
"Laki-lakinya yang maksa, sampek minum racun serangga." jawab Adi yang membuat Givan geleng-geleng kepala.
"Berapa mayam, Pah? Uangnya berapa banyak?" ujar Givan kemudian.
"Duduk sini coba, Dek. Linu paha Papah." ucap Adi dengan memperhatikan wajah Giska dari samping, sembari menepuk tempat di sebelahnya.
Giska beralih duduk di samping ayahnya, lalu bergelayut manja pada lengan ayahnya.
"Nemplok terus! Risih liatnya." ketus Adinda, yang dihiraukan oleh Giska.
Givan terkekeh kecil, "Ya sama kita juga, Mah. Risih juga kalau ada yang pangku-pangkuan." sindir Givan, yang membuat Adi terbahak-bahak.
"Mamah kau gurau sama Farid, 50 mayam kata Mamah kau. Si Adi udah langsung pamit balik aja, tersaingi entah kek mana dia rasa waktu itu." ujar Adi mengalihkan kembali topik pembicaraan mereka.
"Terus kek mana?" sahut Givan kemudian.
"Ya... Kemarin Papah ke sana. Ngomong baik-baik sama keluarga Adi, jelasin titik masalahnya. Giska udah mabok itu laki-laki, yang laki-lakinya udah segila itu. Ya mau tak mau, Papah harus ngalah demi mereka. Biar Adi tak nambah hilang akal." balas Adi dengan mengambil kembali kue pemberian istrinya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Adi siapa sih? Aku bingung betul. Papah Adi juga, terus...." tanya Givan menggantung.
"Nama laki-lakinya Giska, Adi juga. Zuhdi, biasa dipanggil Adi." jelas Adi yang membuat Givan menjetikan jarinya.
"Adi Zuhdi? Anaknya pak Zuhri itu?" ucap Givan dengan melebarkan matanya.
Adi mengangguk cepat, "Dia pun bilang, dari SD sampek SMA sekelas sama kau." sahut Adi kemudian.
Givan geleng-geleng kepala, lalu ia melongok untuk melihat wajah adiknya.
"Buruh dia, Giska. Buat SPP dulu aja, SKTM terus yang maju. Pikir-pikir lagi deh. Dari pada nyesel, pas udah dinikahinya. Belum lagi kalau kau tinggal di rumah orang tuanya, di suruh ikut dia. Mau mandi, kau nimba air dulu. Mau nyuci, kau harus siapin tenaga ekstra. Siap-siap kosrek baju kerjanya, yang banyak semen keringnya." ungkap Givan kemudian. Ia terlihat tidak suka, atas kabar yang ia dengar tersebut.
"Aku sama bang Adi, nanti kalau udah nikah diminta tinggal di sini kan Pah?" ujar Giska dengan pandangan penuh harap.
Adi menoleh ke arah anaknya, "Terserah nanti itu sih. Tapi misalkan tinggal di sini juga. Papah tak mungkin nyuciin baju kau sama Adi kau itu, Papah pisahin pakaian kalian. Masak juga, kau harus keluar biaya sendiri. Kalau kepengen masakan Mamah, kau tinggal ambil. Tapi kau mesti masak sendiri, juga pakek uang dari kerjanya Adi juga. Biar berkah dia kerja, biar ada ganjarannya." tutur Adi yang membuat Giska menarik sudut bibirnya ke bawah.
__ADS_1
"Papah tak mau bang Adi yang ngelola ladang jatah aku? Papah nanti biarin bang Adi tetep jadi kuli? Papah kok tega sih." tukas Giska dengan wajah sendunya.
Adi menghela nafasnya, "Jatah kau, pohonnya Papah babat habis nanti. Mulai dari awal lagi Adi ngolahnya. Papah tak mau, kalau Adi lanjut garap. Nah, terus selama kau nunggu sampek panen. Ya itu urusan Adi mau kerja apa. Yang penting dia bisa ngasih makan kau, bisa biayain hidup kau." ucap Adi yang membuat Giska menutup wajahnya dengan bantal.
"Kau pun lebih baik cari kerja, Van. Ladang jatah kau, kau olah ulang sana. Jangan pikirin tambang dulu, biar di ambil alih papah kandung kau dulu. Cukupi kebutuhan istri kau, penuhi urusan perutnya, batinnya juga." lanjut Adi, dengan menoleh ke arah Givan.
"Sana ngaji dulu! Ajak adik kau." pinta Adi kembali pada anak gadisnya.
"Sini, Gibran!" seru Adi memanggil anak bungsunya.
Giska langsung bangkit dari duduknya, "Ayo, Dek. Ikut Akak." ujarnya dengan menghampiri Gavin. Lalu tak lama, terdengar salam pamit dari Giska dan Gavin.
"Kapan Giska nikah, Pah?" tanya Givan, karena mereka semua hanya beradu pandang saja.
"Belum diomongin lagi, kalau masalah nikah. Tapi minggu-minggu depan, Adi sama keluarganya ke sini." jawab Adi, dengan mengusap keringat di dahi anak bungsunya.
"Ambil minum sendiri, bisa tak?" ucap Adi pada Gibran.
"Eut apa, Dek?" balas Adi, dengan mengernyitkan dahinya.
"Iya, enca Pa." ujar Gibran, dengan memperjelas huruf yang ia ucapkan.
