
"Mamah Dinda pun dari keluarga sederhana, Papah Adi biarpun kaya juga lebih suka hidup sederhana. Jangan minder, masalah kasta. Yang penting berbaur sama mereka. Karena mamah pun, misalnya belanja sesuatu, apa lagi belanja online. Pasti nawarin semua keluarganya, pasti dibelikannya juga. Mamah bukan orang pelit, apa lagi kalau Ai baik ke mamah dan keluarganya." ucap Givan dengan tersenyum lebar.
"Ai orangnya gak enakan, A. Masa mamah belikan ini itu, Ai gak bisa bales beliin balik." sahut Ai dengan menundukkan kepalanya.
"Gimana Aa ke mereka coba? Dibesarkan dari kecil, dibiayai hidupnya, ditelateni makanannya. Apa ada Aa bales balik? Sekalipun Aa sanggup ngirimin uang ratusan juta buat mereka, tapi tak akan bisa balikin semua yang udah mereka kasih buat Aa. Jangan pernah ngomong kek gitu ke mamah, nanti mamah meletup hebat. Jangan pernah ngomong tak bisa kasih balik, karena mamah yang udah tua lebih sensitif masalah hal itu." tegas Givan, dengan mengunci pandangan mata Ai.
Ai mengangguk cepat, "Ya, A." jawab Ai kemudian.
"Gih sama mamah, Giska! Tuh Icut nongol juga sama Ahya." ujar Givan dengan menunjuk ke arah keluarganya dengan dagunya.
"Temenin, A." rengek Ai dengan menarik pakaian Givan.
Givan menghela nafasnya, "Aa anterin aja. Aa mau keluar, mau nimbrung sama papah juga yang lain." sahut Givan kemudian. Ai mengangguk, kemudian mengikuti tarikan tangan dari Givan.
Givan dan Ai telah sampai di hadapan mereka semua, "Lagi bahas apa, Mah?" tanya Givan dengan tersenyum ramah pada ibunya.
"Lagi bahas Elsa, kasian tapi kesel. Dulunya dia yang ngarang, bahwa Nindi anak Roy. Sekarang dirinya yang dihamili laki-laki yang bukan suaminya, berbalik semua ke nasibnya sendiri." jawab Adinda, yang matanya fokus pada tontonanya.
"Mah… aku udah milih." ujar Canda dengan memberikan kembali ponsel Adinda.
"Ai mau milih tak? Kalau udah kasih ke papah, suruh cek out sama pindahin alamat." ucap Adinda, dengan mengoperkan ponselnya pada Ai yang kini duduk di sebelahnya.
"Abang ke depan ya, Mah." Givan masih memperhatikan wajah ibunya, dengan Adinda yang reflek mengangguk.
Lalu Givan berlalu pergi, dengan perempuan yang akan menjadi istrinya memperhatikannya sampai tak terlihat lagi.
"Pah…" panggil Givan, dengan Adi yang langsung menoleh ke arahnya. Yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sini, main capsa." ajak Adi dengan melambaikan tangannya pada Givan.
"Kata mamah tadi disuruh cek out sama pindahin alamat." ucap Givan dengan berjalan ke arah mereka semua.
"Ya udah biar nanti. Di cek out sekarang juga, tetep dikirimnya besok." sahut Adi yang kembali fokus pada permainannya.
"Pah… pakek uang aja sih. Aku tak semangat, kalau tak pakek uang." ungkap Ghava, dengan menaruh kartu miliknya.
__ADS_1
"Mamah liat nanti, yang ada Papah yang kena semprot." sahut Adi membuat anak-anaknya terkekeh.
"Mobil siapa itu, Bang?" tanya Ghifar, dengan mencolek lengan ayahnya. Pandangannya tertuju, pada mobil yang baru saja berhenti di pekarangan rumah tersebut.
"Mobil om Edi." jawab Adi, dengan berdiri dari posisinya. Karena ia memperhatikan mobil yang berhenti tersebut, cukup mencurigakan.
"Kenapa tak keluar-keluar?" sahut Ghifar yang digelengi oleh ayahnya.
Tiba-tiba mata mereka semua terbuka lebar, saat melihat kaki jenjang yang turun satu persatu dari tempat kemudi.
"Haduh…" suara lepas Adi dengan tindakan mengusap tengah-tengah tubuhnya.
Anak-anaknya terkekeh geli, dengan Givan yang langsung menepis tangan ayahnya yang masih menutupi inti tubuhnya.
"Mamah tau, bisa-bisa dibongkar pasang itu Adi's bird." ucapnya dengan melirik ayahnya tajam.
"Nyari siapa, Dek?" tanya Adi, yang terlihat tidak peduli dengan anak-anaknya. Begitu wanita yang memakai dress putih di atas lutut tersebut, berjalan ke arahnya.
"Ini, Mas. Saya mau nganterin mas Edi, dia ada di dalam mobil. Dia… mabuk berat." jawabnya dengan tersenyum lebar.
"Oh, iya. Makasih ya udah dianterin." sahut Adi dengan berjalan ke arah mobil, berniat untuk melihat keadaan adiknya.
