Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS142. Sejarah hidup


__ADS_3

"Mah... Pah... Kalau aku diwisuda, datang ya?" ucap Icut, saat ibu dan ayahnya mengantarkannya ke bandara.


"Ya, Papah usahain. Sekalian mau tau ayah kandung kau." sahut Adi yang membuat senyum Icut mengembang.


"Bujang, Pah. Awas Mamah kegoda nanti." balas Icut, dengan beralih memandang ibunya yang menggendong anaknya.


"Ishhh, bujang juga tergantung ukuran Coy." ujar Adinda, yang membuat Adi tersenyum malu.


Adi gelang-gelang kepala, kemudian membuang pandangannya ke arah lain.


"Berguru nanti aku sama Mamah." tutur Icut, yang membuat Adinda terkekeh geli.


"Jangan! Mak kau sesat." tukas Adi yang mendapat hadiah cubitan pedas dari istrinya.


"Bujang, kaya lagi ya Mah?" ungkap Icut, yang diangguki dengan mantap oleh Adinda.


"Mesti tinggi badannya 170an, baru ok itu. Papah kandungnya bang Givan, 173 cm. Papah Adi 170 pas. Gagah, hidungnya besar. Nunjang betul." ucap Icut, yang membuat Icut menerawang rupa laki-laki idamannya.


"Kenapa mesti gagah dan berhidung besar?" tanya Icut penasaran.


"Kalau badannya gagah, itunya pasti berurat. Kalau hidungnya besar, nafsunya juga besar. Kalau orangnya tinggi, pasti panjang itunya. Tinggi kurus, pasti panjang kepala besar. Tinggi berisi, pasti unik macam Papah Adi." jelas Adinda, yang mendapat toyoran kepala dari suaminya.


Icut terbahak-bahak, melihat ayahnya melirik marah pada ibunya.


"Ngajarin yang betul coba!" tegas Adi yang diangguki oleh Icut.


"Kan bener, Pah. Aku dapat gelar, kan dapat izin pacaran dari kalian." sanggah Icut dengan mengambil alih anaknya.


"Tak ada pacaran. Ada laki-laki yang cocok, suruh datang ke Papah. Macam Giska aja. Laki-lakinya sanggupin maharnya, janjiin berapa tahun, terus nikah." ungkap Adi yang tidak sedang bercanda.


Icut mengangguk, mencoba memahami bahwa ayahnya khawatir akan dirinya.

__ADS_1


"Ya udah, cariin yang kek Zuhdi aja Pah." celetuk Icut kemudian.


"Papah tak carikan, itu Giska dapat sendiri. Kalau ada yang lebih baik pun, Papah pertimbangkan lagi itu Zuhdi. Sayangnya... Ya gitulah. Maksa betul orangnya, takut bikin anak bujang orang mati sia-sia." ujar Adi, dengan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya.


"Ini dari Papah, buat Adek. Jangan boleh ya, kalau mau dijual Ma kau." lanjut Adi, dengan memasangkan gelang kerincing sebanyak tujuh buah pada tangan kecil tersebut.


"Mah... Aku cuma dikasih tiga, itu pun pas lebaran kemarin." adu Icut, dengan menarik lengan panjangnya.


"Mamah lebih-lebih, tak dikasih sama Papah kau." ujar Adinda, dengan menunjukkan kedua pergelangan tangannya.


"Tengok! Ini mata berlian." tunjuk Adi pada sebuah cincin yang tersemat di jari manis istrinya.


Adinda cekikikan, kemudian memukul manja lengan suaminya.


Hamerra menggerak-gerakkan emas yang melingkar di pergelangan tangannya, ia begitu fokus memainkan benda tersebut.


"Jangan dipakekan cincin, Cut. Nanti ketelen." ucap Adi dengan memperhatikan cucunya tersebut.


"Tuh... Siap-siap." ujar Adinda, dengan membantu Icut untuk mengambilkan tas bayi berwarna ungu. Yang tergeletak di lantai, di dekat kaki Icut.


Setelah beberapa saat kemudian, pesawat sudah pergi dari landasan bandara tersebut.


Adi dan Adinda bergandengan tangan, dengan berjalan ke arah parkiran mobil.


Tak sedikit mata yang tertarik untuk menoleh ke arah juragan, yang memancarkan pesonanya. Adi terlihat masih begitu menarik, apa lagi dengan kacamata abu-abu transparan yang bertengger di hidungnya.


"Bang... Manjain aku dulu." Adinda mengubah gandengan tangan suaminya, menjadi pelukan hangatnya di lengan suaminya.


