Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS231. Lemas


__ADS_3

"Ghifar ke mana sih, Bang? Udah jam delapan malam, tak balik-balik dia. Tidur di rumah panggung kah?" Adinda merasa khawatir, karena anaknya tak memberi kabar apapun.


"Abang...." Adinda menggoyangkan lengan suaminya. Karena suaminya malah fokus pada ponselnya.


"Tengok!" Adi menunjuk layar ponselnya dengan senyum merekah.


"Apa itu?" Adinda tidak mengerti, dengan pesan chat yang suaminya tunjukkan.


"Kita prewed, Abang udah bilang temanya panen jagung." jawab Adi. Sepertinya ia benar-benar menginginkan hal itu.


"Ish..." Adinda memukul pundak suaminya, lalu duduk di kursi teras yang berada di sebelah suaminya.


Adinda memalingkan pandangannya ke arah pagar. Ia masih menunggu kehadiran Ghifar.


"Siapa itu, Bang?" Adinda menepuk-nepuk tangan suaminya. Untuk memperhatikan seseorang yang baru saja masuk ke halaman rumahnya.


"Heh...." Adi geleng-geleng kepala, melihat Zuhdi bertamu di malam hari seperti ini.


Zuhdi memahami kedatangannya cukup mengganggu. Karena ada aturan yang berlaku sejak dulu, tentang tamu dipersilahkan pulang jika sudah menginjak jam delapan malam.


"Giska nangis, Pah. Aku tak main-main, disangkanya ini itu." Zuhdi mencium punggung tangan Adi dan Adinda secara bergantian, dengan mengadukan hal tersebut.


"Ya tak malam-malam begini juga." tandas Adinda kemudian.


"Telpon aja kau udah di depan gitu. Papah sama Mamah lagi nyantai, malas manggilin Giska buat kau." pinta Adi yang diangguki oleh Zuhdi.


"Di sini aja, ngobrolnya di luar." tambah Adinda yang dimengerti oleh Zuhdi.


Tak lama Giska muncul. Adi mengisyaratkan Zuhdi untuk berpindah ke bangku panjang, yang berada di bawah pohon mangga.


Ada lampu penerangan di dekat situ, Adi bisa melihat jelas aktivitas muda-mudi itu.


"Abang...." Adi menghela nafasnya, ia menghafal lafal dan nada suara tersebut.


"Apa lagi?" suara Adi terdengar seperti menangis bohong.


"Aku dicuekin terus! Awas aja kau!!!" Adinda menarik cuping telinga suaminya, lalu dirinya berlalu pergi.


"Ishhh... Betina satu ini!" gerutu Adi dengan memutar kepalanya mengikuti kepergian istrinya.


"Abang lagi, Abang lagi. Nampak jelas di mata ada di sampingnya. Abang-abangan terus, bikin gemes aja." lanjut Adi yang fokus kembali pada ponselnya.


"ABANG!!" Adinda berteriak dari dalam, untuk memanggil suaminya.


"Astaghfirullah al'adzim...." sorot mata kesalnya tak mampu disembunyikan.


"ADA, DEK. ABANG TAK JAUH." sahut Adi berseru.


"AKU MAU DIAJAK NGOBROL." teriakan Adinda terdengar kembali.


"Astaghfirullah al'adzim...." Adi hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"YA SINI!!!! KENAPA KAU MASUK? KAU NGAJAK NGOBROL APA BERANTEM?" ia sudah berada di ambang batas kesabarannya.


Adi tak memahami satu hal dari wanitanya. Adinda sering tidak jelas menurutnya. Meminta sesuatu, atau menginginkan sesuatu. Namun, berbalik dengan tindakannya.


Lebih tepatnya, Adi tak memahami sifat dasar wanita. Wanita marah, ingin dibujuk agar hubungannya kembali membaik. Bukan malah membiarkannya, untuk menenangkan pikirannya sendiri. Salah kaprah yang selalu Adi lakukan pada istrinya.


"PAH......."


Adi membuang nafasnya kembali, ia ingin mengeluarkan bentakannya sekarang.


"APA........." ucapan Adi terpangkas karena Icut muncul di hadapannya.


"Pah... Ghifar lemas di rumah panggung katanya. Kata kak Kin, suruh bawakan makanan sama minuman. Kak Kin mau ninggalin Ghifar sebentar, tapi takut gelap katanya." Icut terlihat cemas saat mengatakan hal itu.


"Hah?" Adi tak bisa mencerna itu semua.


"Ghifar lemas. Tak tidur, tapi tak pingsan juga. Dicek dari denyut nadinya atau apalah itu, katanya memang kondisi drop. Bawa makanan sama minuman, ke sana juga pakek mobil. Buat angkat badannya Ghifar." jelas Icut dengan terburu-buru.


"Kalau dia mau diangkut balik, buat apa bawa makanan sama minuman?" bukannya bergegas, Adi malah melemparkan pertanyaan kembali.


"Buat amunisi, biar ada tenaganya gitu loh. Mana tau bener-bener butuh asupan makanan." Icut ingin bertindak sendiri, dari pada harus menjelaskan semuanya pada ayahnya. Hanya saja, ia teringat akan Hamerra yang belum terlelap.


