
"Kau yang minta, Dek. Aku tak iyakan." Zuhdi mencoba membela dirinya.
Ghifar terdiam, ia teringat akan Ahya yang berpapasan dengannya di depan rumah kediaman Zuhdi.
'Apa bagusnya bang Adi?' Ghifar selalu melihat sisi buruk seseorang lebih dulu.
"Jadi.... Kau tetap bakal beratin Giska, Bang?" Zuhdi mengangguk mantap, saat pertanyaan itu keluar dari mulut Ahya.
Nafas Ahya begitu memburu, ia memalingkan wajahnya melihat gadis kecil yang aktif bermain.
Ahya melangkah keluar, ia hancur saat ini. Usahanya sia-sia saja. Mimpinya tetap tak terwujud.
"Kak... Aku pulang duluan. Akak kalau jadi nginep, jangan malam-malam datangnya." suara Ahya masih terdengar, sebelum dirinya berlalu pergi dengan berjalan cepat.
"Masuk gih." mereka semua merasa heran, karena Ghifar malah meminta Giska untuk masuk ke dalam kamar.
"Tapi, Bang." Giska ingin menolak perintah kakaknya tersebut.
"Tik... Tika... Temenin Giska." seru Ghifar, dengan cepat Tika bangun dari kursi teras.
"Ya, Bli." sahutnya berjalan perlahan.
"Sana sama Tika." Ghifar meminta adiknya untuk segera pergi.
"Ehh... Ayah pamit dulu ya. Kau obrolin aja lagi, kabarin Ayah aja gampang. Ayah mesti catat panenan kau dulu, Far." Jefri langsung bergegas pergi.
Awalnya ia datang, untuk mengobrol dengan Ghifar perihal hasil panennya. Namun, Jefri memaklumi kondisi Ghifar saat ini. Ia memutuskan, untuk menghandle hal itu. Agar Ghifar fokus pada penyelesaian masalah adiknya terlebih dahulu.
"Ya, Yah." salah satu anak Adi menyahuti.
Ghifar berpindah ke sofa panjang, ia meminta Zuhdi menggeser posisinya.
"Ada apa, Bang?" nyali Ghavi tak sekuat nyali Ghava. Ghavi tipe orang yang begitu takut pada hantu. Melihat Ghifar berpindah duduk, ia malah takut ada sesuatu tak kasat mata di ruangan ini.
"Tak ada apa-apa." Ghifar tertawa geli melihat reaksi panik dari Ghavi.
"Apa?" Zuhdi merasa risih, dengan Ghifar yang menepuk-nepuk pundaknya berulang kali, tetapi ia malah bergurau dengan Ghavi.
Ghifar menoleh ke arah Zuhdi, "Hari itu Ahya masuk ke kamar kau. Jangan-jangan kau habis mesum lagi?" tuduh Ghifar kemudian.
Zuhdi mengerutkan keningnya, "Mana ada?! Badan lagi linu-linu, sama rasa. Ngapain mesum? Boro-boro mau telan*ang, pakean lengkap aja aku menggigil." elak Zuhdi atas tuduhan Ghifar.
Pantas saja Ghifar menyuruh Giska untuk masuk. Tidak disangka, Ghifar ternyata ingin menyudutkan Zuhdi.
Cukup bagus cara sang kakak, agar adiknya tidak terbakar cemburu.
"Sebelum-sebelumnya kan mana tau? Tak perlu telan*ang juga, kalau udah berdiri sih bisa nyelundupin." Ghifar berbicara, layaknya pengalamannya sudah khatam.
"Demi Allah." Zuhdi mengangkat tangan kanannya, ia tidak bisa dituduh seperti ini.
__ADS_1
"Demi Allah sekali masuk kah?" Ghifar memalingkan wajahnya, ia tersinggung dengan ucapan Ghifar. Ia teringat akan kejadian perampasan mahkota Canda dulu. Hanya sekali masuk, tetapi dirinya mendapat hukuman yang harus menghidupi Canda seumur hidup.
"Tak lah! Demi Allah tak pernah masuk-masuk." jelas Zuhdi cepat.
"Jadi... Digesekin aja kah?" Givan ingin menampol mulut Ghifar.
Para laki-laki itu terkekeh tertahan. Seperti diinterogasi, tetapi konsepnya lebih tak diperhitungkan.
Zuhdi memukul pelan lengan Ghifar, ia geram pada calon kakak iparnya.
"Tak mesum! Kan hari itu udah dibahas. Tak percaya betul." jelas Zuhdi kemudian.
"Memang aku tak percaya sama laki-laki. Karena aku laki-laki, jadi tau laki-laki itu kek mana. Makanya aku sih... Pengennya memperbanyak peurumoh aja." Lemparan makanan ringan dari toples, mendarat ke arah Ghifar semua.
Kenapa mereka malah bergurau? Ghifar pengacau keadaan tegang barusan.
Gurauan kecil menjadi pijatan nyaman di tengah ketegangan ini. Zuhdi kembali memutuskan untuk tetap menikahi Giska.
