Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS165. Obrolan yang seru


__ADS_3

"Ya Allah, aku sama bang Haris ketawa ngakak berdua. Sepolos itu sama bang Haris, mana udah nikah lagi. Kau tau tak lagi, Din? Yang ajarin bang Haris, minta aku buat e*ut, itu Adi loh. Sialan memang bujang Adi itu, ngajarin begituan ke yang udah nikah. Bang Haris kan dari pesantren, jadi **** itu caranya ya Islam betul. Dia tak pernah tuh j*lat aku sebelumnya, aku pun tak diminta buat e*ut dia. Lampunya selalu mati, selalu di balik selimut. Ehh, pas Adi ajarin ke bang Haris. Bang Haris sampek kontrakan, langsung minta praktek sama aku." tawa Sukma begitu lepas terdengar, terlihat ia sangat bahagia membayangkan masa-masa awal bersama Haris dulu.


Adinda memeluk perutnya sendiri, karena tawanya ia coba tahan-tahan agar tak terlalu kencang terdengar.


"Adi nyaranin ke bang Haris lagi, coba k*ndom yang neon, bisa nyala di gelap. Jadi kek mainan pedang thor katanya, Din." aduan Sukma, kembali mengundang tawa.


"K*ndom yang rasa buah pun, itu Adi gunain buat die*ut pasangannya. Jadi Adi tuh, nyimpen k*ndom tuh tak cuma satu biji. Seumur-umur aku baru ngenal kawan, yang berzina pun pakek pertimbangan matang. Tak nyangka aku, Adi ternyata malah sama kau." di akhir kalimat, Sukma menggelengkan kepalanya.


"Pas aku ngerasain berzina sendiri, sama adik sepupu suami kau itu. Deg-degan, takut hamil, takut ketahuan orang, mana kan, Safar langsung kabur tak ada kabar. Sampek nekat aku datangin rumah kau, buat ngelabrak Safar." ungkap Sukma lirih, yang membuat Adinda cekikikan sendiri.


"Iya, iya. Aku pun masih ingat masa itu, kau frustasi betul dari wajah kau." timpal Adinda kemudian.


"Betul aku takut hamil, soalnya seumur-umur aku baru ngerasain zina. Sama bang Haris kan, aku pacaran sehat aja. Waktu lepas kejadian sama Safar itu, aku macam gadis yang terenggut keperawanannya. Aku galau, Din. Ngelamun aja aku, mana kan nyeri juga li*ng. Keknya keturunan keluarga besar Adi, punya barang besar-besar deh. P*nis, dada, itu kan genetik, biasanya keturunan mempengaruhi besar kecilnya. Aku janda, udah pernah ngeluarin anak satu lewat jalan lahir normal, otomatis kan udah ngeregang itu jalan lahir. Masa dimasuki bujang sekali aja, sampek nyeri ke leher rahim. Perasaan sakit, linu, pinggul sakit, sampek tak bisa BAB beberapa hari, padahal lewat jalan lahir, bukan jalan kotor." ujar Sukma, membuat Adinda mengingat lagi saat malam pertama dengan suaminya.


"Aku pun sama, penuh betul rasanya. Pas bang Adi mau masuk, aku mundur lagi. Yang awalnya aku minat, berakhir jadi takut. Perih betul di bagian mulutnya tuh ya? Padahal bang Adi udah berkali-kali j*lat, biar basah, biar otot bawah aku tak tegang, rileks gitu kan? Soalnya waktu malam pertamaan itu, aku belum pernah persiapan, bang Adi belum punya lubricant kalau tak salah ingat." tutur Adinda, membuat obrolan dewasa tersebut semakin mengasyikan. Untungnya, si bungsu tengah anteng dan fokus pada tontonanya dan jajanannya.


Sukma mengangguk beberapa kali, "Iya bener, Din. Diameternya itu, bikin takut. Perasaan dulu aku sama bang Haris, tak sampek begitu. Ya memang, pas diperawanin setelah beberapa jam akad nikah itu. Aku sampek gigit bahunya bang Haris, karena sakitnya macam disodok pakek kayu. Padahal, bang Haris kan standar Indonesia itu. Paling panjangnya sepuluh centi, diameternya paling segini." tukas Sukma, membuat lingkaran dengan telunjuk dan jempol tangannya.


Adinda mengangguk, tanda dirinya memahami maksud Sukma.