"Ke mana Adek sayang?" sahut Adi, yang mencoba mengimbangi langkah mungil istrinya.


"Cek in dong." balas Adinda, membuat Adi terkekeh geli.

__ADS_1


"Bisa, bisa. Kita cari hotel yang view-nya bagus." sanggup Adi dengan semangat.


"Kangen ya Bang, main bebas macam anak-anak masih pada kecil dulu?" tanya Adinda, saat Adi menggiringnya untuk masuk ke dalam pintu mobil yang sudah ia bukakan.


Adinda duduk di sebelah kursi kemudi, lalu Adi segera menutup pintunya. Adi berjalan memutar, kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Ia duduk di sebelah istrinya, lalu mulai memutar stir mobilnya menuju ke pintu keluar bandara tersebut.


"Kamar juga luas, bisa variasi di kamar. Namanya juga pertumbuhan, Dek. Mereka kecil terus, ya kita repot terus. Adek aja sampek kadang lupa jadwal perawatannya, olahraga tak rutin. Sampek perut ngelipet, sampek rambut dipotong pendek, karena lupa sisiran beberapa hari. Alhamdulillahnya tak sia-sia kan pengorbanan Adek dulu, anaknya udah mandiri semua sekarang." ungkap Adi, yang fokus memperhatikan jarak mobil yang berada di depannya.


Adinda tertawa kecil, saat mengingat hal itu. Hari-hari yang kadar kewarasannya hampir hilang, karena anak-anak mereka yang selalu harus diteriakkan ketika dipanggil. Harus diseret, agar bisa pulang dari aktivitas mainnya di luar rumah. Yang harus dipaksa hanya untuk mandi dan makan, tentu itu bukanlah hal mudah untuk Adinda.


Apa lagi kewajibannya sebagai istri, harus ia tunaikan juga. Saat adzan subuh berkumandang, Adinda hanya sempat menggosok gigi dan mencuci wajahnya saja. Ia langsung menunaikan ibadah sholat subuh, kemudian melanjutkan aktivitasnya untuk membuatkan sarapan.


Hingga satu persatu anak mereka mulai terbangun, dengan tangis yang bersahutan. Panggilan untuknya silih berganti dilafalkan oleh anak-anak mereka, hingga gelas pun ia baru sempat mencucinya kala anaknya meminta susu.


Peran ayah sekaligus suami pun, Adi perankan sebaik mungkin. Ia merasakan sendiri nikmatnya waktu makan, sedangkan anaknya meminta untuk segera cebok. Berjuta kali Adi membersihkan kotoran anaknya, yang masih melekat di celana anak kecil mereka. Stresnya Adi, saat noda getah melekat di pakaian anak perempuannya, yang begitu sulit dihilangkan.


Pasir sintetis yang berserakan di lantai rumah mereka, makanan yang tumpah di lantai. Itu merupakan pemandangan rumah mereka, yang tak pernah bersih sekalipun memiliki asisten rumah tangga paruh waktu.


Mengobati luka di lutut dan siku anaknya. Memotong kuku anaknya, saat mereka tertidur. Sudah seperti kewajiban Adi menjadi panutan yang begitu sayang pada pengabdinya.


Menjadi orang tua bukanlah hal mudah. Mengurus anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Ditambah lagi tanggung jawab mereka sebagai orang tua, selalu dituntut untuk mengajarkan hal-hal seputar kehidupan dunia dan akhirat.


Adab, sopan santun, tingkah laku, tutur kata, sesuatu yang paling sulit diterapkan sejak kecil. Mulut mereka sampai berbusa, hanya untuk menjelaskan dan mengajari anak-anak mereka hidup dengan acuan tersebut.


Apa lagi, saat anak-anak mereka mulai belajar membaca dan menulis. Tembok kokoh rumahnya, sudah seperti papan tulis untuk mereka. Coretan kecil sampai besar, warna pastel hingga ke warna campuran. Saling beradu di tembok-tembok sisi rumah mereka.


Masa pubertas pada anak-anaknya pun, memiliki kesan tersendiri untuk mereka. Kedua anak perempuan mereka yang panik, karena kelenjar p*yuda*a mereka yang membesar. Anak-anak laki-laki mereka yang heran, akan suara mereka yang berubah ditambah lagi bulu-bulu halus yang tumbuh di area private-nya. Salah satu kisah yang membuat Adi dan Adinda pusing sendiri, untuk menyusun kalimat yang pantas dijelaskan agar mereka mengerti akan hal itu.


Pertumbuhan anak-anak mereka, adalah sejarah terhebat dalam kehidupan Adi dan Adinda.

__ADS_1


......................


__ADS_2