
Kinasya tengah berkutat dengan piring-piring kotor, yang berada di dapur. Ia hanya fokus mengerjakan tugasnya, tanpa mempedulikan Adinda yang beberapa kali memanggilnya. Pikirannya, ia akan datang pada ibu angkatnya. Setelah ia mengerjakan tugasnya tersebut.
Di ruang tamu rumah tersebut, Adinda tengah duduk bersama Canda dan Icut.
Ghifar melintas, dengan membawa susu ibu hamil untuk Tika.
"Far, Far... Bilangin Kin suruh nginep. Bantuin milih kain-kain, sama cari barang buat sovenirnya Winda." Ghifar mengangguk, setelah mendapat perintah dari ibunya.
Beberapa saat kemudian, ia tengah berada di halaman belakang. Lalu, Kinasya yang baru selesai mencuci piring datang menghampiri Ghifar.
Lalu Ghifar mengatakan perintah ibunya untuk Kinasya, saat Ahya mengajak Kinasya untuk menginap di kediamannya.
"Kek gitu, Kak. Aku tak alasan." jelas Ghifar kemudian.
Kinasya terdiam, prasangkanya terlalu berlebihan. Entah karena hatinya tengah terombang-ambing karena Ghifar. Tapi yang pasti, moodnya memburuk saat mendengar Ghifar mengajak Ahya berlibur.
"Ya udah sana turun! Sama Ahya aja minta obatinnya." Kinasya menatap lurus pandangannya.
"Ya Allah, Kak. Kau dokter, Ahya tukang jahit. Aku bukan pakaian yang sobek, aku manusia yang perlu kau obati." Ghifar meminta belas kasihan Kinasya, karena ia benar-benar merasa tubuhnya bermasalah. Rasa lemas dan keringat yang membasahi tubuhnya, membuatnya khawatir akan kondisi kesehatannya.
"Kau butuh pelepasan, Far. Tak sama aku pun, kau bisa minta Ahya bantu dapat pelepasan kau sambil liburan." Kinasya kembali menyindir perihal liburan tersebut.
Ghifar terdiam menunduk, ia benar-benar tak enak hati pada Kinasya. Pasti Kinasya berpikir, dirinya yang telah merelakan tubuhnya untuk ia jamah. Namun, malah Ahya yang ia ajak liburan.
Ghifar menarik kalimat itu, karena memang dirinya yang mengambil opsi tersebut.
Semata-mata ia mengajak Ahya berlibur, agar karena dirinya bisa pendekatan dengan Ahya. Lalu ia akan menikahi Ahya, andai kata dirinya sampai merusak kesucian Ahya.
Ghifar lebih memilih Ahya dari pada Kinasya. Karena Ahya anak pamannya, sedangkan Kinasya anak orang tua angkatnya.
Ia dan Kinasya disebut kakak beradik, sedangkan dengan Ahya dirinya disebut sepupu. Ditambah lagi, perihal menikah antar sepupu. Di daerah Ghifar sudah terbiasa, keluarga besar dari ayahnya pun banyak yang menikah dengan sepupu. Bahkan dirinya, sering dipojokkan dengan Ahya dari dulu.
Sedangkan dengan Kinasya, jelas ibunya tidak akan menyetujui hal itu. Ghifar memahami hal itu.
Ngerrrrrr .......
Kinasya menarik gas motor, membuat Ghifar langsung berpegangan erat pada pinggangnya.
"Kak....."
Tidak ada sahutan dari Kinasya, yang tengah mengemudikan sepeda motor tersebut.
Ghifar kembali terdiam, ia pasrah akan dibawa ke mana.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka di kontrakan satu petak milik Kinasya.
__ADS_1
"Cepet sini diobati." Kinasya langsung mempersilahkan Ghifar untuk masuk.
Ghifar patuh dengan perintah Kinasya. Ia hanya memandangi wajah Kinasya yang tengah memeriksanya dalam diam. Kekagumannya bertambah besar, pada wanita yang berhasil menyembuhkannya tersebut.
"Kau tak apa." Kinasya membereskan peralatannya kembali.
"Mungkin kau kecapean aja. Minum vitamin ini!" Kinasya meraih botol vitaminnya.
Ghifar merasa dirinya memang sudah baik-baik saja. Ia hanya teringat akan pernikahan kakaknya, saat melihat Ghava akad nikah tadi.
'Kebelet rupanya.' gumam Ghifar, saat mendengar air mengericik dalam kamar mandi.
Senyum Ghifar terukir. Ia berpikir, Kinasya tadi bukannya marah. Hanya saja memang kebelet buang air kecil.
"Kak...." panggil Ghifar dengan bangkit dari tempat tidur Kinasya, yang tanpa menggunakan ranjang.
"Hmmm..." Kinasya menyahuti, berbarengan dengan dirinya muncul dari dalam kamar mandi.
Ghifar memperhatikan Kinasya yang tengah mencari keberadaan ponselnya. Kemudian, Kinasya mengutak-atik ponselnya sembari menyesapi rokok elektriknya.
