kemudian.
"Bareng Ghifar juga?" lanjut Adi yang diangguki oleh Kenandra.
"Mana si Ghifar? Dari tadi Papah tak nampak dia." lanjut Adi, dengan menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Tidur lagi keknya, Pah. Mungkin tubuhnya lagi penyembuhan, pingsan kan bikin capek juga Pah. Bikin badan pegal-pegal." jelas Kenandra dengan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Karena mereka semua tengah berada di teras rumah, memperhatikan kedua anak balita Adi yang berlarian ke sana ke mari.
__ADS_1
"Memang Ghifar pingsan kenapa, Pah?" tanya Givan, dengan berpindah tempat untuk lebih dekat dengan ayah sambungnya tersebut.
"Syok. Papah juga baru tau, syoknya Ghifar itu pingsan. Kata abi kau, katanya dia gak bisa ngelola pikiran sama lonjakan perasaannya. Syok yang bikin pingsan gitu kan, kata mak kau itu tekanan darah orang yang bersangkutan turun drastis." jawab Adi yang membuat Givan merasa heran.
"Kenapa dia bisa kek gitu?" sahut Givan kembali.
Adi menoleh ke arah anaknya, ia sedikit ragu menjawab pertanyaan Givan tersebut.
"Katanya… syok liat Canda nangis sesenggukan, wajah mandi darah, pakaiannya terkoyak juga. Terus yang kedua… syok liat Canda di ranjang rumah sakit, mukanya pucet. Udah macam itu, dia mutusin Ghifar. Ghifar tak kuat, nerima semua itu tiba-tiba." ungkap Adi, dengan beberapa kali menjeda ucapannya.
Givan tertunduk, rasa kemanusiaannya membuatnya amat merasa bersalah.
"Maaf, Pah. Pagi itu aku khilaf, liat perempuan ada di samping aku. Bangunin aku lembut kali. Mana kan… normalnya laki-laki. Pagi-pagi pasti yang di bawah, ikut bangun juga." ungkap Givan, dengan masih menatap paving block halaman rumah tersebut.
"Ya… kau ngomong sama Ghifar sana. Biar dia tak berubah. Sama keluarga sendiri, udah macam orang lain. Sama Giska yang biasa bergurau, lengket juga. Sekarang udah macam tak kenal, Kin terus yang diusiknya. Rombongan mobil, masuknya ke mobil abi kau terus." ucap Adi, dengan pandangan yang masih fokus pada anak balitanya.
"Aku udah coba buka obrolan sama dia. Tapi dia jawabnya ketus aja. Kadang kala, dia langsung pergi." sahut Givan, memberitahu tentang sikap Ghifar padanya.
"Mungkin dia perlu waktu. Biarin aja dulu dia bebasin beban pikirannya, dengan caranya sendiri." balas Adi, yang mendapat anggukan ringan dari Givan.
"Pah… pamit dulu." ucap Kenandra, dengan menarik koper miliknya.
Diikuti dengan Ghifar, yang tengah menguap sambil melanjutkan langkahnya.
Kenandra mengangguk mantap, lalu berjabat tangan dengan sahabat semasa kecilnya. Yang sekarang tiba-tiba renggang, karena Kenandra lebih memilih untuk menjadi sahabat baik adik dari Givan. Karena ia merasa begitu iba, dengan anak kemarin sore tersebut.
"Aku nitip Ghifar, Bang." ujar Givan lirih, yang membuat Kenandra merasa bingung. Karena Kenandra menganggap, bahwa Givan begitu benci pada adiknya sendiri.
"Hmmm." hanya gumaman pendek dari Kenandra, untuk merespon ucapan Givan barusan.
'Tanpa kau bilang pun, aku pasti jagain Ghifar.' batin Kenandra, dengan melirik sekilas pada Givan.
"Berangkat, Bang." tutur Ghifar, yang baru menyelesaikan beberapa uapan lebarnya.
Lalu ia langsung mencium tangan ayahnya, dengan punggung yang sedikit membungkuk.
"Ati-ati, Far. Kabarin Papah sering-sering. Atau… kau pegang ini ATM." tukas Adi, dengan mengeluarkan kartu pipih dari dalam dompetnya.
Ghifar memasang telapak tangannya, di depan tubuhnya.
"Tak usah, Bang. Biar aku usahain makan aku sendiri." ucap Ghifar kemudian.
__ADS_1
"Berangkat, Pang." lanjut Ghifar, berkata sambil melewati Givan begitu saja. Bahkan ia tidak melirik, apa lagi mencium tangan kakaknya tersebut.
"Satu ransel cukup memang?" tanya Kenandra, saat Ghifar memasukkan ranselnya dalam bangku belakang mobil tersebut.
"Ya kan… cuci, kering, pakek. Memangnya nanti aku tak beli-beli pakaian lagi?" jawab Ghifar enteng.
"Casan atau barang lainnya gitu?" sahut Kenandra, dengan memperhatikan kedua orang tuanya yang baru keluar dari rumah.
"Ya udah, casan sama HP aja." balas Ghifar kemudian.
"Naik mobil, Ken?" tanya Adi kembali, saat Kenandra hendak masuk ke dalam tempat kemudi mobilnya.
"Ya, Pah. Nanti nyebrang pakek kapal, terus lanjut perjalanan pakek mobil lagi." jawab Kenandra, yang membuat Adi sedikit khawatir. Karena beberapa jam yang lalu, mereka baru sampai dari perjalanan yang cukup jauh.
"Nanti capek tak, Ken?" sahut Adi dengan menggendong kedua anak balitanya, yang bergelayut pada kedua kakinya.
"Capek ya gantian, atau istirahat dulu." balas Kenandra, lalu dirinya masuk ke dalam mobil tersebut. Diikuti dengan Ghifar, yang duduk di sampingnya.
Mobil milik Kenandra perlahan keluar dari halaman rumah Haris, dengan rasa haru yang menyelimuti hati para orang tua tersebut. Kemudian Adi mencium pipi kedua anak balitanya secara bergantian. Lalu berbalik badan, untuk masuk ke dalam rumah milik Haris tersebut.
"Gih, sama Mamah." pinta Adi, saat melihat Canda dan istrinya tengah duduk beriringan.
"Tak mau. Sama Papah Adi aja." sahut anak umur lima tahun tersebut.
"Adek sama kak Giska gih. Capek kan tadi, abis lari-larian?" ujar Adi dengan beralih memperhatikan anak bungsunya, dengan wajah penuh dengan keringat tersebut.
"Ma Pa?" tanya Gibran dengan mata polosnya.
Adi menggeleng cepat, "Tak. Adek sama kak Giska, kak Icut. Papah mau boboan, sama Bang Gavin." jelas Adi, lalu beralih menatap Gavin.
Gibran mengangguk, lalu ia minta diturunkan dari gendongan ayahnya tersebut.
"Iskaaaaa… Encut……." teriak Gibran, agar menemukan para kakaknya berkumpul.
"Liat TV, Dek." sahut salah seorang di antara mereka, yang terdengar begitu samar di ruang tamu ini.
"Iska, Encut, Iska, Encut. Anak Dinda kalau manggil, sok tak sopan betul. Manggil Ken namanya aja, manggil Alvi namanya aja. Kennn… Kennn… Aviiii… Aviiii… " celetuk Haris menirukan suara Gibran, dengan duduk di sofa. Yang berada tak jauh dari istri Adi itu.
Adinda menoleh ke arah Haris, tanpa memperdulikan ucapan Haris barusan.
"Bang… jadi kek mana ini? Givan…..
__ADS_1
......................