
Pagi telah tiba, dengan Adinda yang tengah bersantai di halaman belakang. Karena hari ini, adalah giliran Giska untuk membuatkan sarapan.
Tiba-tiba ponsel yang tengah Adinda mainkan, terdapat panggilan telepon.
"Apa, Bang? Aku di halaman belakang, lagi ngeteh sambil scroll sampek bawah." ucap Adinda kesal.
"Sini dulu ke kamar." pinta Adi dari seberang telepon.
"Aku udah mandi junub, udah sholat, udah olahraga di tempat gym. Sprai kamar pun udah aku ganti, tak ada bekas air Abang lagi di sprai itu. Jadi tolong biarkan aku bersantai sejenak, sebelum dua bungsu itu bangun." sangkal Adinda, yang bermaksud menolak untuk menghampiri suaminya di kamar.
"Ini tentang gadis kita." ujar Adi, dengan Adinda yang langsung berdiri dari duduknya dengan helaan nafas panjangnya.
Saat ia membuka pintu kamarnya, terlihat Icut tengah bersimpuh pada pangkuan Adi. Sesaat pandangan mata Adinda, yang sering menatap layar komputer menjadi blank. Karena posisinya, seperti yang ia lakukan untuk suaminya tadi malam. Namun, ia sadar. Suaminya tak akan seperti itu, apa lagi untuk gadis yang sudah dianggap anak dari kecil.
Adi melambaikan tangan pada Adinda, dengan Adinda yang mengangguk dan langsung menutup pintu kamarnya kembali.
"Kenapa, Cut?" tanya Adinda dengan duduk di tepian tempat tidur, persis di sebelah suaminya.
Adi menyodorkan barang, yang ia dapat dari anaknya barusan. Adinda langsung menerima barang tersebut, dengan memperhatikan garis yang terdapat di alat cek kehamilan tersebut.
Helaan nafas panjangnya terdengar kembali, "Udah telat berapa bulan? Yuk Mamah anter ke dokter." ucap Adinda kemudian.
"Dua bulan ini, Mah. Aku mau diapakan, Mah?" tanya Icut yang masih terisak. Ia mendongak, untuk melihat reaksi wajah ibunya.
"Ya priksa, USG, biar kau dapat vitamin, dapat penambah darah." jawab Adinda dengan menahan amarahnya.
Ia paham, jika semuanya sudah terlambat seperti ini. Tak ada lagi yang bisa dilakukan, kecuali ikhlas menerima kehadiran cucunya tersebut.
__ADS_1
"Maafin aku, Mah." tutur Icut dengan suara bergetar, dengan ia menggenggam tangan ibu sambungnya tersebut.
"Iya, gih siap-siap. Kita sarapan di luar aja nanti. Mamah mau makan… " tukas Adinda yang mendapat tepukan ringan di lengannya.
Adinda menoleh pada pelakunya, "Bisanya kau sesantai itu? Malah mikirin menu sarapan nanti!" sahut Adi dengan mata yang memerah.
Adinda memiliki dua kemungkinan di pikirannya. Suaminya menahan tangis haru, karena akan memiliki cucu? Atau karena ia menahan amarahnya, karena kekecewaannya pada Icut?
"Tolong jawab jujur pertanyaan aku, Bang. Abang terharu? Atau nahan marah?" tanya Adinda yang langsung mendapat tarikan di telinganya.
Adinda tertawa puas, dengan Icut yang menahan tawanya karena tingkah ibu sambungnya tersebut.
"Bek that seumike nyan, Bang hai. Ini kan udah terjadi, terus mau macam mana lagi?" jelas Adinda pada suaminya.
"Terus kau, Icut. Jangan harap kau dinikahkan setelah ini! Nikah pun tak ada faedahnya, sekalipun untuk nutupin aib keluarga. Karena orang-orang pasti bisa hitung sendiri, kau nikah baru berupa bulan, eh tiba-tiba melahirkan. Secara tak langsung, orang-orang tau, kalau kau ngandung sebelum nikah."
Ungkap Adinda yang membuat Icut menangis sesenggukan dalam pangkuannya.
"Dekkk…" panggil Adi dengan Adinda yang langsung memangkas ucapannya.
