
"Pah... Tapi bang Adi bekas kak Ahya. Pasti dia udah macam-macam sama kak Ahya." ucap Giska dengan menunjuk kekasihnya.
Zuhdi menghela nafas beratnya, kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa. Adi dan Adinda hanya bisa geleng-geleng kepala, itu pembicaraan yang cukup sensitif menurut mereka. Apa lagi, itu menyangkut tentang privasi Ahya dan Zuhdi.
"Macam-macam apanya? Sama kau aja, Abang tak pernah ngapa-ngapain." celetuk Zuhdi, dengan kata kau yang terucap dari bibir tebalnya.
"Abang segan sama aku, karena derajat orang tua aku. Sama kak Ahya kan, mungkin Abang berani." sahut Giska, dengan Adi mengusap air mata anaknya.
"Abang laki-laki, Dek. Segan-segan seberapa, kalau udah pengen, kau juga bisa habis. Masalahnya ini tentang marwah perempuan, derajat perempuan di muliakan di provinsi kita. Kalau Abang kedapatan mesum sama kau, bisa jadi Abang dihukum kalau ketahuan orang. Syukur-syukur ketahuan keluarga, paling dinikahkan. Nah, kalau ketahuannya sama orang yang tak suka sama Abang. Bisa lebih berat hukuman yang Abang dapat nanti." ujar Zuhdi, yang membuat Adi tersindir.
"Nyatanya Abang macam mana sama kak Ahya?" tuduh Giska, yang membuat Zuhdi bingung. Ia tak mungkin membuka aibnya, pada keluarga calon mempelainya.
"Cium, *****, udah." aku Zuhdi lirih. Ia hanya menyebutkan garis besarnya saja, karena ia merasa amat malu mengakui kelakuannya dulu.
"Enam bulan sama kak Ahya, Abang berani kek gitu. Satu tahun lebih sama aku, Abang tak apa-apain aku." celetuk Giska, dengan Adi yang langsung menyentil mulut anaknya tersebut.
Adinda melebarkan matanya, kemudian melemparkan bantal sofa tepat mengenai wajah anaknya.
Rasanya Zuhdi ingin menghilang dari permukaan bumi saja, setelah mendengar pernyataan kekasihnya.
"Abang bekas orang!" tuduh Giska kembali, yang membuat Zuhdi ingin pulang saja.
"Nyari laki-laki yang mulus tanpa dosa, mau cari di mana Giska?" ucap Adinda, yang membuat perhatian tertuju ke arah ibu dari Giska tersebut.
"Kalau memang kau tak cocok sama Zuhdi, tak terima keadaan dia yang bekas kakak sepupu kau itu. Ya udah putus aja, tak usah banyak drama!" lanjut Adinda kesal, lalu dirinya berlalu pergi dari hadapan mereka semua.
Giska beralih memandang wajah ayahnya, "Pah..." panggil Giska, meminta perhatian dari ayahnya.
Adi melirik sekilas pada anaknya, lalu meregangkan ototnya. Kemudian bersandar pada sofa.
"Diomongin sama Zuhdinya. Kau tak terima, ya udah putus. Mau kek mana lagi coba? Papah aja dulu bujang, dapatnya janda anak satu. Papah terima itu, karena Papah cinta. Papah usahain nikahin mamah kau, Papah perjuangin kebahagiaan mamah kau sampek sekarang. Itu tergantung kau lagi, nerima nikah, tak terima, tinggal tinggalin. Jangan kebanyakan drama, jangan ngulur-ngulur waktu buat Zuhdi." ungkap Adi kemudian.
"Udah, Papah tinggal mandi dulu. Belum sholat maghrib juga." pamit Adi, dengan berdiri dari duduknya. Lalu ia melangkah menuju ke kamarnya.
"Jadi betul mau minta udahan?"
"Adek tak terima, ya udah Abang balik sama Ahya."
__ADS_1
"Mungkin, orang tua Ahya. Tak mungkin sampek minta setinggi itu mahar dan uangnya."
Ungkap Zuhdi beruntun, yang memang hanya untuk gertakan saja.
Giska pindah ke sebelah Zuhdi, kemudian memeluk lengan Zuhdi.
"Abang cinta tak sih sama aku?" ucap Giska memecahkan keheningan.
Zuhdi menoleh ke arah wanitanya, "Cinta! Makanya mau dinikahin." tegas Zuhdi kemudian.
"Lepas coba, Dek. Tak enak kalau diliat mamah atau yang lain." lanjut Zuhdi, dengan menggoyangkan tangannya.
