
"Mati lemas pun aku rela. Asal bisa naburin benih di rahim kau." bualan Ghifar begitu geli didengar Kinasya.
Mereka terkekeh berdua, kemudian saling memeluk satu sama lain.
"Aku laki-laki yang keberapa? Yang bebas jamah kau kek gini." tangan Ghifar bergeliya di sekitar pinggang Kinasya, yang masih terlapisi pakaian.
Kinasya teringat akan tujuannya. Jika ia harus jujur, ia takut terbawa perasaan dengan misinya.
Ia teringat akan kebenaran bahwa dirinya adalah anak hasil zina. Ia malu jika harus menikah, dengan nashabnya yang disebut jelas. Tapi, ia lebih malu jika melahirkan kembali anak yang nashabnya mengikutinya.
"Aku perawan." aku Kinasya, agar Ghifar segan untuk bermain di intinya.
"Bohong." Ghifar menyangga tubuhnya dengan sikunya.
"Aku memang perawan, belum pernah masukin sesuatu apapun ke milik aku." jelas Kinasya dengan mengusap rahang Ghifar.
"Aku mau liat." lubang hidung Kinasya mekar, jelas ia akan malu sekali jika mempertontonkan miliknya.
"Pungo!" Kinasya menarik hidung besar Ghifar.
Ghifar hanya tersenyum lebar. Namun, tak disangka. Tangannya malah menyibakkan daster Kinasya.
"Aku mau coba j*lat." Ghifar berlutut, dengan membuka kaki Kinasya.
"Heh...." Kinasya coba menutupi intinya, karena dasternya tersingkap cukup tinggi.
"Diem!" Ghifar menahan kedua kaki Kinasya, yang coba memberontak atas keinginannya.
Kinasya menghela nafasnya. Harga dirinya benar-benar diinjak-injak, hanya untuk misi menyembuhkan adik angkatnya.
"Tapi jangan masukin jari kau." Kinasya memberinya peringatan keras.
Ia tetap ingin mempertahankan selaput darahnya, yang tak pernah dirobek oleh siapapun.
"Ok." sanggup Ghifar enteng.
Ucapan Ghifar tak bisa menjamin apapun.
Tangannya meraba paha mulus, yang memiliki luka bekas bisul tersebut. Keminatannya mulai berkumpul, tetapi Ghifar masih terlihat tenang.
"Jangan lama-lama ditatap. Aku malu." sang empu menyuarakan protesnya.
Ghifar menarik karet hot pants yang bertengger di pinggang Kinasya, lalu ia menariknya perlahan dengan Kinasya mengangkat pinggulnya agar Ghifar lebih mudah untuk menariknya.
Pemandangan indah, langsung menyilaukan mata Ghifar. Garis yang menghangatkan, nampak jelas di depan matanya.
Cepat-cepat ia meloloskan hot pants yang mengganggu pemandangannya tersebut. Lalu, ia langsung melebarkan kembali kaki Kinasya.
"Aku tak mau inti aku kotor karena darah kau. Jadi... Kek manapun caranya. Kau tak boleh mimisan." Kinasya membiarkan Ghifar mengangumi keindahan surganya.
"Aku harus gimana?" tangannya merambat, lalu mengusap lembut kulit selang*angan Kinasya.
__ADS_1
"Rileks dan nikmati. Jangan tegang, jangan buru-buru." kembali Kinasya menanamkan hal itu pada Ghifar.
Kedua ibu jarinya berada di sebelah kanan dan kiri belahan tersebut, lalu ia menariknya berlainan arah.
Kinasya tak memahami, kenapa Ghifar mengukir senyum manisnya.
Hanya satu yang membuatnya tenang. Ghifar belum sembuh dan tak akan memasukinya.
"Serapat ini." telunjuknya menjejakkan di garis tengah itu.
"Jangan kau masukin!" Kinasya kembali memberi peringatan. Bertepatan dengan jari tengah Ghifar, yang berhenti tepat di goa yang mengintip sangat rapat tersebut.
"Aku penasaran." Ghifar menurunkan punggungnya, wajahnya semakin mendekat ke inti Kinasya.
"Kenapa putih kau serata ini? Mustahil selang*angan kinclong begini." hembusan nafas Ghifar bisa Kinasya rasakan.
"Bleaching area itu. Perawatan rutin aku mahal." Kinasya mencoba menyadarkan otaknya. Ia takut malah dirinya yang terlalu berharap Ghifar berbuat sesuatu.
Kinasya menggelinjang hebat, saat sapuan lidah Ghifar begitu lembut. Matanya terpejam, nalurinya membiarkan Ghifar memperlakukan intinya.
"Urat syaraf tak berkumpul di situ, Far. Coba kau cari barang yang menyerupai isi kacang tanah. Dia mengeras, itu titik sensitif perempuan. Aku juga... Bisa kl*maks dengan kau rangsang barang itu, tanpa kau masuki milik aku." Kinasya menjelaskan sesuatu hal dengan menyentuh tangan Ghifar.
