
"Biar aku o*al." Kinasya bangun, lalu membuat Ghifar di posisi telentang.
Setengah tiang saja, ukurannya cukup membuat Kinasya takut. Pasti jika berdiri sempurna, pasti akan membuatnya mengaduh kesakitan.
Ghifar mulai bisa menikmati serangan Kinasya. Ia terpejam dengan senyum senangnya.
Kinasya menegang, karena benda di dalam mulutnya kian membesar.
Batang itu keras sempurna.
Kinasya berpikir, ia akan membuat benda itu kl*maks saja. Agar selaput darahnya aman dari serangan Ghifar.
Selepas ini, ia akan berusaha untuk menjaga jarak dengan Ghifar. Ia memahami Ghifar akan menyerangnya kapan saja, setelah Ghifar sudah sehat kembali seperti ini.
Raungan Ghifar begitu syahdu. Menandakan bahwa dirinya sekarang tengah terbuai surga dunia Kinasya berikan.
Tangan Ghifar mengikat rambut Kinasya. Ia pun menghentakkan pinggulnya cukup kuat, memaksa Kinasya untuk memasukkan seluruh batangnya.
"Arrrrggggghhhhhh........." suara reptil bergigi tajam keluar dari kerongkongan Ghifar.
Apa ia tak khawatir suaranya menembus telinga orang lain? Pertanyaan itu muncul di benak Kinasya.
Ghifar menarik rahang Kinasya, ia ingin melihat wajah perempuan yang telah menampung benihnya dalam mulutnya.
Kinasya menyeka air yang bercecer di mulutnya. Ia mengikuti tarikan Ghifar, agar wajah mereka sejajar kembali.
"Aku mau nyemburin di dalam ini." Ghifar meraba inti Kinasya.
"Aku pengen ngerasain. Aku belum pernah ngerasain." lanjutnya dengan wajah yang lesu.
"Lain waktu, Ok? Kau belum kuat." Kinasya menyeka keringat yang membasahi wajah Ghifar.
Ghifar sama sekali tidak mimisan lagi.
"Tapi kau tak keberatan kan?" Kinasya terpaksa mengangguk, ia tak ingin Ghifar berpikir bahwa kegiatan se*sual itu menyakiti wanita.
"Rasanya kek mana air aku?" lanjut Ghifar dengan mengusap-usap punggung Kinasya.
Kinasya meraup bibir Ghifar, lidahnya menyelusup ke dalam mulut Ghifar.
Namun, Ghifar langsung melepaskan dan menahan kepala Kinasya.
Ia menjulurkan lidahnya, dengan ekspresi wajah yang tengah mencicipi makanan yang terlalu asin.
Kinasya tertawa lepas, melihat reaksi Ghifar yang berlebihan itu.
"Aku bersih-bersih dulu, terus mau turun. Papah kalau malam sering cek kamar." Kinasya bangkit dari atas Ghifar.
Sebenarnya ia ingin melarikan diri dari Ghifar. Karena inti Ghifar yang masih bertahan kokoh.
__ADS_1
Tiba-tiba, Ghifar mencekal tangan Kinasya.
"Satu kali, Kak." wajahnya penuh harap.
"Jangan terlalu sering dulu, Far. Kau belum terbiasa, nanti kau bisa drop lagi." Ghifar mengangguk, ia mengerti maksud baik dari kakak angkatnya.
Ghifar membiarkan Kinasya masuk ke kamar mandinya, dengan dirinya menatap langit-langit kamarnya.
Bahagia dan suka cita. Kini ia sudah sehat kembali.
"Far.... Kau istirahat." ujar Kinasya, dirinya sudah berpakaian kembali.
Ghifar menarik selimutnya, ia mengangguk lemas. Ia akui, ia tengah merasakan kelelahan kembali.
Ia amat kelelahan sekarang.
Lepas pintu tertutup, Ghifar mulai memejamkan matanya. Ia merasa tubuhnya dan kepalanya begitu ringan, seakan dirinya tak memiliki beban hidup satupun.
~
"Paaaa...... Papa biiiii....." suara kencang Mikheyla tak diragukan lagi.
"Papah masih tidur, Key." Givan menggendong anaknya, karena Mikheyla selalu mendongak menatap tangga. Dirinya tengah menanti Ghifar turun.
"Tumben." komentar Adi, dengan menoleh ke arah jam dinding.
"Coba cek, Bang." seru Adinda dari arah dapur.
Ia tengah memasak kembali, untuk menu makan siang bersama mereka. Hari ini mereka berkumpul bersama, Zuhdi pun ada di antara mereka.
Adi menaiki tangga, menuju ke kamar putra pertamanya.
Kecurigaannya semakin menjadi, melihat celana jeans Ghifar tergeletak begitu saja di dekat segitiga yang karet pinggangnya bermerk Rider Sport.
Adi menyibakkan selimut anaknya. Matanya melebar seketika, ia geleng-geleng melihat Ghifar tertidur tanpa mengenakan pakaian apapun.