"Aku sama papahnya Givan, tak bisa masuk full. Dia lebih ke panjang, kalau besar cuma helmnya aja." ucap Adinda, membuat Sukma mengerutkan keningnya.


"Panjang kali kah? Sampek tak bisa masuk full?" sahut Sukma keheranan.


"Keknya, tapi panjangnya memang lebih dari punya bang Adi. Bang Adi memang panjang juga, tapi seukuran sama besarnya. Mentok juga, sama sakit juga kalau dipentokin." balas Adinda, Sukma yang sesama perempuan pasti mengerti maksud yang Adinda rasakan.


Adinda dan Sukma menoleh ke arah si bungsu, yang menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Telunjuk Gibran terulur, menunjuk ke arah pintu kamar yang menampilkan seseorang dengan menaruh telunjuknya di depan bibirnya.


Adi tersenyum dengan lirikan mautnya, saat Adinda dan Sukma menoleh ke arah pintu kamar.


Adinda langsung menutupi wajahnya dengan bantal, saat mendapati suaminya ternyata tengah berada di ambang pintu.


"Mulutnya udah loose!" maki Adi, membuat Adinda dan Sukma tertawa bersama.


"Yuk balik, Dek." Adi beralih menatap anaknya yang masih duduk di sofa kamar. Ia melambaikan tangannya pada anaknya, agar anak itu menurutinya.


Saat Gibran berjalan ke arahnya, dengan pakaian batik taman kanak-kanak yang masih melekat pada tubuhnya, Adi langsung mengarahkan pandangannya pada istrinya.


"Yuk balik. Udah mau makan siang nih, tak ada makanan di rumah." ajak Adi kemudian.


Adinda mengangguk, kemudian menggapai kunci motor dan tas gendong anaknya.


"Adek sama Mamah apa Papah?" tanya Adi pada anak bungsunya, yang jemarinya ia genggam.


"Papah naik apa?" suara lucu Gibran, begitu menggelitik perut.


"Naik... Sepeda. Mamah naik motor itu." Adi menunjuk sepeda gunung miliknya, beralih menunjuk pada sepeda motor terbaru milik istrinya.


Motor matic masa kini, dengan berbodi mirip vespa yang menarik perhatian Adinda sejak mereka berada di dealer motor.


"Aku sama Papah." putus Gibran yang langsung diangguki oleh Adi.


"DIN... NANTI DULU! INI BAWA MASAKAN!!" seru ibu mertua Sukma, yang berjalan cepat ke arah teras rumahnya.

__ADS_1


"Abang duluan aja." pinta Adinda, yang diangguki oleh Adi.


Adi bergegas menuju sepeda gunung miliknya, dengan langsung menaruh Gibran di rangka sepeda. Ia perlahan keluar dari pekarangan rumah bibinya, dengan anaknya yang berpegangan pada lehernya.


~


Adi seperti orang bodoh, saat menyaksikan istrinya tengah menyajikan makanan yang terbungkus plastik.


"Makan bakso? Lauk dari mak cek mana? Adek tak mau motong-motong sayur kah? Masak tumis apa atau apa gitu?" tanya Adi kemudian.


"Aku lagi males." jawabnya, yang mendapat anggukan pasrah dari Adi.


"Besar sekali, perasaan kek pentolnya banyak kali." komentar Adi kembali, saat melihat bakso yang tersaji di mangkuknya.


"Ini aku punya, pasti setengah porsi." ujar anak kelas tiga SD tersebut.


"Satu porsi, Gibran juga satu porsi. Mamah sama Papah dua porsi hemat." ungkap Adinda, anaknya langsung melahap makanan berkuah tersebut.


"Kok porsi hemat malah lebih banyak." tanya Adi, yang masih enggan memakan bakso yang memiliki pentol lebih banyak dari pada mie.


"Hemat plastik. Dua porsi, aku satukan. Biar romantis." jawab Adinda dengan cengengesan.


Adi menjatuhkan rahangnya, mendengar penuturan istrinya.


"Hmmm... Abis banding-bandingin Adi's bird Abang sama punya Mahendra, malah ngajakin romantisan." sindir Adi yang membuat Adinda malu sendiri.


"Aku tak dibelikan...." suara menurun seseorang, yang baru keluar dari kamar dengan penampilan urakan nan terlihat menggoda.

__ADS_1


......................


__ADS_2