
"Udah besar, Bu. Udah sebelas minggu." ungkap dokter tersebut.
Givan merasa terharu, melihat benihnya tumbuh di rahim istrinya.
"Hmmm...." dokter tersebut memperhatikan gambaran dan keterangan yang ada.
"Bagus semua, alhamdulilah."
Canda dan Givan mengucap syukur dalam hati. Mereka cukup was-was, karena janinnya tumbuh tanpa vitamin penunjang untuk Canda.
Givan teringat akan tuduhannya pada adiknya. Ghifar baru satu bulan lebih, sedangkan Canda sudah mengandung sebelas minggu. Tuduhannya sangatlah salah, jelas jaraknya terlalu jauh jika Ghifar menghamili Canda.
"Tuh, dia bergerak." dokter memperjelas gambar yang timbul di monitor yang tergantung tersebut.
"Mari, Bu. Saya resepkan vitaminnya." dokter tersebut memberikan beberapa helai tisu pada Canda.
Setelah Canda dan Givan keluar. Berganti nama Tika disebutkan, mereka bergantian untuk masuk ke ruangan dokter tersebut.
Langit sudah gelap, saat Ghifar dan Tika sampai di rumah.
"Ada tamu, Bli." Tika menggandeng tangan Ghifar, saat melangkah masuk ke dalam rumah.
"Iya." Ghifar juga tak mengetahui siapa tamu tersebut.
Saat mereka sampai di ruang tamu pun, Ghifar tetap tak mengenal tamu tersebut.
Namun, terlihat kedua orang tuanya tengah membahas hal serius dengan kedua tamu itu.
"Disegerakan aja, Teungku." suara tersebut penuh harap.
Ghifar tidak ikut bergabung dengan tamu itu. Ia langsung naik ke lantai atas, setelah mengantar Tika sampai di kamar tamu yang Tika tempati.
"Katanya mesti serba seratus, sekarang minta siploh aja." Adinda tak habis pikir dengan pak Tarmidzi.
__ADS_1
"Anaknya maksa, Bu." tambah ibu Zubaidah.
Mereka menurunkan gengsinya, agar bisa berbesan dengan juragan tersebut.
Mau bagaimana lagi? Jika anaknya tidak jadi menikah dengan Ghava, maka anaknya yang merugi dan menanggung malu.
"Ya udah. Jadi maunya kapan?" Adi memperhatikan kedua tamunya.
"Bulan depan kalau bisa, Teungku." jawab pak Tarmidzi mantap.
"Giska juga mau menikah, rencananya pun bulan depan juga." pak Tarmidzi dan ibu Zubaidah seperti kaget mendengar kabar itu.
"Jadi, kalau mau... Ghava menikah lebih dulu, karena dia kakaknya Giska." lanjut Adi kemudian.
Dari suaranya, sepertinya suasana hati sang juragan tengah damai.
"Tapi, Teungku. Prosesi adat pinangan di daerah ini cukup panjang." ibu Zubaidah merasa waktu mereka tidak akan cukup, jika anaknya dan Ghava menikah kurang dari satu bulan lagi.
"Kalau mau ikut prosesi daerah ini, siri aja dulu ya? Lepas acara Giska rampung, baru kami pikirkan untuk prosesi pinangan Winda." negosiasi Adinda cukup unik.
"Tapi di sini, nikah siri masih sering dilakukan sebelum prosesi. Nikahnya dua kali gitu, Bang." Adinda memperjelas maksud negosiasinya.
"Entah lah! Abang tak percaya sama anak-anak Abang. Papahnya aja begini, kek mana anaknya coba? Kan gitu kan?" Adinda menyetujui fakta yang suaminya ungkapan.
"Jadi kek mana, Teungku?" pak Tarmidzi menunggu keputusan Adi selanjutnya.
Adi terlihat seperti berpikir keras, "Rencananya Giska langsung malam inai, akad, terus sanding pelaminan aja. Barulah acara di rumah orang tuanya Zuhdi, tueng dara baro. Modernan lah ibarat kata. Winda mau kah, kalau kek gitu aja?" Adi membocorkan tentang hari bahagia anaknya, pada calon besannya tersebut.
"Kenapa dek Giska terlalu buru-buru, Teungku? Apa udah mengandung?" mulut ibu Zubaidah begitu tidak sopan.
Banyak hal yang menjadi alasan Adinda dan Adi kurang menyukai Winda dan keluarganya. Bukan ia ingin dihormati, dibedakan kastanya. Hanya saja, ia hanya ingin saling menghormati dan menghargai. Seperti dirinya dan pihak dari keluarga Zuhdi.