Adi membuka pintu mobil tersebut, kemudian memperhatikan adiknya yang tergolek tak berdaya. Tentu dengan bau alkohol yang begitu menyengat.
"Heh, angkatin om kau ini." pinta Adi dengan menoleh ke arah anak-anaknya, yang masih berdiri di depan teras rumah.
Dengan cepat anak-anak Adi bergegas menuju ke arah mobil. Kemudian membagi posisi, untuk mengangkat tubuh ayah dari Novi dan Veni tersebut.
"Dek… kau siapa? Pulangnya ke mana? Kenapa bisa tau rumah Edi?" tanya Adi beruntun, saat anak-anaknya tengah berusaha mengangkat tubuh Edi.
Si perempuan molek menggaruk kepalanya, "Anu, Mas. Saya LC… dari habis ashar, mas Edi minta ditemani. Sampai ketiduran begitu, jadi saya berinisiatif untuk nganter dia." jawabnya kemudian.
Adi tersenyum miring, ia teringat akan cerita Benazir tentang Edi yang tengah dimabuk seorang wanita muda.
"Rara ya namanya, Dek?" sahut Adi dengan berjalan mendekati wanita tersebut, sembari tersenyum manis penuh pesona. Wanita tersebut langsung menganggukkan kepalanya, dengan menanggapi senyum manis Adi. Siapa yang tak terpesona, pada laki-laki seribu pesona seperti Adi. Meski usianya terbilang sangat matang, hingga hampir busuk di pohon. Tetapi begitu terlihat, jika Adi bukan dari kalangan biasa.
__ADS_1
"Pah…." panggil salah satu anak kembar Adi, yang bertugas membawa tas kerja Edi.
"Ya, bawain masuk dulu. Om kau langsung aja taruh di kamarnya." sahut Adi dengan menoleh sekilas pada segerombolan pemuda, yang tengah berusaha mengangkat tubuh Edi yang berbadan gempal tersebut.
"Ikut masuk yuk, Dek. Kenalan dulu sama istri Abang. Istri Abang juga butuh panduan nyanyi, soalnya suka lupa lirik." ajak Adi dengan mencoba merangkul pundak perempuan tersebut.
"Maaf, Mas. Saya gak bisa lama-lama ninggalin kerjaan saya." balasnya dengan tersenyum canggung.
"Kenapa memang? Abang tetep bayar kok, Dek." ujar Adi, dengan mengeluarkan beberapa uang merah dari dompetnya.
"Tapi, Mas… saya gak bisa, kalau gak di tempat. Mending Mas sama istri, datang aja ke tempat kerja aku." tuturnya, dengan mencoba menghindari Adi yang semakin mendekat padanya.
"Oh, macam itu ya??? Kenapa sampek nolak macam itu? Takut ya sama istrinya Edi?" tuduh Adi, dengan kembali mengantongi uangnya.
"Gak juga kok, Mas. Saya cuma berniat, buat nganterin mas Edi aja. Lagian… mas Edi sendiri yang datangin saya, bukan saya yang minta mas Edi buat datang." ungkapnya membuat prasangka Adi saat ini, semakin nyata dengan ucapan wanita tersebut.
"Ohh, jadi kalau mas Edi datangin kau. Kau tak bersalah, udah buat dia berpaling dari istrinya?" tanya Adi dengan merangkul cepat, pundak wanita tersebut.
"Yuk liat rupanya Benazir. Aku akui, cantiknya Benazir ngalahin cantiknya istri aku. Sayangnya… Benazir kurang modal, tak macam istri aku yang kelebihan modal. Tapi… udah beberapa hari belakangan, Benazir udah dibikin glow up sama istri aku." ungkap Adi, dengan menarik paksa wanita tersebut dengan tangannya yang ia jepitkan di leher wanita yang ia rangkul.
"Aku gak mau, Mas. Tolong jangan sered aku kaya binatang begini." terdengar suara penuh harap dari wanita tersebut.
"Aku orangnya suka maksa loh! Istri aja, kalau tak mau ngelayanin, aku paksa dia habis-habisan. Kau dari tadi dibujuk baik-baik, tak mempan juga. Ala-ala nolak uang senilai 2 juta, dengan alasan klasik macam itu." tegas Adi, yang semakin mempercepat langkahnya.
"Mas… aku kecekik ini!" balas wanita tersebut dengan suara terpenggal-penggal.
"Makanya diajak baik-baik itu nurut!" jelas Adi, dengan melonggarkan lengannya pada leher wanita tersebut.
Hingga sampailah mereka di ambang pintu, dengan beberapa anak laki-laki Adi yang berniat berjalan ke luar rumah. Namun, urung karena melihat ayahnya yang terlihat emosi dengan merangkul seorang wanita molek.
"Dinda… Adinda istri long, boh hate long." seru Adi memanggil istrinya.
"Pue????" sahut Adinda, dengan suara yang semakin mendekat ke arah mereka.
......................
__ADS_1
*boh hate, sama kek kekasih gitu.