"Ya udah, bawakan roti atau apa. Sama air mineral." pinta Adi pada Icut.


"Ehh..."


"Satu lagi." Adi terlihat seperti ragu-ragu.


"Ya, Pah." Icut berlari kecil, untuk mengambilkan barang-barang yang ayahnya minta.


"ABANG!!!" lagi-lagi, Adinda meneriaki suaminya.


Adi bangkit dari duduknya, lalu ia menghadap pada pintu rumahnya.


"ABANG CARI JANDA DULU, DEK. KAU TERLALU BERISIK!!!" ia kesal, jika Adinda tengah menampakkan sifat yang seperti ini.


Blughhh.....


Bantingan pintu, terdengar sampai ke telinga Adi.


"KUATIN, DEK. JANGANKAN GANTI PINTU. GANTI....." Adi tak berani melanjutkan kalimatnya, itu haram untuknya. Cepat-cepat ia membungkam mulutnya sendiri, saat dirinya tersadar karena akan mengucapkan kalimat yang fatal.


"Untung-untung." Adi mengusap mulutnya sendiri, dengan melangkah ke arah garasi rumahnya.


Saat Adi mengeluarkan mobil, Givan telah bersiap dengan plastik hitam.


"Apa itu?" tanya Adi dengan menurunkan kaca jendela mobilnya.


"Roti sama air mineral." jawab Ghifar dengan masuk ke dalam mobil.


"Di...." Adi menoleh pada Zuhdi dan Giska yang tengah memperhatikannya.

__ADS_1


"Giska, kau masuklah dulu! Kau ikut Papah sebentar, Di!" pinta Adi pada dua sejoli tersebut.


Zuhdi mengangguk, dengan Giska yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Adi teringat akan bobot tubuh Ghifar, yang cukup membuat nyeri di pinggangnya. Ia tak menyanggupi, jika mengangkat putranya tanpa bantuan orang lain.


"Van... Kok Kin bisa ada di rumah panggung?" Adi terheran-heran dengan laporan dari Icut tadi.


"Sore tadi, Kin minta aku jemput. Tapi aku lembur sampek jam lima tadi. Bareng aku sama Zuhdi lemburnya." Givan tak mengetahui hal yang lebih dari itu.


"Masa Kin dari sore tak pulang ke kontrakan? Aneh betul. Kin ini kan, biasanya balik kerja langsung balik ke kontrakan. Lepas maghrib datang, makan, ngobrol, nyemil-nyemil. Lepas isya olahraga di tempat gym, jam sembilan selesai, dia langsung pamit balik ke kontrakan. Rutin dia begitu. Kok bisa jam delapan masih di tempat Ghifar aja? Minta jemput Ghifar kah dia?" diam-diam, Adi memperhatikan aktivitas orang-orang di rumahnya. Bahkan ia sampai menghafal waktunya.


"Mungkin bantuin Ghifar beres-beres." pikiran mereka tidak ada yang ke arah negatif. Mereka menganggap, bahwa Kinasya adalah bagian dari keluarganya.


Mereka sampai di depan bangunan kayu tersebut. Motor Ghifar masih berada di luar rumah panggung itu, dengan sendal Ghifar yang berada di salah satu anak tangga.


Seperti tak ada aktivitas manusia, lampu rumah itu tak ada yang menyala.


Adi dan Givan, sampai menyalakan senter dalam ponselnya.


"Kin... Far...." Adi memanggil nama anak-anaknya.


"Di kamar, Pah." Kinasya menyahutinya.


Benar saja, lampu kamar itu menyala. Terlihat Ghifar tengah terbaring, dengan Kinasya duduk di sampingnya.


"Kau nangis?" Adi menyadari bekas air mata di wajah Kinasya.


"Aku khawatir, Pah. Mana di luar gelap, aku takut. Mau pergi, tapi takut. Masa Ghifar lagi ngumpulin nyawa, aku tinggalin sendirian." bibir Kinasya tertarik ke bawah kembali.


"Far..." Givan mendekati adiknya.


"Hmmm." Ghifar menyahuti, tetapi ia tidak membuka matanya.


"Nih, minum. Ada roti juga. Kalau memang lapar, balik lah. Beres-beres gampang dilanjut nanti." Givan membuka isi dalam plastik hitamnya.


"Tak lapar, Bang. Tak tau kenapa, badan aku lemes betul." suara Ghifar tak membohongi keadaannya.


"Coba bantuin Ghifar bangun, Di!" pinta Adi, pada calon menantunya.


Zuhdi langsung bertindak, begitu mendapat perintah dari Adi.


Mata Adi menangkap sesuatu. Kaos putih milik Ghifar tergeletak di dekat Kinasya. Namun, bukan itu yang menarik perhatiannya. Tetapi, noda merah seperti bekas darah.


Ia teringat akan pernyataan Ghifar yang pernah mengatakan, bahwa dirinya akan mimisan jika menahan h*sratnya.


Namun.....


......................


Biar puas bacanya 😅

__ADS_1


__ADS_2