"Buru-buru apanya? Ba ranub, ba tanda kan udah. Keluarga Zuhdi udah ada ngelamar, terus ngadain tunangan tiga tahun lalu itu. Cuma memang, udah tiba di janjinya Zuhdi pas tunangan. Bahwa dia mau nikahin Giska, tiga tahun berikutnya." jelas Adi mencoba tenang.
__ADS_1
Ibu Zubaidah tersenyum canggung, ia merasa tidak enak telah melontarkan pertanyaan itu.
"Kalau kata aku sih, satu atau dua minggu lagi. Langsung akad aja, terus sanding pelaminan. Setelah tiga hari, kita di sini buat acara tueng dara baro. Sederhana aja, karena kami pun lagi repot karena deket dengan acara sebar undangan pernikahannya Giska." usul Adinda, untuk menengahi suasana yang tidak menyenangkan itu.
"Tapi... Kita pengen ngadain pesta yang lumayan besar. Ini hajat pertama kami, tak mungkin kalau kami tak mengundang banyak orang."
'Banyak maunya!' Adi memaki kedua tamunya dalam hati.
"Atur aja, Pak. Saya cuma nyiapin jeulame siploh mayam, sama uang hangus sepuluh juta." ungkapan Adi tersebut, tentu saja membuat tamunya begitu syok.
"Saya cuma bilang jeulame siploh mayam. Bukan uang hangusnya juga." tegas pak Tarmidzi dengan nada naik satu oktaf.
"Diskusi kita perlu waktu, Pak. Kalau memang mau segera nikah, kita sirikan dulu Winda. Mau tak mau, karena acara Giska tak bisa ditunda lagi. Persiapan udah matang, segala sesuatu sudah disediakan." putus Adinda, yang membuat Adi geleng-geleng kepala.
"Tapi, Bu. Kalau siri, kita resmikannya juga lewat pengadilan." pak Tarmidzi sebenarnya tak menyetujui usulan itu.
"Saya pengalaman, Pak. Tak serumit yang Bapak kira. Memang harus ada pihak dari pengadilan agama, namanya itsbat pernikahan. Tapi itu bisa diatur, persis mirip pernikahan bujang dan perawan. Asal kita berani uangnya." jelas Adinda kemudian.
"Gimana?"
"Kalau memang Bapak sama Ibu pengennya meriah dan cepet-cepet, ya silahkan cari yang lain aja. Biar Ghava tak dilangkahi, lebih baik kan dia diutamakan. Tapi mepet nih waktunya, jadi harus dilakukan buru-buru. Yang namanya buru-buru itu, kurang perencanaan. Ada benarnya juga istri saya bilang, untuk disirikan dulu." Adi berbicara dengan perlahan, agar mereka mau memahami situasi dan kondisi mereka saat ini.
"Baru, setelah rampung acara Giska. Kita rencanakan tuh itsbat pernikahan anak-anak kita. Kami pun sama, Pak. Pengen anak kita punya kesan di pernikahannya. Tapi memang... Aku tak suka yang terlalu meriah. Misalkan tueng dara baro juga, aku tak mau terlalu banyak pihak dari Anda. Pas tueng linto baro, silahkan tuh undang semua orang yang kalian kenal. Nanti pas acara tueng dara baro, barulah kami mengundang sanak keluarga kami, buat datang ke pesta tueng dara baro si Winda." lanjut Adi kemudian.
"Tapi... Saya mau, undangan Anda datangnya ke acara tueng linto baro." Adinda sampai tersedak nyamuk, mendengar penuturan ibu Zubaidah.
"Ekhmmm..." Adinda coba mengenyahkan nyamuk yang masuk ke hidungnya.
"Ini masalahnya tentang ampau ya, Bu? Biar kerabat kami, masukin ke tong kalian semua ya?" tak diragukan lagi mulut tajam Adinda.
"Kami lepas punya hajat Giska nanti, Bu. Tak mungkin orang ramai datang kembali ke hajat kami, lepas pesta dari Giska. Satu tahun dua kali hajat itu, itu rawan amplop kosong Bu." Adinda menjeda ucapannya sejenak.
"Lagi pulak.... Saya dan suami, tak berniat mengundang banyak orang. Cuma sanak saudara, tetangga yang berdekatan juga." Adinda terus menerus menyambungkan kalimatnya.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud saya, Bu. Tapi.......
......................