
"Ikram bisa bengek kalau dia tau, Ya." tegur Ghifar, ia berjalan mendekati Ahya yang masih terdiam di pelataran rumah Zuhdi.
"Ikram udah sembuh bengek kali." ujar Ahya, ia terlihat malu pada Ghifar. Saat tahu dirinya terpegok oleh Ghifar.
"Ngapain kau? Datangi mantan segala." Ahya menunduk, saat Ghifar kembali memojokkannya.
"Itu, Nak Ghifar. Ahya abis nengokin Adi. Adi lagi sakit, demam tinggi dia." tandas ibu Robiah, mengalihkan perhatian mereka berdua.
"Ohh..." Ghifar berasumsi bahwa Ahya tengah melakukan pendekatan pada Zuhdi. Ia tahu seberapa besar cinta Ahya pada seorang Zuhdi. Ghifar meyakini, bahwa Ahya masih menaruh harapan pada mantan tunangan adiknya tersebut.
"Mana bang Adinya, Bu?" tanya Ghifar sopan, ia berjalan menuju teras rumah milik keluarga Zuhdi.
"Ada di kamarnya, tadi udah bangun pas Ahya nengokin." ibu Robiah mengajak Ghifar masuk.
Ghifar menoleh sekilas, pada Ahya yang masih berdiri di dekat motor Ghifar yang terparkir. Kemudian Ghifar memperhatikan langkahnya dan pandangannya.
"Tumben apa Ahya tuh main. Mau masuk-masuk ke rumah pulak. Dulu kalau main, cuma mau duduk di teras aja dia." ujar ibu Robiah, mengarahkan Ghifar ke kamar Zuhdi yang berada di ruangan belakang. Sudah lumrah di daerah tersebut, tentang anak laki-laki yang menghuni kamar paling belakang. Karena anak perempuan, lebih diutamakan untuk menempati kamar depan.
"Kok Ibu tak curiganya jelek? Bang Adi kan laki-laki, Bu. Kucing disandingkan daging." Ghifar langsung menutup mulutnya, ia merasa keterlaluan berkomentar.
Ibu Robiah menoleh ke arah Ghifar, saat mereka sampai di depan sebuah pintu yang terbuat dari potongan triplek.
"Insya Allah, Adi bisa jaga kepercayaan orang tua." Ghifar hanya mengangguk samar, mendengar penuturan orang tua yang sangat mempercayai anaknya tersebut.
"Masuk aja." Ghifar tersenyum ramah, saat ibu Robiah mempersilahkannya untuk menemui Zuhdi.
Ghifar mendorong pintu itu pelan, gagang pintu itu seperti gagang sebuah laci. Kemudian kepalanya melongok, untuk melihat suasana kamar itu.
"Heh! Lagi c*li kah?" kepala Zuhdi tersendul ranjang besi yang sudah berkarat tersebut, saat sapaan Ghifar mengejutkannya.
Zuhdi mengusap-usap kepalanya, ia meringis dengan kekehan kecil.
"Ngagetin aja Kakak ipar." ujarnya kemudian.
Ghifar tertawa lepas, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar yang pintunya tertutup otomatis tersebut.
__ADS_1
Kriitttt...
Suara pintu tertutup.
Bukan karena pintunya terlampau masa kini. Namun, karena engsel pintu tersebut yang sudah tidak lagi baru.
"Tadi abis diapelin mantan ya, Bang?" tanya Ghifar kemudian, lalu ia duduk di tepian tempat tidur milik Zuhdi.
Hanya cahaya dari jendela yang berdebu, yang masuk ke kamar tersebut. Mungkin Zuhdi tengah menghemat listrik, pikir Ghifar. Karena jika di rumahnya, lampu sering kali menyala meski sudah ada cahaya dari jendela.
"Bukan diapelin, dijenguk aja." Zuhdi berharap kakak Giska tersebut tidak salah paham padanya.
"Sakit apa, Bang?" basa-basi Ghifar, ia susah mengakrabkan diri dengan seseorang.
Zuhdi membenahi posisinya, ia terduduk bersila di atas tempat tidur.
"Kecapean aja." sahut Zuhdi dengan memperhatikan wajah Ghifar. Ghifar seperti menahan sesuatu, entah karena dirinya saat ini sedang menyusun kalimat yang pantas.
Pintu terbuka kembali, menampilkan ibu Robiah yang membawa secangkir kopi.
"Aduh, Bu. Tak usah repot-repot." ucap Ghifar, ketika ibu Robiah menaruh kopi tersebut di sebuah meja yang berada di sudut ruangan.
