
"Far... Kau tak ingin kah nikah? Punya anak?" Adi duduk di sofa yang dekat dengan jendela itu.
Ghifar menoleh pada ayahnya, "Pengen. Tapi aku tak bisa." masalahnya hanya tentang hal itu saja.
"Jangan bikin, burok yang kau naiki lepas sembuh sunat itu nangis. Karena kau tak bisa meukawen." Ghifar tersenyum samar, teringat akan pesta khitanannya dulu di kota C.
Ia bersunat di daerahnya, saat bulan puasa. Dirinya, Ghava dan Ghavi bersunat di hari yang sama. Sehari sebelum lebaran, mereka semua mudik ke kediaman orang tua Adinda. Hingga selepas lebaran, mereka mengadakan pesta khitan dengan hiburan adat burok yang bisa dinaiki oleh anak yang dikhitan. Itu hal yang membuat senyum bahagia mereka terukir seharian penuh, karena mereka senang diarak keliling kampung menaiki burok yang berisikan dua orang di balik kostum burok tersebut.
Namun, saat itu bukan hanya mereka bertiga yang menikmati tunggangan yang begitu mahal meski hanya disewa sehari aja. Givan, beserta saudaranya yang lain pun, bisa merasakan hiburan tersebut. Karena Adi menyewa cukup banyak, untuk menyenangkan hati anak-anaknya dan anak kerabatnya.
"Udah lah, Pah. Aku tak mau bahas." Ghifar berbalik badan dan mengganggu tidur Mikheyla.
"Bangun, Mpluk! Kalau tidur jangan mangap, jangan terlalu miring, air liur kau banjir." Ghifar berusaha menutup mulut Mikheyla yang terbuka lebar.
Plak....
Anak itu reflek memukul wajah Ghifar. Kemudian dirinya berbalik badan, agar tidak diganggu oleh seseorang yang ia anggap ayahnya tersebut.
Adi merasa geli, melihat cerminan anak sulungnya tersebut.
"Papah mau ke ladang. Kau diminta ayah ke pabrik. Besok jangan lupa, lepas subuh kita berangkat. Jam tujuh udah ada di tempat." Adi bangkit, lalu berjalan ke arah pintu kamar.
Ghifar hanya bergumam, ia mengerti permintaan ayahnya.
Ia kembali memejamkan matanya, rasa berat masih menyelimuti kelopak matanya.
Namun, telinganya menangkap sesuatu. Pintu kamarnya terbuka kembali, dengan derap langkah kaki yang mendekati ranjangnya.
Ghifar langsung melebarkan matanya, menoleh cepat ke samping kirinya.
"Sialan kau!" Ghifar tersentak keget, melihat Kinasya tengah mencari sesuatu di nakas. Hal itu membuatnya kaget, karena rambut Kinasya yang tergerai bebas. Membuatnya teringat akan film horor Indonesia, yang pernah ditontonnya.
Kinasya menutup mulutnya dengan tangannya, agar tawanya tak mengganggu tidur Mikheyla.
Kemudian ia duduk di tepian tempat tidur, tubuhnya disanggah oleh siku tangannya. Posisinya berada di atas kepala Mikheyla, ia menyerongkan tubuhnya untuk bisa dekat dengan posisi Ghifar.
Tangannya terulur, membelai lembut rambut Ghifar yang sedikit ikal.
"Tanggal merah nih. Makan besar yuk." rayunya dengan suara mendayu-dayu.
Bukannya termakan rayuan Kinasya, agar uangnya turun ke tangan Kinasya. Tetapi malah membuat telinganya memerah, ia terang*ang dengan suara seksi Kinasya.
__ADS_1
Ghifar tetaplah laki-laki normal, meski sesuatu dalam tubuhnya bermasalah.
"Cium dulu coba." suara serak memberat menandakan dirinya tengah dirundung rasa pias di sekujur kulitnya.
Kinasya memberikan jambakan halus di rambut Ghifar, mereka terkekeh kecil karena tuntutan iseng dari Ghifar.
"Demi makanan aja, masa aku harus jadi l*nte." Kinasya berbicara dengan suara pelan, agar Mikheyla tetap terlelap.
"Bukan l*nte, cium sayang buat adiknya aja." turunan buaya jantan dan buaya betina, selalu bisa untuk berdalih.
Kinasya langsung menarik rahang sebelah kiri Ghifar, kemudian ia menitikan ujung hidungnya ke pipi kanan Ghifar. Karena posisinya berada di atas kepala Mikheyla.
"Ish.... Tak puas aku. Pakek mulut, yang bunyi gitu loh." Ghifar menuntut lebih jauh.
Kinasya menarik hidung Ghifar, "Heh! Kok ngelunjak?!"
Ghifar begitu puas, melihat wajah cemberut Kinasya.
Ghifar mendongak, menggenggam pergelangan tangan Kinasya yang sikunya menjadi tumpuan berat tubuh Kinasya.