Adi teringat akan kosa kata rahasia anak bungsunya, yang selalu mengatakan enca kalau dirinya menyebutkan bisa.
"Ohh, bisa? Jeut?" jelas Adi yang diangguki anaknya.
Lalu Gibran berlari ke arah dapur, untuk mengambil air minum.
Tak lama Gibran muncul kembali, dengan bibir yang basah. Lalu ia memberikan Adi setengah gelas plastik air mineral.
"Lah... Buat Adek, buat Adek Gibran aja. Papah tak minum, udah minum tadi." ucap Adi dengan menyambut gelas tersebut.
"Hm, ni Papa ni." Gibran memaksa, kemudian duduk kembali di pangkuan ayahnya.
__ADS_1
"Kata Papah sih, tak usah tunangan gitu kan? Tapi Adi itu minta tunangan dulu, biar Giska tak diambil orang." ungkap Adi dengan menaruh gelas plastik tersebut di meja.
Givan mengangguk, "Berapa maharnya Giska, Pah? Kalau Papah kurang sreg sama keluarga mereka, yang tinggi aja maharnya. Biar mereka tak sanggup." sahut Givan yang membuat Adinda geleng-geleng kepala.
"Dosa loh, kalau niatnya kek gitu." timpal Adinda kemudian.
"Mamah sreg tak, sama Adi-Adi itu?" tutur Givan dengan fokusnya pada ibunya.
"Mamah belum pernah ngobrol sama dia, jadi tak bisa nilai. Tapi dengan dia udah ngumpul sembilan mayam, sama sepetak tanah. Berarti kan itu laki-laki serius sama adik kau." tukas Adinda dengan menerima mainan yang Gibran berikan.
"Ya kali, itu buat pacarnya yang kemarin. Adi kan sebelumnya sama Ahya, aku tau dulu waktu dia sering ke Ahya. Ini laki-laki, sama Ahya dulu juga ngekang betul. Tanya tuh Ghifar, kalau kalian tak percaya! Beberapa kali dia ngelabrak Ghifar, biar tak ajak Ahya keluar." ucap Givan, yang membuat dada Canda cenat-cenut saat suaminya menyebutkan nama pujaannya dulu.
"Ngekangnya kek mana? Dia tak ada bilang masalah itu." sahut Adi yang merasa ini adalah cela jelek dari Zuhdi.
"Pokoknya, tak boleh itu Ahya keluar sama laki-laki manapun. Sama Ghifar, padahal dia tau saudara juga. Sampek-sampek Ghifar dilabrak, diomong apa gitu Ghifar waktu itu. Aku tau, soalnya Adi ada bilang ke aku juga. Katanya, mana Ghifar. Adik kau itu, bikin geram aja. Dari pagi sampek malam bawa-bawa Ahya, dia kata macam itu." balas Givan yang menirukan suara marah Zuhdi.
"Jangankan dibawa laki-laki lain, Papah kau udah berisik aja kalau Mamah keluar sendiri. Normalnya laki-laki kek gitu lah sifatnya, pasti tak suka perempuannya dibawa-bawa laki-laki lain. Karena, misalkan ada apa-apa sama perempuannya. Ya, yang rugi dia juga. Dia pasti yang diminta tanggung jawab, kalau perempuan itu hamil sama laki-laki lain. Soalnya kan, keluarganya tau bahwa si Adi ini pacarnya Ahya." pendapat Adinda, yang sudah berpengalaman dengan beberapa laki-laki.
"Karena Adi juga laki-laki, Van. Sedikit banyaknya dia tau kelemahan laki-laki di dunia ini. Papah juga ngelarang Mamah kau dulu, buat berkawan sama abi sama ayah. Karena tak sedikit kasus, teman wanita diper*osa beberapa teman laki-lakinya bergilir. Takutnya kita ke pasangan kita yang sering main sama kawan laki-lakinya, ya macam itu lah Van. Memang kau tak ada berpikir sejauh itu? Kalau memang si Adi suka ngelarang Giska main sama laki-laki. Ya baguslah, itung-itung bantu jagain anak Papah." timpal Adi dengan menepuk pelan paha anaknya.
"Lagian Giska main sama siapa? Kenceng-kencengnya dibawa Ghavi ke kedai, atau dibawa Ghifar ke rumah panggung. Bakar-bakaran sama Ahya, sama saudara-saudaranya." tambah Adinda yang membuat Adi terkekeh kecil.
"Padahal itu anak tak dilarang buat main, tak dilarang bergaul." tutur Adi kemudian.
"Soalnya kasih sayang yang dia dapat di rumah, sama saudara-saudaranya udah terpenuhi. Jadi dia gak cari tempat lain, buat dapatkan rasa yang dia dapat di rumah dan saudara-saudaranya." ungkap Canda, yang baru membuka suaranya.
"Tetep pacaran juga buktinya. Kek mana dia Bang, waktu di rumah sakit kemarin?" tukas Adinda, lalu menoleh ke arah suaminya kembali.
"Udah abang-abangan aja ke Adi ini. Sama kaya Adek ke Abang, udah lemes betul dia manggil abang ke Adi." ucap Adi yang membuat merasa malu sendiri.
"Coba Canda kek gitu, Pah. Apa Pah peletnya?" ujar Givan, dengan melirik sekilas istrinya.
......................
__ADS_1