
"Itu tuh, Dek. Nama di rekening yang ngirim uang ke Adek, Givan sama adik-adiknya." Kinasya dan Adinda tersentak seketika, saat Adi menimpali obrolan mereka.
Adinda langsung tersenyum, kemudian membingkai wajah suaminya dan menghujami suaminya dengan ciuman singkatnya. Kinasya memalingkan wajahnya, ia merasa malu tetap menemani ayah angkatnya di kamar ini.
"Abang aku tuh kuat, gagah. Jangan ambruk lah, Abang tak boleh macam itu. Leupi jaroe gaki, gemetaran aku tengoknya." ungkap Adinda dengan menegakkan punggungnya kembali.
"Abang tak apa." Adi seolah tengah menutup-nutupi hatinya sendiri, yang begitu amat terpukul saat Ghifar menyebut Fira mamah.
"Ayo, Pah. Kita keluar, kita ngobrol." ajak Kinasya, dengan penolakan langsung dari Adi.
"Papah mau tidur aja. Jangan ganggu Mamah sama Papah. Kau udah dewasa, kau panutan adik-adik kau Kin. Jagain Giska, jagain yang lain juga. Kau tau adat, sopan santun kan? Tegur, kalau ada yang berbuat tak senonoh." pesan Adi dengan pandangan kosong.
"Aku udah motong soang, yang suka nyocor kaki aku. Udah aku sop tulang sama leher panjangnya. Dagingnya aku fillet, mau aku tusukin buat sate." ungkap Kinasya memberi lawakan kecil di kalimatnya.
"Ya udah angetin aja buat besok, sisain buat Papah. Papah lagi tak mau diganggu, pengen sama Mamah aja." Adi susah dibujuk, jika bukan istrinya yang membujuk.
"Ya udah, Pah. Nanti aku sisain lehernya." ujaran ambigu yang Kinasya berikan, membuat Adi dan Adinda menahan tawanya.
Selera humor Kinasya cukup baik, sayangnya mood anak itu gampang berubah.
"Soang siapa yang dia potong?" tanya Adinda, saat pintu kamarnya sudah ditutup oleh Kinasya.
"Itu..." Adi menunjuk arah, dengan telunjuk secara asal.
"Yang di depan kontrakan kita, yang punya mobil hitam metalik itu. Dia punya angsa yang suka nyosor pengunjung kontrakan kita." lanjut Adi, membuat senyum Adinda terpatri di wajahnya.
Adinda merebahkan tubuhnya di bantal yang sama dengan suaminya, tangannya terulur untuk memeluk tubuh suaminya.
"Masa gara-gara Abang pernah poligami, anak kita ikuti jejak Abang? Anak yang Fira gendong, keknya anak Ghifar. Perempuan yang Ghifar sambit itu, yang lagi hamil. Keknya dihamili Ghifar juga. Sama yang kerudung putih itu, keknya istrinya juga." sangka Adi, yang membuat tubuhnya limbung tadi.
"Kenapa otak aku pun, mikirnya begitu ya Bang?" tandas Adinda, tanpa menyangkal prasangka suaminya.
"Semoga besok kita kuat buat denger penjelasannya." ujar Adi, dengan mengusap-usap tangan istrinya yang bertengger di atas perutnya.
"Aku pun ngarepnya begitu, Bang." tambah Adinda dengan memejamkan matanya. Hari ini ia sudah terlalu lelah. Ia ingin hari esok lebih ringan, juga tak lebih memberatkan dirinya sendiri.
Ia berdoa dalam hatinya, semoga keadaan suaminya baik-baik saja. Ia cukup khawatir akan kesehatan suaminya, yang langsung syok berat saat putra yang ia harapkan kehadirannya kini sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
~
Adi dan Adinda adalah orang pertama yang selalu bangun pagi. Mereka keluar dari kamar bersamaan, dengan bagian belakang kepala Adi yang terbalut kain kasa.
Namun, mereka malah dikejutkan dengan sosok yang berdiri di ambang pintu kamar Givan yang setengah terbuka.
Pandangan mata Adi dan Adinda tertuju, pada menantunya yang melamun memperhatikan laki-laki yang tertidur di karpet ruang keluarga mereka, dengan keadaan bertelanjang dada.
Terlihat meja begitu mepet dengan sofa, yang sengaja digeser oleh seseorang. Agar dirinya leluasa untuk tidur di ruangan tersebut.
Rengekan anak perempuan, nyatanya tak membuat Canda bergeming. Ia tetap menyelami lamunannya, dengan seseorang yang masih terlelap tersebut.
