Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS215. Membujuk Ghifar


__ADS_3

Adi muncul di ambang pintu, ia menoleh ke arah dua anak muda yang duduk di teras belakang tersebut.


"Ketahuan bujang langsung pepet aja, Kin." cetus Adi, langsung digelengi cepat oleh Kinasya.


"Ihh, apaan sih Papah?!" tiba-tiba Adi teringat akan ucapan Kinasya, yang mengatakan bahwa dirinya tak ingin menikah. Karena takut malu, jika orang-orang mengetahui bahwa nashabnya mengikuti ibunya.


"Bantuin mamah tuh. Ada umi kau datang sama mertuanya. Disuruh mamah beli kue tadi sih. Gih, coba datangin mamah." pinta Adi dengan berjalan ke arah Kinasya.


Kinasya segera bangkit, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Adi menggantikan Kinasya duduk di kursi yang sama. Kemudian tangannya terulur untuk mengusap kepala anaknya.


"Tak usah minta aku buat berobat."


Adi hanya bisa menghela nafasnya, mendengar ucapan anaknya barusan. Ghifar sudah menolak lebih dulu, sebelum mendengar perintahnya.


"Perjaka kan?" Ghifar mengangguk cepat, menanggapi ucapan ayahnya. Ia benar-benar tidak pernah masuk ke l*bang manapun.


"Tak pengen kah nikmati perempuan? Punya tujuan hidup, nikah, punya anak. Besarin anak, menuhin tanggung jawab kau ke istri ke anak. Ditangisi anak, diteriaki istri." Ghifar terdiam, masih menyimak ucapan ayahnya.


"Mau Ahya, kalau kau udah sehat, Papah lamarin. Kan bagus tuh Ahya badannya, macam bentuk badan tante Sukma, dadanya lebih besar." Ghifar tersenyum samar, mendengar lanjutan ucapan ayahnya.


"Tak, Pah. Ahya tuh tergila-gila sama Zuhdi. Tapi dirinya masih sama Ikram." Adi mengernyitkan dahinya, anak muda zaman sekarang penuh drama menurutnya. Jika memang sudah tidak suka, ya lebih baik diselesaikan. Ia malah berpikir, Ahya sudah habis karena Ikram. Karena di satu sisi dirinya mengejar egonya, di sisi lain dirinya mempertahankan seseorang yang akan menikahinya.


"Masyik Handa bilang, kau ciumi Ahya di kamarnya." tentu saja kabar itu akan sampai ke telinga Adi, karena bibinya tak terima dengan perlakuan Ghifar pada cucunya.


"Iya, aku gurau aja. Tapi malah dibilang, kau udah punya istri. Kesel aku, tak pernah aku main ke sana lagi." sahut Ghifar kemudian.


Adi terkekeh samar, Ghifar menganggap hal itu adalah gurauan. Padahal mereka sudah sama-sama dewasa.


"Yuk, sama Papah kah berobatnya?" Adi kembali berbicara mengenai tujuannya. Ia memahami, Kinasya gagal membujuk Ghifar dari penolakan Ghifar tadi.


"Tak usah, Pah." Ghifar memperjelas setiap kata dalam kalimatnya.


"Huh...." helaan nafas Adi berat terdengar. Ia tidak bisa memaksa anaknya.


Ia kembali masuk ke dalam. Membiarkan Ghifar termenung sendirian. Ia ingin, Ghifar kembali memikirkan tentang pengobatannya.

__ADS_1


~


Sore hari itu, Zuhdi berkunjung ke rumah mantan tunangannya yang akan menjadi istrinya.


Ia membawa beberapa kilo buah, yang dititipkan oleh ibunya.


Ia tersenyum ramah, pada semua orang yang berada di teras rumah itu. Sayangnya, ia tak mengenali orang-orang itu. Ia hanya mengenal istri temannya saja, Canda.


"Masuk aja, Bang. Lagi pada mandi sholat tadi sih." Canda bangkit, kemudian mempersilahkan Zuhdi untuk masuk.


Saat Zuhdi menginjak ruang tamu mewah tersebut, yang ia lihat pertama kali adalah beberapa buah yang tersaji penuh di ruangan itu.


Ia melupakan sesuatu, yaitu tentang adik-adik Giska yang bersunat. Zuhdi sudah mendengar hal itu dari Giska lewat chat. Harusnya ia membawa sesuatu, untuk calon adik-adik iparnya.


"Mah, na..." seru Canda tak berlanjut, karena ibu mertuanya ternyata berada di ruang keluarga menemani para pejuang sunat itu.


"Ya, nanti. Papah lagi sholat." ujar Adinda, ia tengah mengipasi anak-anak mereka setelah membersihkan diri. Karena Gavin dan Gibran mengatakan bahwa intinya perih, karena terguyur air hangat untuk mandi mereka.