Ghifar terdiam sejenak, mengurungkan aktivitasnya. Ia merasa bodoh, setelah mendengar penjelasan Kinasya. Ia malah menyerang surga terindah itu, bukannya kacang yang Kinasya maksud.
Ghifar menyibakkan kembali kulit itu, mencari keberadaan kacang yang Kinasya maksud.
"Ini kah?" Ghifar menggosoknya pelan.
Lidahnya terjulur, ia menyapukan lidahnya di kacang tersebut.
Matanya melirik ke atas, untuk melihat reaksi wajah Kinasya.
Ternyata Kinasya tengah menyumpal mulutnya dengan menggigit sebuah ujung bantal. Dadanya naik turun, seirama dengan nafasnya yang memburu.
Kinasya kalah, malah sekarang dirinya membutuhkan pelepasan seperti Ghifar saat di rumah panggung itu.
"Jangan, Far!" Kinasya mencekal tangan kanan Ghifar, karena ujung jari Ghifar bermain di permukaan goa yang rapat itu.
"Kenapa?" Ghifar mengangkat kepalanya sejenak. Menimbulkan rasa geli itu hilang seketika pada diri Kinasya.
Ia sedikit bernafas lega, serangan itu akhirnya enyah dari titik sensitifnya.
"Aku mau milik kau yang masuk, bukan jari kau!" otak warasnya masih berfungsi. Jelas itu tidak mungkin terjadi, karena keadaan Ghifar sekarang.
Ia cukup cerdas, untuk mempertahankan selaput darahnya.
Ghifar menarik celananya ke bawah. Memperlihatkan intinya, di tengah kaki Kinasya yang terbuka.
"Aku tak bisa." Kinasya bisa melihat raut kecewa dari Ghifar.
"Kau usahain. Kau tak bisa berdirikan itu, kau tak bakal bisa nikmati ini." Kinasya benar-benar menantang laki-laki yang lebih muda darinya itu.
__ADS_1
Ghifar mengarahkan sesuatu, ke permukaan kulit inti Kinasya.
Tubuhnya berpindah ke atas, menyibakkan daster Kinasya sampai terlepas dari tubuh Kinasya.
Kinasya tanpa sehelai benangpun, tubuhnya terekspos jelas di bawah Ghifar.
Mata Ghifar tak lepas dari gundukan bukit tinggi yang begitu kenyal tersebut.
Tangannya mengolah daging tersebut, seperti tengah membuat adonan kue.
Inti Kinasya bergesekan dengan daging menggantung milik Ghifar. Kinasya merasakan benda lembek itu, gesekannya cukup membuat Kinasya kegelian.
Lidah mereka saling melawan, tengah mengukur mana yang lebih kuat.
Ghifar kini sudah bisa menanggulangi kecemasannya. Otaknya sudah merekam, bahwa Kinasya menginginkannya. Wanita yang berada di bawahnya itu, berhasil membuat tenang psikis Ghifar.
"Akhhhhhh...." Kinasya memundurkan tubuhnya, saat merasakan sesuatu menusuk perlahan intinya.
Ia langsung duduk, kemudian matanya bergulir ke inti Ghifar.
Setengah tiang.
Ghifar tersenyum lebar, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Ia menarik kaki Kinasya, tetapi Kinasya kini beringsut ketakutan.
Ia memeluk sebuah bantal, yang otomatis menutup tubuh telan*angnya.
"Ayo lanjut." Ghifar maju untuk mendekati Kinasya kembali.
Kinasya meyakini bahwa misinya berhasil. Ghifar sudah sembuh sekarang.
Namun, sekarang dirinya terpojokkan. Buah simalakama untuknya.
Jika ia kabur, psikis Ghifar akan terganggu kembali. Tetapi, jika ia melanjutkannya. Mahkotanya akan terenggut sia-sia, oleh adik angkatnya.
"Ok, jangan buru-buru." Kinasya mencoba tenang.
Ia membaringkan tubuhnya kembali, dengan Ghifar yang langsung naik ke atasnya.
"Aku pengen ngerasain, Kak." Ghifar seperti memohon. Nafas mereka bisa dirasakan satu sama lain, karena wajah mereka terlalu dekat.
"Sabar, aku belum terang*ang. Aku bisa lecet, karena belum ngeluarin pelumas." jelas Kinasya dengan wajah tenangnya.
Ia bisa mengontrol dan menutupi sesuatu dalam dirinya. Itu adalah salah satu keahliannya, agar terlihat baik-baik saja.
"Aku harus gimana lagi?" Ghifar meminta petunjuk kembali, dari seseorang yang lebih pengalaman tersebut.
"Begini.......
......................
__ADS_1
Masa crazy up lagi 🤔 kan udah kemarin.. tapi nanggung betul 😩🤭