Adi dan Adinda pun masih terdiam di tempatnya, ia masih berada di depan kamarnya dengan memperhatikan Canda.
Tangis anak tersebut semakin menjadi, Adinda merasa merinding karena tangis asing tersebut. Itu bukan tangis Hamerra, bukan suara tangis cucunya.
"Astaghfirullah...." Adi sedikit melompat ketika seorang anak kecil berjalan limbung menuju Ghifar.
Canda tersentak, kemudian dirinya langsung melarikan diri ke arah dapur. Ia amat malu, saat mendapati mertuanya ternyata berada di depan kamar mereka.
Gadis kecil seumuran cucunya tersebut langsung merebahkan tubuhnya di atas dada Ghifar. Ia seperti anak kangguru, yang mencari tempat perlindungan ternyaman.
"Shtttttt.... Masih malem Key." suara berat Ghifar, mencoba membuat anak tersebut tertidur kembali.
"Abang cek Gibran dulu ya." ucap Adi lirih, yang diangguki oleh Adinda.
Adinda melangkah menuju dapur, saat gadis kecil tersebut terlelap kembali di atas dada anaknya.
"Masak apa, Canda?" tanya Adinda, saat melihat menantunya tengah mencuci beras.
"Mungkin masak yang gampang aja, Mah. Tumis daun ginseng jawa, sama goreng tahu kering aja." jawab Canda kemudian.
"Sana metik dulu di halaman depan. Biar Mamah yang cuci beras." pinta Adinda, mengambil alih pekerjaan Canda.
Mereka melakukan aktivitas pagi mereka, tanpa hambatan apapun. Para tamu juga, masih terlelap dalam selimut mereka masing-masing.
Hingga beberapa jam terlewati, nafas Ghifar masih begitu teratur. Menandakan bahwa Ghifar masih pulas dalam tidurnya.
__ADS_1
"Bang... Bangun!"
Adinda dan Adi yang tengah duduk di ruang keluarga, mengerutkan keningnya saat Fira berjongkok dan membangunkan Ghifar.
Fira sudah tidak canggung, untuk menyentuh dada bidang Ghifar tanpa busana.
"Suapin Key aja dulu, nanti jam sembilan aja." Ghifar hanya menggeliatkan tubuhnya, lalu merubah posisi tidurnya.
"Udah selesai semua. Sekarang juga udah jam sembilan." mata Ghifar terbuka lebar, dengan pandangannya yang langsung menjurus ke arah orang tuanya.
"Bli..... Makan, Bli. Udah masak." seru seseorang dari ruang tamu, wanita tersebut mengenakan pakaian kebaya sehari-hari dengan kemben untuk menutupi bagian dadanya.
"Kau naruh mesaiban di depan?" tanya Ghifar, dengan segera bangkit dari posisinya.
Yoka mengangguk, dengan berjalan ke arah dapur berniat untuk menaruh nampan yang ia bawa.
"Udah sembahyang juga kau? Pakek dupa kau?" lanjut Ghifar, begitu tidak percaya dengan anggukan dari Yoka.
"Iya, udah. Kata kamu sembahyang, tinggal sembahyang aja. Dewa selalu ada di hati, macam Tuhan kamu. Tak pakek dupa, pelinggih, sesajen atau kopi lagi, yang penting niatnya." ungkap Yoka, mendapat anggukan tenang dari Ghifar.
"Ya.... Tapi tak usah mesaiban juga. Terus... Kau udah janji mau pakek gamis, kenapa malah pakek kebaya? Ini A*eh, kau tak paham betul." Ghifar menggerutu dengan menggaruk-garuk kepalanya, ia terlihat amat buruk.
Ocehan gadis kecil, kembali menarik perhatian mereka semua.
"Anak siapa sih ini? Bisa-bisanya ada di lantai atas." ucap Kenandra, dengan wajah bangun tidurnya.
Fira cengengesan, kemudian menutup mulutnya sendiri.
"Tadi aku bantu cuci piring, jadi aku taruh Key di kamar Abang. Tak mau diam dia, takut masuk ke kamar yang lain." jelas Fira kemudian.
"Mau ke Mamah Papah dulu. Sana ke depan!" ujar Ghifar lirih, pada Fira dan juga Kenandra yang baru juga sampai di hadapannya.
Adi dan Adinda berjarak beberapa meter saja darinya, tentu ia bisa mendengar jelas niatan anaknya barusan.
......................
* Leupi jaroe gaki : Dingin jari kaki
__ADS_1
Mesaiban itu, mempersembahkan apa yang dimasak oleh kita. Ditaruh di depan rumah. Cara bentuk syukur mereka, atas makanan yang mereka dapat di hari itu.