"Nashabnya tetap turun ke ibunya, si bayi binti Cut Naya Maulida. Terus buat apa mereka nikah? Apa lagi harus aku sama Abang yang datang ke laki-lakinya, sampek nangis-nangis buat minta pertanggung jawaban buat anaknya Icut. Tak, Bang. Aku malu kalau harus macam itu. Hamil di luar nikah, bukan berarti dia tak punya harga diri, apa lagi mesti ngemis-ngemis minta dinikahin. Kau jangan sampek macam itu, Cut. Tinggal kau bilang ke laki-laki kau, kau udah dua bulan ngandung anaknya. Urusan dia mau macam mana, biar dia suruh datang ke sini ngadep ke Mamah sama Papah. Coba Mamah mau tau laki-lakinya, dia bakal ngomong apa lepas nanti ketemu kalau memang berani datang." ucap Adinda yang membuat Adi menghela nafas.
"Adek tak kesel atau macam mana, Dek? Apa karena Icut bukan Giska, jadi Adek sesantai itu?" pertanyaan Adi yang seolah-olah tengah membandingkan anak tiri dan anak kandung dari Adinda.
"Kecewa pasti ada, Bang. Aku tak mau ngomong, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bukan aku tak mau nama keluarga baik Abang jadi tercoreng, masalahnya kita pun pernah mencoreng nama baik keluarga Abang meski dengan kasus yang beda. Tapi macam mana, kalau kejadian udah terlanjur macam ini? Abang mau mohon-mohon ke pihak laki-lakinya Icut? Yakin mau?"
"Gini aja deh. Sok Abang maunya macam mana?" tanya Adinda dengan memperhatikan wajah suaminya dari samping.
__ADS_1
"Abang tak tau, Dek. Abang bingung." jawab Adi dengan menyugar rambutnya ke belakang.
"Cut… kau maunya macam mana?" tanya Adinda dengan membingkai wajah Icut, lalu ia menghapus air mata anaknya yang mengalir deras.
"Aku maunya dinikahin aja, Mah. Kasian anak aku nanti tak punya ayah." jawab Icut dengan suara lirih.
"Berarti dengan kata lain, kau mau orang-orang ngitungin bulan kau nikah sampek ke melahirkan?"
"Anak kau kan ada kau. Abang kau, si bang Givan. Dia punya empat ayah, buat panutan hidupnya. Ayah kandungnya, dia panggil papah. Abi Haris, yang disebutnya abi itu. Ayah Jefri, yang selalu disebutnya ayah itu. Terakhir papah kau itu, disebutnya papah lagi."
"Nih, dengerin Mamah. Kau tuntasin pendidikan kau, sampek lulus nyandang sarjana. Terus kau bilang ke Mamah sama Papah, kau mau kerja apa usaha. Nanti kita arahkan, buat masa depan kau sama anak kau nanti. Masalah anak, itu bisa diatur. Waktu Mamah dulu ngejanda, bang Givan Mamah titipkan di pengasuh anak-anaknya abi Haris. Tiap bulan Mamah tambahkan bayaran mereka, kadang kasihin ke abi Haris, kadang langsung ke pengasuhnya. Yang penting, kau pulang kerja, kau temuin anak kau. Biar figur kau, tak terganti dengan pengasuhnya." jelas Adinda, mencoba membuat Icut paham akan maksud baiknya.
"Dek… masalahnya Icut bukan Adek. Masalahnya pun beda, Adek ngejanda, dengan dia yang hamil tanpa suami." timpal Adi dengan menekan suaranya.
Dari suara suaminya Adinda paham, bahwa suaminya tengah menahan rasa yang memuncak di kepalanya. Ia akan memastikan setelah ini, apa suaminya sakit kepala sebelah kembali dengan masalah anak gadisnya.
"Terus macam mana, Bang? Menurut Abang baiknya gimana? Aku tak mau Icut ngemis tanggung jawab, Bang. Apa Abang tak paham maksud aku? Aku yang dulu nikah karena sama-sama cinta aja bisa cerai, apa lagi yang nikah terpaksa macam itu?" sahut Adinda dengan suara menurun.
"Abang bingung, Dek…." balas Adi dengan mengacak-acak rambutnya. Ia terlihat begitu kacau, dengan masalah yang dihadapinya sekarang.
......................
*Bek that seumike nyan, Bang hai : Jangan terlalu memikirkan itu, Bang.
*Leubeh got : Lebih baik
🤔
__ADS_1