Adi segera menutup tubuh anaknya kembali. Lalu ia duduk di tepian ranjang, tangannya terulur untuk mengusap kepala anaknya.
"Bangun, Far." ucap Adi kemudian.
Ghifar berdekhem, ia mendengar suara ayahnya.
"Sama Tika kah?" mata Ghifar terbuka lebar, ia kaget mendengar ucapan ayahnya selanjutnya.
"Terus bisa?"
Ghifar masih terdiam, ia memperhatikan wajah ayahnya dari bawah.
"Apanya, Pah?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Ya udah. Cepet bangun! Mandi!" pintanya kemudian.
Adi berjalan untuk membuka jendela anaknya. Lalu ia segera turun kembali, ia tak ingin menuduh anaknya terlalu jauh. Ia tak ingin mendzolimi anaknya sendiri, apa lagi dengan tuduhan yang menyinggung anaknya. Karena kondisi anaknya yang belum normal.
Mereka semua tengah menikmati makan siang dengan hikmat. Ghifar pun ikut bersama mereka, untuk menyantap makanan yang para wanita buat.
"Lemes betul kau. Masih sakit?" tanya Zuhdi, saat sesi makan siang itu telah usai.
"Tak, memang lagi cepet capek aja." jawab Ghifar dengan bersandar pada tembok.
"Jadi gimana, Di?" Adi mengulas kembali pembicaraan mereka, sebelum diminta oleh istrinya untuk makan terlebih dahulu.
"Ikut mau Papah aja. Soalnya, aku adanya segitu Pah. Diterima dengan baik pun, aku udah syukur alhamdulilah. Tak mau banyak nuntut aku, karena setelah pernikahan itu aku tetap harus punya pegangan juga. Karena kerjaan kan, setiap minggu dibayarnya." ungkap Zuhdi, yang tadi belum sempat menuntaskannya.
Menurut Adi, pemikiran Zuhdi begitu matang. Zuhdi mengerti, ternyata setelah menikah ia akan menjalani hari-hari di mana belum mendapatkan gaji mingguannya kembali.
"Aku diminta kerja di pabrik sama cek Jefri itu, Bang. Kau gantikan aku aja di sana, aku mau geluti usaha lain soalnya. Aku tak cocok kerja di dalam pabrik." Adi dan Adinda saling melempar pandangannya.
Ghifar tengah diajari oleh Jefri. Membiasakan anak itu untuk mengelola pabrik bagiannya. Namun, hari ini mereka mendengar Ghifar menolak untuk pekerjaannya.
"Kau mau usaha apa?" tanya Adinda pada putranya.
"Sewa truk angkutan. Nanti Papah panen besar, nyewa truk angkutnya sama aku aja." lanjutnya dengan menoleh ke arah ayahnya.
Adi terdiam, ia tetap ingin anaknya belajar mengenai pabrik.
"Kau harus ikut ayah. Usaha lain, pikirkan nanti aja." baru kali ini, ayahnya tidak mendukung usahanya.
Ghifar terdiam, ia mencoba mengerti akan keinginan ayahnya.
"Ya udah, Pah. Besok senin aku diminta kerja normal, berangkat pagi jam delapan, balik jam empat." sanggup Ghifar kemudian.
"Jadi mantapnya kek gitu, Di?" Adi kembali memandang Zuhdi.
"Ya, Pah. Untuk tueng dara baro, terserah Papah juga." Zuhdi sebenarnya malu, karena dirinya tak bisa membiayai pesta penyambutan Giska di kediamannya.
"Tueng dara baro, tiga hari setelah tueng linto baro. Terus... Bukannya apa-apa nih. Papah maunya, acara pestanya berbatas waktu. Pagi di tueng linto baro kan, kau akad tuh di masjid. Terus penyambutan kau di rumah, nah acara tueng linto baro itu cuma sampek sore aja. Atau kira-kira, empat jam dari dimulainya acara lah. Acara tueng dara baro pun sama. Biar tak terlalu capek, biar kau sama Giska langsung unboxing kan gitu." Zuhdi terkekeh geli, ucapan calon ayah mertuanya bercabang ke arah lain.
"Paling isinya sprai, gelas setengah lusin. Kadang ada juga yang kasih teko sama gelas. Aku pernah liat tuh isinya kado nikahan di kawan aku." tandas Giska begitu lurus.
"Ohh... Jadi unboxing kado pernikahan ya, Dek?" Zuhdi memastikan itu, karena dirinya sempat salah sangka.
Mereka semua tertawa geli, yang Adi maksud tadi bukanlah hal itu. Bahkan, Adi tak pernah memikirkan untuk mengunboxing kado pernikahan.
"Ya lah, Bang. Dikopek-kopek kan kadonya, kardusnya kita tilik, kita tengok isinya." Zuhdi meragukan pikiran Giska yang terlalu polos itu.
......................
Memang tiada duanya unboxing kado pernikahan ini 😅
__ADS_1