Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS141. Diusir


__ADS_3

"Makanya aku tanya tadi, habis kah uang 4 M yang kau tuntut dulu?" ucap Adi, dengan memperhatikan wajah mantan istrinya.


"Bang... Kebutuhan hidup aku banyak, gak mungkin bisa terpenuhi karena hari berganti bulan, bulan berganti tahun." sahut Maya kemudian.


"Ya udah, kau cepat mati aja kalau jawabannya gitu." timpal Adinda dengan mudahnya.


"Mulut kamu masih gak enak aja ya, Din?" ujar Maya terlihat begitu tidak senang.


Adinda tersenyum miring, dengan menyandarkan punggungnya.


"Makanya aku bilang, lebih baik kamu balik aja lagi. Uang tetap aku transfer, udah selesai. Dari pada kau tetep di sini, kau mau apa lagi? Rasa-rasanya, aku pun tak ikhlas cucu aku diasuh sama kau." tutur Adi, mencoba membuat Maya tak sakit hati atas segala ucapan dirinya dan istrinya.


"Apa mau kau aku tuntut? 4 M loh, May. Tak sedikit itu. Mana kalau aku ngajuin data ini ke pengadilan, kau kena pasal penipuan loh. Kau bilang Icut anak Adi, sampek rumah tangga aku jadi kacau gara-gara kau. Nyatanya kek mana? Kau tau sebenarnya, kalau anak Icut itu anak pacar kau. Tapi sengaja betul pengen dapetin suami orang." tukas Adinda, dengan menegakkan punggungnya kembali.


Adi merangkul kembali istrinya, lalu mengusap-usap mesra lengan istrinya.


"Kamu kira nikah siri juga gak kena pasal? Nikah siri kena pasal, apa lagi kamu disembunyikan dari suami aku dulu. Kamu buat Adi, sampai lupa kewajibannya sendiri ke istri sahnya." ucap Maya, yang tak mau kalah dengan Adinda.


Icut menghela nafasnya berkali-kali, untungnya dirinya sudah mengetahui kenyataan ini lebih dulu. Pernyataan-pernyataan dari orang terdekatnya dulu, ternyata bukan bualan semata.


Terlebih lagi, kenyataan bahwa dirinya bukanlah darah daging Adi. Cukup membuatnya kacau, pada saat dirinya.....


"Keturunan orang lain, memang tak macam keturunan dari anak sendiri. Beda betul kan sama anak-anak yang lain? Bangkang betul." Icut menahan sesak di dadanya, saat neneknya tengah membicarakannya dengan ayahnya.


Icut yang mendapat kamar paling depan, bisa mendengar obrolan keluarganya yang tengah berkumpul di teras.


"Mungkin lagi umur-umurnya, Mi. Rasa penasarannya, rasa ingin tahunya lebih besar, karena itu hal baru untuknya." sanggah Adinda, yang tengah duduk sembari menunggu adzan isya. Karena dirinya ingin menunaikan sholat tarawih berjamaah, di hari terakhir puasa besok.


Adi dan Adinda, juga anak-anak mereka. Tengah berkumpul di kediaman ibu Meutia, mereka ingin merayakan lebaran bersama keluarga besarnya.


"Coba berapa kali kau larang dia pacaran? Dari SMP kasusnya ketauan pacaran terus. Lebih-lebih apa itu tanda di tangannya? Mulai belajar bikin tanda merah itu dia sama laki-lakinya." ujar ibu Meutia yang masih kesal, dengan cucunya yang masih menyandang status sebagai murid kelas 10 tersebut.

__ADS_1


Icut menghapus kasar tanda merah di tangannya, ia menyesali perbuatannya dengan kekasihnya itu. Dengan bodohnya, Icut memberikan izin kekasihnya. Untuk membuat tanda merah itu di tangannya. Jelas, Adi dan Adinda mengetahui tanda apa itu.


"Setengah hati Umi sih, tak sreg sama cucu yang satu itu. Kalau ketemu ma sama bapak kandungnya, suruh bawa aja itu anak yang suka bangkang." Icut menggigit bibir bawahnya, ia begitu terpukul dengan ucapan dari neneknya. Meski tak diucapkan secara langsung kepada Icut, tetapi Icut mendengar semuanya.


"Ngomong apa sih, Mi!" Adi yang sedari tadi hanya menyimak dan menimpali juga ucapan geram ibunya.


"Ya kau tau, dia bukan anak kau. Segala ambil resiko mau besarkan dia bareng istri kau itu. Kalau dari awal kau dengerin Umi, kau tuntut itu Maya. Mungkin kau tak punya darah tinggi, Di. Udah hamil duluan, nyered kau buat tanggung jawab. Ehh, ternyata bukan darah daging kau juga." Icut menjerit di dalam hatinya, ia merasa begitu hancur mendengar kebenaran itu.


