
"Dengerin Abang, Dek. Saran Abang, kau biarkan aja dulu anak-anak kau. Macam kau sama Adi, kalau udah nemuin pasangan yang tepat, yang bisa bimbing jalan hidup kalian, pasti itu anak bakal insaf sendiri. Saran juga nih, buat mencegah, biar bekelnya penuh, buat pendiriannya kokoh dan disiplin, coba pesantrenkan yang kecil-kecil nanti. Biar tak macam anak-anak kau yang sebelum-sebelumnya." saran Haris, mata Adinda bergulir pada anak bungsunya yang tengah duduk bersila di atas sofa kamar milik Sukma ini. Dengan televisi pribadi milik Sukma yang menyala, dengan beberapa jajanan anak-anak yang Adinda beli di taman kanak-kanak tempat anaknya bersekolah.
"Aku sama bang Adi lagi di titik menyerah jadi orang tua, Bang. Bang Adi ngajakin ke kota M*dan, kita pengen ngilangin penat sekalian melarikan diri dari anak-anak ini. Giska bilang tak mau KKN, ini itu banyak alasan. Icut tak ada actionnya, masih anteng di rumah. Bukannya capek ngurus mereka, bukannya sungkan ngasih makan mereka. Tapi kenapa mereka tak bisa bikin aku sama bang Adi seneng sedikit aja?" ucap Adinda lirih, dengan beban yang ia rasakan.
"Aku pengen Ghifar pulang, Bang. Buat bantuin ngurus adik-adiknya. Ghavi terlalu sibuk sama dunia luar, pulang larut malam, pergi langit masih gelap. Ghava di pulau K, dia di sawit. Aku ngeri, dia cerita makan ular, ini itu segala dimakan. Tak pada anteng di sini sama aku. Aku udah cukup trauma sama anak-anak yang merantau, takut pas balik malah jadi kek Givan. Mahendra itu licik betul tau, Bang. Deketin anak aku, buat buka tambang dan biar ada modal. Lepas Givan kesandung masalah, adik-adiknya di sana rebutan tahta. Itu uang ayah Dodi sama bang Adi, Mahendra cuma ngatur-ngatur Givan aja. Mana segala dia nyalahin aku sama bang Adi." kekesalannya merambat ke arah lain.
"Udah lah. Tinggalin aja tambang, tak kuat tumbal, ancur juga itu usaha." tukas Haris, membuat mata Adinda membulat sempurna.
"Tak pakek tumbal lah, sembarangan kau!" sewot Adinda membuat Haris dan Sukma tertawa geli.
"Ohh, berarti kecelakaan kerja itu karena tak SOP kah?" tanya Haris, yang mendapat dekheman kesal dari sahabatnya.
"Kau chat aja Ghifar, pasti dibaca kok. Ketimbang ditelepon, dia hidupnya di jalan, kadang tak dengar suara telepon. Tapi kalau lagi nyantai kan, dia pasti main HP, buka chat." teka-teki merumit, dengan rasa penasaran yang semakin menjadi. Adinda semakin khawatir saja, mendengar Haris yang tengah keceplosan tersebut.
"Tak punya kontrakan kah dia di sana? Ken lagi susah kah di sana? Tak mampu kah cukupi kebutuhan hidupnya sendiri, sama seseorang yang dia aku sebagai adik?" Haris baru tersadar, dengan keceplosannya.
"Ehh... Maksudnya, kadang kan nganterin Ken ke tempat kerjanya." elak Haris mencoba memanipulasi kalimat.
"Jadi... Kemarin dia ngirimin aku seratus jutaan, uangnya Ken kah?" tandas Adinda, membuat Haris kebingungan di seberang sana.
"Abang berarti ambil penerbangan ke tempat kau ya, Dek? Udah dulu ya, mau ngabarin Alvi. Nanti Abang kabarin, kalau udah di bandara daerah kau." putus Haris, karena merasa tak memiliki jawaban dari pertanyaan Adinda.
__ADS_1
"Dih... Tak mau jawab! Ya udah, nanti dijemput bang Adi atau anak-anak." sahut Adinda, kemudian Haris segera mengakhiri panggilan telepon tersebut.
Haris menghela nafasnya, kemudian melirik jam tangannya.
"Bentar lagi jam makan siang, mandi dulu aja lah." ucapnya seorang diri, dengan bangkit dari duduknya di tepian tempat tidur. Lalu ia berjalan memasuki kamar mandi hotel, dengan menaruh begitu saja telepon genggamnya di atas tempat tidur.