"Tak ada orang. Bang Givan sama istrinya, sama yang kecil-kecil lagi jalan-jalan dari sore. Mungkin lagi pada main ke saudara. Mamah di belakang, papah mandi." ujar Giska, yang masih bertahan di lengan kekasihnya.
Zuhdi menyandarkan punggungnya pada sofa, "Jadi mau putus?" tanya Zuhdi ulang dengan melirik wanitanya.
"Tak mau aku, asal Abang minta maaf." jawab Giska manja.
"Minta maaf buat apa lagi?" tutur Zuhdi heran.
"Buat masalah tadi. Kan itu gara-gara Abang yang rese sama kak Ahya dulu." tukas Giska, yang membuat Zuhdi merasa kesal pada kekasihnya. Jelas, masalah itu bukan Zuhdi yang menciptakan.
"Tak mau tau, pokoknya Abang mesti minta maaf." sahut Giska memaksa.
Zuhdi menghela nafasnya, "Ya udah, Abang minta maaf." balas Zuhdi yang mendapat pukulan pelan di pahanya.
"Yang lembut, yang romantis." ujar Giska membuat Zuhdi ingin menggigit telinga wanitanya.
Zuhdi menggenggam tangan kiri kekasihnya, yang masih memeluk lengannya.
"Abang minta maaf ya? Tolong jangan diulangi lagi, soalnya Abang mau beureutoh." ungkap Zuhdi, lalu ia mencium tangan kiri kekasihnya.
Giska terkekeh geli, "Iya aku maafin." tuturnya kemudian.
"Udah sana sholat, Abang mau pulang." tukas Zuhdi, dengan menggeser posisi duduknya.
"Sebetulnya aku belum mandi, Bang." aku Giska yang membuat Zuhdi malah memberi jarak satu meter di antara mereka.
__ADS_1
Zuhdi menyumbat lubang hidungnya, "Pantes bau. Sana bersih-bersih, terus sholat. Jeulamenya tinggi, tak boleh bolong sholat." pinta Zuhdi, yang membuat Giska merasa malu.
"Ok, ok." jawab Giska, dengan membentuk huruf O antara jari telunjuk dan jempol tangannya.
"Panggil mamahnya, bilang Abang pamit balik gitu." ucap Zuhdi, yang diangguki oleh Giska. Lalu Giska melangkah masuk, untuk mencari keberadaan orang tuanya.
Terdengar suara Adinda yang tengah mengaji. Itu jarang sekali terjadi, karena Adinda selalu repot dengan kedua balitanya.
"Mah, bang Adi mau balik katanya." seru Giska, di depan pintu kamar orang tuanya.
"Ya, Dek. Mamah lagi ngulang bacaan." sahut Adi, yang mendengar ucapan anaknya.
"Jadi langsung aja kah, Pah?" balas Giska yang diiyakan oleh ayahnya.
"Bang... Katanya langsung aja. Mamah sama papah lagi ngaji." ujar Giska, setelah kembali ke hadapan kekasihnya.
Zuhdi bangkit dan berjalan ke arah kekasihnya, "Langsung begini kah?" tanya Zuhdi dengan mengecup cepat bibir Giska.
Giska melebarkan matanya, kemudian tangannya mengusap bibirnya yang basah karena saliva milik Zuhdi.
Zuhdi terkekeh kecil, melihat reaksi Giska yang begitu lucu menurutnya.
"Ihh, Abang rese! Harusnya bilang-bilang dulu, biar aku bisa siap-siap." ucap Giska dengan bibir mengerucut.
Zuhdi mengusap pelan kepala Giska, "Abang balik dulu ya? Jangan suka nangis lagi, malu Abang tengok Adek jelek betul macam tadi." ungkap Zuhdi yang diangguki oleh Giska.
"Udah ya, assalamualaikom." lanjut Zuhdi, dengan mengulurkan tangannya untuk Giska cium.
"Wa'alaikum salam." sahut Giska sembari mencium tangan Zuhdi.
Lalu Zuhdi berbalik badan dan melangkah ke luar dari rumah. Diikuti dengan Giska, yang memperhatikan Zuhdi sampai tak terlihat lagi.
Setelahnya, Giska langsung masuk ke dalam kamarnya. Berniat untuk membersihkan diri, lalu menunaikan sholat maghrib yang hampir habis batas waktunya.
......................
*Beureutoh, meledak.
__ADS_1
*Jeulame, mahar.