Canda berbalik ke ruang tamu, ia berniat mempersilahkan Zuhdi untuk duduk terlebih dahulu.


Namun,


Ghifar menoleh sekilas pada Canda, kemudian ia meluruskan pandangannya kembali.


"Eh, Bang. Duduk aja." Zuhdi dan Ghifar berjabat tangan sebentar.


"Ya, Far." sahut Zuhdi dengan tersenyum ramah.


Ghifar tengah direpotkan mengurus Tika dan Yoka, mereka mengatakan untuk menginap beberapa hari di kediaman orang tua Fira. Memang kediaman baru orang tua Fira, masih satu daerah dengan Ghifar. Hanya saja, banyaknya ladang membuat perjalanan terasa jauh.


"Berapa hari?" Ghifar mendekati para wanita yang tengah duduk, dengan menikmati buah yang dicocol sambel yang memiliki cita rasa masam.


"Paling satu minggu, Bang. Rencananya minggu depan aku mau balik ke Bali, udah sebulan nih belum pembukuan. Entah kenapa, aku tak tenang aja kalau tak tengok sendiri." Fira yang menjawab pertanyaan Ghifar barusan.


"Aku juga ikut balik ke Bali, Bli." tambah Tika kemudian.


"Pendidikan kau juga mau lanjut secepatnya kah, Yok?" Ghifar menghadap Yoka yang masih anteng menikmati potongan buah, buah tangan dari para tetangga yang menengok keadaan para pejuang sunat.

__ADS_1


"Ya, Bli. Kalau kamu ada uang. Tapi kalau gak ada uang, aku kerja di butiknya kak Fira aja." sahutnya meninggal potongan buahnya sejenak.


"Ada, udah panen ladang kopi aku. Udah dipotong sama papah juga. Tapi bertahap aja ya, Yok. Aku tak bisa nih langsung bayarin banyak, mungkin perbulan aku selesaikan." terang Ghifar, ia tak enak hati pada Yoka sebenarnya. Hanya saja, ia merasa tidak mampu jika harus langsung menyelesaikan pembayaran pendidikan Yoka.


"Ya, Bli. Tak apa." sahut Yoka kemudian. Ia pun sama tak enak hatinya. Namun, Ghifar sudah berjanji akan hal ini sebelumnya.


"Ya udah, gih siap-siap. Pakai baju gamis, kerudung jangan sampek lepas. Aku salut sama kalian, toleransi kalian bagus." Ghifar menepuk pundak dua wanita itu bergantian.


Yoka dan Tika mengangguk, Ghifar luar biasa mengurus mereka.


"Obat, alat bantu nafasnya jangan sampek ketinggalan. Jaga diri, sayangi nyawa kalian." ujar Ghifar dengan bangkit berdiri.


"Kenapa sih kau sering betul ngomong kek gitu sama Yoka sama Tika, Bang?" Fira mendongakan kepalanya, untuk melihat wajah Ghifar.


"Kalau mereka tak punya umur panjang, aku tak tau prosesi penguburan mereka." Yoka dan Tika melebarkan matanya, kemudian menarik bulu kaki Ghifar.


Tawa Ghifar dan Fira pecah, percayalah mereka hanya bergurau.


"Gurau, Sayang."


"Gih, cepet-cepet. Nanti kemalaman di jalan." pinta Ghifar kemudian.


Ia berbalik badan, ia langsung berpapasan dengan Ghavi yang sudah rapih. Ia lama tak bekerja, ia hanya pulang dan pergi untuk kuliah saja. Setelah mendapat teguran dari kakaknya.


"Vi... Anterin ke desa sebelah." Ghavi langsung menoleh. Ia sedikit geram, karena kembali disuruh untuk pergi. Padahal dirinya baru sampai satu jam yang lalu.


"Bentar, Vi. Meutuah agam, nurut nih disuruh Abang." Ghifar tersenyum kuda, dengan memasang wajah penuh harapnya.


Ghavi membuang nafas gusar, kembali dirinya disuruh oleh kakaknya.


"Ya udah, ya udah. Sini buat beli bensinnya, aku tak mau ngeluarin uang." terlihat dari raut wajahnya, Ghavi begitu terpaksa.


"Ok, siap. Abang lebihkan buat beli rokok kau juga." Ghifar langsung merogoh kocek, untuk pegangan Ghavi.


"Tinggal dulu, Far. Sini dulu ngobrol." perintah ayahnya, yang muncul dari pintu utama tersebut.


......................

__ADS_1


Enak ya punya abang kek Ghifar, uangnya gak alot 😆


__ADS_2