"Jadi mau masak besar kah? Aku bantuin kah?" tawar Sukma, dengan menepuk pundak Adinda.
Adinda menggeleng samar, "Tak usah lah, aku lagi malas masak. Nanti beli aja, pengen makan enak, yang tak pernah aku cobain." ujar Adinda dengan melirik plafon kamar tersebut, dengan menggulirkannya ke arah lampu kamar yang menyala.
"Makan doa, belum pernah coba kan?" celetuk Sukma, ia langsung mendapat lemparan bantal yang cukup keras dari Adinda.
"Yuk, Dek. Pulang yuk. Tante Sukma mau siap-siap, mau ketemu mantan soalnya." ucap Adinda yang langsung digelengi oleh anaknya.
Adinda mengerucutkan bibirnya, kemudian duduk kembali di atas tempat tidur.
"Ehh, tapi enakan mana? Bang Haris atau Safar?" tanya Adinda, yang mengalihkan perhatian Sukma dari ponselnya.
"Enak Adi keknya. Aku penasaran kali sama suami kau, coba kita tukar pasangan?" jawab Sukma, yang kentara sekali ia tengah menggodai Adinda yang mudah terbakar cemburu.
Hujaman bantal ia dapatkan kembali, membuat tawa Sukma meledak seketika.
__ADS_1
"Tak ada, tak ada. Mau nyari di mana lagi yang kek bang Adi? Udah pengertian, sayang anak-anaknya." ujar Adinda dengan tersenyum samar, tatkala dirinya membayangkan sosok ayahnya anak-anaknya.
"Nafsunya besar juga. Tak diturutin, malah ngelunjak nafsunya. Suka slow, tapi rutin minta nambah. Tak pernah langsung kasih perempuan kl*maks, harus mohon-mohon dulu, baru dia nurutin bakal buat kl*maks pasangannya." tambah Sukma, yang membuat Adinda melongo tak percaya.
Adinda mendekati Sukma, kemudian menggoyangkan kedua bahu Sukma.
"Jangan bilang, kau pernah dicicipi bang Adi?" tandas Adinda penuh intimidasi.
Sukma buru-buru menggeleng cepat, "Tak lah. Macam Nurul, dia kan habis-habisan dulu sama suami kau. Dia kan mulutnya lemes, beber-beberin ke kita-kita, kalau Adi selalu kek gitu." ujarnya kemudian.
"Masa, dia tau tuh perempuannya mau kl*maks. Malah dikasih lambat, dicabut lagi, dicabut lagi, apa tak nangis-nangis itu perempuan?" lanjut Sukma, yang membuat Adinda mengingat kembali setiap percintaannya dengan suaminya.
"Jadi udah terkenal suami aku suka gitu? Duh, nyesek kalau denger dia bekas orang." tutur Adinda dengan menggigit bibir bawahnya sendiri.
"He'em, tapi di dompet dia selalu punya k*ndom. Dia pasti sangu k*ndom, selalu sedia. Jadi tak pernah ada perempuan, yang tak pernah rasain hangatnya inti Adi, tak ada perempuan yang pernah rasain semprotannya Adi. Waktu itu pas aku sama bang Haris udah nikah, bang Haris nanya tuh sama Adi. Kau k*ndom terus, apa enak. Suami kau jawab, aku lebih baik pakek karet, dari pada bikin perempuan hamil di luar nikah, aku kasian sama keturunan aku. Dia jawab gitu loh, Din. Adi muda, yang sukanya tentang perempuan, tapi dia ada pikiran buat anak-anaknya dia kelak. Waktu itu aku sama bang Haris, belum paham tuh kalau sebutan lain dari k*ndom itu karet. Jadi aku mikirnya, burung laki-laki, dibungkus k*ndom, terus ujungnya dikaretin macam es lilin. Aku ungkapin kan bayangan aku tentang burung dikaretin itu ke bang Haris, pas Adi udah pulang dari rumah kontrakan kita yang deket kampus. Ehh, ternyata bang Haris juga bayanginnya gitu." Sukma terkekeh sendiri, kala mengulang masa-masanya dengan Haris dulu.
Adinda ikut menyuarakan tawanya, mendengar cerita Sukma yang terdengar begitu lucu dibayangkan.
"Ya Allah, aku sama bang Haris ketawa ngakak berdua. Sepolos itu sama bang Haris, mana udah nikah lagi. Kau tau tak lagi, Din? Yang ajarin bang Haris, buat minta aku.....
......................
__ADS_1