"Ya udahlah, Mi. Udah lewat kejadiannya, udah besar juga itu anak. Ngungkit-ngungkit, bikin aku pening aja." Adinda masih mencoba menenangkan amarah ibu mertuanya, yang membuat dirinya ikut terpancing emosi.


"Buat apa sih ributin yang udah-udah?" Ghavi muncul dengan wajah kesalnya.


"Tante balik aja deh, ini bukan tempat yang aman buat Tante." lanjut Ghavi, mencoba membuat rumahnya menjadi lingkungan yang damai kembali.


"Anak kamu juga itu? Gak sopan banget mulutnya, berani-beraninya ngusir tamu." seru Maya, dengan menunjuk pada Ghavi.


"Anak-anak aku memang tak ada yang sopan, sama tamu yang tak sopan juga." ujar Adinda, yang masih saja meladeni mulut Maya.


"Nanti bayaran kau aku kirim, kau yang anteng di tempat kau. Jangan berani-berani lagi ke sini!" tutur Adi dengan bangkit dari duduknya. Lalu dirinya mengantar Maya sampai ke depan teras rumahnya.


Maya terlihat begitu tidak terima, dengan perlakuan tuan rumah tersebut.


"Ayo Tante, cepetan." ajak Ghavi, yang sudah berada di atas motor besarnya.


Maya tanpa pamit, langsung naik ke atas motor Ghavi. Lalu Ghavi mengantarkan Maya, menuju ke jalan besar. Di mana angkot dan kendaraan umum lainnya, berlalu lalang setiap waktu.


~


Hingga esok hari, Icut masih bingung dengan Hamerra.


"Mamah suruh ikut Adek sama Ma aja kali ya, Dek? Udah tinggal berapa hari lagi ini, Ma harus nyelesaiin pendidikan Ma." ucap Icut, dengan mengusap dahi anaknya yang berkeringat.

__ADS_1


Icut mengulurkan tangannya, untuk mengambil ponselnya. Ia mencari nama ayah Yoseph dalam kontak aplikasinya, lalu menuliskan sesuatu pada aplikasi chatnya.


[Yah... Kalau tau beres aja bisa tak? Adik aku soalnya ada di pulau K, jadi tak bisa dititipin Hame.] tulis Icut, lalu langsung mengirim pada ayahnya.


Sebelumnya, memang Hamerra selalu dititipkan pada Ghava. Para mahasiswa di kampus tersebut, menyimpulkan bahwa Ghava dan Icut adalah suami istri. Kecuali dosen pembimbing dari Icut, ia mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Tak lama, balasan pun ia dapatkan.


[Memang udah beres, Nak. Tinggal nunggu jadwal aja. Ayah kan udah edit, nambahin yang kurang juga. Hame biar sama Ayah aja udah, kau paling cuma berapa jam buat sidang.]


Icut terdiam, ia tengah menimbang-nimbang tawaran ayahnya.


"Nih, jus buah dari mamah. Katanya biar Memei lancar BAB-nya." ujar Canda, yang mengagetkan Icut.


Icut menoleh ke arah kakak iparnya, "Aduh, Akak ngagetin aja!" tutur Icut, dengan sedikit menutupi dadanya yang terekspos.


Hamerra melepaskan pucuk dada ibunya, yang tengah ia nikmati. Ia menegakkan punggungnya, untuk melihat keberadaan orang lain yang ia sangka akan mengajaknya bergurau.


"Sama Mak wa yuk. Mak wa pengen nyoba nyuapin kau." ajak Canda, dengan mengambil alih Hamerra dari dekapan Icut.


"Dari Jawa itu budhe, pakdhe. Manggil suami mas-mas, giliran punya keponakan, malah dipanggilnya mak wa." ucap Icut, yang membuat Canda terkekeh kecil.


"Nanti kalau punya anak, rencananya anaknya mau diminta manggil apa Kak?" tanya Icut, dengan membantu Canda menyuapi anaknya jus buah.


"Nanti manggilnya biyung." jawab Canda, yang ikut membuka mulutnya saat Hamerra menyambut suapannya.


"Terus bang Givan dipanggil apa sama anaknya? Payung?" ujar Icut, membuat Adinda yang tengah berkutat dengan mesin blender. Terbahak-bahak mengalahkan suara mesin blender yang tengah beroperasi.


Canda tertawa lepas, Hamerra pun ikut memamerkan gusinya.


"Kan ibunya dipanggil biyung, ayahnya payung dong." jelas Icut, yang tak mengerti letak kelucuannya.

__ADS_1


......................


__ADS_2