Dilihat dari segi manapun, Kinasya tetap menarik minatnya meski tanpa disengaja.
Kenyataan yang Ghifar pahami sampai sekarang, bahwa intinya masih kokoh sejak dalam perjalanan tadi.
"Balik sana! Bawa motor mamah tuh!" Kinasya hanya melirik sekilas pada Ghifar, lalu dirinya mencari tempat duduk ternyaman untuk bermain ponsel.
"Lebih baik kau balik, Far!" ketus Kinasya dengan lirikan tajamnya.
Ghifar langsung menunduk, nyalinya menciut sekarang.
"Ya, Kak." Ghifar langsung bangkit, lalu berjalan keluar dari kontrakan itu dengan meraih kunci motor milik ibunya yang tergeletak.
Ghifar langsung mengendarai motor ibunya ke arah kediamannya yang sepi senyap tersebut.
Ghifar masih memikirkan Kinasya. Sebenarnya apa yang wanita itu rasakan? Ghifar menerka-nerka apa yang ada di hati Kinasya.
Mungkinkah kakak angkatnya itu menaruh rasa padanya?
Duarrrr.....
Ghifar mengusap-usap dadanya, ia kaget dengan bunyi petir yang datang tanpa kilat tersebut.
"Apa.... Apa kak Kin cemburu kah? Ketus kek gitu, apa karena masalah Ahya itu? Atau dia tadi takut aku mesumin lagi?" Ghifar bertanya seorang diri, dengan bersandar pada tembok ruang tamu.
Sofa dan meja ruang tamu tersebut ditumpukkan di gudang. Lalu lantai ruang tamu tersebut, dilapisi dengan karpet yang terlihat mewah. Siapa yang menginjakkan kakinya di karpet itu, pasti ia merasa ingin tidur di atas karpet itu.
__ADS_1
Ghifar merebahkan tubuhnya di atas karpet tersebut. Ia cukup lelah hari ini, ditambah serangan batin tadi cukup menguras tenaganya.
Sore tadi ia membantu Jefri untuk merekap data mingguan pabrik itu. Ia sampai pulang saat maghrib, hanya untuk menyelesaikan tugasnya di pabrik. Lalu ia melanjutkan dengan membantu persiapan Ghava di rumah, sampai ke ke kediaman Winda.
Ghifar pulas di ruang tamu tersebut, meski seluruh anggota keluarganya beserta adik ipar baru sampai di rumah.
"Lah...." Adinda geleng-geleng kepala, melihat anaknya tertidur pulas di ruangan yang belum sempat dibereskan kembali itu.
"Kamar kau di atas. Bawa ini! Sisanya nanti besok aja, yang penting ada buat ganti baju kau nanti." lanjut Adinda, dengan memberikan sesuatu pada menantu barunya.
"Aku tak tau, Mah." sahut Winda, dengan menerima barang tersebut.
"Nanti, tunggu suami kau. Atur ajalah ya, Mamah mau ngurus yang kecil dulu." Adinda kembali keluar, untuk mengajak tidur anaknya yang masih kecil tersebut.
Winda merasa asing di sini. Ia merasa, keluarga suaminya tidak welcome dengannya.
Saat berpapasan dengan Giska pun. Giska hanya memasang senyum manisnya, tanpa menegurnya yang masih berdiri di ambang pintu.
Ia ingin ada yang mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah itu. Ia ingin disambut dengan sopan. Bagaimana pun, ia adalah anggota keluarga baru di keluarga ini.
Winda mengenali pemuda, yang digembar-gemborkan akan menikahi anak juragan itu.
Zuhdi hanya memasang senyum ramahnya saja, lalu nyelonong masuk untuk mengejar Giska yang mendahului masuk ke rumah itu.
"Dek Giska... Sayang...."
"Nih... Pegang. Abang balik dulu, besok ke sini bantu beres-beres."
Winda mengamati calon pengantin tersebut. Ia menyimpulkan, bahwa Zuhdi diterima dengan baik dan sering keluar masuk di rumah ini.
"Ya, Bang. Chat nanti." Giska memperhatikan punggung Zuhdi yang meninggalkannya.
Saat melewati Winda kembali, Zuhdi hanya tersenyum dengan sedikit menunduk. Ia sama sekali tak meminta wanita itu untuk masuk atau berbasa-basi ringan.
Akhirnya, yang Winda tunggu-tunggu kini menghampirinya juga.
"Masuk lah, Dek. Ngapain di pintu aja?" Ghava menggiring Winda, untuk melangkah ke dalam rumah tersebut.
Winda hanya tertunduk, sembari menyeimbangi langkah kaki suaminya.
Saat akan menaiki tangga, Ghava dan Winda berpapasan dengan Adi yang masuk dari pintu samping.
"Cek.....
......................
__ADS_1
Gimana perasaan kalian kalau jadi Winda?
Terus Kinasya kenapa sih?