Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS187. Drama Mikheyla


__ADS_3

"Canda gurauan." Givan mengerutkan keningnya, mendengar ucapan adiknya barusan.


Ghava menyadari, bahwa kakaknya menyangka canda istrinya yang Ghifar maksud.


"Bukan canda kakak ipar, Bang." jelas Ghava kemudian.


Mereka terbahak ringan, kemudian Givan pamit untuk kembali ke toko.


"Bang..." panggil Ghava, pada kakaknya yang sudah nyaman di atas tempat tidurnya.


"Ngantuk, Va." ucap Ghifar lirih, dengan mata yang sudah terpejam.


"Bang..." panggilnya kembali, membuat Ghifar ingin melempar barang pada adiknya itu.


"Apa sih?" nadanya membentak.


Ghifar menyeka liur yang hampir keluar dari mulutnya, ia gampang sekali tertidur.


Ghava menunjuk Ghifar dengan mentertawakan kekakuan Ghifar.


"Biarin Abang tidur sebentar." Ghifar mengatur posisi tidurnya kembali, lalu mulai memejamkan matanya.


Ghava hanya bisa menghela nafasnya, kakaknya terlalu mengantuk untuk diajak berbicara.


~


Pagi ini suasana begitu kacau. Hamerra mengamuk hebat, berebut mainan dengan Mikheyla. Sedangkan, anak itu hilang entah ke mana. Ghifar, Yoka dan Tika sibuk mencari keberadaan Mikheyla. Anak itu seperti hilang ditelan bumi.


"Bawa apa sih Key, Bang?" tanya Icut, ia merasa kebingungan dengan tangis anaknya yang meminta mainan yang Mikheyla bawa.


"Tak tau. Abang lagi buat sayur, buat makan dia. Udah heboh tangis Memei aja, Key udah langsung ngilang." jawab Ghifar dengan berjalan kembali ke arah halaman belakang.


Beberapa kali mereka bolak-balik, sampai lantai atas pun menjadi sasaran untuk mencari keberadaan Mikheyla.


"KEY.... PAPAH STRESS NIH! KAU NGUMPET DI MANA, NAK?" teriak Ghifar kembali ke teras rumah.


Tawa renyah anak yang tengah dicari, terdengar seperti ditahan. Ghifar memundurkan langkahnya, untuk mencari sumber suara dari Mikheyla.


"KEY...." panggil Ghifar begitu lantang.


Ghifar mengerutkan keningnya, saat suara Mikheyla samar terdengar dari kamar kakaknya.


"Key... Papah nyari Key ini." Ghifar bersuara kembali, dengan berjalan menuju ke pintu kamar Givan.


Tawa Mikheyla terdengar kembali, "U wa ga." Mikheyla muncul dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


Ghifar masih berdiri di ambang pintu, ia bisa melihat Canda yang terburu-buru memakai hijab.


Mikheyla berada di gendongan Givan, semburat bahagia terlihat dari wajah Givan.


"Key sama Ayah, Pah. Papah tak usah panik gitu." ujar Givan, dengan mencium pipi Mikheyla.


"Ya... I ya...." anak kecil itu mengalungkan tangannya melewati tengkuk leher Givan.


"Iya, Key ikutin. Jangan iyanya aja." Ghifar merasa terharu, melihat interaksi kakaknya dan putri cantik itu.


Ia khawatir Mikheyla lupa padanya, pada papahnya yang selalu menjadi tempatnya mengadu tersebut.


Ghifar merentangkan tangannya, meminta Mikheyla untuk kembali pada gendongannya.


Mikheyla langsung berpindah tangan, ia menghadiahi Ghifar satu kecupan manis.


"Hmm, anak Papah. Pinter ngumpet ya sekarang?" Ghifar berbalik arah, membawa Mikheyla untuk meminta maaf pada Hamerra yang masih ditenangkan oleh Icut di teras rumah.


"Key ambil apa dari Memei? Memei nangis tuh, nyariin mainan yang Key bawa. Jangan rebut-rebut aja kalau minjem, Key harus minta izin dulu. Biar Memei tak nangis." jelas Ghifar, dengan merapihkan rambut Mikheyla yang dipotong seperti Dora.


"En jem, ya? Dak i yeh." ucap anak tersebut begitu lucu.


"Ohh, Key udah bilang minjem ya. Terus tak boleh kata Memeinya?" terang Ghifar yang diangguki oleh anak yang ia gendong.


"Tuh, kasiin dulu mainan Memei. Key minta maaf gitu." pinta Ghifar, dengan menurunkan Mikheyla dari gendongannya.


Tangis Hamerra kembali menggema, tangan anak itu memukul-mukulkan mainan balon berbentuk palu yang tengah ia bawa. Untuk memukul Mikheyla yang masih berdiri kokoh.


"Memei belum bisa berdiri kuat, Key. Memei belum bisa lari, Key. Jangan main tubruk aja, Memei tak bisa nahan berat tubuhnya." Icut terlihat kesal, pada pendatang baru yang menggeser posisi Hamerra.