"Ayolah, Kak. Sikit aja!" rengekannya terdengar begitu memelas.
"Apa?"
Ghifar mengangguk, saat Kinasya berhasil menebak keinginannya.
Tanpa ba-bi-bu, Kinasya langsung mendaratkan bibirnya di pipi Ghifar.
"Ini juga." Ghifar menunjuk pipi yang satunya.
"Ini juga." Ghifar menuntut dahinya agar mendapat hak yang sama.
"Satu lagi...." Ghifar langsung menarik tengkuk leher Kinasya.
Posisi mereka seperti huruf L, dengan bibir yang saling bertautan. Ghifar menuntut lebih, dari kakak angkatnya.
Seperti serigala yang tengah menikmati mangsanya, Ghifar begitu menuntut atas hal yang ia inginkan. Meski Kinasya berusaha melepaskan cekalan Ghifar pada tengkuknya.
Ia pun berusaha tak membuka mulutnya, saat lidah Ghifar memaksa menerobos kedua bibirnya yang merekah.
"Hmmm... Far!" Kinasya menggelengkan kepalanya, agar mulut Ghifar berhenti untuk menyesapi rasa di bibirnya.
__ADS_1
Namun, saat ia membuka suaranya. Lidah Ghifar berhasil menerobos masuk, mencari sesuatu yang ingin ia aduh.
Tangan Kinasya mendorong dada Ghifar, ia masih mengusahakan agar bisa terlepas dari tuntutan Ghifar. Tetapi Ghifar malah mencekal pergelangan tangannya, kemudian menyatukannya di atas kepala Kinasya.
Ghifar merangkak, mencoba mengungkung tubuh sempurna kakak angkatnya. Dengan lidah yang masih menjelajahi isi mulut Kinasya.
Tangan yang satu, ia gunakan untuk mempertahankan rahang Kinasya. Perlahan tapi pasti, tangannya turun untuk menyusuri leher jenjang Kinasya.
Perlahan semakin turun. Khayalannya begitu gila, saat tangannya sampai di atas gundukan daging yang begitu sempurna. Ia akan gila karena hal ini.
Kinasya merasakan sesuatu yang mengganggunya. Cepat-cepat ia menggerakkan kepalanya berulang kali, membuat penyatuan benda kenyal itu terlepas.
"Darah kau ke mana-mana!" Kinasya menyeka darah mimisan Ghifar, yang jatuh ke wajahnya.
Ghifar seperti orang yang bodoh, tatapan kosong dan syoknya menjadi satu. Ia kaget, melihat wajah perempuan dewasa yang berada di bawah kungkungannya bermandikan darah.
Ghifar memijat pangkal hidungnya, ia bergerak untuk menjauh dari atas Kinasya. Ia merasa malu yang amat sangat.
Saat perempuan yang dikungkungnya telah pasrah. Ia malah disadarkan oleh kenyataan, bahwa dirinya tak bisa melanjutkan yang ia inginkan.
Tak ada yang lebih menyakitkan, saat kecewa pada diri sendiri.
Ia berjalan ke arah cermin, melihat bayangan wajahnya yang begitu belepotan cairan merah. Ia meraih kaosnya, kemudian mengusap wajahnya dengan kaos miliknya.
Kembali ia berkaca, lalu menoleh ke arah Kinasya yang tengah duduk di tepian ranjangnya. Kinasya masih berusaha membersihkan wajahnya dari cairan kental berwarna merah itu.
Ghifar mengulurkan tangan kirinya, telapak tangannya menempel di dinding. Kepalanya tertunduk, dengan berat tubuhnya yang disangga oleh tangannya tersebut.
Ia tak tahu, harus berucap apa pada Kinasya. Yang baru saja ia lecehkan terlampau jauh.
Pundaknya ditepuk pelan oleh seseorang. Ia menegakkan kepalanya, ia bisa melihat pantulan tubuh seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Tak apa." Kinasya tersenyum menenangkan. Lalu ia merangkul laki-laki, yang tingginya dua centi lebih tinggi darinya. Tetapi jika berdampingan, mereka akan terlihat tinggi sejajar.
Ghifar menoleh pada Kinasya yang kini berdiri di sebelahnya. Kinasya pun memandang balik wajah Ghifar yang masih terlihat kacau.
"Untungnya tak bau air liur basi." celetuk Kinasya, membuat bibir Ghifar tertarik ke atas.
Mereka berdua terkekeh kecil. Dengan Ghifar yang kini berbalik merangkul Kinasya, sedangkan tangan Kinasya kini bertengger di pinggang Ghifar yang tidak mengenakkan kaos.
"Aku udah mandi, udah subuhan. Cuma memang tidur lagi, itu kebiasaan aku." setidaknya suasana hati Ghifar berangsur membaik.
__ADS_1
"Ayo. Mana.....
......................