Zuhdi pamit pulang, karena adzan maghrib sudah berkumandang.
"Bang... Orang tua Winda, minta papah mamah ke rumah. Aku udah ngobrol baik-baik sama mereka. Aku sama orang tuanya udah nemuin kesepakatan." ujar Ghava, saat kakaknya hendak pergi selepas pamitan Zuhdi tersebut.
"Bagus lah. Memang kita tak berencana ngelangkahin mamah papah, Giska juga bakal nikah lepas mamah papah pulang." tandas Givan kemudian.
"Alhamdulillahnya, lahan Abang udah panen. Semoga Abang dapat bagian bagus dari papah. Biar biaya nikah kau kehandle." tambah Ghifar yang merasa lega dari kepusingannya tempo hari.
"Oh, iya. Masalah biaya ngurus cuti pas lagi KKN begini juga lumayan, Bang. Dikira mengundurkan diri dari kampus. Tapi... Ya biasalah." mereka semua paham yang Ghavi maksud, hanya saja hal itu kurang pantas jika diucapkan.
"Cukup, Bang. Tak usah diganti. Aku shodaqohkan." cetus Ghavi mengundang tawa.
"Kau shodaqoh sama adik sendiri. Mana kan...." Givan tak melanjutkan kalimatnya, karena tawa mereka menggelegar bersamaan.
"Udah-udah, sholat dulu." sergah Ghifar dengan berjalan menuju ke kamar.
Mereka kembali ke kamar masing-masing, untuk membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholat maghrib.
~
"Hallo, Far... Bisa ke tempat kerja aku tak? Ghava kecelakaan sama Icut."
Uhuk, uhuk....
Ghifar tersedak sarapan paginya. Ia terbatuk-batuk hebat, setelah mengangkat panggilan telepon dari Kinasya.
"Ya, Kak. Nanti ke sana sama bang Givan." sahut Ghifar dengan bangun dari kursinya.
Ia mematikan sambungan telepon, dengan langkah kaki cepat untuk mencari keberadaan kakaknya.
"Bang..."
__ADS_1
Tok, tok, tok....
"Bang.... Ghava sama Icut kecelakaan." Ghifar memutuskan untuk mengetuk pintu kamar kakaknya, lalu menyuarakan suaranya.
"Ya, bentar." bukan kakaknya yang menyahuti, melainkan istrinya.
Ceklek...
"Kok bisa kecelakaan sih, Mas?" Ghifar merasa tak enak hati. Saat seseorang yang ia cari tengah berdiri di belakang tubuh Canda. Givan tengah mengenakan kaosnya, karena waktu sudah menunjukkan untuk Givan membuka toko.
Sebutan mas yang membuat Ghifar merasa tak enak hati pada kakaknya tersebut.
"Tak tau."
"Ayo, Bang. Kita ke puskesmas sekarang."
Setelah selesai berucap, Ghifar langsung naik ke lantai atas. Ia ingin mengambil dompetnya dan kemejanya. Seperti biasa, ia selalu bertelanjang dada ketika di rumah.
"Dek... Abang nitip Key."
"Key lagi di halaman belakang, lagi disuapin sama Tika sama Yoka." seru Ghifar, saat dirinya hendak melewati pintu kamar Giska.
"Ya, Bang." sahutan dari dalam kamar Giska.
"Bang Givan..." Ghifar kembali menoleh ke arah pintu kamar kakaknya yang setengah terbuka.
Canda muncul dari dalam kamar, ia berdiri di ambang pintu.
"Mas Givan udah di depan, lagi manasin motor." jawab Canda kemudian.
Ghifar hanya mengangguk, kemudian ia berjalan cepat ke arah halaman rumah.
Ia panik.
Cepat-cepat Ghifar memakai sendalnya. Lalu ia langsung berlari kecil menuju pada Givan yang telah bersiap di atas motornya.
"Kan Icut nyuapin anaknya, Far. Kok bisa kecelakaan sama Ghava?" Givan mulai menarik gasnya, saat meyakini Ghifar sudah duduk dengan benar di jok belakang.
"Aku pun tak tau, Bang. Aku lagi sarapan, sampek tak selesai. Kaget aku denger kabar dari kak Kin." terang Ghifar, ia pun tak mengetahui apa-apa.
Dua hari sejak kejadian Zuhdi datang ke rumah, suasana rumah damai-damai saja dengan para penghuninya. Tak ada isyarat atau pertanda buruk lainnya. Namun, tiba-tiba kabar buruk itu datang di pagi hari yang cerah ini.
"Ati-ati, Bang." Ghifar mengingatkan, karena Givan cukup laju mengendarai motornya.
Givan hanya mengangguk, ia tengah fokus pada jalanan yang cukup ramai karena anak sekolah.
Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat parkir puskesmas yang masih sepi tersebut.
Ghifar langsung turun, ia berjalan cepat ke arah pintu puskesmas yang bertuliskan UGD.
__ADS_1
......................
*Peurumoh : Istri