"Belum juga minta maaf, udah dibikin nangis lagi aja Key." Ghifar menghampiri Mikheyla yang masih terdiam dengan mainan milik Hamerra di tangannya.


"Sini gendong, minta maaf sama Memei." lanjut Ghifar mengangkat tubuh Mikheyla.


"A'ap Me." tangan kanan Mikheyla terulur ke arah anak yang berada di gendongan Icut.


Hamerra menggelengkan kepalanya, anak itu masih begitu kuat menangis.


"Udah coba, Kak. Namanya juga anak-anak. Wajar nangis, rebutan. Nanti juga akur lagi." Ghifar menyadari wajah cemberut Icut.


"Anak kau nakal betul!" sewotnya dengan lirikan tajam.


"Iya, maaf." Ghifar memohon maaf, atas tingkah Mikheyla pada anak Icut.


"Key mandi dulu ya, terus ikut Papah jalan-jalan." ucap Ghifar dengan berbalik arah, membawa Mikheyla untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.

__ADS_1


Ghifar membereskan anak itu, mengubahnya menjadi putri yang begitu cantik.


"Key susah montok betul sih, Key. Padahal makannya banyak, jajannya kuat. Apa Key cacingan?" tanya Ghifar, sembari menyisir rambut Mikheyla.


"Key anaknya aktif, Bang. Jadi makanannya diolah jadi tenaganya dia semua." timpal Giska, yang duduk tak jauh dari tempat Ghifar.


Ghifar hanya manggut-manggut, ia masih mengangumi kecantikan anak kecil tersebut. Ghifar tak memungkiri, jika Mikheyla diperhatikan dengan seksama. Ia begitu terlihat mirip seseorang.


"Dianter siapa kuliah? Ghavi berangkat jam berapa sih? Tak pernah sarapan di rumah kah dia?" Ghifar menurunkan Mikheyla dari atas sofa, membiarkan anak itu berlarian kembali.


"Dianter bang Ghava. Bang Ghavi lepas sholat subuh juga, udah manasin motornya." sahut Giska, yang masih menikmati sarapan paginya.


"Key... Key makannya sambil berangkat aja ya. Papah siap-siap dulu." ujar Ghifar dengan menahan laju lari anak itu.


"Ya." sahutan singkat dari Mikheyla, dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Jagain Key, Tik." seru Ghifar dengan menghadapkan dirinya ke arah dapur.


"Ya, Bang." sahut Tika lamat-lamat.


Ghifar menaiki tangga, yang terdapat tralis besi sebagai penutup tangga, agar anak-anak tak bermain di tangga.


Namun, tralis tersebut menjadi sia-sia untuk Mikheyla. Anak itu nekat memanjat tralis, jika ingin naik ke tangga. Ia tidak bisa dilarang.


Ghifar hanya mencuci wajahnya, membubuhkan parfum yang ia semprot di tubuhnya. Ia mencari pakaian lamanya, yang masih layak untuk dipakai di badannya. Ghifar kurus, membuat baju-baju lamanya tak pantas dipakainya lagi.


"Olahraga rutin, makan ada yang urus. Gagah lagi aku." ucapnya sembari berkaca.


"Jerawat juga kenapa ya? Silih berganti terus." lanjutnya, memeriksa jerawat baru yang tumbuh di dahinya.


"Ka bereh." ia meraih jaketnya, kemudian mengenakannya langsung. Ia keluar dari kamarnya, yang berada di paling depan bangunan lantai atas. Tepatnya di bagian depan, atas rumah itu.


Ghifar kembali menutup tralis di tangga, kemudian berjalan ke dapur.


"Tik... Jalan-jalannya nanti aja ya. Aku mau keluar dulu, mau ngobrol sama kawan lama. Dia punya usaha sewa truk, jasanya sering dipakek papah, buat bawa biji kopi. Aku mau sharing." ungkap Ghifar, agar Tika dan Yoka tak mencarinya.


Tika mengangguk, "Ya, Bli. Bisa kah sambil nyuapin Key?" tanyanya dengan memberikan mangkuk makan Mikheyla, yang sudah berisi makanan untuk Mikheyla.


"Ditutup aja dulu. Nanti dia disuapin pas udah nyampek di tempat aja." Tika hanya mengangguk, kemudian mencari tutup dari wadah kedap udara milik Mikheyla.


"Botol minum Key diisi juga." Ghifar mengabaikan keberadaan kakak iparnya yang berada di dapur bersama Tika. Sama sekali ia tak pernah bertegur sapa dengan kakak iparnya tersebut. Seperti ada jarak yang tak terlihat, yang cukup membuat Ghifar sungkan pada Canda.


"Kresekin." pinta Ghifar terus berlanjut, ketika Tika menyiapkan makanan untuk dibawa Ghifar.


"Kreseknya mana?" tanya Tika, dengan mencari-cari di laci rak dapur.

__ADS_1


"Itu tuh, Mas. Di laci samping tempat Mas berdiri." Canda langsung menutup mulutnya sendiri, saat menyadari kekeliruannya.


......................


__ADS_2