"Tak apa, Nak. Yang sering-sering main ke sini, seneng kalau liat Zuhdi akrab sama saudaranya Giska." ibu Robiah terlihat begitu mengharapkan sesuatu, di balik ucapannya barusan.
"Iya, Bu. Maaf tak bawa buah tangan, aku tak tau kalau bang Adi lagi sakit." sahut Ghifar, ia merasa tidak enak hati saat datang dengan membawa badan saja.
Ibu Robiah tersenyum lebar, "Main-main aja, tak usah bawa apa-apa. Mari... Ibu tinggal dulu, silahkan dilanjut ngobrolnya."
Ghifar hanya mengangguk dengan tersenyum samar, pada ibu dari Zuhdi.
"Ada apa?" Ghifar tersentak kaget, saat Zuhdi menepuk pundaknya.
"Mau ngomong soal Giska. Makanya aku sampek bela-belain datang ke rumah kau, Bang." ungkap Ghifar, ia memposisikan duduknya untuk berhadapan dengan Zuhdi.
Zuhdi bangkit dari duduknya, ia menapak di lantai rumahnya. Celana training panjang, dengan telapak kaki terbungkus kaos kaki. Memperlihatkan bahwa Zuhdi benar-benar tengah sakit. Pemuda kampung itu, tidak sedang baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
Zuhdi berjalan ke arah lemari pakaiannya, kemudian ia menarik lemari yang sudah terlihat lapuk tersebut.
"Tengok." ucapnya dengan membuka pintu lemari tersebut.
Ghifar menyaksikan bongkahan emas tersusun rapih di susunan paling atas. Tumpukan uang berwarna biru, berada di paling sudut susunan yang kedua. Di sebelah tumpukan uang tersebut, terlihat kain-kain yang masih terlipat rapih dengan terbungkus plastik.
"Kapan Giska datang buat ambil haknya?" Zuhdi mengambil kotak beludru dari dalam lemarinya.
Ghifar tidak percaya, dengan emas sebanyak itu untuk Giska.
"Ini uang, hasil kerja terakhir aku. Aku belum ngasih ini untuk Giska masukan ke rekening aku sama dia. Biasanya aku nyerahin ini ke mamah Dinda." Zuhdi menunjuk uang miliknya, sebelum akhirnya ia menutup pintu lemarinya kembali.
"Ini cincin tunangan Giska pakek, yang dibalikin keluarga kau." Zuhdi duduk di tepian tempat tidurnya, dengan memberikan kotak cincin itu pada Ghifar.
Ghifar memutar-mutar kotak itu, lalu ia menarik sudut tutupnya.
Terlihatlah cincin sederhana, berukuran cukup berat.
"Kapan kau datang buat minang dia?" lontaran kalimat dari Ghifar, cukup memberi secuil harapan pada hati Zuhdi.
"Papah udah tak mungkin nerima pinangan aku sama anaknya." Ghifar memahami, bahwa Zuhdi masih mengharapkan adiknya. Hanya saja, Zuhdi takut untuk datang dan meluruskan kesalahannya pada juragan kembali.
"Mohon kerjasamanya, Bang. Giska lagi kena masalah, alasan di balik ini semua itu karena kau Bang. Dia berharap lebih sama kau, sayangnya harapannya tak kunjung datang. Dia berharap kau datang, buat perjuangin hubungan kau sama dia lagi." Zuhdi melotot tak percaya, ia menyesal malah melarikan diri ke perantauan orang. Karena ia malu mendengar ocehan para tetangga, yang mengatakan dirinya ditolak oleh keluarga juragan karena Zuhdi tak bisa memenuhi tuntutan sang juragan.
"Aku harus gimana, Far?" Zuhdi blank seketika, ia tidak tahu harus bertindak apa.
"Mohon maaf. Sebelumnya... Papah minta berapa?" Ghifar ragu-ragu, ia takut Zuhdi tersinggung dengan pertanyaannya.
Zuhdi menatap lemarinya, kemudian ia berbalik menatap kedua telapak tangan kosongnya.
"Seratus sebelas juta, uang hangus. Katanya, itu udah termasuk segalanya. Uang masak, uang pelaminan udah di situ. Jeulame lima puluh tujuh mayam emas. Isi kamar, kain-kain, seperangkat perhiasan beratnya semampu aku, sama kue-kue tradisional." rahang Ghifar terjatuh, ia tidak habis pikir dengan harga adiknya.
"Tiga ratus ribu, udah dapat yang model bule di Bali sih." celetuk Ghifar, membuat suasana sedikit mencair.
"Gini aja deh, Bang. Kau......
__ADS_1
......................
Kakak iparnya asik-asik semua 😁